
Fahri baru saja selesai berkeliling mengawasi lantai gedung paling atas, ia sedang menunggu pintu lift terbuka untuk kembali ke lobi. Tiba-tiba Ali Tanjung dan Dini muncul menuju lift.
"Selamat siang, Pak Ali, Ibu Dini," sapa Fahri.
"Selamat siang," sahut Ali Tanjung ramah.
Ali Tanjung memandang Fahri dengan teliti. “Masya Allah! Assalamualaikum!” Tanpa disangka Ali Tanjung menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Fahri menyambutnya dengan mencium tangan sambil menjawab salam.
Ali Tanjung masih memandangi Fahri dengan takjub. "Kamu pasti jebolan pesantren, betul, Nak?" tanya Ali Tanjung.
"Betul, Pak Ali," jawab Fahri.
"Sudah sholat Dhuhur, Fahri?" tanya Ali Tanjung setelah melirik nama di seragam Fahri.
"Sudah Pak, insyaAllah" jawab Fahri.
"Alhamdulillah, sesibuk apa pun, kamu usahakan sholat tepat waktu," kata Ali Tanjung sambil menepuk-nepuk pundak Fahri, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol, kamu pasti tahu jawabannya," ujar Ali Tanjung.
"Shalat di awal waktunya, hadist riwayat Abu Daud, kalo saya tidak salah, Pak Ali," jawab Fahri.
Ali Tanjung tampak senang mendengar jawaban Fahri, "wah alhamdulillah ternyata kita punya ustadz muda di MNews.com."
Lift eksekutif langsung terbuka saat Dini mendekati pintunya, Assalamualaikum, good evening Ms. Dini Tanjung, terdengar suara dari perangkat asisten gedung. Ali Tanjung mengikuti langkah Dini, perangkat tersebut juga menyapa Ali Tanjung. Karena Fahri tetap berada di luar lift, Pak Ali menahan pintu lift dan memanggilnya, "Mau ke bawah kan? Sama-sama aja."
"Silakan Bapak, Ibu, saya pakai lift biasa saja," sahut Fahri.
Ternyata Ali Tanjung keluar dan merangkul Fahri untuk masuk, ia terpaksa ikut dalam lift yang sama, setelah pintu lift tertutup Fahri menjaga jarak dengan berdiri di dekat pintu. Dini tersenyum melihat kecanggungan Fahri, ini pasti karyawan baru, ia belum tahu sifat Abi.
Ali Tanjung kembali bertanya pada Fahri, "hal tuhibu 'amalu wahuna? (apa kamu senang kerja di sini?)"
"Na'am, 'ana sya'idu lil 'amali hunna, insyaAllah! (Iya, saya senang bekerja di sini)," jawab Fahri. Ia tak menyangka dapat pertanyaan dalam Bahasa Arab, untung ia menguasainya.
"MasyaAllah!" ujar Ali Tanjung.
Ali Tanjung orang indonesia tulen, tapi istrinya memiliki darah keturunan arab sehingga ia senang belajar bahasa dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan dari keluarga istrinya, seperti panggilan 'Abi'.
"So, how long have you been working here?" tanya Ali Tanjung.
"I'm new employee, about 3 weeks, Sir" jawab Fahri
"Oh i see, new employee! Is there any other foreign language are you good at?" tanya Ali Tanjung.
"Je parle chinois, allemand et français, insyaAllah," sahut Fahri.
Dini tampak sangat terkejut mendengar kemampuan petugas keamanan di depannya.
"MasyaAllah! Apa itu artinya, Nak?" tanya Ali Tanjung pada Dini sambil tertawa.
"Abi, Fahri bilang dia bisa menguasai bahasa China, Jerman dan Perancis," sahut Dini.
"O ya? Kamu ini beneran sekuriti atau habis shooting jadi sekuriti?" tanya Ali Tanjung.
