Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Perang Saudara - Part 3


__ADS_3

Laut China Selatan


5 pesawat tempur MiG seri terbaru buatan Rusia milik TNI telah tiba di atas Laut China Selatan untuk menghadang 5 pesawat tempur F-16 seri terbaru buatan Amerika Serikat yang dibawa oleh pilot-pilot asing pesanan Ben Jani, pemimpin pilot mereka bernama Adric.


MiG adalah pesawat tempur kesukaan Farhat, walaupun kecepatan terbangnya tidak sehebat F-16 atau Sukhoi yang juga dimiliki TNI, tetapi MiG memiliki kelincahan dan kemampuan manuver yang lebih bagus.


Kedua kubu menerbangkan pasukan udaranya dengan formasi Battle Spread, yaitu berjejer ke samping dengan ketinggian yang sama, ketika sudah sama-sama saling melihat, Farhat memerintahkan pasukan udaranya untuk melebarkan formasi terbang dan memilih lawan terdekat, Adric juga memberi perintah yang sama pada pasukan udaranya sehingga masing-masing pesawat tempur kini memiliki lawan sendiri-sendiri.


Pesawat tempur Farhat terlihat menurunkan ketinggian pesawatnya dan berbelok 450 sambil berputar terhadap dua sumbu hingga bagian bawah pesawat berada di atas dan bagian depannya berpindah arah. MiG memang memiliki kemampuan mengubah arah hidung luar biasa, posisi musuh terdekat jadi berubah, dari yang tadinya berhadap-hadapan kini membelakangi, Farhat memperbaiki posisi pesawatnya agar dapat mengunci sasaran tembak. Musuh heran karena pesawat Farhat yang telah berada di belakangnya, tetapi saat ia tahu ia sudah terlambat, Farhat telah menekan tombol rudal, 1 pesawat F-16 meledak, kemudian pesawat Farhat langsung pergi mencari sasaran lain.


Rupanya salah satu pesawat TNI juga telah berhasil menembak jatuh pesawat musuh sehingga pesawat itu langsung membantu pesawat temannya untuk mengeroyok pesawat Adric. Orang-orang di ruang kontrol militer bersorak-sorak dengan kemenangan sementara ini


Adric yang telah kehilangan 2 pesawat tampak senang karena ada pesawat lain yang membantu pesawat tempur yang sedang mengejarnya, ia sangat percaya diri dapat membalas lawannya dengan menjatuhkan 2 pesawat sekaligus. Adric terbang dengan sangat cepat,  sekitar jauh diatas 300 knot, karena ia tahu, bertempur dengan kecepatan di bawah 300 knot akan membuat MiG dapat mengubah arah hidungnya dengan luar biasa. Dengan kecepatan sangat tinggi kemampuan manuver kedua jenis pesawat jadi setara. Adric terus menambah kecepatan dan meninggikan posisi pesawat sambil berputar dan menembaki salah satu pesawat MiG yang berada di bawahnya hingga sayapnya menjadi bolong-bolong oleh peluru.


“Alpha 4 jatuh!” lapor anak buah Farhat yang kini berhadapan dengan Adric, ia melihat pesawat temannya yang dipenuhi asap itu jatuh menuju laut.


“Alpha 5! Awas visibilitas F-16 lebih bagus dari MiG! Mereka hanya perlu melihat sedikit dengan memiringkan kepala ke samping untuk melihat sesuatu di belakang. Dia akan memancing pertempuran jarak dekat dengan kecepatan tinggi,” ujar Farhat mengingatkan.


Benar saja Adric merapatkan pesawatnya hingga sangat dekat seolah-olah ingin menabrakkan pesawatnya. Pesawat yang didekatinya panik dan secepatnya menjauh, Adric mengunci posisi musuhnya dan menekan tombol rudalnya. Pesawat tadi dikejar rudal dan akhirnya meledak. Ternyata Adric memang mampu menjatuhkan 2 pesawat yang mengincarnya.


Farhat berhasil menjatuhkan satu pesawat F-16 tetapi di tempat lain satu pesawat MiG juag jatuh tertembak, sehingga saat ini yang tersisa 2 lawan 2.


