
Suasana masih terasa hening. Dua insan masih sama-sama saling membisu. Arshen yang melihat tatapan Kenza begitu dalam membuatnya bergidik ngeri. Dalam hati dia bertanya-tanya, salah apa yang telah dibuatnya sehingga Kenza seperti sedang marah. Cukup lama Arshen memandangi wajah Kenza terlihat menakutkan. Karena merasa bosan dengan keadaan hening, Arshen pun memberanikan untuk membuka suara.
"Za, kamu ingin berbicara apa?" tanyanya.
Kenza hanya tersenyum getir, tetapi matanya masih fokus menatap Arshen.
"Sebenarnya banyak, tapi aku hanya ingin mengambil intinya saja. Sekarang jawab dengan jujur apakah kamu adalah orang yang telah dijodohkan denganku. Jika iya, mengapa kamu tega untuk membohongiku?"
Mendengar pertanyaan dari Kenza, tubuh Arshen terasa membeku untuk sesaat. Bagaimana mungkin Kenza mengetahui kebenaran ini secepat mungkin. Padahal permainan belum dimulai mengapa sudah harus berakhir?
"Arshen jawab!" sentak Kenza, hingga membuat beberapa pasang mata mengarah kepada mereka berdua karena suara cancer terlalu tinggi.
"Za, kamu tenang dulu aku bisa menjelaskan semuanya."
"Tenang kamu bilang? Kamu sudah sangat keterlaluan, Shen! Mengapa kamu tidak mengatakan sejak awal jika kamu adalah orang itu? Kenapa Shen?!"
"Aku ... aku sebenarnya .... " Belum sempat Arshen menyelesaikan ucapannya Kenza langsung memotong pembicaraan Arshen.
"Aku bener-bener sangat kecewa kepadamu, Shen! Aku kira kamu adalah malaikat penolong. Namun, nyatanya kamu adalah iblis dari neraka. Aku benci kamu Arshen!" Karena merasa sangat kecewa dengan Arshen, Kenza pun memilih untuk meninggalkan Arshen.
Melihat Kenza beranjak pergi, Arshen segera bergegas untuk mencegahnya. Namun, karena saat ini kepala Kenza sedang berasap dia memilih untuk menyingkirkan tangan Arshen yang sedang menahannya.
"Lepaskan tangan kamu, atau aku akan berteriak!" ancam Kenza.
Tak ada pilihan lain selain menuruti ucapan Kenza, Arshen pun langsung melepaskan tangannya.
"Za, jangan seperti itu. Aku bisa jelaskan mengapa aku tidak berterus terang sejak awal. Za, dengerin aku sebentar ya," bujuk Arshen.
"Ya udah cepat jelasin!"
Akhirnya Kenza kembali lagi ke tempat duduk untuk mendengarkan penjelasan dari Arshen. Meskipun pada dasarnya semua itu adalah kesalahan Kenza yang tidak meneliti terlebih dahulu bagaimana bentuk orang yang telah dijodohkan, tetap saja Arshen yang salah karena tidak berterus terang bahwa dia adalah orangnya. Yang lebih parah lagi Arshen malah berpura-pura, seolah tidak mengetahui apa-apa tentang perjodohan Kenza.
"Jadi kamu dan Daddy sudah bersekongkol untuk membohongiku, bukan begitu?" tanya Kenza dengan sisa rasa kecewanya.
__ADS_1
Kepala Arshen menganguk dengan pelan. "Iya," ucapnya.
"Dasar kalian laki-laki sama aja! Gak ada yang bisa dipercaya! Sudahlah, aku sedang kesal kepadamu, jangan ganggu aku dulu!"
Kali ini Arshen tidak berani untuk mengejar Kenza. Dia memilih untuk memberikan waktu kepada Kenza untuk menenangkan dirinya. Siapapun orangnya jika telah dibohongi pasti akan merasa sangat kecewa, terlebih kebohongan yang dilakukan secara berjamaah. Pasti akan sangat menyakitkan.
"Semoga saja Eza gak ngamuk setelah sampai di rumahnya. Semoga saja Om Ke bisa mengatasi Eza."
🌼🌼🌼
Karena hati Kenza sedang kacau, dia memutuskan untuk singgah terlebih dahulu ke sebuah cafe untuk menenangkan pikirannya. Namun, sepertinya dunia terlalu sempit sehingga dia bertemu dengan Kala di tempat itu.
Mata Kala tak sengaja menangkap Kenza yang sedang duduk seorang diri di sebuah bangku. Meskipun sudah dilarang untuk menunjukkan wajahnya di hadapan Kenza lagi, tetapi Kala tidak peduli.
"Kal, kamu mau kemana?" tanya Deena saat melihat Kala beranjak dari tempat duduknya.
"Aku ada urusan dengan seseorang. Kakak disini aja!"
