Akulah Jodohmu

Akulah Jodohmu
BAB 51 : Ingin Memberi Pelajaran


__ADS_3

Dua insan saling membisu disebuah sofa. Tak ada kata yang terucap dari keduanya semenjak mereka duduk hingga saat ini. Hanya mata mereka saling bersitatap seolah sedang berbicara dengan telepati. Bukan tanpa sebab karena keduanya sempat predikat melalui sambungan telepon satu jam yang lalu.


Seno yang memperhatikan dua insan masih saling membisu hanya bisa membuang nafas kasarnya. Bukan tidak tahu titik masalahnya, tetapi Seno tidak bisa berkomentar apa-apa dengan masalah yang sedang terjadi kepada Arshen dan juga Kenza.


"Sampai kapan kalian akan menjadi patung di situ? Mending pindah ke kamar sana!" Akhirnya Seno memecahkan keheningan karena sudah telah untuk melihat keduanya seperti patung.


Tanpa kata, tiba-tiba Arshen langsung mengangkat tubuh Kenza. Memang bener apa yang diucapkan oleh Seno. Lebih baik menyelesaikan masalah mereka di dalam kamar. Selain lebih aman Arshen juga bisa memberikan pelajaran lebih kepada Kenza agar tidak mengulangi lagi kesalahannya.


Mata Arshen mendelik saat tubuhnya telah diangkat oleh Arshen. "Arshen kamu mau ngapain? Lepaskan!" Kenza berusaha untuk memberontak. Namun, kekuatannya yang dimiliki oleh Kenza tidaklah seberapa.


"Udah diam aja! Kita selesaikan masalah kita di dalam kamar!"


Arshen pun segera membawa cancer untuk masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuh Kenza diatas tempat tidur.


"Kamu tunggu sebentar aku akan mengusir Seno dulu!" Arshen pun langsung berjalan keluar.


Langkah kaki Arshen mendekat ke arah senok yang sedang menikmati makan siangnya yang tertunda. Seharusnya dia sudah makan, tapi karena insiden pertemuan Arshen dan juga Kenza yang tidak sengaja membuat mood Arshen menjadi buruk sehingga Arshen memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Sen!" panggil Arshen.


"Apa." Seno menjawab dengan datar.


"Cepat habiskan makanmu dan segera pulang!"


Bola mata Seno membulat dengan lebar saat dirinya diusir oleh Arshen. Dengan makanan yang masih tertahan di dalam mulut Seno berkata, " Kamu ngusir aku, Shen? Apa salahku?"


"Kamu tidak ada salah hanya saja aku sedang ingin menyelesaikan masalahku dengan Kenza, jadi kamu harus pulang! Jomblo dilarang merapat!" kata Arshen dengan santai.

__ADS_1


"Hah? Kok gitu Shen? Tapi aku kan gak ganggu kalian. Kenapa harus diusir?" Seno masih tidak percaya akan pengusiran yang dilakukan oleh Arshen.


"Ya mau gimana lagi. Kamu sih ngasih ide yang cemerlang. Jadi intinya sekarang aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Kenza. Nanti kalau aku udah siap kamu boleh main lagi ke sini! Udah sana pulang!" Arshen


"Tapi sebelumnya aku mau berterima kasih atas ide yang telah kamu. Jadi sekarang kamu pulang ya!" Arshen benar-benar mengusir Seno dengan paksa.


Tak bisa berbuat apa-apa Seno menatap tenar kepada Arshen karena makanan baru saja dimakannya belum habis tetapi dia sudah harus meninggalkannya.


"Kamu benar-benar keterlaluan ya, Shen!"


.........


Di dalam kamar perasaan Kenza semakin tidak karuan terlebih saat Arshen sudah menutup pintu kamarnya.


"Shen, kamu mau apa?"tanya Kenza dengan gugup.


"Maksud kamu?" Kenza berusaha menelan salivanya dengan kasar. Bahkan dia juga menahan nafas karena kegugupan yang sedang dialaminya.


Mata Arshen langsung menatap wajah Kenza. "Kamu bisa gak sih nurut sama orang? Saat ini di luar itu sedang tidak aman untuk kamu berkeluyuran. Bukan aku jahat tetapi aku hanya tidak mau kamu kena mental, Za! Dengan berita sampah yang sedang beredar luas orang-orang pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menaikkan rating televisi mereka. Bagaimana jadinya jika kamu bertemu dengan salah satu wartawan senior lalu dicecar dengan berbagai pertanyaan. Kamu mau jawab apa? Mau jawab kalau kita ternyata sudah dijodohkan sejak kecil." Arshen memilih menjeda ucapannya untuk mengambil nafas sebelum melanjutkan pencerahan kembali pada Kenza.