"Abi ada-ada aja, kantor kita kan media pemberitaan, dan apa salahnya sekuriti menguasai banyak bahasa?" tanya Dini sambil tertawa. Tanpa sadar Dini mulai memperhatikan Fahri dengan seksama, selain kemampuan bahasa, ternyata laki-laki ini juga punya wajah menarik.
"Alhamdulillah, saya memang petugas sekuriti di kantor ini," sahut Fahri, ia mulai terlihat malu jadi objek pembicaraan, padahal ia hanya berusaha menanggapi Ali Tanjung dengan baik, sama sekali tidak berniat pamer.
"Maaf, Nak, jangan tersinggung. Setiap pekerjaan punya kompetensi masing-masing, saya cuma heran, apakah kemampuan menguasai banyak bahasa juga menjadi syarat kompetensi petugas keamanan di kantor kita?" ujar Ali Tanjung.
"Cuma kebetulan, bukan syarat kompetensi, Pak Ali," jawab Fahri.
"Wah beruntung sekali perusahaan kita! Saya jadi penasaran, sepertinya kamu masih punya banyak hal yang akan membuat saya takjub, kamu ikut saya ya! Kita ngobrol-ngobrol di mobil," pinta Ali Tanjung.
"Baik, Pak Ali. Tapi kalo boleh, saya izin ke komandan dulu."
"Boleh, perlu saya yang bicara?" tanya Ali Tanjung.
"Terima kasih, saya saja, Pak," sahut Fahri.
"Baiklah, O iya, kamu salin seragam ya, saya mau kenalkan dengan teman-teman saya," pinta Ali Tanjung.
"Baik, Pak Ali." sahut Fahri.
Setelah lift sampai, Fahri langsung bergegas menemui Pak Diding dan memberi tahu perintah Ali Tanjung padanya.
"Hah? Emang Pak Ali sahabat lu juga? Lu sebenarnya siapa sih? Gile bener! Ya udah buruan!" ujar Pak Diding.
*****
Di dalam sedan mewah yang sedang melaju, Fahri duduk didepan bersama supir, persis di belakangnya ada Ali tanjung dan Dini.
Ali Tanjung memang unik, walaupun ia konglomerat dan memiliki jabatan menteri, tetapi ia tidak suka dikawal, apalagi dapat pengawalan dari pemerintah, ia merasa seolah dimata-matai dan terkekang, sehingga menolak semua fasilitas dari negara untuknya. Ali Tanjung memang tidak seperti orang-orang besar pada umumnya yang senang membangun dinding tinggi dan berdiri di atasnya agar tidak terjangkau orang kecil.
Ali Tanjung melirik Dini yang sedang memantau portal pemberitaan miliknya dari laptop. "MNews.com masih sering dihajar peretas?" tanya Ali Tanjung.
"Itulah Abi, semakin hari semakin gencar, walau programmer MNews bisa mengatasinya tapi tetap aja sangat mengganggu, fokus kita jadi hanya untuk urusan itu, kita sempat beberapa kali offline," sahut Dini.
"Kalau gitu kamu minta tolong Mind Group atau dari anak perusahaan lain yang punya programmer handal," ujar Ali Tanjung.
"Masalahnya bukan cuma handal atau tidak, tapi MNews.com mau memiliki sistem keamanan sekelas apa? MNews.com bukan perusahaan untuk mengejar profit, masak hanya untuk menjaga unit bisnis kecil kita harus panggil Pasukan T7?" sahut Dini.
“Justru kalo perlu, kita harus panggil Pasukan T7. MNews sangat dibutuhkan rakyat di tengah politisasi informasi,” ujar Ali Tanjung.
"Hmm betul juga Abi, nanti Dini cari programmer khusus untuk urusan ini," sahut Dini.
“Fahri, kamu punya kenalan yang handal untuk masalah ini, Fahri?" tanya Ali Tanjung.
"Maaf, tidak punya Pak Ali," jawab Fahri.
"Abi, ini kan urusan keamanan digital, kok tanya ke Fahri?’ ujar Dini sambil tertawa.
"Tapi... Maaf, boleh saya coba bantu, Bu Dini?" tanya Fahri.
