
Elena baru saja keluar dari sebuah kamar apartemen milik wanita yang telah memberikan beberapa informasi tentang masa lalu Daddy-nya. Dari wanita itu Elena mengetahui jika Mommy-nya Kenza dan juga Daddy-nya pernah berpacaran. Bahkan bisa memastikan jika sampai saat ini Daddy-nya masih memiliki rasa kepada Mommy-nya Kenza. Semua itu bisa dilihat dari perlakuan Daddy-nya kepada Kenza. Bahkan Daddy-nya akan menjadi garda terdepan untuk Kenza.
Tidak hanya itu saja Elena juga mengetahui, jika Mommy-nya pernah kabur dari rumah karena sang Daddy yang tidak bisa melupakan mantan meskipun mereka sudah sama-sama menikah.
Sepanjang perjalanan Elena terus menerus memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh wanita yang bernama Mili. Wanita itu juga mengatakan bahwa suatu saat nanti pasti Elena akan dibuang ketika sudah tidak dibutuhkan lagi oleh Daddy-nya. Bahkan wanita itu mengatakan jika kelak Elena tidak akan mendapatkan apa-apa meskipun dia yang membantu mengelola perusahaan milik Daddy-nya. Semua akan jatuh pada Kenza, selaku pewaris yang sesungguhnya.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan Eza memiliki apa yang bukan miliknya. Bagaimana bisa perusahaan yang selama ini kelola akan jatuh ke tangan Eza. Aku yang bekerja keras, maka aku yang harus memilikinya!" kata Elena yang kini telah meninggalkan gedung apartemen seorang wanita yang bernama Mili.
Alan yang masih menunggu Elena meninggalkan kamar Mili segera bergegas untuk menuju kamar tempat Mili berada. Sejak tadi dia hanya mengintai tanpa kata dan berusaha untuk sabar hingga Elena keluar.
Tangan Alan kini memencet bel kamar apartemen. Tidak butuh waktu lama, pintu telah dibuka dan memunculkan sosok Mili dari balik pintu.
"Alan," ucap Mili sambil tercengang, saat melihat siapa yang berada di depan pintunya saat ini. Bagaimana bisa Alan menemukan dirinya, padahal selama ini Mili tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di depan Alan. Lalu mengapa tiba-tiba Alan bisa muncul di hadapannya? "Kamu mau ngapain?"
Alan tersenyum sinis. Langkah kakinya berusaha untuk masuk ke dalam apartemen. Mili yang merasa sangat gugup hanya bisa memundurkan langkahnya. "Alan ... kamu mau apa?" tanya Mili dengan tubuh yang semakin bergetar, karena saking terkejutnya.
"Aku mau apa ya?" Alan menertawakan ucapannya sendiri. Namun, seketika wajah Alan berubah datar dengan sorot mata tajamnya. "Apa rencanamu saat ini?"
"Rencana apa maksudmu, Lan? Aku tidak tahu."
__ADS_1
Mili bergidik ngeri saat melihat tatapan Alan seperti hendak menusuk jantungnya. Hampir 26 tahun lamanya dua orang yang pernah melakukan sebuah kesalahan di masa lalu itu, kini bertemu kembali. Meskipun sudah tertimbun waktu yang sangat lama tetapi tidak memudarkan ketampanan yang dimiliki oleh Alan.
Selama bertahun-tahun Mili hanya memperhatikan Alan dari jarak jauh karena sebenarnya target utama bukanlah Alan melainkan Keanu. Namun, karena Alan adalah sumber masalah yang menyebabkan pertunangannya dengan Keanu berakhir, maka orang pertama yang harus Mili perhitungan adalah Alan.
"Dasar wanita munafik! Kamu pikir aku tidak tahu apa yang sedang kamu rencanakan. Jangan bilang kamu yang sudah mencuci pikiran Elena. Pantas saja dia tahu segalanya tentang masa laluku, kamu adalah dalangnya. Aku pikir kamu sudah punah, tapi ternyata masih hidup. Setelah menghilang 26 tahun, apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Menghancurkan keluargaku? Jangan bermimpi! Sebelum kamu menghancurkanku, aku sudah menghancurkanmu lebih dahulu," ucap Alan dengan sinis.
