
Karena tidak ada sinyal akhirnya panggilan pun terputus. Arshen merasa sangat frustasi karena kehilangan jejak Kenza. Namun, dari pantauannya terlihat jika saat ini Kenza posisi Kenza jauh dari pusat kota.
"Arg ... sial!" umpat Arshen yang sudah tidak bisa mendeteksi keberadaan Kenza.
Seno yang menyetir sudah merasa lelah dan mengantuk. Terlebih saat tidur tahu akan pergi kemana, dia pun memilih untuk menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Arshen dengan ketus.
"Aku capek dan ngantuk, Shen. Gak bagus jika dipaksakan," balas Seno.
"Tapi kita harus segera menemukan Kenza, karena aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Nanti kalau dia diapa-apain gimana?"
"Ya itu urusan dialah. Tapi aku yakin dia bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik. Enggak mungkin cewek bar-bar kayak dia bisa ditindas. Udahlah, ngapain juga kamu mengkhawatirkan dia, toh dia bukan siapa-siapa kita."
Arshen hanya mendengus dengan kasar. Bagaimana bisa dibilang bukan siapa-siapa sedangkan Kenza adalah calon istrinya. Ya, meskipun saat ini Kenza sama sekali belum bisa mengingat tentangnya, tetapi Arshen yakin jika suatu saat nanti Kenza pasti bisa mengingatnya kembali.
"Diam kamu. Pokonya bagaimanapun caranya malam ini kita harus menemukan Kenza dan membawanya pulang," tegas Arshen.
๐ผ๐ผ
Sudah pukul 11 malam tetapi belum ada tanda-tanda Kenza pulang. Tentu saja membuat Keanu sangat khawatir, terlebih ponsel Kenza juga tidak bisa dihubungi.
Tidak ada pilihan lain Keanu pun memutuskan untuk menghubungi Arshen, berharap calon menantunya itu mengetahui kemana perginya Kenza mengapa sampai tengah malam belum pulang juga.
Arshen yang mendapatkan telepon dari calon mertuanya langsung mengangkat. Dia sudah yakin jika Daddy-nya Kenza akan menanyakan Kenza kepada dirinya.
"Halo Om, ada apa?" tanya Arshen saat menjawab panggilan telepon dari Keanu.
"Shen, apakah saat ini kamu sedang bersama dengan Eza? Mengapa sampai saat ini dia belum pulang. Kamu jangan macam-macam sama dia ya! Awas saja kalau Eza sampai lecet. Aku langsung pecat kamu sebagai calon menantuku!"
"Astaga Om ... gak anaknya gak Daddy-nya sama-sama doyan ngegas. Arshen sedang tidak bersama dengannya, Om. Mungkin saja dia pulang ke rumah Daddy Al." kata Arshen.
__ADS_1
"Tapi kenapa tidak memberi kabar? Seharusnya dia memberitahuku jika ingin menginap di rumah Daddy si Alan-nya itu. Aku ini Daddy yang mencetaknya, seharusnya dia terbuka denganku, bukan dengan Daddy si Alan-nya itu." Keanu mendumel untuk melampiaskan rasa kesalnya.
"Itu masalah Om Ke. Gak usah curhat denganku. Aku ingin beristirahat. Udah ya Om." Tanpa menunggu persetujuan dari Keanu, Arshen langsung memutuskan panggilan telepon dan mengambil nafas leganya. Untuk saat ini Arshen tidak ingin memberitahu keadaan Kenza yang sebenarnya karena sudah larut malam. Arshen hanya takut jika dia memberitahu tentang yang sebenarnya terjadi kepada Kenza hanya akan membuat orang tua Kenza semakin tidak tenang Bisa-bisanya langsung kena serangan jantung. Dan Arshen tidak ingin itu terjadi.
"Siap, Shen?" tanya Seno yang penasaran.
"Bapaknya Kenza," jawab Arshen dengan malas.
"Apa? Yang serius kamu, Shen! Sejak kapan kamu mengenal bapaknya cewek bar-bar itu? Dan apa hubungannya denganmu? Apakah bapaknya cewek bar-bar itu seorang produser?" tanya Seno dengan terkejut. Padahal selama ini Seno selalu menemani Arshen. Namun, mengapa dia tidak mengetahui jika Arshen mengenal ayahnya cewek yang dianggap bar-bar itu.
"Sejak dulu kala. Sudahlah sekarang bagaimanapun caranya malam ini kita harus menemukan keberadaan Kenza."
"Tapi Shen! Kamu kita harus pulang, karena besok kamu ada jadwal syuting pagi!" Seno mengingatkan.
"Untuk agenda besok kosongkan semuanya. Katakan kepada mereka jika aku sedang tidak enak badan dan tidak bisa syuting!" titah Arshen.
