Akulah Jodohmu

Akulah Jodohmu
BAB 39 : Sebuah Kebenaran


__ADS_3

Elena yang baru saja pulang dari kantor sudah ditunggu oleh Mommy-nya di ruang tamu. Hampir satu harian Azra menunggu anaknya pulang, kini yang ditunggu pun telah tiba. Disaat yang bersamaan Alan pun juga muncul dari balik pintu.


Sudah sejak siang tadi Alan menahan keinginannya untuk memarahi Elena, tetapi dia berusaha untuk menahannya dan berusaha untuk bisa saja, seolah tidak terjadi sesuatu.


"El, duduknya! Mommy ingin berbicara!" kata Azra saat melihat Elena melewati ruang tengah.


"El capek, Momm. El mandi dulu ya."


"El!" Nada bicara Azra naik satu tingkat membuat Elena terheran. Karena tidak ingin membuat keributan, Elena pun langsung duduk di depan Mommy-nya.


"Ada apa, Momm? Apakah ada sesuatu yang sangat penting?" Elena bertanya karena merasa jika Mommy-nya sedang menahan rasa amarah.


Tak berselang lama, Alan yabg baru datang juga langsung mendaratkan tubuhnya disamping Azra.


Elena semakin menautkan kedua alisnya saat melihat ekspresi orang tuanya terlihat sangat tegang dengan tatapan menusuk.


"Momm, ini ada apa?" tanya Elena lagi.


Alan membuang nafas kasarnya sambil melonggarkan dasi yang rasanya menyekik leher.


"El, selama ini Daddy mendidikmu agar menjadi anak yang berguna baik untuk keluarga maupun untuk orang lain. Selama ini apapun yang kamu inginkan selalu dituruti. Selama ini kamu tidak kekurangan apa-apa. Kamu bisa hidup dengan layak ditempat ini. Lalu, balasan apa yang kamu berikan untuk keluarga ini. Kamu hampir saja menjadi seorang pembunuh. Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" Alan mulai mengintrogasi Elena.

__ADS_1


Elena tidak tahu maksud yang dibicarakan oleh Daddy-nya. Bahkan Elena berusaha untuk mengingat kesalahan apa yang baru-baru ini dibuatnya. Sama sekali Elena tidak melakukan kesalahan apa-apa. Lalu mengapa Daddy-nya bisa mengatakan mengatakan bahwa dia hampir saja menjadi seorang pembunuh.


"Maksud Daddy apa? El enggak tahu."


"Apa maksud kamu mendorong Eza dari tangga 20 tahun yang lalu? Jelaskan, El!" tekan Alan.


Seketika tubuh Elena membeku, layaknya sedang terguyur air es. Tubuhnya pun mulai bergemetar. Tak pernah disangka jika Daddy-nya akan mengetahui jika saat itu dia pernah mendorong Eza dari tangga.


Diam membisu tanpa kata. Bahkan bibirnya saja terasa kelu saat ingin mengucapkan sebuah kata. Keringat dingin mulai bercucuran. Rasa takut dan gelisah bercampur menjadi satu.


"El, mengapa kamu lakukan seperti itu kepada Eza, Nak?"


"Momm ... ada apa ini? Mengapa tiba-tiba kalian menuduhku telah mencelakai Eza? Aku sama sekali tidak mendorongnya, Momm. Saat itu Eza terpeleset sendiri. Mengapa kalian membahas masalah yang telah berpuluh tahun lamanya ini?"


Bibir Elena tersenyum getir. Bahkan dia mengambil nafas dalam sebelum mengeluarkan kata-kata yang selama ini disimpannya seorang diri.


"Oh, syukurlah kalau ingatannya udah kembali jadi tak perlu ada yang ditutupi lagi. Daddy mau tahu alasannya apa? Baiklah Elena kasih tahu." Dengan dada yang bergemetar, Elena berusaha untuk tetap baik-baik saja.