"Maksud kamu?" tanya Dini.
"Kalau laptop Bu Dini terhubung dengan internet, mudah-mudahan saya bisa bantu mengatasi para peretas itu sekarang, tapi itu jika Ibu tidak keberatan," ujar Fahri.
Lagi-lagi Dini dikejutkan oleh laki-laki dalam bungkus seragam petugas keamanan ini, ia memandangi Fahri dengan penuh keraguan, kemudian Dini menoleh pada Ali Tanjung.
"Hmm, Nak. Dulu Abi seperti Fahri, orang-orang seperti kami memang sulit dapat kesempatan,” ujar Ali Tanjung.
"Abi yakin?" tanya Dini.
"Kamu yang mendirikan MNews, kamu yang harus ambil keputusan," ujar Ali Tanjung.
“Fahri,” panggil Dini.
“Ya, Bu Dini,” sahut Fahri sambil menoleh ke belakang.
Dini menatap Fahri, kini wajah Dini terlihat tegas, "Maaf, bukan kemampuan kamu yang saya ragukan, rasanya sulit menyerahkan alat perjuangan ini ke orang baru saya kenal, apalagi sejak tadi kamu menunjukkan kompetensi yang jauh melampaui posisi kamu. Jujur saja saya curiga dan tidak nyaman ada orang asing yang ikut dalam perjalanan ini, tapi karena Abi yang mengajak, saya yakin Abi pasti telah melihat sesuatu yang belum bisa saya lihat, saya mau memberi kamu kesempatan," ujar Dini sambil menyerahkan laptop.
"Terima kasih, Bu Dini, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan Ibu dan Bapak," sahut Fahri.
"Kamu butuh password?" tanya Dini saat Fahri telah memangku Laptop Dini,
"Tidak perlu, Bu Dini, terimakasih," jawab Fahri.
__ADS_1
Fahri mengeluarkan benda kecil dari dompetnya dan menancapkannya ke laptop, Dini mendekat untuk mengawasi monitor laptopnya.
Sesaat kemudian monitor menampilkan teks-teks di atas layar hitam yang berubah-ubah dengan cepat, Fahri dengan tangkas mengetik banyak huruf, yang bisa Dini kenali hanya tulisan 'MNews.com', kemudian muncul lah nama-nama orang-orang, Dini menghubungkan tulisan-tulisan yang muncul untuk menebak langkah pekerjaan Fahri
"Fahri, kamu akan membatasi akses masuk orang-orang IT kantor kita?" tanya Dini.
"Betul Bu Dini, tapi hanya sementara, sebagai orang keamanan, saya harus memperhitungkan segala kemungkinan, bahaya bisa datang dari dalam atau luar," tanya Fahri.
"Mereka tahu?" tanya Dini.
"Saat ini belum, boleh saya lanjutkan?" tanya Fahri.
Dini mengangguk sehingga Fahri kembali melanjutkan aksinya. Setelah beberapa menit tenggelam dengan bahasa program yang tidak dimengerti Dini, muncul lah tulisan yang ingin Fahri jelaskan.
"Bu Dini, peretas MNews lumayan banyak, tapi yang terkuat dan sering berhasil merusak itu berasal dari satu sumber, yaitu pihak ketiga yang punya kaitan dengan intelejen negara, mereka memang konsultan hitam yang sering dipakai untuk menghajar pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah, coba ibu lihat, ini daftar situs dan server lain yang pernah mereka hajar," pinta Fahri pada Dini.
Dini membaca isi monitor laptop, "hmm, kamu benar, apa kamu bisa mengatasi mereka?" tanya Dini.
"InsyaAllah bisa Bu Dini, tapi percuma, karena ada keterlibatan orang dalam," ujar Fahri.
"Orang IT MNews?" tanya Dini.
"Bukan, tapi salah satu petinggi IT di Mind Group, ini nama orang itu. Setebal apapun brankas baja akan percuma jika pemegang kunci memberikan kuncinya pada peretas," kata Fahri.
