
Fahri dan rombongannya telah memasuki hutan yang sangat di takuti oleh para penghuni Penjara Karakas. Bagian awal hutan yang terdekat saja sudah seperti pagar buatan alam untuk melindungi kawasannya agar tak tersentuh manusia.
Untuk memasuki hutan rombongan Fahri harus melewati pohon-pohon yang memiliki cabang-cabang berduri, dan semak-semak tinggi yang juga berduri, sehingga beberapa tempatnya sangat sulit dilewati tanpa parang, untungnya tadi Fahri menyempatkan diri mencari beberapa parang di dapur penjara saat mengisi bekal air minum.
"Ini pohon sih? Banyak duri gini," tanya Bram pada Didan.
"Mana gue tahuu? Lu pikir sipir suka piknik ke sini?" jawab Didan sambil tertawa.
"Pohon ini biasanya lebih banyak tumbuh di Amerika Utara, orang sana nyebutnya honey locust," timpal Fahri sambil membabat dahan-dahan pohon dan semak yang terkadang menghalangi jalan.
Untungnya pohon-pohon berduri ini hanya tumbuh di bagian awal hutan, bagian hutan selanjutnya mulai bersahabat pada tamu-tamunya, yaitu hutan heterogen dengan pohon-pohon besar yang jaraknya agak berjauhan.
Setelah jauh menelusuri hutan, mereka memasuki kawasan dengan kontur tanah menanjak. Fahri yang dipercaya oleh rombongan untuk memandu jalan, sesekali menghentikan langkah untuk memeriksa situasi di sekeliling hutan, kini ia mengamati bukit-bukit dengan tebing tinggi yang masih sangat jauh di depannya.
Lagi-lagi Fahri menghentikan rombongannya, kali ini ia mengajak beberapa orang untuk membuat tongkat-tongkat kayu dengan ujung yang rucing, setelah itu ia membagikannya ke semua orang. Kata Fahri, dia beberapa kali melihat sekelebatan binatang yang mungkin berbahaya, tapi menurutnya ancaman bahaya di hutan ini bukan tidak hanya berasal dari binatang.
"Selain sebagai senjata, tongkat-tongkat ini juga berfungsi untuk meraba jalan dan menyingkirkan penghalang Mulai sekarang, jangan sentuh apapun lagi, kalo terpaksa, pakai tongkat. Lihat! Jauh di depan sana ada bunga-bunga indah berwarna biru Itu tanaman beracun, namanya Aconitum Napellus. Orang-orang jaman dulu, melumurkan tanaman itu pada tombak dan panah untuk perang. Itu cuma salah satu dari tanaman beracun yang banyak tumbuh di hutan ini," ujar Fahri.
Rombongan Fahri melanjutkan perjalanan, mereka menjauhi semua tanaman yang menurut Fahri berbahaya.
Tiba-tiba Dini menjerit, ia melihat beberapa mayat sipir yang lebih dulu memasuki hutan ini. Fahri menenangkan Dini sejenak, kemudian ia memeriksa mayat-mayat tersebut dengan tongkatnya.
"Jangan ada yang sentuh mayat ini, mereka terkena racun tanaman," ujar Fahri.
Didan yang mengenali mayat-mayat itu tampak sedih.
"Maaf Didan, kita terpaksa enggak nguburin jenazah teman-teman kamu, perjalanan kita masih jauh dan kita juga sedang dikejar tentara, kita belum berada di titik aman" ujar Fahri.
Rombongan Fahri melanjutkan perjalanannya. Setelah cukup lama berjalan, mereka mulai memasuki kawasan hutan yang banyak terdapat batu-batu hitam yang besar, rupanya mereka telah memasuki kawasan yang katanya bermagnet.
Fahri mendekatkan parangnya pada batu, ternyata tidak menempel. Ia jadi bingung, batu-batu hitam itu ternyata tidak mengandung magnet seperti perkiraannya, tetapi saat ia mencoba mengayunkan parangnya, entah kenapa terasa lebih berat dari sebelum berada di kawasan ini. Fahri penasaran, ia membidik sasaran dengan senjata apinya, ternyata batang pohon yang hanya berjarak 10 meter itu luput dari tembakannya, peluru besi itu bagai di belokkan magnet.
"MasyaAllah, pantas tentara enggak cari kita pakai helikopter, kandungan magnetnya memang sangat tinggi, tetapi entah darimana asalnya, wallahuálam," ujar Fahri.
