
Fahri mengendalikan 3 drone untuk menghalau mobil rombongan Dion, 1 drone dikendalikan secara manual dan 2 drone diatur bergerak secara otomatis untuk mencari dan menembak sasaran yang telah ditentukan, yaitu mobil pasukan Dion. Sistem pemilihan pengendalian drone dapat dirubah dengan cepat.
Dari kejauhan Dion melihat 3 drone terbang menuju ke arah rombongan mobilnya. Ia tersenyum, ternyata Fahri sudah menguasai Penjara Karakas, belum tumpul juga keahlianya.
Dion segera mengendalikan senjata rudal yang berada di atas mobil, begitu pula tentara di 2 mobil lainnya. Para pengendali rudal mengunci sasaran dan melesatkan tembakan untuk menyambut Drone-drone Fahri.
Salah satu rudal melesat menuju drone manual Fahri, drone itu bermanuver tajam dan membalas tembakan sehingga rudal itu meledak. Setelah itu Fahri menukar fungsi pengendalian manual ke salah satu drone lainnya untuk menghindari rudal lain.
Drone yang baru Fahri kendalikan mampu menembak rudal yang hampir menabraknya, sayangnya drone Fahri yang belum sempat dikendalikannya telah tertabrak rudal yang mengincarnya hingga meledak. Kini Fahri hanya memiliki 2 drone.
Drone otomatis Fahri menembaki salah satu mobil di bawahnya. Tentara-tentara didalam mobil tersebut langsung berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri, mobil yang tidak memiliki pengemudi lagi itu menghantam beton sisi jembatan dan terjun ke laut. Mobil Dion tersisa 2.
2 Drone Fahri menghampiri dan menembaki mobil Dion, supir di mobil itu mampu menghindari tembakan dengan gerakan zig-zag. Dion melesatkan rudalnya, begitu pula mobil yang satunya. Drone manual berhasil menghajar rudal yang mengejarnya, sedangkan drone otomastis meledak dihajar rudal Dion, kini hanya tersisa satu drone.
Kini Dion dan penembak rudal dari mobil lainnya melesatkan rudal untuk mengejar satu-satunya drone Fahri yang tersisa. Dion masuk ke dalam mobil untuk mengambil senjata khusus sniper, ia tahu drone yang dikendalikan secara manual oleh Fahri terlalu sulit untuk ditaklukan oleh rudal yang tidak bisa ikut bermanuver, ia melompat dari mobil bersama senjatanya.
Dion benar, Fahri dengan tangkas membuat dronenya bermanuver menghindari incaran 2 rudal yang menghampirinya. Rudal-rudal itu tidak akan berhenti sebelum mencapai sasaran atau meledak. Fahri mengatur dronenya sehingga posisi 2 rudal itu saling berseberangan dan sejajar, kemudian melakukan manuver sehingga 2 rudal itu saling menabrak dan meledak.
Kini Drone Fahri mengejar mobil yang tadi dinaiki Dion. Fahri mengincar pengemudi mobil, tembakan dronenya mengenai sasaran sehingga para penumpangnya segera melompat keluar, mobil itu pun menghajar beton jembatan dan jatuh ke laut.
Drone Fahri langsung mengejar satu mobil yang tersisa, tiba-tiba dari kamera drone tersebut Fahri sempat menangkap gambar Dion dengan posisi tengkurap dijembatan dengan senjata yang sedang mengarah pada dronenya.
DUARRR!!! Monitor kamera dari drone Fahri kehilangan sinyal.
*****
Dean berhasil melubangi dinding yang berada di belakang penjara dengan truknya. Dia dan Pak Budi Raharjo sedang menunggu kelompoknya. Tiba-tiba dari pintu belakang keluarlah rombongan Daud Haris.
“Dimana Fahri?”tanya Dini.
“Dia masih di dalam,” sahut Dean.
“Jangan buang waktu! Kita jalan sekarang sebelum tentara-tentara itu berhasil masuk,” ujar Wanto.
“Kalau Pak Wanto mau duluan silahkan saja, saya dan teman-teman yang lain tunggu Fahri,”sahut Didan.
