Akulah Jodohmu

Akulah Jodohmu
BAB 44 : Salah Paham


__ADS_3

Hari pertama menjadi seorang istri membuat perasaan Kenza sangat berdebar. Meskipun tidak ada kegiatan di malam pertama pernikahan, tetap saja Kenza merasa sangat gugup saat melihat wajah Arshen.


Sejak tadi dering ponsel Arshen terus berbunyi. Sudah berpuluh kali Seno menghubungi Arshen, tetapi karena sang Arshen masih tertidur pulas, maka panggilan pun berakhir begitu saja tanpa sebuah jawaban.


Malam pertama yang terlewatkan begitu saja tak membuat tidur sepasang pengantin merasa menyesal, karena keduanya sudah diserang rasa kantuk dan lelah. Bahkan meskipun hanya acara sederhana tetapi keluarga besar mereka, sudah hampir satu kampung.


Tidur Arshen terasa lebih nyenyak dari sebelumnya. Bahkan gulingnya terasa lebih hangat dari biasanya. Hawa dingin yang menyentuh kulit, membuat Arshen semakin mengeratkan pelukan pada benda yang dianggap guling.


Semakin erat Arshen merengkuh, semakin membuat Kenza terasa sesak. Kaki Arshen sudah menimpa tubuh Kenza. Bahkan tangannya mengerat di pinggang.


Karena merasa tidak nyaman, Kenza langsung membuka mata dengan pelan. Pertama kali matanya dibuka, Kenza merasa terkejut karena melihat dinding langit tempat tidurnya yang terasa asing. Dan saat diliriknya ke samping ternyata ada tubuh Arshen yang masih terlelap. Sontak tangannya langsung melihat kearah tangan dan kaki Arshen yang sudah menimpa tubuhnya.


"Astaga ... Arshen!" pekik Kenza yang langsung menendang tubuh Arshen dengan kakinya. "Apa yang kamu lakukan, Shen!"


Merasakan sakit akibat terjatuh dari tempat tidur, Arshen pun mengaduh. Nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, membuat Arshen memilih terkapar di lantai tanpa ingin berdiri.


Kenza yang merasa sangat terkejut langsung melihat keadaan Arshen yang baru saja ditendangnya.


"Astaga Arshen, kamu enggak papa kan?" tanya Kenza dengan panik.


"Sakit tahu, Za! Kamu brutal sekali sih? Kalau aku sampai gagar otak gimana?"


"Iya, iya aku minta maaf. Lagian kamu ngapain nidurin aku? Kan aku jadi refleks."


Perlahan nyawa Arshen sudah mulai terkumpul. Dia pun langsung mengangkat tubuhnya untuk bangkit sambil mengelus kepalanya yang masih terasa sakit.


"Aku belum nidurin kamu, Za. Itu baru kelon aja. Sadis banget sih suami sendiri ditendang. Ini termasuk dalam kekerasan ya!"


Kenza langsung menautkan kedua alisnya. "Suami," gumam Kenza dengan heran.


Sejenak Kenza mengingat apa yang telah terjadi tadi malam antara dirinya dengan Arshen. Sebuah akad pernikahan telah terjadi diantara keduanya, membuat Kenza langsung menutup mulutnya dengan kedua telapaknya.


Seketika Kenza memundurkan tubuhnya. Dia merasa masih shock dengan statusnya saat ini. Mengapa Kenza bisa sampai tidak mengingat jika tadi malam Arshen telah menikahinya. Pantas saja Kenza merasa sangat asing dengan kamar yang ditempatnya untuk tidur.

__ADS_1


Melihat ekspresi wajah Kenza yang terlihat shock, Arshen hanya menggelengkan kepalanya. "Jangan bilang kamu lupa kalau kita udah nikah. Iya kan?" tebak Arshen.


"Aku pikir itu mimpi, Shen. Ternyata itu bukan mimpi." Kenza hanya nyengir saat berhasil mengingat statusnya saat ini.


"Sudahlah jangan pasang wajah seperti tak bersama seperti itu. Mending bantuin aku berdiri!"


Kenza pun patuh dan langsung membantu Arshen untuk berdiri. Namun, saat hendak melangkah Arshen kembali mengaduh.


"Aduh ... kakiku!"


"Kenapa, Shen? Kaki kamu kenapa?" tanya Kenza dengan panik.


"Ini kakiku sakit, Za. Kayaknya keseleo, deh."


"Hah? Seriusan, Shen! Jangan bercanda!"


🌼🌼


Terasa asing bagi Kenza karena ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di rumah keluarga Arshen.


"Gak usah kaget. Keluargaku memang ramai, Za. Ini hanya kakek dan nenekku saja belum aman dan pipiku beserta keponakanku. Tapi kamu jangan salah untuk memanggil mereka karena aku memanggil dengan sebutan Grandpa dan Grandma untuk orang tua dari Mommy, sementara aku memanggil kakek dan nenek untuk orang tua Daddy. Kamu lihat sendiri, yang masih terlihat muda itu kakek dan nenek sedangkan yang terlihat seram itu Grandpa lalu disampingnya ada Grandma," jelas Arshen dengan pelan.


