
Disclaimer
Ini hanya cerita fiksi!
Karena ingin bercerita tentang politik dan kekuasaan, maka pasti akan bicara tentang negara, penguasa, pendukung hingga oposisi.
Tetapi cerita ini sama sekali tidak untuk menentang atau mendukung tokoh atau golongan manapun yang ada di dunia nyata di masa pemerintahan manapun dan tidak punya hubungan sama sekali karena jangka waktunya pun cukup jauh.
Nikmati konflik fiktif ini dengan bijaksana, semoga ada nilai dan manfaat untuk pembaca.
Jakarta Kota Megapolitan Baru
Jakarta 2040
Sebuah perahu boat MWT (Mass Water Transportation), alat tranportasi umum perairan, merapat di dermaga Tosari di sebelah MWT lain yang telah bersandar. Para penumpang bergegas turun melanjutkan perjalanan lewat darat melalui jembatan panjang, menuju stasiun kereta MLT (Mass Land Transportation) Dukuh.
Fahri melirik jam tangannya, sudah pukul 11 malam, sambil menunggu semua orang turun, ia menikmati keindahan suasana di sekitarnya. Air laut sedang pasang tertarik gravitasi purnama, cantiknya refleksi lampu gedung-gedung tinggi pada kegelapan air selalu membuat banyak orang senang memotret kawasan ini dengan ponselnya.
Fahri memandangi Patung Selamat Datang yang berada jauh di seberang sana, ia terkenang pernah diajak menonton aksi demonstrasi di sekitar patung itu saat masih duduk di bangku SD. Kini patung itu tampak kesepian terendam genangan air laut setinggi dua meter, padahal patung itu pernah menjadi saksi sejarah berbagai aksi di Jakarta.
Setelah tidak ada penumpang antri keluar, Fahri turun dari MWT menyusuri jembatan panjang yang telah sepi. Genangan air di sebelahnya dulu bernama Jalan Jendral Sudirman, kini mobil dan bus yang dulunya membuat jalanan macet telah tergantikan lalu-lalang perahu boat pribadi yang mewah dan MWT, yang mengantar-jemput penumpang ke gedung-gedung tinggi di atas pulau-pulau reklamasi kecil di wilayah perairan dangkal Jakarta.
Perairan dangkal ini berakhir di MH Thamrin Wall yang berada di dekat Jembatan Semanggi. MH Thamrin Wall adalah bendungan berbentuk dinding panjang mirip Great Wall of China, yang membentang dari ujung barat ke ujung timur Jakarta untuk membendung air laut agar tidak terus menggerus wilayah Jakarta.
Jakarta saat ini sangat jauh berbeda dengan saat Fahri kecil. Seluruh bekas wilayah Jakarta Utara dan separuh Jakarta Pusat dan Jakarta Barat telah terendam air laut. Bekas wilayah Tangerang, Bekasi dan separuh Bogor telah menjadi wilayah Jakarta, sehingga saat ini wilayah Jakarta justru lebih luas.
Satu hal yang tak disangka oleh orang di masa lalu, ternyata kondisi Jakarta di tahun 2040 sangat jauh dari bayangan ngeri tentang dampak kenaikan air laut dan penurunan ketinggian tanahnya. Setelah terpuruk beberapa tahun dan tidak jadi ibu kota negara lagi, akhirnya Jakarta mampu bangkit menjelma menjadi kota megapolitan. Kemajuannya bahkan membuat kota-kota di negara tetangga yang sebelumnya lebih berjaya di Asia Tenggara kini layak cemburu.
Namun sayangnya kebanggaan ini tidak menjadi milik semua orang, karena Kota Megapolitan Jakarta bukan lagi tempat untuk semua kalangan semenjak rezim Presiden Anggito Suryo berkuasa..
Orang miskin jangan mimpi tinggal di Jakarta!
Sungguh ironis! Semua masalah sosial di Jakarta seperti kemiskinan, daerah kumuh, jalanan macet dan sebagainya telah teratasi, tetapi bukan karena solusi jenius, justru akibat seleksi alam lewat kebijakan-kebijakan pemerintah yang membuat penduduk miskin di Jakarta terusir dari tanahnya sendiri.
Jakarta hanya layak dihuni oleh mereka yang sangat kaya, bahkan jika cuma sekedar kaya, jangan mimpi sanggup tinggal di Jakarta. Hanya orang-orang yang mampu membuat rumah besar di atas tanah yang seolah ingin menyamai luas lapangan sepak bola saja yang mendapat izin punya rumah di Jakarta. Kendaraan di Jakarta juga dibatasi oleh tahun produksi dan harga, sehingga hanya kendaraan baru dan mahal saja yang boleh lalu-lalang di jalan-jalan besar dan mulus yang dibiayai oleh negara.