Fahri kembali melanjutkan perjalanan, semakin jauh, kontur tanah semakin curam, jumlah batu-batu besar hitam itu pun semakin banyak dan ukurannya juga semakin besar.
Rombongan Fahri semakin jauh menelusuri kawasan menanjak, mereka mencapai kawasan hutan yang banyak ditumbuhi pohon beringin, jarak antara pohon kembali rapat. Tiba-tiba Zul menemukan mayat-mayat sipir.
Fahri memeriksa beberapa mayat tersebut tongkatnya. "Orang-orang ini tewas karena bisa ular," ujar Fahri.
__ADS_1
Fahri mengamati sekelilingnya dengan cermat, benar saja, ternyata banyak sekali ular yang memiliki warna dan corak kulit yang sama dengan kondisi tempat ini, kamuflasenya sangat sempurna.
Ular?” tanya Dini tampak panik mendengar kata ular, Fahri memegang tangan Dini untuk menenangkannya, “jangan panik, gerakan tiba-tiba justru dapat memancing ular menyerang.”
Fahri menutup mata Dini dengan kain, lalu menuntunnya.
"Jadikan tongkat-tongkat kalian senjata. Jalan dengan sangat pelan, lihat baik-baik pijakan kaki dan akar-akar beringin yang menghalangi, hindari pohon-pohon beringin ini, lubang-lubang besar di pohon-pohon beringin ini adalah sarang ular," ujar Fahri.
Wajah Dini sontak tegang, begitu juga para laki-laki di rombongan yang takut dengan ular. Seekor ular besar mendekati rombongan dan diikuti oleh ular-ular lainnya.
Fahri melepas tangan Dini, “jangan takut, kamu diam dulu, ada yang harus aku lakukan,” bisik Fahri pada Dini.
Fahri mendekati ular paling besar, ia menyejajarkan kepalanya setinggi kepala ular besar yang meninggikan kepalanya, sambil menatap ular itu. Beberapa detik kemudian ular itu menjauh, begitu pula ular-ular lain yang mengikutinya.
Para rombongan pelan-pelan menjauhi kawasan pohon-pohon beringin hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang menurut Fahri sudah aman.
“Buseeet! Jangan lagi deh ngelewatin tempat kayak gitu,” ujar Dean yang ternyata sangat takut pada ular.
“Betul, gue juga mendingan berantem sama Bong,” sahut Zul.
*****
Budi Raharjo menghampiri Fahri. "Maaf Fahri, sekedar mengingatkan, kita belum sholat," ujar Budi Raharjo.
"Betul Pak Budi, insyaAllah saat kita ketemu tempat yang agak aman dari bahaya dari alam, kita akan menjamak sholat Dhuhur dan Ashar di waktu Ashar. Tetapi setelah itu kita harus cepat bergerak kembali, kita harus ketemu tempat yang benar-benar aman sebelum matahari tenggelam, karena perjalanan ini harus berhenti saat sudah gelap," ujar Fahri.
"Setuju, Fahri," sahut Budi Raharjo.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang masih jauh dengan perut yang telah kosong, bahkan persedian air yang dibawa Fahri juga telah habis, untungnya semua orang di rombongan Fahri memiliki stamina yang kuat, sehingga mereka sama sekali tidak mengeluh dan minta istirahat.
Beberapa saat kemudian rombongan Fahri telah tiba di kawasan hutan yang memiliki kondisi alam yang berbeda lagi dari sebelumnya. Kontur dataran di kawasan ini sangat tidak beraturan, ada bagian yang menanjak dengan landai, ada pula yang curam, bahkan tak sedikit pula yang vertikal. Batu-batuan hitam juga semakin mendominasi tanah.
Semakin jauh berjalan, medannya tambah ekstrim, bahkan akhirnya mereka berhadapan dengan jalan buntu yang dibatasi oleh tebing-tebing vertikal yang harus mereka panjat.
__ADS_1
Fahri mengawali menaiki tebing dengan mengandalkan kekuatan jari, genggaman dan raihan kakinya, ia memanjat tanpa kesulitan, setelah ia sampai di atas ia mengulur 2 tali, tali itu adalah 3 akar beringin yang disambung menjadi satu. Beberapa anggota rombongan baru paham tujuan Fahri meminta mengumpulkan akar-akar beringin tadi.
"Dini, kamu naik duluan! Pegang kedua tali itu, lilitkan tali itu di lengan kamu dengan cara bergantian supaya terkunci, terus, tapakkan kedua kaki pada dinding tebing. Kamu berani?" Tanya Fahri dari atas dengan berteriak.
