
Ketukan pintu membuat Kenza mengurungkan niatnya untuk tidur. Saat dibuka, wajah Kenzo sudah nongol di depan pintu.
"Ada apa?" tanya Kenza datar.
"Boleh masuk?"
Kenza menganggukkan kepalanya. Entah angin apa yang membawa Kenzo tiba-tiba mau masuk ke dalam kamar Kenza.
"Ada apa?" tanya Kenza setelah menutup pintu kamar.
Kenzo mengitari tempat tidur Kenza dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sana. Terasa sangat empuk dan lembut. Begitulah yang dirasakan oleh Kenzo.
"Za, menurut kamu kakaknya Grace cantik gak sih?" tanya Kenzo tiba-tiba.
"Biasa aja sih. Kenapa?"
"Gak ada cuma nanya aja."
Kenza langsung menerapkan kedua alisnya. Tidak mungkin Kenzo bertanya tanpa sebuah alasan. Pasti ada yang sedang disembunyikan oleh Kenzo. "Jangan bilang kamu suka sama kakaknya Grace. Iya kan? Hayo ngaku!"
Kenzo tertawa pelan. Bibir tak henti untuk menyunggingkan senyum di bibirnya. Terlebih saat mengingat wajah ayu seorang wanita yang sesuai dengan kriterianya.
"Sepertinya begitu, Za. Menurut kamu Greya itu gimana? Suka tipe cowok yang seperti apa?"
"Zo, kamu masih waras kan? Diluar sana itu masih banyak yang jauh lebih cantik daripada dia. Aku gak setuju kalau kamu suka sama dia. Dia itu judes, Zo!" Kenza
Kenzo merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Kenza. Dia pun langsung memposisikan dirinya untuk duduk dan bersilang di atas tempat tidur Kenza.
"Itu cuma perasaanmu aja, Za. Jangan menilai seseorang dari luarnya saja. Tapi nilailah dari hatinya. Tanpa bisa saja jelek, tapi belum tentu adanya jelek. Iya kan?"
"Udahlah, Zo. Kalau niat kamu ke sini hanya untuk mengatakan jika kamu jatuh cinta sama kakaknya Grace mending kamu keluar aja! Aku sedang tidak ingin membahas masalah cinta! Pergi sana!" Kenza menarik tangan Kenzo untuk keluar. Namun, Kenzo mencoba untuk mempertahankan dirinya di tempat tidur.
__ADS_1
"Za, kamu apa-apaan sih? Aku kan belum selesai berbicara!" protes Kenzo.
"Tapi aku sudah tahu bagaimana endingnya. Mending kamu keluar, karena aku gak bakalan bantuin kamu untuk dekat sama dia! Dia itu wanita berbahaya, Zo!" tegas Kenza.
Karena cinta telah menutup mata dan hati, kini Kenzo tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Kenza.
"Za, kok kamu gitu, sih? Bantuin napa sih? Nanti aku belikan tiket nonton Yoongi Merry Me yang VIP. Gimana?" Kenzo memberikan sebuah tawaran kepada adiknya. Dia yakin jika Kenza tidak akan menolak iming-imingnya. Siapa sih yang gak mau nonton konser Yoongi Merry Me?
Kenza terdiam untuk beberapa saat. Rasa dilema menyelimuti hati Kenza. Bagaimana mungkin dia akan menolak tiket yang selama ini dicarinya. Bahkan baru beberapa hari tiket dijual saja sudah sold out.
"Kamu pikir aku akan percaya sama kamu? Sorry Zo, aku tidak percaya! Tiket konser Yoongi Merry Me udah sold out!"
Kenzo tersenyum tipis sambil merogoh ponsel yang disimpan di kantor celananya. Kini tangannya mulai sibuk pada layar ponsel untuk mencari sesuatu. Tak berapa lama, Kenzo langsung menujukan sebuah email kepada Kenza.
"Lihat ini, Za! Ini asli, kan?"
Kenza langsung menyambar ponsel milik Kenzo dan memastikan lebih jelas lagi apakah itu konfirmasi e-tiket asli atau tidak. Namun, setelah dicermati lebih dalam, ternyata pesan yang masuk ke dalam ponsel Kenzo memanglah pesan asli bukan sebuah editan semata.
