
"Apakah kamu sedang bertengkar dengan Kenza?" tanya Seno.
"Tidak!" Arshen menjawab dengan kardus. "Ada apa?" tanyanya.
"Aku heran saja mengapa kamu tidak mau menemui dia. Padahal sejak tadi dia menunggumu di depan pintu," ujar Seno.
Arshen hanya menghela nafas kasarnya. Sudah hampir 1 jam Arshen sengaja mengabaikan Kenza yang mendatangi apartemennya. Itu karena saat ini Arshen masih sangat kecewa dengan kanza terlalu membela orang yang telah menculiknya.
"Suruh dia pulang saja, karena aku ingin beristirahat!" titah Arshen.
"Aku sudah berusaha menyuruhnya untuk pulang tetapi dia tetap tidak mau. Dia mengatakan tidak akan pulang sebelum bisa bertemu denganmu. Sudahlah temui saja dia meskipun hanya sebentar saja. Kasihan anak orang!"
Sejenak Arshen terdiam untuk berpikir kembali. Sebenarnya dia juga tidak tega mengabaikan Kenza, tetapi wanita itu telah membuatnya kecewa, bahkan dia tidak meminta maaf atau menjelaskan tentang kejadian saat itu. Padahal jelas-jelas malam itu Kenza menghubunginya untuk meminta bantuan. Nyatanya ... Kenza malah menutupi keburukan pria yang telah menculiknya.
"Apa sih maunya!" gerutu Arshen, yang pada akhirnya memilih untuk membuang ego dan membuka pintu apartemen.
Mata Arshen terpaku saat melihat Kenza jongkok sambil memeluk lututnya. Bahkan tubuhnya juga disandarkan ke dinding.
"Kamu ngapain masih disini?" tanya Arshen.
Mendengar suara Arshen, Kenza langsung mendongak dan bangkit. "Akhirnya kamu keluar juga. Shen, aku ingin berbicara sebentar denganmu. Please." Kenza memohon sambil mengedio-edipkan matanya, berharap Arshen tidak menolaknya.
"Ya udah ayo, masuk! Tapi cuma 10 menit waktumu, ya! Aku sibuk!"
Mata Kenza terlihat berbinar dan langsung menganggukkan kepalanya. "Iya. Gak papa-papa, meskipun hanya 10 menit yang penting kita bisa bicara."
Tanpa menunggu persetujuan dari Arshen, Kenza langsung menerobos masuk kedalam apartemen dan langsung duduk disebuah sofa.
Seno yang sedang memainkan game di ponselnya hanya bisa mengernyit dengan sosok Kenza yang langsung duduk di sofa.
"Apa lihat-lihat!" sentak Kenza saat menyadari Seno terus memperhatikan dirinya.
__ADS_1
"Terserah aku dong, ini kan mataku. Mau lihat apa aja terserah aku. Lagian kamu tamu sopan sedikit dong!"
"Terserah aku, kan yang bertamu aku, bukan kamu!" Seketika Kenza menjulurkan lidahnya seolah sedang mengejek Seno.
Helaan nafas panjang terdengar berat. Seno hanya bisa mengelus dada saat berhadapan dengan Kenza.
"Serah kamu aja deh! Dasar spies aneh dimuka bumi!" cibir Seno.
"Apa kamu bilang?" Kenza berteriak lagi kepada Seno. Namun, Kenza langsung terdiam ketika Arshen telah datang dan duduk di samping Seno.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan karena aku tidak memiliki waktu hanya untuk meladenimu!" Arshen masih berbicara dengan nada ketus.
"Tapi aku enggak mau dia ada disini!" Tangan Kenza menunjuk ke arah Seno.
Seno pun langsung menautkan kedua alisnya. "Aku?"
"Iya. Aku enggak mau pembicaraanku didengar oleh kamu!"
Arshen pun segera memberi isyarat kepada Seno untuk meninggalkan dirinya. Dengan perasaan kesal Seno menghentakkan kaki sebelum benar-benar meninggalkan tempat duduknya. Padahal sebelum kalian bisa datang Seno sudah duduk di tempat itu, tetapi harus digusur ketika wanita barbar itu masuk.
Setelah kepergian Seno, keheningan itu terjadi. Kenza masih ragu untuk mengatakan sesuatu kepada Arshen karena Kenza tahu jika Arshen sedang marah kepada dirinya. Entah salah apa yang telah dibuat sehingga Arshen benar-benar mengabaikan dirinya. Dan itu sangat mengganjal di hati Kenza.