Mimpi masuk wilayah Jakarta pun terasa sangat muluk bagi orang miskin, walau tidak ada larangan tertulis 'orang miskin dilarang masuk' tapi yang bisa melewati gerbang wilayah Jakarta adalah penduduk yang punya kartu elektronik untuk membuka pintu kaca otomatis yang menghadang mereka, yaitu mereka yang dianggap layak memasuki Jakarta.
Dimana orang-orang miskin yang pernah menghuni Jakarta tinggal?
Rezim telah menyediakan banyak rumah susun (rusun) bersubsidi untuk penduduk miskin asal Jakarta di pelosok yang tidak hanya jauh dari Jakarta, tetapi juga jauh dari pusat kota di wilayah yang mengelilingi Jakarta.
Awalnya rezim menggunakan cara persuasif untuk mengusir warga miskin dari Jakarta, memberikan pemukiman baru dengan berbagai fasilitas dan subsidi, sayangnya setelah semua warga berhasil dipindahkan, kemurahan hati itu tidak berjalan lama, bahkan orang-orang kecil itu dilarang mencari nafkah di Jakarta, kecuali dipekerjakan oleh tuan-tuan besar penghuni baru Jakarta.
Padahal bukan penghuni baru itu yang membangkitkan Jakarta saat tenggelam, bukan pula rezim baru ini pula, Tapi mereka tak mau sakit mata melihat pemandangan kemiskinan di Jakarta yang telah bangun dari mati suri.
Akibatnya warga miskin bekas penduduk Jakarta menjadi semakin miskin, mereka yang terbiasa mencari nafkah di pusat kegiatan ekonomi harus mencari cara baru berjuang hidup di wilayah asing yang penduduknya sama-sama tidak punya daya beli. Yang tak bertemu cara halal terpaksa menghalalkan yang haram.
Rezim sangat sibuk dengan pembangunan sehingga tak mau terbebani oleh dampak kemiskinan yang tak sejalan dengan cita-cita besar mereka, mungkin juga karena mereka hanya punya waktu 5 tahun, sehingga proyek-proyek harus segera dijalankan untuk mengisi pundi-pundi yang kosong akibat mahalnya ongkos politik.
Kesibukan rezim membuat kawasan-kawasan rusun menjadi daerah tak bertuan yang tak tersentuh hukum sehingga menyuburkan para pelaku kriminal. Kini negeri ini telah memiliki dua sisi yang berjalan sendiri-sendiri.
*****
Fahri telah berada di MLT menuju rumahnya di Rusun Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Ia duduk di gerbong paling belakang yang lebih sepi, agar khusuk membaca dalam hati aplikasi Al Qur'an di ponselnya. Walaupun ia hafal tetapi ia lebih senang membaca untuk memastikan hafalannya masih benar.
Biasanya, setelah jam 10 malam hanya sedikit orang yang berani berada di gerbong belakang, tapi menurut Fahri malam ini agak berbeda, penumpang gerbong belakang agak banyak dan ada seorang perempuan pula. Fahri menutup aplikasi dan mengantungi ponselnya, ia punya firasat buruk.
Diam-diam Fahri menghitung penumpang di gerbong belakang, selain dirinya ada 11 penumpang. Di sebelah kanan Fahri, selisih 4 kursi, ada seorang pemuda dengan rambut berwarna hijau yang serius dengan ponselnya. Di seberang Fahri, tampak seorang bapak tua yang terlihat sangat mengantuk, ia duduk bersebelahan dengan seorang perempuan muda yang terlihat gelisah. Fahri yakin, walau perempuan muda dan bapak tua itu berdekatan tetapi mereka tidak saling mengenal. Penumpang lain duduk saling berjauhan, beberapa dari mereka tidur pulas.
Tak terasa kereta MLT telah keluar dari wilayah Jakarta, perempuan muda itu tiba-tiba berdiri. "Kurang ajar!" bentak perempuan itu pada bapak tua yang duduk di sebelahnya.
Beberapa penumpang kaget, 3 laki-laki bereaksi cepat menghampiri si perempuan.
"Kenapa Mbak?" tanya seorang pemuda berjaket kulit.
__ADS_1
"Bapak ini kurang ajar, pelecehan seksual!" adu si perempuan marah pada 3 laki-laki yang mau membelanya.