“Do not fight here! Let's go to the city!” perintah Adric pada anak buahnya yang tersisa. Ia langsung memaksimalkan kecepatan pesawat tempurnya menuju Bandar Lampung.


“Gila! Mereka sepertinya mau membombardir istana, cepat kita susul!” perintah Farhat.


Para tentara yang mengawasi monitor di ruang kontrol militer panik melihat radar yang menangkap pergerakan cepat 2 pesawat menuju kota.


“Kolonel! Kita kirim pesawat tempur lain?” tanya seorang tentara.


“Tidak perlu! Kalian cuma akan buang-buang pesawat. Cuma Farhat yang bisa mengatasi pilot yang berada di paling depan itu,” ujar Kolonel Samuel.


Pesawat tempur F-16 Adric dan anak buahnya telah mencapai kilang-kilang minyak di Dumai, mereka menembakinya sehingga menimbulkan ledakan besar. Farhat sangat geram, ia sangat sulit mengunci pesawat Adric yang terus merubah-ubah posisinya dengan cepat, sehingga ia memutuskan untuk mengatasi anak buah Adric terlebih dahulu. Pesawat Farhat kini membuntuti pesawat anak buah Adric yang mengikuti pesawat di depannya, gerakannya mudah terbaca Farhat karena memiliki pola, akhirnya Farhat mengikuti pola gerakan pesawat di depannya, setelah pesawat tersebut terus-terusan berada dalam kotak bidikan rudal, Farhat menekan tombol rudal. Pesawat di depannya akhirnya meledak, kini hanya tersisa pesawat Adric.


Di jembatan Sungai Musi, Palembang, Adric pamer melewati kolong jembatan, Farhat meladeninya. Anak buah Farhat sadar dengan kemampuannya, ia tidak mau berbuat konyol mengikuti pilot-pilot gila. Beberapa detik kemudian pesawat Adric telah memasuki Bandar Lampung yang memiliki banyak gedung-gedung tinggi.


“Kolonel! Alpha 1 minta izin untuk menembak di dalam kota,” ujar Farhat.


“Izin diberikan! Jatuhkan pesawat itu di mana saja bisa kau tembak! Jangan pernah terpasung oleh ******* pengecut yang berlindung di belakang sandera,” perintah Samuel.


“Alpha 3, buntuti musuh! Aku akan mencegat dari arah lain!” perintah Farhat pada anak buahnya.


Pesawat tempur MiG Farhat melakukan manuver tajam berbelok ke celah gedung tinggi, karena celah gedung-gedung yang di lewati Farhat hanya bisa dilewati satu pesawat, maka semua kaca-kaca gedung pecah oleh getaran dan suara pesawat tempur, untungnya para warga telah mengosongkan kota. Beberapa orang yang kebetulan berada di gedung tampak melongo melihat pemandangan menakjubkan, pesawat tempur melewati mereka dengan kemiringan 450.


Adric tahu salah satu pesawat yang pilotnya paling unggul telah meninggalkannya, ia ingin menjebak pesawat di belakangnya dengan memasuki celah gedung di depannya yang ia duga sulit dilalui oleh pesawat yang mengejarnya, walau tak sesempit celah yang pesawat Farhat lewati. Pesawat Adric memasuki celah gedung, ternyata duguaanya meleset, pesawat di belakangnya mampu mengikutinya, kini justru pesawat Adric yang terjebak, ia tidak bisa lari saat pesawat di belakangnya telah mengunci posisinya dan melepaskan rudal. Adric memacu kecepatan pesawatnya berlomba dengan kejaran rudal agar ia bisa meraih tempat yang cukup luas untuk bermanuver, ia berhasil keluar dari celah gedung sebelum tertabrak rudal, pesawatnya langsung melakukan manuver tajam menghindari tabrakan rudal, rudal akhirnya meledak karena menghajar sebuah gedung.


Adric terkejut, lolos dari rudal, kini ia berhadapan dengan pesawat Farhat yang mengelilingi sambil menembaki pesawatnya. Sayap, kaca, badan dan buntut pesawat Adric telah berlubang di mana-mana, akhirnya pesawat itu oleng dan menabrak sebuah gedung hingga meledak.


*****


 


Tidak pernah terbayangkan Indonesia mengalami perang saudara sesama anak bangsa. Pasukan Ben Jani dan pasukan Samuel saling menembak di jalan-jalan protokol ibu kota.


