
Kembali lagi setelah menghilang tanpa kabar. Tentu saja Arshen dicap tidak profesional dalam bekerja. Namun, saat Arshen mengatakan dia sedang sakit dan sudah mendapatkan izin dari rumah produksi semua kru akhirnya bungkam.
Karena telah libur beberapa hari, akhirnya Arshen harus bekerja lebih ekstra untuk kejar tayang. Hari rasanya Arshen tidak bisa bernafas karena harus melakukan take beberapa kali ditempat yang berbeda. Bahkan Seno yang hanya mengekori Arshen saja merasa sangat lelah, lalu bagaimana dengan Arshen yang sejak tadi terus melakukan aktingnya? Pasti sangat lelah.
"Shen, tidak usah kamu paksakan. Jika lelah, beristirahat. Kesehatanmu lebih utama!" kata Seno saat sedang break.
"Tidak Sen. Aku tidak lelah. Aku baik-baik saja . Kamu gak usah khawatir."
Seno hanya membuang nafas kasarnya. Sejak kapan seorang Arshen bekerja mengila seperti ini? Seno yakin jika sat Arshen sedang menyembunyikan sesuatu.
"Shen, katakan kepadaku apa yang sedang terjadi kepadamu?" tanya Seno yang mulai ingin tahu alasan Arshen terus mengambil take-nya.
"Memangnya aku kenapa, Sen? Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin cepat menyelesaikan episode dan ingin liburan lagi."
"Benarkah? Kalau begitu siapkan secepatnya. Aku juga sudah rindu liburan, Sen."
Arshen hanya tersenyum tipis. Mungkin dia bisa menutupi luka dengan senyumnya. Memakai topeng agar tak ada yang mengetahui jika dirinya sedang terluka. Mungkin karena pekerjaannya setiap hari berakting sehingga dia mampu berakting juga di depan semua orang.
Saat makan siang Arshen merasa sangat terkejut dengan kedatangan Kenza yang secara tiba-tiba. Tanpa angin dan hujan wanita itu datang untuk menghampiri Arshen dan membawakan bekal makan siang untuknya.
"Eza, kamu kok ada di sini?" tanya Arshen dengan terkejut.
Senyum lebar mengembang di bibir Kenza. Tangannya juga telah menarik sebuah kursi yang ada di depan Arshen. "Aku membawakan makan siang untukmu. Makanlah," ujarnya.
Arshen masih ternganga, bahkan hampir tidak percaya jika saat ini yang udah dari depannya adalah Kenza. Arshen takut jika itu hanya halusinasinya saja karena sejak tadi Arshen terus memikirkan Kenza.
"Kamu serius Eza, Kan? Aku sedang tidak halusinasi kan?" Arshen mencoba untuk meyakinkan lagi.
"Shen, kamu kenapa sih? Ini aku Kenza. Kamu sakit?"
Arshen menggeleng dengan pelan. "Tidak. Aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Aku tahu kamu pasti sedang capek. Makanya aku bawa sup ayam jahe, katanya sup ini bisa menambah stamina."
"Terima kasih."
Selama menemani Arshen makan siang, Kenza merasa ada sedikit perubahan dari pria ada di hadapannya saat ini. Jika biasanya Arshen akan banyak berbicara, tetapi tidak untuk saat ini.
Sejak kedatangannya, Kenza terus memperhatikan Arshen. Dia pun bisa merasakan Arshen juga terlihat cuek kepada dirinya. Dalam pikirannya Kenza menerka-nerka apa yang telah terjadi kepada Arshen, mengapa sikapnya berubah kepada dirinya.
"Shen, kamu marah padaku?" tanya Kenza yang merasa penasaran.
"Tidak. Mengapa aku harus marah kepadamu memangnya kamu berbuat kesalahan kepadaku?"
"Enggak sih. Aku cuma heran aja, karena setiap tadi kamu terlihat cuek."
"Aku sedang kejar tayang, Eza. Aku capek. Maaf jika kamu merasa tidak nyaman depan sikapmu," ujar Arshen.
Sebenarnya bukan tanpa sebab jika Arshen tiba-tiba memilih cuek kepada Kenza. Itu semua karena Arshen tidak ingin berharap lebih kepada Kenza. Dia tahu jika cinta Kenza hanya untuk Kala, pria yang mencoba menculiknya beberapa hari yang lalu. Pantas saja Kenza menolak keras perjodohan yang telah ditentukan oleh Daddy-nya.
"Oh iya, Za. Maaf aku harus kembali take lagi."
"Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa aku begitu yakin jika saat ini Arshen sedang marah kepadaku," lirih Kenza dengan mata yang terus menatap punggung Arshen saat meninggalkan dirinya.
🌼🌼
Elena terkejut bukan main saat mendengar jika Daddy-nya sedang menyekap Kala di salah satu ruang kosong. Tentu saja Elena tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Daddy-nya kepada Kala. Dengan langkah kasar, Elena berjalan menuju ruangan sang Daddy. Tanpa ingin mengetuk pintu ruangan, Elena langsung masuk ke dalam membuat Alan sangat terkejut dengan kedatangan putrinya.
"Elen, ada apa?" tanya Alan dengan heran.
"Dadd, lepaskan Kala! Dia tidak bersalah Dadd!"
Mata Alan terbelalak dengan lebar ketika mendengar permintaan putrinya untuk melepaskan Kala yang jelas-jelas sudah menyakiti Kenza.
__ADS_1
"Elen, kamu kenapa? Mengapa kamu meminta Daddy untuk melepaskan Kala? Dia sudah berani membawa Eza pergi tanpa izin. Dia pantas untuk diberi hukuman," kata Alan.
"Gak Dadd! Daddy gak boleh lakukan ini kepada Kala. Dia gak salah. Salahkan saja Eza! Karena dia penyebab semua ini, Dadd!"
Alan mengernyit. "Maksud kamu apa, Elen? Kenapa kamu selalu saja menyalahkan Eza?"
Elena tersenyum sinis di hadapan Daddy-nya. Haruskah Elena mengatakan jika dia tidak menyukai Kenza karena telah merebut satu persatu orang yang disayanginya?
"Daddy bisa nggak sih satu detik aja belain Eza! Anak Daddy itu Elen, bukan Eza!" bentak Elena karena sudah tidak bisa membendung amarah, dimana Daddy terus-menerus akan membela Kenza.
"Elen!" sentak Alan dengan kuat. Alan paling tidak suka jika dirinya dibentak, terlebih yang membentaknya itu adalah anaknya sendiri. Tentu saja Alan akan murka. "Sejak kapan kamu memiliki pemikiran buruk seperti itu, Elen!"
"Kenapa Daddy gak suka kalau Eza aku jelek-jelekin? Apakah karena Eza telah menyelamatkan hidup Daddy? Apakah karena Eza yang selalu menemani Daddy saat Daddy sedang terpuruk? Apakah karena Eza memiliki kemiripan dengan Daddy? Tetap saja dia bukan darah daging Daddy! Seharusnya Daddy itu lebih sayang kepada anaknya sendiri daripada anak orang lain. Daddy terlalu pilih kasih! Elen benci Daddy!" Setelah puas mengeluarkan isi hatinya, Elena langsung pergi meninggalkan ruangan Alan.
Alan tak mampu berkata-kata lagi. Dengan pandangan kosong dia menatap punggung sang putri berlalu. Bahkan Alan sama sekali tidak berniat untuk mengejar Elena. Ini bukanlah Elena melawan kepada dirinya, tapi ini adalah kali pertama Elena mengeluarkan unek-unek yang bersarang di dalam hatinya.
"Bukan Eza yang merebut apa yang seharusnya menjadi milikmu, tetapi kamu sendiri yang menjauh, Elen. Bahkan aku sebagai orang tua merasa sangat gagal karena tidak bisa mendidikmu dengan baik." Helaan nafas panjang terdengar begitu berat.
Dengan cepat Alan merokok ponselnya untuk menghubungi asisten pribadinya.
"Rei, ikuti Elen!" titahnya.
Dari seberang telepon, Rei langsung mengiyakan perintah yang telah diturunkan kepada dirinya.
"Baik Tuan."
Bahkan Alan juga menghubungi Azra dan Elena. Dari seberang telepon Azra hanya bisa menghela napas berat karena Elena membuat ulah lagi. Rasanya Azra bener-bener sangat gagal menjadi seorang ibu.
"Maafkan Elen. Semua ini karena salahku yang selalu memanjakan dirinya saat itu. Andaikan saja dulu aku tegas padanya, mungkin Elen tidak akan seperti ini."
"Apakah kamu menyesal telah kembali padaku?" tanya Alan.
__ADS_1
"Tidak. Aku sama sekali tidak menyesal dan aku menerima kamu apa adanya. Semua ini salahku. Aku yang harus bertanggung jawab atas semua ini."
"Kamu jangan menyalakan diri sendiri. Aku percaya padamu jika suatu saat Elen bisa berubah."