"Heh, mesum! Berdiri!" bentak pemuda berjaket kulit pada si bapak tua.
"Sumpah saya enggak ngapa-ngapain," jawab bapak tua itu, ia tetap duduk tenang di kursinya.
"Gue bilang berdiri!" bentak pemuda berjaket kulit.
Bapak tua itu tetap tidak mau berdiri, kesabaran pemuda berjaket kulit habis, ia menarik kerah kemeja bapak tua itu hingga berdiri di hadapannya, si bapak tua ketakutan.
"Saya sengaja duduk dekat orang tua supaya aman, tapi bapak ini malah nyentuh saya," kata si perempuan setengah menangis.
"Kamu jangan nuduh sembarangan!" sahut si bapak tua tidak terima.
"Ngaku! Dasar orang tua mesum!" bentak si perempuan.
"Kamu fitnah!" bentak si bapak tua lebih keras.
Pemuda berjaket kulit mencengkram kerah kemeja si bapak tua lebih kuat.
Pemuda berambut hijau langsung memegang pemuda berjaket kulit untuk menenangkannya. "Sabar mas! Sabar! Kita tanya dulu. Memang lagi viral, ada bapak-bapak tua dari Cikaret yang suka diem-diem pelecehan ke cewek-cewek di MLT. Nah, bapak orang itu bukan? Coba lihat KTP bapak," pintanya pada si bapak tua.
"Mau apa lihat KTP saya?" tanya si bapak tua ngeyel.
Pemuda berjaket kulit kesal, ia mendorong si bapak tua hingga jatuh ke kursi di belakangnya.
Fahri terus memperhatikan kejadian yang berlangsung di depan matanya tanpa bereaksi. Semua penumpang yang tidur jadi terbangun karena mendengar keributan, tapi mereka juga hanya menonton seperti Fahri, tidak mau terlibat.
"Bapak sih, diminta baik-baik enggak mau," ujar pemuda berambut hijau sambil membantu membangunkan si bapak tua untuk berdiri lagi. "Sekarang boleh saya lihat KTP nya?"
Si bapak tua tidak punya pilihan, walau ragu ia terpaksa mengeluarkan dompetnya, jarinya telunjuknya bolak-balik mencari KTP di antara kartu-kartu dan lembaran tebal uang di dompetnya, ia mencarinya agak lama.
Pemuda lain yang punya tindik di hidung curiga si bapak tua sengaja mengulur waktu, ia merampas dompet itu. Si bapak kaget, karena takut uangnya diambil, ia berusaha merebut dompetnya.
Aksi rebut-rebutan dompet membuat pemuda bertindik di hidung marah, ia mendorong badan dan menekan tubuh si bapak tua hingga tersudut di jendela.
"Sialan, emangnya lu kira gue ngerampok duit lu?" tanya pemuda bertindik sambil menunjukkan dompet yang berhasil ia rebut, kemudian pemuda bertindik tampak mencari orang lain untuk memeriksa dompet si bapak, ia memandangi para penumpang yang menonton, pilihannya jatuh pada pemuda rapi berkemeja putih.
"Mas, tolong cari tahu bapak mesum ini tinggal dimana sebelum kita serahin dia ke polisi, nih periksa dompetnya!" perintah pemuda bertindik.
"Iya, elu! Bantu lihat KTP bapak ini. Mentang-mentang gue betindik, dia kira gue maling," ejek pemuda bertindik pada si bapak tua.
Pemuda rapi itu segera menghampiri, ia membawa dompet itu ke kursinya untuk mencari KTP si bapak dengan tenang.
DUERR!!! Pemuda berjaket kulit meninju keras kaca tebal MLT, semua mata memandang ke arah suara.
"Ah enggak penting lihat KTP! Gebukin aja!" bentaknya.
"Saya enggak ngapa-ngapain!" teriak si bapak.
Pemuda berjaket kulit mendorong tubuh si bapak tua hingga tubuhnya membentur kaca MLT. "Bentak gue lu? *******!"
Pemuda berambut hijau segera merangkul pemuda berjaket kulit untuk menenangkannya. Pemuda lain berkaos hitam yang sejak tadi menonton ikut berdiri untuk membantu menenangkan keadaan, "Pak, cepetan minta maaf," katanya pada si bapak tua, kemudian ia menoleh pada si perempuan, “Udah lah mbak, maafin aja.”
"Mas! Bapak ini emang tinggal di Cikaret!" kata pemuda berkemeja sambil menyerahkan dompet si bapak pada pemuda bertindik, ia tidak kembali ke kursinya.
