
Rolando memilih seorang remaja yang memegang kunci roda, ia meninju kepala remaja tersebut tetapi remaja itu berjongkok sehingga pukulannya luput, pada saat bersamaan remaja itu memukul keras tulang kering kaki Rolando dengan kunci roda. Dung!!!
Rolando memgang tulang keringnya sambil berteriak kesakitan, dengan cepat remaja itu menghantamkan kunci roda ke kapala Rolando sekuat-kuatnya. Dung!!! Rolando menjerit, tubuh besarnya roboh dan darah mengucur deras dari kepalanya.
2 anak buah Rolando yang lain memilih menghadapi seorang remaja bersenjata kayu. Remaja itu mengibaskan kayu, tetapi dengan mudah kayu itu ditangkap, 2 anak buah Rolando itu tertawa. Salah seorang anak buah Rolando pamer kekuatan, ia merebut kayu dan memukul kepalanya sendiri sehingga kayu itu patah, kedua orang itu tertawa lagi.
Saat 2 anak buah Rolando lengah, remaja itu memungut batu dan langsung menghantamkan batu itu dengan seluruh tenaga ke kepala orang yang tadi pamer, batu ternyata mampu merobek kepalanya hingga bersimbah darah dan roboh. Sayangnya saat remaja itu belum berdiri dengan sempurna, tanpa ampun anak buah Rolando yang lain memukulnya hingga terjatuh.
Orang itu menertawakan remaja yang terjatuh, tapi hanya sebentar, Dung!!! Pemuda bersenjata kunci roda telah mendarat besi di kepala anak buah Rolando hingga pingsan.
2 anak buah Rolando yang lainnya memilih remaja yang tak bersenjata, tetapi kemampuan berkelahi remaja ini tampak lebih baik dari 2 temannya sehingga ia tidak terlihat sedang dikeroyok, tetapi malah sebaliknya. Tanpa kesulitan memukuli kedua anak buah Rolando, pukulan telak membuat salah seorang anak buah Rolando tersungkur.
Tiba-tiba anak buah Rolando yang masih berdiri meraih pinggang remaja itu sehingga keduanya terjatuh. Anak buah cepat Rolando menindih remaja itu, ternyata walau tertindih badan besar, remaja itu mampu mengunci kepala orang itu dengan kakinya hingga wajah anak buah Rolando merah padam kehabisan nafas.
Anak buah Rolando menggapai-gapai ingin memukul kepala remaja yang menguncinya, tetapi posisi kepala remaja itu sulit dijangkau. Dengan mudah kaki anak muda itu memutar sehingga posisinya jadi menindih, kini tangannya yang bebas berkali-kali mendaratkan pukulan sehingga stamina anak buah Rolando semakin melemah, kini tangan remaja itu menggenggam kepala, siap untuk mematahkan leher, untungnya temannya berteriak mencegahnya. Remaja itu melepas kunciannya, ia cepat berdiri, lalu menjatuhkan diri dengan posisi sikut tepat di wajah anak buah Rolando.
Setelah merobohkan Rolando dan anak buahnya, 3 remaja itu menghampiri Pak Herman. Pak Herman mengangkat tangan tanda menyerah. Warga pun bersorak-sorak menyambut kemenangan 3 remaja asuhan Fahri tersebut.
*****
Usai Sholat Isya berjemaah, Fahri minta warga blok 7 berkumpul di lapangan samping masjid. Menurut Fahri, kondisi Blok 7 sangat genting, sejak tiba di rusun sore tadi, ia sibuk mempelajari lawan dan memikirkan strategi melawannya.
Beberapa remaja asuhan Fahri telah menyiapkan perlengkapan mini proyektor di lapangan dan mengumpulkan warga untuk mendengar wejangan Fahri.
"Sebelumnya izinkan saya mewakili warga mengucapkan terimakasih pada Rizki, Ahmad dan Dul, juga semua warga yang tadi siang telah menjaga Blok 7 dari kezoliman orang-orang yang ingin mengambil paksa hak kita," ujar Fahri.
Warga yang hadir langsung bersorak, mereka tampak bangga karena 3 anak muda Blok 7 berhasil mengalahkan orang-orang PT. Karya Salmara.
