Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Penjara Karakas - Part 3


__ADS_3

“Saya bukannya enggak mau bantu, Dini. Biarpun saya menteri tapi enggak semudah itu ngizinin kamu masuk ke wilayah Penjara Karakas,” sahut Daud Haris saat ditelepon Dini.


“Saya bukan sedang minta tolong kamu sebagai menteri, tapi kamu sebagai sahabat Fahri. Apa kamu juga yakin kalo Fahri bersalah?” tanya Dini.


“Jelas enggak, tapi saya enggak punya bukti kuat untuk bantu Fahri. Lagi pula tempat itu juga bahaya buat kamu,” ujar Daud Haris.


“Justru karena tempat itu bahaya, maka saya harus ke sana supaya tahu kondisi Fahri. Daud, harus ada orang yang mau membela pejuang rakyat kecil seperti Fahri,” sahut Dini.


“Hmm, sori, kayaknya sih bukan cuma itu alasannya,” ujar Daud Haris.


“Seandainya iya, apa itu salah?” tanya Dini.


“Hmm, baiklah saya ngerti. Hmm, Fahri memang laki-laki beruntung. Dini, biar saya aja yang kirim orang ke sana untuk memastikan Fahri baik-baik aja,” pinta Daud.


“Enggak! Saya harus lihat langsung, dengan atau tanpa bantuan kamu,” sahut Dini.


“Iya iya! Kalian memang cocok, sama-sama keras kepala dan enggak peduli bahaya. Oke, besok pagi saya temani kamu ke Penjara Karakas,” ujar Daud Haris.


“Nah, itu baru namanya sahabat. Terima kasih Daud, assalamu’alaikum.”


“Sama-sama Dini. Wa’alaikumussalam,”


*****

__ADS_1


 


 


“Lu ikut kami, sekarang!” perintah salah seorang sipir pada Fahri.


Fahri mengikuti 3 sipir yang membawanya ke Blok A. Kamar-kamar sel di Blok A sangat berbeda dengan tempatnya, tidak memiliki jerusi besi tetapi tertutup tembok dan pintu besi, sehingga bagian dalamnya tidak terlihat. Setelah mengantar Fahri ke dalam kamar sel milik seseorang, para sipir tersebut pergi.


“Selamat datang di gubuk kecilku, silahkan duduk! Oh, ini yang namanya Fahri, penguasa baru Blok B. Kenalkan, panggil saja aku Mr Saliem atau Mr Liem pun, boleh. Kalau kau adalah penguasa Blok B maka aku adalah penguasa Penjara Karakas,” ujar Mr Saliem sambil menyalakan rokok kreteknya, “kalo kau mau merokok, silahkan!”.


“Terimakasih Mr Liem, saya enggak ngerokok,” sahut Fahri.


Fahri mengamati kamar yang terlalu mewah untuk disebut sebagai kamar penjara, ada set sofa, TV, kulkas, dapur kecil, AC, laptop dan sebagainya. Mr Liem tidak mengenakan seragam napi, ia duduk didampingi 3 orang napi dan seorang sipir, postur tubuh mereka besar-besar seperti Bong, menurut Fahri mereka adalah pengawal Mr Liem.


“Oh, iya aku sama sekali tak mau tahu tentang asal-usul kau, tapi itu tak penting, perlu kau ketahui, di sini semuanya kembali dari nol, manusia dinilai dari apa yang mereka bisa berikan untuk kesejahteraan kita bersama. Jadi aku langsung saja ke tujuan, karena kau baru saja menjatuhkan Bong dari singasananya, maka kau berhak menggantikan dia, tapi itu jika aku izinkan. Fahri, bagi orang-orang cerdas, penjara ini adalah kawasan bisnis terbaik karena kita tidak akan lagi dikutak-katik oleh hukum, kau boleh keluar masuk kapanpun kau mau, dengan syarat ini adalah rumahmu dan negara tidak boleh tahu. Apa kau paham yang sedang kubicarakan?” tanya Mr Saliem.


“Anda ingin saya mengutip pajak dari napi Blok B dan menyetorkannya ke anda, begitu Mr Liem?” tanya Fahri.


