
Semua terjadi begitu saja. Meskipun berlinang air mata tetap tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Sebuah janji telah teringkari membuat Kenza merasa sangat kecewa dengan Arshen. Pria yang sudah berjanji untuk menunggu kesiapannya terlebih dahulu, namun nyatanya malah mengambil paksa mahkota kesuciannya. Bahkan Arshen melakukannya dalam keadaan sadar, tidak sedang dalam pengaruh alkohol.
Dalam posisi membelakangi Arshen, Kenza terisak dalam tangisannya. Meskipun dia adalah istri sah Arshen, tetapi dia tidak terima atas apa yang telah dilakukan Arshen kepada dirinya. Ini sama saja dengan pencurian, karena Arshen merampas kesuciannya Kenza saat Kenza sedang tidur.
Bukan tidak ingin melayani kewajibannya sebagai seorang istri, tetapi untuk kali ini Kenza bener-bener belum siap untuk memberikan haknya pada Arshen.
"Za, udah dong jangan nangis terus. Aku minta maaf. Aku benar-benar salah karena bisa mengendalikan diri." Untuk kesekian kalinya Arshen meminta maaf kepada Kenza atas apa yang telah dilakukannya. Namun, Kenza acuh dan terus terisak dalam tangisnya.
Tangan Arshen berusaha untuk pundak Kenza, tetapi langsung ditepis. "Jangan pegang-pegang! Kamu jahat, Shen!" ketus Kenza dengan sesenggukan.
Arshen menyadari jika apa yang telah dilakukannya kepada Kenza salah, karena telah melanggar perjanjian yang telah sama-sama disepakati oleh keduanya.
"Ya mau gimana lagi, Za. Aku pria normal, terlebih aku juga sudah menikah. Pasti akan ada hasrat untuk melakukan hubungan suami istri. Jika kamu tidak mau melayaniku, lalu aku harus minta pelayanan dari siapa? Dari wanita di luar sana? Kan enggak mungkin keperjakaanku aku berikan pada cacing yang sedang kepanasan di luar sana. Lagian kita gak dosa kok, Za. Kita udah sah. Kalaupun kelak kamu hamil, kan ada aku yang akan bertanggung jawab dengan kehamilanmu," jelas Arshen panjang lebar.
Meskipun benar adanya, tetapi Kenza belum siap lahir dan batin. Kenza ingin melakukan sat dia benar-benar sudah bisa mempunyai perasaan kepada Arshen. Dia ingin melakukan dengan rasa saling cinta. Namun nyatanya nasi telah menjadi bubur. Tak ada gunanya juga untuk larut dalam sebuah rasa kecewa.
"Kamu jahat, Shen! Kamu udah mengingkari kesepakatan kita. Kamu jahat!"
"Iya. Aku minta maaf, Za. Kan aku beneran khilafah. Besok enggak aku ulangi lagi. Udah dong jangan nangis terus, Za." Arshen masih berusaha untuk membujuk Kenza yang masih menangis.
"Kalau diulangi lagi itu namanya sengaja, Shen!"
Apapun yang telah terjadi, biarlah terjadi. Jika bisa besok diulangi lagi. Begitulah saat ini yang dipikirkan oleh Arshen. Lain di bibir lain si hati.
"Iya. Tapi udahan nangisnya ya! Kalau masih nangis akan aku ulangi lagi sekarang," ucap Arshen dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
"Arshen! Kamu bener-bener ya! Dasar egois!"
Kenza masih sesenggukan. Rasanya ingin berteriak sekuat mungkin dan mengatakan kepada dunia jika dirinya sudah tidak lagi perawan. Satu hal yang sangat ditakutkan oleh Kenza, yaitu dia takut jika apa yang dilakukan oleh Arshen tadi membuahkan hasil sementara dirinya sama sekali belum siap.
...***...
Sebuah kamar sudah tidak beraturan lagi. Semua barang berserak di lantai karena baru saja di bantai oleh sang pemilik kamar. Merasa frustasi karena apa yang baru saja terjadi. Lagi dan lagi dia harus memuaskan pria arogan. Lelah itu sudah pasti, tetapi terlambat untuk di sesali karena itu adalah konsekuensi yang harus dijalaninya. Menjadi seorang simpanan tugasnya memang untuk melayani hasrat dari pasangannya.
Siapa yang akan menyangka jika seorang Elena memiliki sisi buruk yang tak pernah diketahui oleh satu orang pun, termasuk keluarganya sendiri. Entah darimana asalnya Elena sangat berani untuk menjalin hubungan terlarang dengan pria yang berstatus suami orang. Sudah lama hubungan keduanya terjalin. Rasanya pun Elena sudah lelah dan ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, tetapi pria yang bernama Marchel selalu menolak keinginan Elena. Dan Elena membahas ingin mengakhiri hubungan mereka, Marchel akan marah dan akan melampiaskan kemarahannya dengan permainan kasar pada Elena.