"Shen, aku tahu jika saat ini kamu sedang marah padaku. Apapun salah yang telah aku lakukan aku minta maaf. Tapi tolong jangan abaikan aku seperti ini," kata Kenza memecah keheningan.
"Siapa yang marah? Aku gak marah kok. Mungkin itu hanya perasaanmu saja," elak Arshen. "Sudahlah, berbicara saja pada intinya, karena waktumu sudah berkurang 3 menit!"
Kenza menarik nafas panjang sebelum berbicara kepada intinya, karena Kenza takut jika keinginannya ditolak mentah-mentah Arshen. Namun, Kenza sudah bisa menyiapkan jawaban ketika Arshen menolaknya.
"Shen, kamu masih ingatkah perjanjian kita? Kamu udah siap untuk membantuku untuk menggagalkan rencana perjodohan Daddy-ku. Nah, sekarang Daddy memintamu untuk bertemu dengannya. Kamu masih mau membantuku kan?" tanya Kenza dengan ragu-ragu.
Mata Arshen langsung menatap arah Kenza. "Kenapa kamu ngotot sekali tidak ingin dijodohkan oleh Daddy-mu. Apakah kamu sudah pernah bertemu dengannya? Apakah dia cacat sehingga kamu tidak menyukainya?"
__ADS_1
"Kan aku udah pernah bilang kalau aku tuh nggak mau dijodohkan. Aku ingin dengan pilihanku sendiri, lagian aku masih ingin berkeliaran bebas menghidupi kera segar tanpa diikat oleh sebuah hubungan. Aku masih ingin menikmati masa mudaku. Sebenarnya aku pernah belum pernah bertemu dengannya. Aku juga nggak tahu apakah dia cacat atau tidak. Yang pasti aku ingin suatu saat menikah dengan pilihanku sendiri karena aku akan menjalani kisahnya nanti," jelas Kenza.
"Apakah aku adalah pilihanmu?" tanya Arshen.
Kenza langsung mendongak. Bagaimanabisa Arshen berpikir seperti itu padahal sebelumnya sudah dikatakan oleh Kenza bahwa Arshen hanya dijadikan pacar bohongannya. Lalu mengapa sekarang Arshen berpikir jika dia adalah pilihannya?
"Kamu gimana sih Shen, kan saat itu kamu udah sepakat membantuku untuk menjadi pacar bohongan saja, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Kamu jelas adalah pilihanku untuk menjadi pacar bohongan."
Karena sebuah janji adalah hutang, maka sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab, Arshen akan mendapati janji yang telah dibuatnya kepada Kenza. Seharusnya Arshen bahagia karena memanfaatkan kesempatan untuk mengambil hati Kenza.
"Baiklah. Kapan?"
🌼🌼
Rasa bahagia tidak bisa disembunyikan oleh Kenza yang baru saja berhasil meyakinkan Arshen untuk menemui Daddy-nya. Dan setelah ini dirinya akan bebas dari perjodohan. Karena terlalu bersemangat Kenza tidak melihat seseorang yang ada di depannya.
BRUUKK
Kenza menabrak seseorang yang sedang berhenti di depannya. Seorang wanita yang sedang menelpon seseorang langsung panik ketika ponselnya telah jatuh ke lantai. Melihat kecerobohannya, Kenza langsung meminta maaf kepada wanita tersebut.
"Maaf, aku aku tidak sengaja. Apakah ponselmu baik-baik saja?" Kenza juga ikut panik.
Wanita yang ditabrak oleh Kenza langsung mengecek ponselnya. Hanya layarnya yang pecah.
"Aduh pecah ya. Aku benar-benar tidak sengaja," ucap Kenza lagi.
"Udah gak papa, santai aja. Cuma anti goresnya aja yang pecah," ucapnya.
Kenza mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya merasa tidak enak. "Gimana kalau aku ganti rugi aja, terus kamu yang memperbaikinya di tempat servis."
"Ah, gak usah. Ini gak papa kok. Santai aja. Oh iya ngomong-ngomong nama kamu siapa?" Wanita itu dengan ramah bertanya nama Kenza.
__ADS_1
"Aku Kenza." Kenza mengeluarkan tangannya untuk menjabat tangan wanita tersebut.
Dengan senyum tipis wanita itu juga menjabat tangan Kenza. "Aku Deena."