__ADS_1
"Kita tahu, kekerasan bukanlah pilihan kita, karena kita semua adalah warga yang taat pada hukum. Untuk menghindari kekerasan, saya telah berupaya menitipkan urusan kita pada teman saya Daud Haris, agar disuarakan di parlemen. Tetapi ternyata tadi siang bentrokan fisik tidak bisa kita hindari. Tentunya kita harus bersyukur karena Tuhan telah melindungi kita dan memberi kemenangan, alhamdulillah," ujar Fahri diikuti gemuruh suara warga yang hadir.
"Sekarang saya langsung ke inti permasalahan kita. Warga blok 7 saya mohon resapi kalimat ini!" ujar Fahri.
Wajah para warga langsung tampak serius, suasana menjadi sangat hening. Di lapangan yang temaram Fahri berdiri dibawah cahaya dari lampu pada tiang tinggi di tengah warga yang duduk lesehan, kharismanya Fahri memang selalu membius warga sehingga kalimatnya selalu didengar.
"Jika melawan sudah menjadi pilihan, maka kita tidak punya jalan lagi untuk mundur. Tapi, mereka pasti akan selalu kembali dengan jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya untuk merampas hak kita," ujar Fahri.
Beberapa warga tampak menganggukkan kepala, sebagian yang lain terlihat ngeri dengan pernyataan Fahri.
"Sekali lagi saya ingin memastikan, tolong dijawab dengan akal sehat, jika mereka datang lagi, apakah kita memilih menyerah dengan baik-baik atau melawan?" tanya Fahri.
"Lawaaaan!" teriak Opung Saragih, warga serempak mengikutinya hingga suaranya terdengar bergemuruh.
Fahri tersenyum, bukan ini jawaban yang ia inginkan. Fahri sadar, ia bukan sedang berada di tengah barisan tentara yang terlatih, tetapi di tengah para warga sipil ini hanya bermodal semangat, mereka tidak tahu akan berhadapan dengan siapa, tapi menyerah pun sudah terlambat.
Fahri meminta Dul, remaja yang tadi siang berkelahi dengan senjata kunci roda, untuk menyalakan proyektor.
Wajah Rizal Salman muncul di layar.
"Ini adalah Rizal Salman, semua pasti sudah tahu, dia adalah anggota DPR, orang dekat Presiden. Rizal Salman adalah pemilik sebenarnya PT Karya Salmara, walau namanya tidak ada di struktur perusahaan. Menguasai tanah rusun adalah modal untuk ongkos politik menjadi Gubernur Jakarta, jadi dialah yang akan kita hadapi," ujar Fahri sambil memunculkan data-data yang ia peroleh pada slide di layar.
Para warga terlihat sangat serius mendengarkan penjelasan Fahri.
"Rizal Salman sangat kejam, bahkan ia tidak segan menghilangkan nyawa orang, karena dia sadar aparat keamanan negara selalu menutup mata dan telinga untuk kawasan-kawasan rusun, lagi pula kekuasan berada dalam genggamanannya, sehingga ia pun tidak akan tersentuh hukum. Cara dia merebut suatu kawasan memiliki pola. Langkah pertama! Dia menyogok para tokoh masyarakat untuk dapat persetujuan warga, jika gagal dia akan membangun persepsi melalui media bahwa masyarakat telah setuju, yang tidak setuju dan melawan akan mendapat cap provokator, preman, perusuh dan sebagainya. Langkah kedua! Jika gagal atau’ perlawanan warga menguat, dia akan menggunakan ormas yang selalu ia danai. Barisan Macan Rakyat adalah ormas yang akan kita hadapi, jika kita sepakat untuk melawan," ujar Fahri.
Warga langsung gaduh, mereka sangat kenal dengan Barisan Macan Rakyat, preman kejam berkedok ormas, walaupun sebenarnya sama-sama berasal dari kalangan masyarakat miskin, tetapi mereka tega menghisap darah dan keringat saudaranya sendiri, mereka sangat ditakuti karena jumlahnya sangat banyak dan tak segan melakukan kekerasan.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah kita masih ingin melawan?" tanya Fahri.
"Lawaaaan!" teriak Opung Saragih, lagi-lagi jawab warga serempak mengikutinya. Fahri tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Semoga sahutan ini keluar dari otak yang masih waras, pikirnya.