Di udara beberapa helikopter juga telah saling berhadapan. Kehadiran dua pesawat tempur MiG di tengah kota membuat helikopter dari kubu Ben Jani segera meninggalkan kota.


"Alpha 3! Kita habisi helikopter-helikopter yang lari itu!" perintah Farhat.


Bagai 2 elang yang mengejar rombongan ayam, pesawat-pesawat tempur itu dengan mudahnya mengejar helikopter. Satu-persatu helikopter pasukan Ben Jani tumbang di hajar rudal.


Di darat Kapten Gulva dari Pasukan T7 memimpin pasukan untuk mengahadang pasukan Ben Jani.


"Pasukan Delta, tutup semua jalan keluar! Pasukan Siera, mulai tembaki mereka!" perintah Kapten Gulva.


Pasukan Delta adalah pasukan yang mengendarai mobil-mobil tank, pasukan Siera adalah para sniper yang berada di atas gedung.


Duar!!! Duar!!! Duar!! Peluru dari para sniper merobohkan beberapa tentara dari pasukan Ben Jani.


"Perhatikan posisi sniper di atas gedung!" perintah seorang komandan dari pasukan Ben Jani.


Pasukan Ben Jani merupakan pasukan khusus AD sehingga tidak boleh dipandang sebelah mata oleh lawan. Beberapa tentara melapor pada komandanya bahwa mereka sudah tahu posisi para sniper.


"Lempar granat ke mobil-mobil sipil yang di jalan, buat asap besar, setelah itu sergap para sniper!" perintah komandan itu.

__ADS_1


Duar!!! Duar!!! Duar!!! Granat-granat terus berhamburan mengenai mobil-mobil yang ditinggalkan pemiliknya karena mendengar ulitimatum di saat macet.


Saat asap memenuhi jalan, para tentara Ben Jani yang telah mengetahui posisi para sniper langsung mengendap-endap untuk memasuki gedung-gedung yang diduga menjadi tempat persembunyian para sniper. Para pasukan lainnya juga maju agar lebih mendekati musuh.


"Mereka membuat ledakan untuk memburu sniper kita, itu yang aku mau. Saat meledakkan mobil, bom-bom asap racun kimia buatanku di mobil-mobil itu juga akan meledak, mereka pasti mengira asap yang memenuhi jalan itu cuma berasal dari ledakan yang mereka buat," ujar Kapten Gulva memalui alat komunikasi yang bisa di dengar oleh para tentara di ruang kontrol.


"Hahaha, aku tak mengira perang ini terlalu cepat berakhir, tentara kita bahkan belum berkeringat. Ben Jani pikir mudah mengahadi Pasukan T7? Hahaha," ejek Samuel.


"Kolonel! Alpha 1 dan Alpha 3 masih terlalu pagi untuk pulang ke pangkalan. Aku minta izin untuk membombardir markas Ben Jani, boleh?" tanya Farhat.


"Kau betul, Farhat! Hanguskan Ben Jani sebelum mengundang tamu asing dari luar lagi untuk meramaikan pesta!" perintah Samuel.


2 pesawat tempur MiG milik TNI segera menuju markas Ben Jani, sementara pasukan Ben Jani yang berada di jalanan satu persatu tumbang terkena racun kimia buatan Kapten Gulva. Kemenangan bagi pihak Presiden Priyo sudah di depan mata.


Ben Jani pucat mendengar suara deru mesin pesawat tempur yang terbang di atas markasnya. Ia berharap para pilot itu masih memberinya kesempatan hidup agar ia bisa membalasnya di kemudian hari, tetapi rupanya kali ini cuma kekuatan Tuhan yang dapat menolongnya, sayangnya hari ini tidak lagi tambahan waktu untuk Ben Jani. Tanpa halangan MiG menggempur markas Ben Jani sehingga tewas terkena ledakan rudal.


"Mission accomplished! How about you, slow guy?" canda Farhat pada Gulva.


"No! I'm first! My mission has been completed before you blow up Ben Jani's head, snail!" sahut Gulva.


"Ok! But I just blew up Ben jani's head. Ben... jani's... head! Do you hear me? Hahaha," balas Farhat.