"Tapi Shenโ"
Tak ada pilihan lagi untuk Seno, akhirnya Seno untuk menjalankan kembali mobilnya mengikut jalan yang ada di depannya. Entah sampai mana yang penting mobil terus berjalan Arshen merasa puas, ya meskipun tidak tahu arah dan tujuannya.
๐ผ๐ผ
Kenza yang tidak bisa berbuat apa-apa pasrah saja ketika Kala mem membawanya masuk ke dalam sebuah kamar. Seperti yang telah diucapkan oleh Kala sebelumnya jika di rumah itu hanya ada mereka berdua. Kenza takut Kala berbuat macam-macam kepada dirinya.
"Sekarang sudah malam. Tidurlah!" kata Kala saat membawa Kenza dalam sebuah kamar yang besar. "Kamu gak usah khawatir, aku akan tidur di luar," lanjutnya lagi.
Kenza hanya mengangguk sebagai jawabannya. Berharap apa yang ditakutkan tidak terjadi kepadanya, karena Kenza yakin jika Kala tidak akan menyakitinya.
Setelah kepergian Kala, Kenza langsung buru-buru mengecek ponselnya. Namun ternyata ponselnya tidak ada sinyal.
"Ah ... kenapa malah gak ada sinyal sih? Semoga saja Arshen bisa menemukan tempat ini."
__ADS_1
Meskipun telah diserang rasa kantuk, Kenza tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya terus gelisah memikirkan bagaimana caranya bisa keluar dari tempat ini, sementara dia tidak tahu sedang berada dimana dirinya saat ini.
Pikiran Kenza pun mengingat kembali sebuah foto dan videonya bersama dengan Arshen. Meskipun wajahnya tidak terlihat, tetapi orang yang mengenal dirinya pasti akan tahu jika yang berada di dalam mah foto dan video itu adalah dirinya.
"Pantas saja Arshen selalu menyuruhku untuk menutupi wajah, nyata ini adalah jawaban dari larangannya. Aku tahu pasti para paparizi itu ada yang menyuruhnya, mengingat saat ini Arshen adalah bintang yang sedang bersinar. Pasti akan ada pihak yang menjatuhkannya. Semoga saja Arshen segera bisa menemukanku."
Kala yang berada di ruang tengah juga tidak bisa memejamkan mata. Cintanya pada Kenza berubah menjadi sebuah obsesi untuk memiliki Kenza sepenuhnya. Tanpa ingin tahu bagaimana perasaan Kenza saat ini.
.
.
Di dalam sebuah kamar, Elena tersenyum puas saat mendengar jika Kenza hilang. Kali ini Elena berharap jika Kenza benar-benar hilang untuk selamanya agar tidak menjadi penghalangnya.
Suara ketukan pintu mengejutkannya, terlebih saat Daddy-nya memanggil Elena untuk bangun. Karena Elena sudah bisa menyebabkan apa yang akan dikatakan oleh Daddy-nya, dia memilih mengabaikan dan pura-pura tidak mendengar ketukan pintu kamarnya.
"Elen, bangun dulu Elen!" Suara Alan untuk kesekian kalinya.
"Sudahlah, Dadd. Mungkin Elen kelelahan dan tertidur pulas," kata Azra yang menyerah karena tidak mendapat balasan dari Elena.
"Tapi kita harus bertanya kepada Elena. Siapa tahu dia tahu kemana perginya Eza, Sayang."
"Mending kamu kerahkan orang-orang untuk mencari kebenaran Eza. Percuma saja kita bangunkan Elen!" saran Azra.
Alan pun setuju dengan ide yang diberikan oleh istrinya. Dengan cepat Alan menghubungi Re selaku orang kepercayaannya agar segera mengarahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Kenza.
Di rumahnya pun Keanu sudah sangat khawatir dan panik saat mengetahui jika sat ini Kenza sedang tidak berada di rumah Alan. Bahkan dia pun juga langsung menurunkan perintah kepada anak buahnya untuk mencari keberadaan putrinya. Bahkan tanpa pikir panjang Keanu turun tangan sendiri untuk mencari Kenza.
Mendengar suara mobil keluar dari garasi, Mouza segera terbangun dan langsung keluar untuk memastikan jika bukan suaminya yang keluar tengah malam ini. Namun, sepertinya Mouza harus berlapang dada ketika tak mendapati keberadaan suami di sofa.
"Apakah dia akan pergi untuk mencari mencari daun muda? Udah tua pun masih tidak berubah!" gerutu Mouza saat menyadari sang suami telah meninggal rumah.
__ADS_1
...๐ผ BERSAMBUNG ๐ผ...