"Berani!" Jawab Dini lantang, memangnya ada pilihan jawaban lain? Gumam Dini dalam hati.
Dini mengikuti instruksi Fahri, saat ia mampu membunuh rasa takutnya, ternyata tidak sesulit yang ia duga. Setelah Dini, satu persatu anggota rombongan menaiki tebing dengan cara Dini tanpa kesulitan.
Semua anggota rombongan telah berada di atas bukit, mereka melihat pemandangan hamparan hijau hutan lagi di depannya. Setelah hamparan hutan ini, mereka melihat tebing-tebing lagi, para anggota rombongan kuatir Fahri akan membawa mereka menaiki tebing-tebing itu, karena ketinggiannya tidak masuk akal untuk dinaiki dengan cara tadi.
Bagian hutan ini sangat bersahabat. Para rombongan melaluinya tanpa menemukan rintangan, di bagian tengah hamparan hutan ini banyak aliran sungai dangkal yang berbatu. Fahri memutuskan memberi kesempatan pada rombongannya untuk sholat di sini. Rombongannya bisa minum dan memenuhi kembali persediaan air yang telah habis, bahkan di sini juga banyak terdapat pohon-pohon berbuah yang mereka kenal, sehingga bisa mengisi perut kosong setelah sholat.
Fahri memilih batu datar yang cukup luas di atas sungai untuk melakukan sholat berjamaah. Rupanya hampir semua anggota rombongan ini adalah muslim, kecuali Bram dan Dean.
Semua anggota rombongan yang muslim menuju sungai untuk mengambil wudhu, walau sebenarnya hanya beberapa orang dari mereka yang rutin melakukan sholat lima waktu. Sesombong-sombongnya manusia pada Sang Pencipta, saat merasa telah sangat dekat maut, pasti mencari Tuhan.
Budi Raharjo yang ditunjuk menjadi imam, menjelaskan tentang tata cara sholat khauf agar jemaahnya yang belum tahu dapat menjalankannya.
"Sholat Khauf adalah sholat dalam keadaan perang, ada beberapa tata cara sholat khauf yang disesuaikan dengan kondisinya. Saat ini perang belum berlangsung dan kita tidak tahu musuh akan datang dari arah mana. Dalam kondisi ini, jemaah akan dibagi menjadi dua kelompok, satu barisan sholat bersama imam dan satu barisan lagi menjaga musuh. Setelah barisan pertama selesai shalat maka barisan kedua melakukan shalatnya bersama imam. dalam hal ini imam shalat dua kali. Kita boleh sholat dengan tetap menyandang senjata kita. Ustad-ustad jebolan pesantren, Fahri dan Daud, atau mungkin yang lainnya punya pendapat yang berbeda?" tanya Budi Raharjo.
"Saya ikut pendapat imam," ujar Fahri. Rombongan muslim yang lain juga setuju untuk mengikuti imam.
"Fahri, Daud, Zul, Didan, Anto dan Ridwan, silahkan bagi dalam dua kelompok. Dini, karena batu ini tidak cukup luas, kamu di batu belakang itu ya. Oh iya, maaf, Bram dan Dean, kami sholat dulu," ujar Budi Raharjo.
"Silahkan Pak Budi, kami bisa bantu jaga-jaga," ujar Bram dan Dean.
Usai sholat, mengisi perut dan membawa bekal air, rombongan Fahri kembali melanjutkan perjalanan. Untungnya kondisi fisik rombongan seperti baru di charge, karena Fahri harus membawa rombongannya kembali memanjati tebing-tebing lagi.
Rombongan belum sampai di tebing yang paling tinggi, ternyata ada tebing lain di depannya yang sedikit lebih tinggi dari tebing yang telah mereka naiki.
Seperti biasa Fahri naik duluan. Sesampainya di atas, tubuhnya terasa lemas. Ia diam seribu bahasa.
“Kau tidur? Hahaha. Lempar talinya, Fahri!” teriak Zul.
2 tali terulur dari atas. Rombongan Fahri kembali mengulangi cara yang sama untuk menaiki tebing kedua. Satu-persatu berhasil mencapai bukit kedua, setelah tiba di atas wajah orang yang telah naik langsung menjadi tegang, mereka melihat pemandangan mengerikan, medan di depan tampak sangat mustahil untuk dilewati.
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
__ADS_1
Penulis, Indra W