"Baik, selanjutnya siapa yang akan kita hadapi jika Ormas Barisan Macan Rakyat berhasil kita kalahkan? Saya punya catatan yang tidak pernah diliput oleh media manapun, tentang gagalnya penyerbuan Ormas Barisan Macan Rakyat di Jongol, karena ada ormas lain, yaitu Ormas Laskar Putih yang selalu membela warga Rusun Jonggol. Lalu apa yang terjadi 2 minggu setelah kejadian itu?" tanya Fahri.
"Aparat negara turun tangan!" teriak seorang warga.
Fahri menggeleng, "Aparat negara tidak digunakan Rizal Salman, citra pemerintah sudah sangat buruk, Rizal tidak mau menyusahkan rezim. Langkah ketiga! Saat itu Rizal memakai tetangga kita di blok 3 untuk mengusir warga Rusun Jonggol. Ada yang belum kenal tetangga kita itu siapa?" tanya Fahri.
Warga menjadi lebih gaduh dari sebelumnya. Blok 3 adalah gedung rusun paling angker di Rusun Ciawi yang namanya terkenal di Indonesia. Para pelaku kriminal berbagai kejahatan menjadikan gedung itu seperti markas besar kegiatan mereka. Tidak ada orang luar selain kelompok mereka yang bisa keluar dengan utuh saat masuk ke sana, tentunya kecuali orang-orang seperti Rizal Salman, yang punya urusan bisnis hitam. Tidak heran walau bangunannya sangat menyeramkan tetapi mobil-mobil mewah sering masuk ke sana.
"Ya tentunya kita sudah sering mendengar cerita mengerikan tentang Blok 3. Data ini saya dapat dari server intelejen pemerintah, pernah terjadi pembantaian yang menewaskan banyak orang dari pihak Ormas Laskar Putih setelah peristiwa gagalnya pembebasan Rusun Jonggol, pelakunya adalah para pembunuh bayaran dari Blok 3. Tragedi ini tidak diketahui media manapun, sekarang bagaimana? Apakah kita juga mau berhadapan dengan tetangga kita?" tanya Fahri.
Kali ini suara warga terpecah, mereka mulai saling berdebat, Fahri membiarkan warga memutuskan pilihannya, tiba-tiba Opung Saragih berdiri.
"Selamat malam anak-anak dan cucu-cucu Opung di blok 7, sebelumnya Opung minta maaf, gara-gara membela Opung lah kalian semua jadi terjepit macam ini. Puji Tuhan, usia Opung sudah hampir 80 tahun, egois kali rasanya membiarkan kalian anak-anak muda menghadapi persoalan yang beresiko kehilangan nyawa. Sudah lah! Masa depan kalian masih panjang dan bisa saja kalian nanti lebih sukses walau berada di tempat baru. Biarlah Opung mendatangi PT Karya Salmara untuk minta maaf, mereka pun tidak mungkin tega jika orang tua yang datang," ujar Opung Saragih.
Tiba-tiba Dul ikut berdiri, "maaf Pung! Kami anak muda tidak akan bisa sukses di sini atau di mana pun kalau tidak ada orang yang berani melawan orang serakah seperti Rizal Salman! Bang Fahri, abang pimpin kami melawan mereka! Kami enggak takut sama Barisan Macan Rakyat, orang Blok 3 atau raja setan sekalipun kalo kami benar!"
Ahmad dan Rizki ikut berdiri mendukung Dul, begitu pula remaja lain yang diasuh Fahri, akhirnya semua warga ikut berdiri meminta Fahri untuk memimpin perjuangan.
"Baiklah kalau begitu, tapi saya tidak ingin kita konyol, setelah ini tolong dengarkan strategi saya untuk menghadapi Barisan Macan Rakyat, saya akan menyampaikannya tapi tidak di sini, nanti bisa bocor. Saya akan membagi kelompok dan membicarakan strategi kepada masing-masing ketua kelompok. Untuk warga muslim, nanti kita sholat malam bersama untuk memohon pertolongan Allah, untuk non warga muslim, silakan berdoa dengan cara masing-masing," ujar Fahri.
*****
Bersambung
__ADS_1
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W