Kenza masih terdiam tanpa kata. Dia sungguh tidak tahu bagaimana cara hidup di dunia Arshen yang harus terus-menerus berhubungan dengan para wartawan pemburu berita.


"Sebenarnya kamu bisa saja mengatakan jika kita telah dijodohkan oleh orang tua kita, tapi setelah itu apa yang terjadi? Para pemburu berita itu semakin tertarik dengan ceritamu lalu menyeret keluarga kita untuk menjadi bahan konsumsi publik. Kamu mau segala privasi keluarga besar kita menjadi konsumsi satu negara ini? Belum lagi jika mereka menemukan setitik kesalahan, pasti mereka akan gencar mengulitinya, Za. Memang kita tidak melakukan pencoblosan sebelum pada waktunya, dan kita bisa membelah diri. Tapi aku tidak mau Za. Cukup aku yang saja yang menjadi konsumsi publik tetapi jangan keluargaku dan keluarga kamu. Diamku hanya ingin melindungi keluarga kita. Eza, bersabarlah aku sedang berusaha mencari dalang di balik berita sampah ini. Kamu mengerti kan menurut aku?" Arshen berbicara panjang lebar kepada Kenza.


Dengan bibir yang cemberut, Kenza hanya mengangguk pelan. "Iya aku tahu. Tapi Aku juga bosan jika harus berada kamu burung di apartemen ini, Shen! Aku butuh udara segar!"


"Aku tahu itu, Za. Tapi setidaknya kamu memberitahuku jika ingin meninggalkan apartemen jadi aku bisa mengawasimu dari jauh."

__ADS_1


Akhirnya dua insan itu saling mengerti untuk memahami situasi dan kondisi saat ini. Kedua mata masih saling bersitatap. Menggetarkan detak jantung hingga mengalirkan sensasi yang menggetarkan seluruh tubuh mereka. Dua insan yang sudah berjanji tidak akan saling menyentuh sebelum merasa siap. Namun, akan berbeda cerita jika sudah berada ditahap rasa nyaman.


"Za."


Kenza pun langsung menyahut. "Ada apa lagi. Aku sudah paham jadi tidak usah kamu jelaskan lagi."


"Bukan itu! Aku hanya ingin bertanya kepadamu tapi jawablah dengan jujur!" Kini wajah Arshen lihat sangat serius.


"Tentang apa itu?" tanya Kenza dengan penasaran.


Mata Arshen semakin dalam saat menatap mata Kenza. "Katakan alasanmu mau untuk menikah denganku!"


Kenza tercengang dengan pertanyaan Arshen. Bukankah mereka berdua telah dijodohkan sejak usia mereka masih 5 tahun. Lalu mengapa masih dipertanyakan lagi alasannya?


"Ya, karena kita sudah dijodohkan sejak kecil, Shen."


"Apakah kamu mencintaiku atau ada alasan tersendiri sehingga kamu tiba-tiba mau menerima begitu saja tanpa sebuah penolakan. Aku tahu kamu bukanlah anak yang penurut, Za!"


Kenza semakin tercengang dengan ucapan Arshen yang membuatnya sedikit bingung. Jika ditanya soal cinta, Kenza belum bisa menjawabnya. Baginya mencintai seseorang itu butuh waktu, begitu juga dengan melupakan seseorang. Sebenarnya tidaklah mudah melupakan kisah cintanya bersama dengan Kala, tetapi Kenza berusaha untuk menutupi luka di hatinya.


Cinta yang sudah terjalin selama 6 tahun lamanya, mustahil akan hilang begitu saja. Pasti butuh waktu untuk meredam rasa sakit yang tertancap di ulu hati. Mungkin keputusan yang menyerah adalah jalan yang salah. Kenza rela menyerah begitu saja hanya demi perasaan Elena dan juga hubungan keluarga. Sejak awal Kenza sudah menganggap Elena layaknya seorang adik kandung meskipun mengetahui jika Elena tidak menyukainya. Rasa sayang yang dimiliki oleh Kenza ada Elena jauh lebih besar daripada cintanya kepada Kala. Kenza memilih untuk melepaskan kala demi Elena.


"Aku—" Kenza menjeda ucapannya karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Sudahlah, Za. Lupakan saja! Aku tadi hanya sedang iseng saja. Oh iya, weekend besok aku libur. Bagaimana kalau kita pergi liburan gitu. Ya, meskipun hanya dua hari sih. Tapi gak ada salahnya kan kalau kita mencerahkan pikiran kita dari masalah yang ada?"


Tak ada penolakan dari Kenza. Untuk menutup rasa bersalahnya, Kenza menyetujui ajakan Arshen untuk liburan.

__ADS_1


...💜💜...


__ADS_2