Mili yang belum siap untuk bertemu dengan Alan tidak bisa berbuat apa-apa, karena semua di luar prediksinya. Namun, dengan cepat dia memutar pikiran agar bisa mengalahkan keangkuhan Alan.
"Aku tidak mengerti kamu ngomong apa. Tapi sudahlah, aku anggap kedatangan kamu ini bentuk rasa rindu kamu kepadaku. Bagaimana kalau kita lanjutkan lagi permainan kita yang belum terselesaikan saat itu. Meskipun aku sudah tidak secantik dahulu, tetapi aku pastikan rasanya masih sama. Bagaimana, Lan?" Mili malah memberanikan diri mendekat kearah Alan. Bahkan wanita itu tidak segan-segan mengelus tangannya Alan.
Melihat tangannya telah disentuh oleh Mili, alan segera mengibaskan tangannya. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotoran itu!" sentak Alan.
Amarah Alan terpancing. Dia pun langsung berjalan mendekati Mili dengan bola mata yang telah memerah serta tangan yang telah mengepal erat. "Kamu jangan memancing emosi! Sekarang katakan apa yang kamu inginkan sehingga kamu mencuci pikiran Elena?!" Katakan Mili!" sentak Alan dengan kuat.
"Ku akui, kamu memang pintar, Lan! Tapi sayangnya kamu sedikit bodoh! Baiklah, akan aku katakan apa keinginanku yang tiba-tiba muncul kembali setelah sekian purnama bertapa. Apakah kamu masih mengingat jika aku adalah calon Kakak iparmu? Apakah kamu juga masih mengingat siang itu? Ya ... karena siang itu adalah siang tersial untukku. Seharusnya aku bisa menahan diri untuk tidak menggodamu, tetapi saat itu kamu terlalu sempurna sehingga aku kehilangan akal sehatku. Dan kita ... " Mili seketika menghentikan ucapannya karena Alan telah membentaknya.
"CUKUP MILI!"
"Kenapa, Lan? Bukankah itu memang sebuah kenyataan. Itu kenyataan yang tidak pernah akan terhapuskan, Lan!"
__ADS_1
Dada Alan sudah memanas. Karena tidak bisa mengontrol emosinya Alan langsung mencekik leher Mili. "Aku tidak takut jika harus mengirimmu ke neraka detik ini juga! Jangan anak kamu ungkit masa lalu yang menjijikan itu! Ku akui, aku memang bodoh karena telah tergoda oleh rayuanmu. Bahkan aku sendiri saja merasa jijik saat mengingatnya. Jadi jangan coba-coba untuk kembali!"
Mili berusaha untuk melepaskan tangan Alan yang sedang mencekiknya. Bahkan Mili sampai terbatuk pernah kesusahan untuk bernapas. "Lan ... lepaskan ... lepaskan!" Mili terus memberontak.
"Aku akan melepaskanmu dengan satu syarat. Jangan pernah muncul di hadapan keluargaku, maupun di keluarga Abang Ke. Jika masih kamu lakukan, aku akan segera mengirimmu ke neraka detik itu juga! Paham!" sentak Alan dengan kuat.
"Sekarang katakan, apa tujuanmu mencuci pikiran Elena!" lanjutnya lagi.
Mili yang merasa kesusahan untuk bernapas meminta Alan untuk melepaskan cekikikan. "Lepaskan dulu! Aku tidak bisa bernafas, Lan!"
Perlahan Alan langsung melepaskan cekikikan di leher Mili. Namun, siapa yang menyangka setelah cekikikan terlepas dari leher Mili dengan cepat wanita itu menarik dasi Alan hingga membuatnya jatuh diatas tempat tidur dengan posisi menindih tubuh Mili. Dengan cepat, Mili langsung mengambil ponselnya untuk mengabadikan kejadian itu.
Cekrek!
Suara bidikan sebuah kamar menggema di telinga Alan. Matanya pun langsung mendelik saat menyadari apa yang sedang terjadi.
"Kamu!" Gigi Alan menggertak dengan keras. Menyadari posisinya yang sedang menindih tubuh Mili, Alan segera menarik tubuhnya. "Hapus foto itu!"
...💜💜...
__ADS_1