"Ribet banget sih, Shen!" Apa susahnya tinggal panggil kakek nenek!" protes Kenza.


"Gak tahu. Udah dari sananya aku manggilnya gitu! Jangan cepet-cepet napa langkahnya! Kaki aku sakit, Za!"


Kenza yang menuntun Arshen di tangga menjadi pusat perhatian semua orang yang melihat keduanya turun. Tatapan heran tanpa berkedip membuat Kenza merasa canggung, terlebih saat kaki Arshen pincang. Bisa-bisa dirinya langsung digeprek oleh keluarga besar Arshen jika mereka mengetahui jika mengetahui Arshen baru saja ditendang dari tempat tidur.


Daddy-nya Arshen sampai tak berkutik saat melihat anaknya turun dari tangga dengan bantuan Istrinya. Apakah tadi malam telah terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat sehingga mengakibatkan patah tulang.


"Shen, kamu kenapa? Apakah kamu tadi malam terlalu bersemangat?" tanya Daddy-nya dengan heran.


Arshen dan Kenza langsung mendelik secara bersamaan.

__ADS_1


"Sudahlah Ga, jangan kamu tanyakan masalah itu kepada anakmu. Seharusnya kamu paham dengan acara malam pertama. Sudah ... sudah jangan buat mereka berdua semakin malu. Arshen, Eza, sini!" Dirga, kakeknya Arshen melambaikan tangannya pada pasangan pengantin baru itu.


Senyum kecil mengembang di bibir Kenza. Sungguh dirinya sangat malu. Bukan dia tidak tahu maksud dari ucapan dua Daddy-nya Arshen. Meskipun bodoh, Kenza sudah paham kemana arah dan tujuan pertanyaan Daddy mertuanya itu yang hampir sebelas dua belas dengan Daddy-nya.


Sambil menuntun Arshen, Kenza mendekat kearah pria tua yang baru saja memanggil dirinya untuk mendekat.


"Kamu kenapa?" tanya Dirga saat Arshen telah duduk di sampingnya.


"Arshen keseleo, Kek," jawab Arshen dengan jujur.


"Hah?!" Semua orang yang mendengar ucapan Arshen merasa sangat terkejut dengan jawaban Arshen.


"Astaga Arshen ...! Terus gimana dengan Eza? Za, kamu gak papa kan? Gak lecet kan?" tanya Shereena, Mommy mertua Kenza.


"Ya ampun kamu ini Shen ... pelan-pelan dong! Kasihan Eza! Kamu ini gimana sih!" sahut Vie, neneknya Arga.


Arshen dan Kenza lagi-lagi saling bersitatap. Keduanya saling melotot. Bahkan untuk menelan salivanya saja terasa sangat sulit.


"Maksud kalian apa, sih?" Arshen bertanya dengan heran karena melihat sikap semua orang yang sangat aneh.


"Sudahlah ...kalian ini seperti tidak pernah muda saja. Jangan buat malu Kenza. Kalian gimana sih!" gerutu Excel—Grandpa Arshen.


"Kalian ini pikirannya terlalu kotor! Aku tuh keseleo karena — " Belum sempat Arshen memberikan penjelasan mulutnya sudah ditutup oleh Kenza. Matanya memberi isyarat jika Arshen tidak boleh buka suara tentang kejadian tadi. Mau diletakkan dimana wajahnya jika Arshen sampai mengatakan jika dia baru saja ditendang dari atas tempat tidur oleh istrinya sendiri.


Berkat Excel semua orang diam tanpa kata., kerena meskipun sudah tua tetapi aura kepemimpinan masih terlihat sangat jelas. Berkat Excel juga Kenza merasa lebih nyaman karena pada akhirnya semua orang diam tanpa ingin membahas lagi masalah Arshen.


🌼🌼


Pernikahan yang dilakukan Arshen secara diam-diam ternyata terendah juga oleh para wartawan. Berbagai kabar berita pun mulai bermunculan. Bahkan ada yang mengatakan jika pernikahan arsen terjadi karena sebuah pencoblosan yang dilakukan sebelum waktunya. Entah darimana wartawan bisa mengendus berita tersebut, yang pada akhirnya membuat Kenza merasa sangat tidak nyaman.


"Za, kamu mau kemana?" tanya Arshen saat melihat Kenza yang sudah rapi.


"Aku mau pulang dulu, Shen! Aku ingin beristirahat di rumah. Disini malu ditanya udah jadi apa belum. Lah mereka pikir buat anak itu kayak bikin bakwan apa? Heran deh!"

__ADS_1


"Ya, yang sabar aja Za. Memang seperti itu kalau ngadepin orang tua. Kamu gak usah pulang, mending kita ke apartemen buat adonan martabak. Mumpung aku juga udah sehat," celetuk Arshen.


__ADS_2