
Di mana posisi Dini?” tanya Fahri pada Pak Ruslan.
“Masih di tangga besi darurat, kemungkinan akan menuju akhir tangga besi, di lantai 10” jawab Pak Ruslan.
“Oke, saya akan ke istananya Big Kong, saya yakin mereka akan membawa Dini ke sana. Gimana kondisi gedung?” tanya Fahri pada Pak Ruslan.
“Pasukan berseragam serba hitam, mungkin anak buah Big Kong, telah berhasil membuat polisi mundur dari lantai 2 ke lantai 1, mereka masih saling menembak. Lantai 5 sudah kamu kuasai. Di lantai 3,4 dan 6 ada banyak orang Blok 3 bersenjata sedang bersembunyi, mereka menunggu musuh. Lantai 7 dan 8 cuma ada sedikit pertempuran kecil antar orang Blok 3. Di lantai 9 dan 10, ada banyak sekali pasukan berseragam hitam, mereka juga menunggu,” kata Pak Ruslan.
“Pasukan berseragam hitam itu benar pasukan Big Kong?” tanya Fahri pada Si Brewok.
“Betul! Dan prediksi Bang Toyib tepat banget! Mayat-mayat yang kita lewati semuanya dari kubu Bos Jonas, Mr Chung dan sekutunya. *******! Temen-temen gue ****** ditembak orang-orang Si Buluk karena enggak siap. Pasti di lantai 3, 4 dan 6 itu semuanya orang-orang Si Buluk, kita harus balas!” ujar Si Brewok marah.
“Oke, kita balas!” ujar Fahri, kemudian ia menghubungi Pak Ruslan, “Semua bom digital sudah berhasil kita pasang di semua tangga untuk ke lantai 5. Oke, sekedar mengingatkan, semua tombol bom punya kode nomor sesuai lantai. Coba Dul jelaskan ke saya!”
“Tulisan bom nomor 1 itu adalah untuk tangga paling depan sebelah kanan gedung, nomor berikutnya untuk tangga-tangga lain sesuai arah jam, setiap lantai memiliki 8 tangga, sama seperti di tempat kita. Tulisan bom 5.1 artinya lantai 5 untuk tangga paling depan sebelah kanan gedung, tulisan bom now! Artinya posisi bom tidak ditentukan, bom all! Artinya semua bom meledak. Gitu kan Bang!” tanya Dul.
“Betul! Siapapun yang ingin menjangkau lantai 5 kamu bom. Kira-kira 3 menit lagi tolong matikan semua lampu koridor, kecuali lantai 5, hingga saya minta matikan, paham?” tanya Fahri.
“Paham komandan! Kaya main game, seru!” sahut Dul.
“Bagus! Tapi jangan bikin Bang Fahri game over!” ujar Fahri, kemudian ia bicara pada pasukan barunya, “Kalian berpencar untuk menghadang siapa pun yang mengakses tangga lantai 5, pakai kaca mata night vision kalian! Sebentar lagi kita akan perang dalam gelap, maju sekarang!” perintah Fahri.
Pasukan Fahri langsung lari berpencar memilih tangga masing-masing kecuali Fahri, ia menghampiri lift yang tidak lagi berfungsi, karena cuma bisa dikendalikan oleh dirinya.
3 menit kemudian semua lampu-lampu di koridor mati. Semua suara baku tembak pun berhenti, orang-orang bingung karena mendadak gelap, satu-satunya tempat terang hanya lantai 5. Secara otomatis orang-orang Blok 3 mendatangi satu-satunya tempat yang masih terang. Dul dan kawan-kawan telah siap dengan tombol bomnya.
Dul dan kawan-kawan menatap monitor dengan teliti, mereka menunggu jumlah lawan semakin banyak.
DUARRRRR!!! DUARRRRR!!! DUARRRRR!!! DUARRRRR!!! DUARRRRR!!! DUARRRRR!!! DUARRRRR!!! DUARRRRR!!! DUARRRRR!!!
Sebagian besar kelompok Si Buluk mati terkena bom, sisanya akan berhadapan dengan 10 orang pasukan baru Fahri dari Blok 3.
__ADS_1
“Sekarang matikan semua lampu gedung!” perintah Fahri.
Semua orang di dalam gedung tidak lagi bisa bertempur karena gelap, berbeda dengan pasukan Fahri, mereka memakai kaca mata militer night vision, sehingga mudah melihat sasaran yang buta dalam kegelapan.
“Serang sekarang!” perintah Fahri melalui alat komunikasinya. Pasukan baru Fahri mulai menembak, semua orang-orang Si Buluk jadi sasaran empuk karena tidak bisa melihat musuhnya.
“Bos baru kita emang gila strateginya. Pasukan T7!” puji Si Brewok.
*****
Di lantai 1, Kompol Jono dan pasukannya terkejut mendengar suara ledakkan keras di lantai atas, padahal pasukannya masih belum bisa melewati lantai 2 karena di hadang pasukan berseragam hitam. Yang lebih mengagetkannya lagi, tiba-tiba di saluran frekuensi HT para polisi, muncul suara orang lain yang bukan dari pasukannya.
“Komandan! Saya Fahri mantan anggota TNI yang baru saja meledakkan musuh-musuh anda di atas, saya berada di kubu anda. Sebentar lagi pintu lift yang membawa saya turun akan terbuka di lantai 1, saya akan tunjukkan kartu pengenal saya yang sudah tidak aktif, jangan tembak!” ujar Fahri.