"Hah? Saya kenal orang itu, dia memang bermasalah, dia belum tahu kamu menyusup?" tanya Dini.
"Tadinya tidak, tapi dia menanamkan alarm, sehingga sekarang dia tahu, Bu Dini lihat teks yang bergerak itu? Itu adalah upaya perlawanannya," ujar Fahri.
"Wah, gimana kalo dia merusak server-server atau database penting kita? Kamu harus telpon orang kantor untuk tahan dia," pinta Dini.
"Akses dia sudah saya tutup, bukti-bukti kejahatannya sudah saya karantina sehingga tidak bisa dihapus, InsyaAllah aman. Saya akan tahan dia di ruangannya." ujar Fahri sambil mengetik kode program.
Tiba-tiba di monitor laptop Dini muncul tampilan CCTV ruangan tempat orang itu berada, dia tampak sedang mengemasi barang-barang pribadinya untuk kabur.
Orang itu tidak bisa keluar dari ruangannya, karena Fahri telah menguncinya. Fahri mengetik kode program lagi, muncullah nada panggil telepon.
“Saya sedang menghubungi petinggi IT Mind Group yang lain,” ujar Fahri.
"Halo anda siapa? Anda telah memasuki jaringan keamanan gedung 3 Minds, lokasi anda telah kami lacak, anda akan berurusan dengan polisi," ancam orang yang ditelpon Fahri.
"Halo, tolong jangan panggil polisi dulu, ada hal darurat yang sedang terjadi. Saya Fahri Hussein, petugas sekuriti MNews.com, saat ini saya sedang bersama Bapak Ali Tanjung dan Dini Tanjung, Bu Dini silahkan bicara," pinta Fahri.
"Halo, Dave, Fahri benar, sebaiknya kamu ikuti instruksi Fahri," perintah Dini.
"Oh, Bu Dini, baik, Bu," sahut Dave.
"Halo Pak Dave, Pak Jojo yang berada di ruang 702, Tower 1 telah saya kurung diruangannya karena melakukan kejahatan IT, mohon ditindak lanjuti, nanti saya akan kirim berita acaranya, saya juga minta maaf atas kelancangan saya memasuki jaringan anda," ujar Fahri.
"Baik, segera saya tindak lanjuti, tapi saya heran, saya sedang membaca database anda. Bagaimana mungkin anda bisa masuk ke jaringan kami? Anda kan cuma seorang petugas sekuriti gedung. Sistem yang kami buat ini standar internasional dan telah kami uji berulang kali, anda harus jelaskan ini, Fahri," pinta Dave.
"Maaf, Pak Dave, saya sedang bersama Pak Ali dan Bu Dini, lain waktu kita bisa bicara panjang lebar. Intinya, tidak ada salahnya seorang sekuriti gedung punya hobi yang sama dengan pekerjaan utama orang lain. Terima kasih, Pak." ujar Fahri sambil mengakhiri percakapan.
Dini menatap Ali Tanjung yang cuma tersenyum menyaksikan aksi Fahri.
"Pak Ali, Bu Dini, kita juga bisa membalas dengan mengambil alih server pihak yang mengganggu MNews, apakah kita perlu sampai sejauh itu?"tanya Fahri.
"Tidak perlu. Tolong kamu bantu agar jaringan kita benar-benar aman, itu saja, terima kasih ya, Nak," ujar Ali Tanjung pada Fahri, lalu ia menoleh pada Dini, "Dini, Abi rasa kamu tidak perlu mengajukan tuntutan hukum, Abi sedang di pemerintahan untuk memperjuangkan orang-orang kecil, bisa gaduh nanti."
"Baik Abi," sahut Dini, lalu ia menoleh pada Fahri,"Fahri, terima kasih, sepertinya saya ingin kenal kamu lebih jauh, kamu sebaiknya ditempatkan pada pekerjaan dan posisi yang lebih sesuai," ujar Dini.