Awalnya Elena hanya ingin mencairkan suasana hatinya yang sedang kacau karena merasa tak ada satupun orang yang peduli kepada dirinya. Semua orang hanya selalu memuja Kenza, tanpa ingin melihat padanya yang juga menginginkan sedikit perhatian dari orang-orang terdekatnya. Dan pada akhirnya Elena Bertemu dengan Marchel di salah satu tempat hiburan malam.
Perkenalan pun terjadi, tetapi saat itu Elena sama sekali tidak mengetahui jika Marchel telah menikah. Baru pertama kali bertemu, Elena sudah merasa terhibur dengan kehadiran Marchel. Dan pada akhirnya mereka saling bertukar nomor agar bisa saling berkomunikasi. Sedikit demi sedikit kehadiran Marchel mampu melupakan kesedihan yang sedang dialami oleh Elena Didekat Marchel seolah Elena menemukan apa yang sedang dia cari yaitu sebuah, kehangatan dan perhatian yang selama ini tidak pernah dia dapatkan dari siapapun. Merasa nyaman dengan Marchel, Elena pun sejenak melupakan perasaannya kepada Kala. Hingga suatu saat Elena terhipnotis oleh setiap kata dan sentuhan yang diberikan oleh Marchel pada dirinya.
Elena tidak akan pernah menyangka jika dirinya hanya akan dijadikan sebagai seorang simpanan untuk melampiaskan nafsu pria ba*ji*nga an seperti Marchel.
Azra yang mendengar teriakan Elena langsung bergegas menuju ke kamar Elena. Azra takut terjadi sesuatu pada Elena.
"El, kamu kenapa, Sayang. Buka pintunya, Nak!" Azra mengetuk pintu kamar Elena dengan kuat. Namun tetap tidak disakiti oleh Elena. Bahkan Azra bisa mendengar ada sesuatu yang pecah dari dalam kamar.
"El, kamu kenapa, Nak? Ada apa?" Azra sudah terlihat sangat panik.
"Mbak Lily ... Mbak!" Azra memanggil mbak Lily dengan keras, berharap asisten rumah tangganya yang berada di lantai bawah mendengar panggilannya.
Mbak Lily yang baru saja membereskan meja makan yang mendengar namanya dipanggil langsung bergegas menghampiri majikanya.
__ADS_1
"Iya Bu." Mbak Lily menyahut sambil menaiki anak tangga karena dia juga merasa khawatir apa yang telah terjadi kepada majikannya sehingga dia memanggil namanya dengan keras.
Napas mbak Lily pun ngos-ngosan setelah berhasil mendarat di lantai dua. Dengan cepat ya berlari menuju ke tempat majikan berada.
"Ada apa, Bu?" tanya Mbak Lily dengan deru nafas yang masih naik terus dengan kasar.
"Mbak Lily kunci cadangan kamar Elen dimana, Mbak?"Azra bertanya dengan gusar.
"Tenang, Bu. Ini ada apa?"
"Mbak Lily nggak usah banyak tanya karena yang paling penting sekarang itu di mana kunci cadangan kamar Elen, Mbak!"
Tanpa ingin bertanya lagi Mbak Lily segera mengambil kunci cadangan kamar anak majikannya yang dia simpan di sebuah laci. Setelah berhasil mengambil dia pun segera menyerahkan kepada Azra.
"Ini kuncinya, Bu. Mau diapain? Mau buka kamar Non Elen?"
"Ya iyalah Mbak! Masa iya mau buat buka pintu kamar aku! Kan gak lucu! Cepetan buka pintunya, aku tidak mau terjadi sesuatu kepada Elen, Mbak!"
Dengan patuh, mbak Lily langsung membuka pintu kamar Elena. Saat berhasil dibuka kini dua orang wanita itu bisa melihat keadaan kamar Elena yang sangat berantakan. Azra hanya menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya karena tidak mengetahui apa yang telah terjadi kepada telinga. Matanya pun berkeliaran untuk mencari dimana Elena berada, karena tadi Azra sempat mendengar sebuah teriakan dari kamar Elena.
"Astaga ... ini kamarnya kenapa, kok hancur seperti baru diterjang ombak di lautan, sih?" gerutu mbak Lily dengan heran saat melihat bentuk kamar Elena.
"Elen!" teriak Azra saat melihat Elena telah tergeletak di lantai dengan sedikit darah yang mengalir di lantai.
"Non Elen!" Kini giliran mbak Lily yang berteriak.
__ADS_1