"Ya, El emang sengaja mendorong Eza agar dia jatuh. Bahkan El memang menginginkan Eza mati saat itu karena dia sudah mengambil apa yang seharusnya menjadi milik El. Dari merebut Daddy dan Mommy hingga merebut rumah ini. Asal Daddy dan Mommy tahu, dengan kedatangan di rumah ini, perhatian Daddy dan Mommy hanya terfokus kepada Eza. Bahkan kasih sayang Daddy dan Mommy hanya diberikan untuk Eza, tanpa ingin memikirkan bagaimana perasaanku. Apakah Daddy dan Mommy pernah memikirkan perasaanku? Tidak kan? Lalu apakah aku tidak boleh rasa iri karena telah diabaikan oleh orang tuanya sendiri? Sakit Dadd, sakit!" Elena mencoba untuk mengeluarkan segala unek-unek yang selama ini disimpannya sendirian.


"Lalu dengan rumah ini, El sama sekali tidak memiliki hak apa-apa atas rumah ini meskipun El tinggal disini, karena rumah ini telah menjadi milik Eza. Bahkan Daddy dan Mommy tidak mau pergi dari rumah ini. Apakah Daddy dan Mommy memikirkan bagaimana perasaanku? Tidak kan? Lalu salahkah jika El sangat membenci Eza?"

__ADS_1


Alan tidak habis pikir dengan pemikiran Elena. Padahal saat itu usia Elena baru menginjak tujuh tahun, tetapi pikirannya sudah tidak bersih.


"Cukup El. Cukup! Dari kecil saja kamu sudah memiliki pikiran kotor seperti itu, lalu bagaimana dengan sekarang? Seharusnya kamu bersyukur bisa tumbuh dan hidup dalam keluarga ini. Kamu pikir kamu siapa bisa mencelakai Eza? Kamu bukan siapa-siapa El!" sentak Alan dengan penuh emosi yang meluap.


"Lan." Azra mencoba untuk menenangkan hati Alan yang sedang terbakar. "Kita bicara dengan baik-baik ya," lanjutnya lagi.


Elena tersenyum getir. "Oh, jadi lebih penting anak dari mantan Daddy daripada anak dari istri Daddy sendiri? Atau jangan-jangan Eza itu memang anak Daddy dengan mantan Daddy itu sehingga Daddy lebih menyayangi Eza dari El, anak Daddy sendiri," ujar Elena yang kini juga tengah dibakar oleh amarah.


"Elena!" bentak Alan. "Jaga mulut kamu ya! Daddy dan Mommy tidak pernah mengajarkanmu untuk tidak sopan kepada orang tua!" sentak Alan lagi.


Mata Elena telah berkaca-kaca. Ini adalah kali pertama melihat Daddy-nya sangat marah kepada dirinya, bahkan sampai membentaknya dengan keras.


"Kamu memang anak tidak tahu diri. Zra, cepat katakan kepada anak ini siapa dia sebenarnya!" Alan menyerah untuk meladeni Elena yang hanya membuatnya terpancing untuk marah.


Elena memberanikan diri untuk menatap kearah Mommy-nya. "Momm, katakan sebenarnya ada apa?"


Azra membuang nafas beratnya. Sebenarnya Azra tidak mau mengungkit apa yang selama ini telah ditutup rapat Namun, karena Azra benar-benar merasa kecewa kepada Elena, terlebih setelah mendengar ucapan Elena yang tak sepantasnya diucapkan kepada Alan, akhirnya Azra memberitahu sebuah kenyataan yang akan menampar Elena.


"El, maafkan Mommy, Nak. Bukan Daddy dan Mommy tidak sayang sama kamu, tapi semua ini adalah kesalahan Mommy. Jika kamu ingin menyalahkan, salahkan saja mommy. Benci saja Mommy. Karena Mommy yang patut untuk bertanggung jawab akan semua ini," ucap Azra yang mencoba untuk menahan rasa sesak didalam hatinya.


"Momm, katakan dengan jelas. Jangan buat El semakin pusing!"

__ADS_1


Berat, tetapi Azra harus memberitahu kepada Elena jika dia bukanlah anak kandungnya. Azra terpaksa mengambil Elena karena saat itu Azra baru saja kehilangan anak yang sedang berada dalam kandungannya. Dan kesalahan terbesar Azra adalah menyembunyikan kenyataan dengan cara membohongi Alan, dan mengatakan jika Elena adalah anak kandungnya.


__ADS_2