“Kalian mau tertangkap oleh tentara-tentara itu? Saya punya teman yang bisa saya suruh menjemput kita dengan speedboatnya setelah mencapai ujung pulau, sementara Fahri belum tentu bisa membawa kalian keluar dari pulau ini. Kalian yakin tidak mau ikut saya?” tanya Wanto.
“Pak Wanto, belum pernah ada yang berhasil menyebrangi bukit-bukit itu. Fahri itu tentara terlatih, dia sudah biasa menghadapi medan-medan berat, kita butuh orang seperti dia,” ujar Didan.
“Kamu terlalu sering dengar bualan cerita aneh dari napi yang gagal kabur. Ayo cepat! Kalian buang waktu!” ajak Wanto.
“Silahkan buat yang ingin bergabung dengan Pak Wanto,” tawar Didan pada rombongan.
__ADS_1
Para sipir memilih mengikuti Wanto. Mereka segera berlari sekencang-kencangnya menuju hutan.
Tak lama kemudian Fahri muncul. Para rombongan sangat senang, terutama Daud Haris dan Dini.
Fahri dan Daud berpelukan. Kemudian Fahri memandangi Dini.
“Kamu nekat banget ke sini,” ujar Fahri sambil tersenyum.
“Aku takut kamu kenapa-napa, Fahri” sahut Dini dengan mata berkaca-kaca.
“Oke cukup pacarannya! Nanti kalo tentara datang, kita jadi enggak bisa datang ke resepsi pernikahan kalian. Ayo kita berangkat sebelum semua pintu-pintu sel terbuka!” ujar Zul.
“Ganggu aja lu,” canda Fahri sambil melirik Dini. Dini tertawa mendengarnya walau air matanya jatuh.
*****
Dion melesatkan rudalnya untuk menjebol pintu gerbang. Ia menemukan Penjara Karakas dalam keadaan chaos karena Fahri telah membuka semua pintu Penjara Karakas.
Para sipir menembaki para Napi yang ingin kabur, beberapa napi yang berhasil merebut senjata juga menembaki sipir yang menghalangi mereka. Dion terpaksa harus meladeni siapa saja yang menghadang mereka.
Mr Liem sedang berada di selnya bersama 3 pengawalnya, tiba-tiba Bong dan anak buahnya masuk. Tanpa basa-basi Bong menembak 3 pengawal Mr Liem.
“Jangan bunuh gue, Bong. Lu ambil aja semua harta gue,” pinta Mr Liem sambil membuka brankasnya.
Anak-anak buah Bong langsung menguras harta Mr. Liem dengan memasukkannya ke tas besar yang telah mereka siapkan, setelah itu Bong langsung menempelkan pistolnya ke dahi Mr Liem.
“Telpon orang lu! Suruh jemput kita!” bentak Bong.
“Telpon lagi enggak bisa aktif, Bong. Tapi gue bisa suruh sipir pake HTnya, ayo kita cari sipir,” bujuk Mr Liem.
Bong dan anak buahnya segera menggiring Mr Liem untuk mencari sipir, tetapi sipir sangat sulit ditemukan. Mereka melewati ruang makan para napi, di sana mereka bertemu Dion dan pasukannya, kedua kubu langsung menodongkan senjata.
“Di mana Fahri, Budi Raharjo dan Daud Haris?” tanya Dion.
“Cuma gue yang tahu, tapi selamatin gue dan ambil tas milik gue yang di rampok orang-orang ini,” jawab Mr Liem berspekulasi.
“Ya! Memang cuma dia yang tahu. Buang senjata kalian!” Perintah Bong pada para tentara sambil menempelkan pistolnya di dahi Mr Liem.
Dion dan pasukannya sangat kesulitan mencari orang-orang buruannya di tengah chaos, karena butuh informasi dari Mr Liem, ia terpaksa bernegosiasi.
“Kalian bisa gue bebaskan, tapi serahkan orang tua ini dan tasnya dulu,” ujar Dion.
“Hahaha. Antar kita ke bandara di seberang pulau, nanti orang tua ini jadi milik lu,” ujar Bong.
__ADS_1
Bong menyuruh seorang anak buahnya menyandera Mr. Liem, anak buah Bong segera menempelkan senjatanya di badan Dion.