"Yeaa... You win! Happy now?" sahut Gulva.


"Hahaha." Farhat tertawa,


"Sorry, i want to interrupt these 2 clown talks, don't ever say 'mission accomplished' before you bring me a picture of Ben Jani," ujar Samuel.


"Hear your grandmother, Farhat! Sammy already sounds like Fahri. Hahaha," ujar Gulva.


"Like Fahri? Shit dude!" maki Samuel.


"Sammy! Sudah ada kabar dari Rudi tentang Fahri?" tanya Gulva.


"Belum," jawab Samuel.


"Hmm, jangan-jangan Rudi telah dibunuh Fahri," ujar Farhat.


"Hahaha, kalo ketemu Fahri, aku akan memberinya kesempatan duel tangan kosong," kata Samuel.


"Really? Kau siap kalah untuk kedua kalinya, Sam?" tanya Gulva.


"Kawan, saat itu aku belum sesiap sekarang," sahut Samuel.


"Memangnya apa yang membuat kau lebih siap? Kau mau tunjukkan pangkatmu ke Fahri? Hahaha," tanya Gulva.


"Gulva. Sammy telah berguru ke China. Dia belajar ilmu bela diri tradisional di salah satu perguruan bela diri hitam yang banyak melatih para agen-agen rahasia dan pembunuh bayaran internasional," ujar Farhat.


"Sorry Sam! I'm gonna kill Fahri before you fight him," ujar Gulva.


"Hey, Sam! Gulva! Sebenarnya aku bingung, kenapa kalian sangat benci dengan Fahri? Selama dia tidak mencampuri urusan kita, biarkan saja dia hidup tenang, seperti Stevano yang tidak pernah kalian pusingkan, ada apa sebenarnya?" tanya Farhat.


"Farhat, kita sedang bicara di perangkat komunikasi yang didengar banyak orang. Nanti kau akan ku beri tahu," ujar Samuel.


"Oke, aku paham," sahut Farhat.


Samuel melirik ponselnya, seseorang rupanya telah berkali-kali berusaha menghubunginya, tetapi tadi ia tidak mau konsentrasinya untuk memimpin perang terganggu. Samuel meninggalkan ruang kontrol untuk menghubungi orang itu.


*****


 


 


3 helikopter milik Stevano yang membawa rombongan Budi Raharjo telah tiba di landasan pesawat Mind Park milik Ali Tanjung. Para penumpang langsung menghubungi orang-orang yang mereka ingin temui setelah turun dari helikopter.


Tiba-tiba Stevano berteriak senang, "Fahri menelpon!" teriaknya.


"Assalamu’alaikum! Kau di mana?" tanya Stevano.


"Wa’alaikumussalam. Gue di perahu boat dari Pulau Karakas. Langsung aja ya, lu yang bawa rombongan gue, bukan?" tanya Fahri.


"Betul kita baru aja sampe di Jakarta, ada Dini, Budi Rahajo, Daud Haris dan banyak lah, gue tadinya mau jemput lu, tapi kata rombongan lu menghilang, jadinya gue selamatin yang ada dulu aja," sahut Stevano.

__ADS_1


"Alhamdulillah, mereka selamat. Terima kasih kawan!" ujar Fahri.


"Belum lah, gue mau balik lagi ke sana jemput lu," sahut Stevano.


"Suruh anak buah lu aja, lu pasti capek," usul Fahri.


"Gue bisa istirahat di helikopter, harus gue yang jemput lu langsung, banyak yang mau gue tanya," ujar Stevano.


"Ya udahlah terserah aja," jawab Fahri.


"Tunggu dulu, ada cewek cantik yang mau gue jodohin ke elu nih, lu ngomong sama dia ya," canda Stevano sambil memberikan ponselnya pada Dini.


"Fahri, alhamdulillah kamu selamat, kenapa kamu bisa mendadak hilang gitu, ya?" tanya Dini.


"Alhamdulillah kamu juga selamat Dini. Aku hilang supaya ada yang kangen, kamu kangen enggak?" tanya Fahri.


"Enggak sih, cuma kuatir Abi nanti minta dicariin penggantinya kamu di kantor, kan susah cari yang kaya kamu," sahut Dini.