Untungnya si perempuan terlihat tidak tega, mungkin kuatir 5 pemuda yang mengelilingi si bapak tua itu akan menghakiminya. "Cukup mas! Dia udah dapat pelajaran, pulangin lagi aja dompetnya, enggak perlu disuruh minta maaf."
Pemuda bertindik mengembalikan dompet si bapak tua, lalu berujar, "udah, sekarang lu cepet pindah ke gerbong depan, terus turun di pemberhentian terdekat sebelum mbak ini berubah pikiran. "
Si bapak tua itu menurut. ia cepat mengantungi dompetnya, ia ingin segera meninggalkan gerbong belakang karena ketakutan.
Tiba-tiba Fahri berdiri menahan langkah si bapak tua. 5 pemuda yang masih berdiri bersama si perempuan tampak heran.
"Lu berlima termasuk perempuan itu, semuanya komplotan maling! Balikin duit bapak ini!" perintah Fahri sambil menatap satu-persatu para pemuda yang berdiri, termasuk si perempuan.
"Maksud lu apa sih?" tanya pemuda berambut hijau.
"Balikin duit bapak itu!" bentak Fahri.
Pemuda berambut hijau tertawa. "Bangke! Belagak jagoan di depan cucunya Jet Lee, lu? Mau gue rujak, nuduh sembarang?" ujar pemuda berambut hijau sambil memamerkan jurus-jurus aneh. " Gue hitung sampe lima, kalo enggak lari, abis lu! Satu! Du… Adawww!"
Fahri telah meraih pergelangan tangan pemuda berambut hijau dan memutarnya hingga badan pemuda itu jadi berputar membelakangi, kemudian Fahri menekuk siku tangan pemuda itu.
__ADS_1
"Sakit! Sakit! Sakit, Bang!" teriak pemuda berambut hijau.
"Ada apa sih, mas? Saya jadi bingung?" tanya pemuda rapi berkemeja putih yang terlihat ingin melerai.
Fahri malah melesakkan tendangan ke arah ************ pemuda berkemeja putih, ia roboh di atas lututnya sambil memegang bagian tubuhnya yang sakit.
Pemuda berjaket kulit naik pitam. "Lu cari mati?" ancamnya sambil mengeluarkan pisau lipat dari balik jaketnya.
Fahri mendorong pemuda berambut hijau ke arah pemuda berjaket kulit, dengan gesit pemuda berjaket kulit menghindar sehingga pemuda berambut hijau terjatuh tanpa menyentuhnya.
Pemuda berjaket kulit maju sambil menyabet-nyabet pisau lipatnya 2 kali ke area kosong, pola gerakannya cepat terbaca Fahri, sebelum ia melakukan ancaman palsu ketiga kalinya, tinju Fahri masuk dengan sangat cepat mematahkan hidung pemuda itu.
Pemuda berjaket kulit jatuh, ia mengerang kesakitan sambil memegangi hidungnya yang bersimbah darah, Fahri menendang pisau lipat yang terjatuh agar jauh dari jangkauan para pemuda lain di depannya.
Pemuda bertindik dan pemuda berkaos hitam serempak menyerang, tapi gerakan Fahri jauh lebih cepat, seolah menghadapi gerakan slow motion, dengan mudah Fahri mengelak pukulan dan pada saat bersamaan ia merenggut anting di hidung pemuda bertindik, kemudian sikutnya menghantam keras rahang pemuda berkaos hitam sehingga terjengkang.
Pemuda bertindik menjerit kesakitan, ia berjongkok sambil memegang hidungnya yang berdarah, Fahri langsung menendang keras kepalanya sehingga ia roboh. Setelah itu Fahri menghampiri pemuda berjaket kulit yang masih berusaha mengeringkan darah yang terus mengucur dari tulang hidungnya yang patah.
Pemuda berjaket itu maju sambil meninju Fahri, tapi rasa sakit membuatnya tak mampu merespon gerakan cepat Fahri yang tahu-tahu sudah memegang kepalanya.
DUERR!!! Fahri membenturkan kepala pemuda berjaket kulit ke kaca MLT dengan sangat keras sehingga pemuda berjaket kulit roboh.
Fahri menghampiri pemuda berambut hijau yang masih terpana menonton teman-temanya dihajar, pemuda itu terlihat sangat ketakutan. Kepalan tinju Fahri cepat menghampiri wajah pemuda itu, saking pasrahnya, pemuda berambut hijau itu memejamkan mata, ia bisa merasakan hembusan angin di sekitar wajahnya, ternyata Fahri menahan pukulannya.