Benar saja, lift yang sejak tadi tidak berfungsi kini pintunya terbuka, padahal angka digitalnya mati. Cahaya dari lift menerangi para polisi yang tadinya berada di kegelapan, Fahri muncul mengangkat kedua tangannya. Tangan kanan Fahri menggenggam kartu, para polisi telah mengarahkan senjata mereka ke Fahri. Seorang anggota polisi menghampiri Fahri dan mengambil kartu anggota TNI yang dipegang Fahri lalu memberikan pada Kompol Jono.
“Waktu kita enggak banyak buat cerita tentang saya, Dini tanjung telah berada di tangan mereka. Langsung saja teman-teman, saya bawa banyak kaca mata night vision dan granat untuk kalian, ada di tas yang di dekat kaki saya ini. Terserah, kalian mau mau baku tembak di sini sampai besok atau saya antar ke atas? Saya menawarkan diri untuk bertempur bersama kalian,” usul Fahri.
Cekrek!!! Polisi kembali mengarahkan senjata mereka ke Fahri yang ingin menggunakan alat komunikasinya. Kompol Jono memberi kode pada polisi untuk menurunkan senjatanya.
“Dul, tolong bawa lift ke lantai 8, ingat! Hanya aktifkan lift ini untuk lantai 1 dan 8, dan tetap matikan angka digitalnya, dan matikan juga lampu lift, sekarang!” Perintah Fahri melalui alat komunikasinya.
Fahri kembali bicara pada Kompol Jono yang telah memakai kaca mata night vision, “Lantai 11 adalah sarang Big Kong, penguasa Blok 3, di sana tidak ada CCTV, jadi saya tidak tahu kondisinya, yang jelas pasukannya sudah menunggu di lantai 9. Kita naik ke lantai 8, lalu menuju lantai 9 lewat tangga. Ayo komandan!” ujar Fahri.
Kompol Jono yang tercengang mendengar penjelasan Fahri, lalu ia mengajak sebagian anggotanya, “pasukan! 10 orang ikut saya, sisanya masuk bergantian dan pakai kacamata dari Fahri!”
Di dalam Lift Kompol Jono penasaran, “saya tahu kamu mantan tentara, tapi kamu sekarang orang sipil biasa. Kok bisa mengacak-acak sarang setan tanpa bantuan polisi dan tentara? Paling kamu cuma dibantu warga Blok 7 aja kan?” tanya Kompol Jono kagum.
“Memangnya ada kekuatan yang melebihi kekuatan Tuhan? Yang bantu saya jauh lebih hebat dari kekuatan manapun, kalau Allah berkehendak makhluk tak berdaya seperti saya InysaAllah bisa menang.” tanya Fahri.
__ADS_1
“Setuju, insyaAllah kita menang, jadi sebenarnya, apa tujuan kamu menyerang Blok 3?” tanya Kompol Jono.
“Tadinya saya cuma mau bicara ke penguasa Blok 3, supaya orang-orangnya tidak meladeni pesanan manusia zolim untuk menghabisi warga Blok 7 yang membela haknya, ternyata saya datang saat anda juga ingin menggelar pesta besar. Kita hampir sampai ke lantai 8, siap-siap! Kita akan menghadapi pasukan berseragam hitam yang jumlahnya jauh lebih banyak dari yang tadi kalian hadapi tadi,” kata Fahri Pada Kompol Jono.
Fahri bicara pada Dul, “Dul, alihkan perhatian, buat kegaduhan dari speaker dan mati-nyalakan lampu di semua lantai kecuali lantai 7,8 dan 9 selama 30 detik supaya tidak ada yang memperhatikan lift ini saat terbuka, beberapa detik lagi saya sampai.”
Suara musik lagu metal terdengar hingar bingar di semua speaker koridor diiringi lampu kedap-kedip. Benar saja perhatian orang-orang teralihkan, mereka kaget mendengar suara musik, lampu yang menerangi mereka sesekali, membuat mereka mencari tempat bersembunyi dan diam di sana untuk membaca situasi.
Fahri dan para polisi telah keluar dari lift langsung berpencar menuju lantai 9, sesekali mereka menembak lawan yang tidak besi melihat dalam gelap.
“Dul, sekarang matikan lagi semua lampu dan musik!” perintah Fahri.
“Siap, bang!” sahut Dul.
DUERRRRR!!!! Fahri melempar granat ke tengah kerumunan Pasukan Big Kong, ledakan membuat lantai 9 menjadi terang sebentar.
“Tahan serangan hingga gelap! Selalu rubah posisi setelah menembak, lawan yang buta pasti mengincar sumber suara,” perintah Fahri pada polisi melalui alat komunikasi.
“Serang sekarang!” perintah Fahri lagi.
Pasukan polisi maju, mereka menyerang pasukan Big Kong dengan mudah, karena menghadapi musuh yang buta.
Setelah beberapa menit pihak polisi menguasai lantai 9, tiba-tiba dari atas setiap tangga ada yang melempar bom asap ke lantai 9. Asap putih langsung memenuhi koridor menghalangi pandangan para polisi. Kini kedua kubu sama-sama buta. Suara tembakan berhenti.
Fahri masih sempat melihat di balik kepulan asap beberapa orang dari atas tangga berlari meletakkan sesuatu di beberapa tempat.
*****
Bersambung
__ADS_1
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W