"Ya, kali aja nanti ada yang butuh, Za. Kan aku bisa jual lagi dengan harga tinggi," celetuk Kenzo.
"Astaga Ezo! Daddy kita itu udah kayak sejak lahir. Ngapain kamu susah-susah jualan tiket untuk dapatin duit. Gaji kamu dari perusahaan aja udah banjir-banjir. Ini malah jualan tiket. Contoh aku dong, yang kerjaannya tiap hari ngabisin duit Daddy."
Butuh perjuangan untuk meyakinkan Kenza, karena cinta itu butuh perjuangan, apapun itu tantangannya.
🌼🌼🌼
Pagi ini semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Namun, mereka belum bisa memulainya ketika anggota belum berkumpul semua. Satu-satunya orang yang sedang ditunggu adalah Kenza.
Keanu berulang kali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul 7 tetapi Kenza tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Sayang, panggil dulu anak kamu. Ini sudah jam berapa? Apakah dia tidak tahu agenda kita setiap pagi harus makan bersama?" Keanu sebagai kepala keluarga buka suara.
__ADS_1
Mouza hanya mengangguk pelan. "Iya Dadd, aku cek dulu ke kamarnya. Mungkin dia masih di kamar mandi. Kalau kalian buru-buru, kalian makan aja dulu biar Eza, sarapan sama Mommy," ucap Mouza yang langsung bergerak meninggalkan tempat duduknya.
Didalam kamar, tubuh Kenza masih terbalut dengan selimut tebal. Silauan cahaya matahari membuat tidurnya terganggu. Saat ingin memaki orang yang telah berani membuka gorden jendelanya, seketika nyali Kenza menciut. Dia adalah ratu istana, siapa lagi jika bukan Mommy-nya.
"Mommy." Kenza mendengkus kesal. "Kenapa harus dibuka, sih? Eza masih ngantuk!"
"Ini sudah jam berapa? Kamu ini anak perempuan! Bangun itu gak boleh malas-malasan. Gimana nanti kalau udah nikah? Masa suaminya diladenin sama pembantu? Terus apa gunanya jadi istri?" Mouza mengomel, karena anaknya yang sudah hampir menikah masih malas untuk bangun pagi.
"Momm ... masih pagi ini! Mata Eza aja belum melek semua. Bahkan separuh nyawa Eza belum terkumpul. Bisa-bisanya Mommy bahas masalah nikah," gerutu Kenza yang malah meredakan kembali tubuhnya dan menarik selimutnya.
Mouza yang tidak sabar melihat kelakuan anaknya langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Kenza.
"Eza, bangun ini udah jam 7! Jangan sampai Mommy tarik ke kamar mandi ya!" ancam Mommy-nya.
Dengan wajah kesal, Kenza pun bangkit tanpa kata. Sebenarnya dia sedang malas untuk bertemu dengan Daddy-nya, karena sudah bersekongkol dengan Arshen untuk membohongi dirinya. Seolah-olah tidak mengenal Arshen.
"Cuci muka aja, terus turun!" perintah Mommy-nya lagi.
Meskipun hatinya sedang kesal, tetapi Kenza masih menuruti setiap kata yang keluar dari Mommy-nya.
"Mommy duluan aja nanti Eza nyusul," ujar Kenza dari dalam kamar mandinya.
"Tidak! Mommy akan menunggu kamu disini, kita turun sama-sama. Mommy gak percaya kalau kamu mau turun. Yang ada kamu naik ke atas tempat tidur lagi," balas Mommy-nya.
Di meja makan, tiga orang sudah hampir karatan hanya menunggu Kenza turun. Sebenarnya bisa saja Keanu makan lebih dulu, tetapi Keanu memilih untuk menunggu Kenza, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan sang anak.
"Nah, tuh dia tuan putri udah turun," celetuk Kenzi yang melihat Kenza menuruni anak tangga.
Tanpa merasa bersalah sedikitpun kepada tiga orang yang sedang menunggunya, tiba-tiba Kenza langsung mengambil nasi yang sudah tersedia diatas meja. Tiga orang yang menunggunya hanya saling melemparkan pandangan mereka. Seolah mereka sedang berbicara melalui telepati.
"Kok malah diam? Ayo sarapan!" ujar Kenza.
__ADS_1
Keanu mengangguk pelan. "Iya, ayo sarapan."