Pemuda berambut hijau membuka sebelah mata untuk memastikan keselamatan dirinya, Fahri langsung menjambak rambut hijau itu hingga sejajar dengan pinggangnya, lalu menyeret pemuda berambut hijau berjalan mendekati si perempuan.
"Sakit, Bang! Sakit! Ampun!" teriak pemuda berambut hijau, ia terbungkuk-bungkuk mengikuti langkah Fahri agar jambakan itu tidak terlalu membuatnya sakit.
Fahri menatap tajam si perempuan yang terlihat ketakutan.
Perempuan muda itu cepat memegang tangan Fahri. "Maaf kak, tolong jangan laporin kita ke polisi," ujarnya terbata-bata.
Fahri tidak menjawab, ia terus menatap tajam si perempuan dengan wajah garang, kemudian mengencangkan jambakannya.
"Sakit! Sakit, Bang! Woy, dia minta balikin duitnya si bapak, ****!" teriak pemuda berambut hijau pada teman-temannya.
"Balikin duit si bapak!" perintah si perempuan pada pemuda berkemeja putih.
Pemuda berkemeja putih segera berjalan tertatih-tatih menghampiri si bapak tua dan mengembalikan uangnya.
Fahri menghampiri si bapak, tangannya masih menggenggam rambut pemuda berambut hijau, "cek dulu pak, ada yang hilang enggak?"
Si bapak tua menghitung uangnya. "Semuanya ada. Mas, terima kasih ya, untung ada sampeyan," ujar si bapak tua.
"Sama-sama, Pak. Alhamdulillah, bapak dilindungi Allah. Sebaiknya kalo bepergian malam jangan duduk di gerbong sepi, rawan, Pak," ujar Fahri.
"Iya, lain kali saya lebih hati-hati memilih tempat," sahut si bapak.
"Bang, pliiiis.... lepasin dong, kan duitnya udah dibalikin," bujuk pemuda berambut hijau yang masih berjongkok karena rambutnya tetap digenggam Fahri.
"Kalian harus gue bawa ke polisi," ujar Fahri.
Para komplotan kriminal ini langsung ramai memohon agar Fahri tidak melakukannya,
"Bang jangan, Bang! InsyaAllah kalo dilepasin gue bakal tobat dan rajin sholat deh," bujuk pemuda berambut hijau yang sempat melihat Fahri membaca Al Qur’an.
"Hmm, kali ini kalian gue lepasin, tapi sekarang tetep sama gue dulu, nanti di pemberhentian terdekat lu semua turun. Inget! Gue enggak mau lagi ngeliat aksi kalian di manapun, kalo sampe ketemu lagi, lu semua pasti tau apa yang bakal gue lakukan. Ngerti!"
"Alhamdulillah, ngerti Bang, tapi kok gue masih dijambak, Bang?" tanya pemuda berambut hijau.
"Eh Gulali! Jangan lupa janji lu, tobat terus rajin sholat" tagih Fahri sambil melepas jambakkannya pada pemuda berambut hijau.
"Iya Bang, insyaAllah. Bantu doaín juga Bang, biar istiqomah," ujar pemuda berambut hijau sambil mencium tangan Fahri yang tampak berusaha menahan senyum gelinya.
"Iya ngerti Kak, kita janji enggak begini lagi, maaf," ujar si perempuan ikut-ikutan mencium tangan Fahri kemudian tangan si bapak, lalu memberi kode pada teman-temannya yang lain untuk mengikuti sikapnya.
Fahri memang cuma mengancam, sebenarnya ia pun malas membawa para pelaku kriminal tersebut ke polisi. Ia sangat sering menghadapi kejadian seperti ini, akibat kemiskinan kronis yang melanda negeri. Lagi pula percuma, laporan dari warga miskin biasanya hanya akan dicatat tanpa penyelesaian, lain halnya jika kejahatan terjadi pada orang-orang besar.
Kereta cepat MLT memang bukan lagi kereta nyaman yang dikawal petugas seperti saat pertama kali muncul. MLT telah menjadi sarana transportasi warga kelas kambing, kereta jorok yang penuh kejadian kriminal. Setelah jelata bersedia mengganti motor mereka dengan alat transportasi umum atau rela mengosongkan jalan demi kenyamanan para pembesar, apa gunanya lagi merayu jelata?
*****
Bersambung
__ADS_1
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W