"Kenza." Suara Kala menyebut nama mantan kekasihnya itu.
"Kala." Kenza terbelalak dengan lebar karena terkejut dengan sosok Kala yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Bisa kita bicara?" Kala bertanya kepada sebelum menarik bangku di depannya.
"Silahkan!"
Kala masih menatap lekat wajah ayu yang ada di hadapannya. Tentu saja dia sangat merindukannya. Ingin sekali tangannya menyentuh wajah yang selalu menjadi bunga. Namun, rasanya terasa sangat berat. Kata-kata Alan masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Za, aku minta maaf atas kejadian hari itu. Saat itu aku benar-benar sedang dibutakan oleh amarah, hingga aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku khilaf dan aku menyesal telah membawamu ke villa itu," ucap Kala dengan rasa penyesalan. Andaikan saja malam itu dia tidak nekat untuk membawa Kenza pergi, mungkin hidupnya tidak akan dibayangi oleh rasa ketakutan.
"Aku sudah memaafkanmu. Tapi tolong jangan ulangi lagi! Perbuatanmu itu sangat membuatku. Apakah Daddy-ku tidak melukaimu?" tanya Kenza yang merasa penasaran karena melihat sedikit memar di wajah Kala.
"Tidak. Daddy si Alan-mu hanya memberikan pelajaran kecil saja."
__ADS_1
"Apakah kamu dihajar olehnya?" Kenza semakin penasaran dengan pelajaran kecil yang dimaksud oleh Kala.
"Tidak. Dia hanya mengurungku selama tiga hari saja. Untung saja dia masih berperikemanusiaan dan melepaskanku. Jika sejak awal aku mengetahui jika Daddy si Alan-mu itu memiliki pasukan yang kuat, maka aku tidak akan melakukan sebuah kesalahan. Tapi sudahlah, anggap saja ini adalah sebuah pelajaran agar aku tidak gabah untuk mengambil sebuah keputusan. selamat ya atas pertunanganmu. Semoga kamu bahagia," ucap Kala dengan rasa sesak di dalam dadanya.
Sebisa mungkin Kenza menahan matanya yang terasa perih. Dia tidak ingin meneteskan air mata di depan Kala. "Iya. Terima kasih ya. Aku doakan semoga kamu segera mendapatkan penggantiku."
Kala tersenyum kecil mendengar ucapan Kenza. bagaimana dia bisa mendapatkan sosok penggantinya ketika hatinya masih terkunci oleh satu orang. Tidak mudah untuk kelain hati, dengan perjuangan cinta jarak jauh yang sudah terjalin selama 6 tahun lamanya.
"Tapi meskipun kamu sudah hidup bersama dengan pasangan barumu, bisakah kita tetap berteman seperti dahulu? Aku tidak ingin karena hubungan kita berakhir maka pertemanan kita pun juga ikut berakhir."
Kenza menarik dua garis simpul bibirnya. "Tentu saja."
Karena Kala sudah bisa mengambil hati Kenza, dia pun langsung memanggil Deena dengan lambaian tangan.
Kenza langsung menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang sedang dipanggil oleh Kala. "Dia siapa, Kal?" tanyanya.
"Dia kakakku. Namanya Deena. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengenalmu dengannya tetapi karena kamu berada di luar negeri jadi tidak ada waktu, terlebih dia juga sangat sibuk dengan pekerjaannya."
Kenzamerasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Kala. Bahkan Kenzaterus memperhatikan wajah wanita yang sedang berjalan mendekat kearah. Dalam diam Kenza berpikir dan mengingat wajah Deena.
Sepertinya aku pernah bertemu dengannya tetapi di mana ya? batin Kenza
Tak butuh waktu lama Deena pun langsung menarik sebuah kursi yang berada di samping Kala. Saat matanya melihat ke arah Kenza dia langsung menunjuk. "Kamu?"
"Kakak udah kenal sama dia?" tanya Kala dengan heran.
"Sebelumnya kami pernah bertemu sih. Saat itu aku mau ke apartemen temen aku," ucap Deena. "Kamu masih ingat aku kan?" Deena bertanya kepada Kenza.
Seketika Kenza langsung mengingat jika wanita yang ada di depannya saat ini adalah wanita yang dia tabrak saat hendak pulang dari apartemen Arshen.
"Oh iya, kita pernah bertemu. Aku tidak tahu jika kamu adalah kakaknya Kala. Maaf ya untuk kejadian hari itu. Aku bener-bener nggak sengaja. Gimana, apakah ponsel kamu mengalami kerusakan yang parah? Jika iya, biar aku ganti dengan yang baru," kata Kenza.
"Oh, ponselku tidak apa-apa. Aku hanya mengganti layarnya saja. Jadi kamu pacarnya Kala atau man... " Deena menahan ucapannya karena merasa tidak enak untuk mantan.
__ADS_1