"Yang bener? Kamu kali yang susah cari lagi yang kayak aku? Waktu aku hilang, kamu nangis enggak?" tanya Fahri.


"Udah ah! Cepetan ke sini ya, di sana bahaya tau, awas kalo hilang lagi, keduluan lho nanti sama yang lain," sahut Dini sambil menyerahkan ponselnya ke Stevano.


Stevano tertawa. "Hebat ngana, dapat kucing belang 3, he? Oke aku pamit dulu ya sama rombongan mu di sini. O iya aku juga terpaksa bawa 3 anak muda dari Blok 7, mereka mau di tangkap polisi gara-gara membantu aksi kau, nanti lah ku ceritakan," ujar Stevano.


Usai memutus pembicaraan, stevano dan 3 anak muda asuhan Fahri berpamitan pada rombongan untuk kembali menjemput Fahri. Semua anggota rombongan berterima kasih pada Stevano.


Setelah helikopter Stevano terbang dan menjauh, kelap-kelip sirene mobil mengampiri rombongan Budi Raharjo. Para Napi langsung kabur meninggalkan Budi Rahajo, Dini, Daud Haris dan para pengawal Daud Haris.


Rupanya yang datang adalah mobil tentara, mereka tidak mengejar para napi yang lari, mereka langsung memborgol Budi Raharjo dan Dini, lalu membawa ke duanya memasuki mobil tentara.


Daud Haris tidak ditangkap, ia sedang bicara dengan seseorang melalui ponselnya. Dari dalam mobil, Dini berusaha mendengar pembicaraan Daud Haris. Pembicaraannya sangat serius sehingga Daud tak sadar para tentara menempatkan Dini dan Budi Raharjo di mobil yang berada di dekatnya.


"Lain kali saya enggak mau jalanin skenario gaya pasukan T7 yang sangat bahaya buat nyawa saya!" ujar Daud Haris sangat marah.


"Tenang Daud! Ben Jani sudah ******. Kalo kau enggak aku kirim ke sana, kau pasti di seret Ben Jani untuk dukung dia. Sekarang rakyat sudah tidak percaya sama Priyo, kau tinggal datang ke orang-orang Al Kahfi, cari dukungan dari mereka," ujar Samuel.


"Samuel! Saya enggak nyangka bakal banyak darah yang tumpah dengan cara kamu. Sekarang kalo kamu masih mau kita bekerjasama, kali ini penuhi keinginan saya. Saya enggak mau kamu bunuh Fahri, Dini dan orang-orang Al Kahfi, termasuk Budi Raharjo. Turuti keinginan saya atau kamu cari orang lain untuk dapat dukungan dari oposisi!" ancam Daud Haris.


"Oke Daud! Tapi kalo ada diantara mereka yang tahu rencana kita, maka tentu saja harus ku bunuh!" balas Samuel.


Dini dan Budi Raharjo langsung menyembunyikan kepalanya agar Daud tak tahu mereka mendengar.


"Nanti kita bicara lagi," sahut Daud sambil menutup ponselnya.


Daud menghampiri seorang tentara, Dini dan Budi Raharjo tampak tegang, mereka menduga Daud akan menanyakan keberadaan mereka, nyawa mereka terancam, jika Daud tahu pembicaraannya terdengar Dini dan Budi Raharjo.


"Tahu toilet terdekat?" tanya Daud pada seorang tentara.


Dini dan Budi tampak lega.


Selang beberapa menit kemudian, seorang tentara melepaskan borgol Dini dan Budi Raharjo, lalu memberikan ponsel miliknya pada Dini, karena Daud Haris ingin bicara.


"Maaf Dini, Pak Budi, ternyata yang menjadi Presiden saat ini adalah Pak Priyo, saya sudah bicara dengan beliau, katanya kita semua bebas," ujar Daud.


"Alhamdulillah, terimakasih Daud atas pertolongan kamu," ujar Budi Raharjo sambil menyalami Daud, begitupula Dini, ia menyembunyikan perasaan marahnya pada Daud Haris agar nyawanya dan Budi Raharjo selamat.


Dini tahu politik itu memang kejam, tetapi ia tak pernah menyangka jika ternyata sekejam ini.


*****


 


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


 


 

__ADS_1


__ADS_2