“Hahaha, penghuni Blok B adalah manusia-manusia yang senang menghabisi nyawa orang, itu bukan tempat orang-orang berduit, apa yang mau kau kutip? Yang kubutuhkan dari orang-orang pilihan di Blok B tentu keahlian kalian untuk membunuh orang yang mengganggu bisnisku. Anak muda! Bisnisku tak banyak tapi hasilnya tak sedikit, di Blok A, kita menawarkan jasa kenyamanan, kamar sel besar dengan fasilitas seperti di kamarku dan liburan ke luar penjara, tentu saja dia harus kembali atau dihabisi pengawalku yang mengikutinya. Di Blok C aku mengendalikan bisnis para pengedar narkoba yang masih menjalankan bisnis mereka dari dalam penjara. Aku pun sudah berdamai dengan Rizal Salman, sehingga beberapa bulan lagi aku bebas, padahal masa hukumanku masih panjang, karena aku bisa memberikan upeti sebesar apapun yang diminta penguasa, aparat, media dan siapa saja asal mereka mau tutup mata. Satu-satunya yang tidak kami sentuh di sini adalah para tahanan politik, biarlah orang-orang aneh itu punya dunianya sendiri, syahwat mereka sudah terpenuhi saat berhasil mengganggu penguasa negeri, hahaha,” cerita Mr Saliem.


“Artinya, sipir-sipir di sini dibawah kendali anda juga?” tanya Fahri.


“Money talk, young man! Kau tahu berapa gaji sipir? Gaji kepala sipir? Mereka kerja jauh di pintu samudra dengan taruhan nyawa, tapi gajinya tak cukup untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Aku datang ke sini mengakhiri penderitaan mereka, memberikan kesejahteraan untuk mereka, itu yang aku janjikan saat aku datang. Janji Presiden Anggito saat kampanye tidak bisa ia penuhi, tapi janjiku pada sipir mampu kupenuhi, mereka telah kubuat kaya raya. Ah sudahlah terlalu panjang jika ku ceritakan semua, intinya apakah kau tertarik membantu bisnisku?” tanya Mr Saliem.

__ADS_1


“Apakah setelah menjadi orang anda, aku boleh keluar masuk kamar sel dan berkeliling?” tanya Fahri.


“Hahaha, itu memang fasilitas khusus orang-orang pilihanku, bahkan kau pun harus pindah ke sel yang lebih layak, tapi aku belum tahu loyalitasmu padaku,” ujar Mr Saliem.


“Mr Liem, tunjuk siapa saja orang yang mau anda bunuh di penjara ini, saya langsung bawakan kepala mereka malam ini juga, supaya saya bisa cepat jadi orang pilihan anda!” tegas Fahri.


“Hahaha, aku suka semangatmu! Aku memang butuh orang-orang kuat yang mau menghabiskan waktu di penjara dengan pintar, ternyata kau bahkan lebih pintar dari Bong! Santai saja, aku belum ada tugas untukmu. O, iya karena aku juga sangat menikmati pertunjukkanmu dengan Bong di CCTV, kau akan kuberi hadiah, kau butuh uang?” tanya Mr Saliem.


“Maaf Mr Liem, malam ini aku belum butuh uang. Kalo boleh aku ingin minta hadiah kecil untuk mengusir bosan, laptop seperti itu, boleh?” tanya Fahri.


“Hahaha, ambilah! Aku juga tak bisa memakainya, biasanya dipakai anak buahku untuk internet. Mereka suka main game dan nonton film, entah kenapa penjahat-penjahat muda macam kalian kelakuan seperti anak kecil? Hahaha, mungkin aku yang sudah semakin tua.” ujar Mr Liem.


“Terimakasih, Mr Liem,” ujar Fahri.


Setelah berbincang-bincang dengan Mr Liem, Fahri diantar para sipir kembali ke selnya. Zul terbelalak melihat laptop yang dibawa Fahri.


“Gila! Hahaha ....Hah? Laptop? *****! Hahaha. Ini ditangan lu lebih berbahaya dari pistol,” pekik Zul.


*****


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.

__ADS_1


Penulis, Indra W


__ADS_2