“Nah, sekarang buang senjata lu! Lu yang antar kita sendirian,” perintah Bong pada Dion sambil menghampiri Dion dengan pistol mengarah padanya.
Dion tak punya pilihan, ia membuang senjatanya.
Tiba-tiba gerombolan napi berlari menuju ruang makan, salah seorang dari mereka berteriak. “Bong! Dinding belakang penjara udah jebol! Daud Haris, Budi Raharjo dan orang-orang penting lain lari ke hutan belakang!”
Dion sudah tidak butuh Mr Liem, ia menendang pistol Bong. Pasukan Dion dan anak buah Bong saling menembak, sehingga Dion dan Bong, yang sama-sama tidak memegang senjata melompat ke bawah meja-meja makan untuk berlindung dari peluru-peluru. Mr. Liem tewas terkena peluru.
Para tentara dan anak buah Dion saling menjauh, untuk mencari posisi aman untuk saling menembak. Tiba-tiba segerombolan napi bersenjata lain yang jumlahnya sangat banyak tampak mendekati medan tempur. Salah seorang tentara melempar granat untuk mereka.
DUARRRR!!!
Ternyata sebuah ledakan besar akan membuat sistem keamanan menutup pintu-pintu besi di tempat terjadinya ledakan. Dion dan Bong yang bersembunyi di kolong meja terkurung dalam satu sekat ruang.
Suara baku tembak terdengar semakin menjauh. Dion dan Bong keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka kini saling berhadapan tanpa senjata.
Dion melompat untuk dapat memukul wajah Bong yang sangat tinggi, pada saat yang bersamaan tangan Bong berhasil meraih leher Dion.
Dion menyentakkan badannya agar kakinya dapat meraih leher Bong, tetapi Bong malah menjatuhkan dirinya sehingga keduanya jatuh, bobot tubuh Bong yang besar membuat Dion semakin terkunci, Dion sulit bernafas, pandangannya mulai kabur.
Tangan Dion berusaha menyusup untuk melonggarkan kuncian Bong, usaha Dion agak berhasil, ia menghirup nafas sebanyak-banyaknya, kemudian Dion berusaha mendekatkan mulutnya ke telinga Bong, setelah dekat ia menggigit dan menarik telinga Bong keras-keras sehingga ujung telinga itu terlepas dan berdarah, Bong berteriak kesakitan, kunciannya terlepas. Dion meludah, membuang daging telinga Bong di mulutnya.
Kedua orang itu sama-sama bangkit. Dion mengambil kesempatan melepaskan banyak pukulan ke wajah Bong. Ternyata Bong sangat kuat, pukulan-pukulan Dion hanya membuat kepalanya menoleh ke kiri dan kanan.
Bong mengolah nafas untuk menyalurkan tenaga dalam lalu melepaskan pukulan, untungnya Dion cepat menutupnya dengan tangan, tapi tangannya bagai baru saja dihantam batu. Bong melanjutkan serangannya dengan menubruk badan Dion dan mengangkatnya, setelah itu ia membanting Dion ke lantai.
Saat Dion masih kesakitan, Bong telah menindihnya dan mengunci leher Dion dengan kakinya. Kini Dion kembali tidak berdaya dan kali ini tidak ada lagi telinga yang bisa ia gigit. Tangan Dion kembali menyusup untuk melonggarkan kuncian kaki Bong agar ia bisa bernafas, pelan-pelan siku Dion berhasil menyusup lebih dalam untuk memberi tenaga yang lebih besar agar dapat segera melepaskan kuncian yang sangat kuat. Pada saat yang sama Bong juga mengambil kesempatan untuk menyalurkan pernapasan tenaga dalamnya. Beberapa detik kemudian Bong tampak telah siap untuk melontarkan pukulannya yang bahkan bisa menghancurkan batu kali. Ia mengayunkan pukulannya ke wajah Dion sekeras-kerasnya.
BUKKK!!!
Bong berdiri meninggalkan Dion yang telah tidak bernyawa sambil mengelap darah Dion yang membasahi wajahnya.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
__ADS_1
Penulis, Indra W