"Betul Fahri, mulai besok kamu tidak usah bekerja untuk Dini lagi! Cari Mind Group di gedung sebelah, kamu tanya sama HRD di sana, di mana ruangan para asisten khusus Ali Tanjung. Apa kamu bersedia menempati salah satu ruangan besar untuk para asisten khusus saya di sana?" tanya Ali Tanjung.
"Jika Bu Dini mengizinkan, Pak Ali," jawab Fahri, ia tampak terkejut mendengar tawaran tersebut.
"Kok malah dibajak Abi sih?" tanya Dini.
"Kalo boleh memilih, saya pilih tetap ikut Bu Dini," jawab Fahri.
Dini terkejut dengan pilihan Fahri. Mind Group adalah perusahaan impian bagi semua pekerja dan ayahnya menunjuk Fari sebagai asisten khusus, jabatan itu bahkan lebih tinggi dibanding jabatan menjadi CEO di anak-anak perusahaan Mind Group.
"Saya tahu orang seperti kamu memang tidak mementingkan diri sendiri. Saya butuh asisten seperti itu. Baiklah, Fahri besok kamu mulai bantu saya di Mind Group. Salah Dini, intuisinya kurang kuat, hehehe, kamu kok cemberut, Nak?" tanya Ali Tanjung pada Dini.
“Hehe, enggak kok. Fahri, potensi kamu yang besar terbukti cepat tersalur saat bersama Abi. Besok kamu boleh ngantor di gedung sebelah, tapi jangan pelit kalo aku minta tolong,” ujar Dini.
"InsyaAllah, Bu Dini," jawab Fahri.
Fahri memang lebih suka bekerja untuk Dini. Ia sudah lama mengagumi Dini sejak masih menjadi tentara, perjuangan Dini yang ia saksikan melalui tayangan TV membuatnya jatuh cinta dan berharap bisa mendekati Dini di suatu saat.
Tentunya waktu itu Fahri masih percaya diri, tetapi setelah menjadi pekerja posisi terbawah di perusahaan milik Dini, Fahri menyimpan perasaannya dan menutupnya rapar-rapat karena otaknya masih waras, tak mungkin orang seperti dirinya menjangkau Dini yang berada di langit. Ia sudah cukup puas bisa melihat Dini dari kejauhan.
*****
Mobil telah memasuki kawasan yang suasananya jauh berbeda dari sebelumnya, Fahri tak menyangka, rupanya tak jauh dari Jakarta masih ada kawasan hutan pinus yang sangat luas.
Setelah beberapa kilometer menyusuri hutan pinus, mobil belok memasuki gerbang yang bertulis 'Al Kahfi Land', kemudian berhenti di depan gedung berasitektur indah. Orang-orang di dalam mobil segera keluar.
"Kamu tahu enggak, bangunan di tengah hutan ini tempat apa?" tanya Ali Tanjung pada Fahri.
"'Tadi saya baca tulisan Al Kahfi Land, sebenarnya ini tempat apa, Pak?" tanya Fahri.
"Dulu ini adalah kantor perusahaan properti milik Pak Erlangga, salah satu pemilik Mind Group, kamu tahu Pak Erlangga Yusuf?" tanya Ali Tanjung.
"Beliau kan terkenal, Pak Ali. Arsitek yang memiliki ide membuat kawasan perairan dangkal Jakarta, arsitek Mind Park dan juga punya julukan arsitek seribu masjid, karena suka membuat masjid-masjid indah di berbagai tempat," jawab Fahri.
"Betul, sekarang gedung ini dia dijadikan tempat kumpul-kumpul para cendikiawan muslim, semacam tempat rapat sekaligus nyantai seperti hotel. Ya tentunya hanya benar-benar ramai saat ada agenda pertemuan,” ujar Ali Tanjung.
“Kalo bangunan-bangunan tinggi yang jauh di seberang danau itu, apa Pak?”tanya Fahri.
“Itu adalah pusat pembinaan, ada sekolah, kampus sekaligus pesantren, khusus masyarakat miskin. Kebanyakan orang Mind Group itu berasal dari Al Kahfi Land. Direktur IT yang baru kamu kurung itu bukan jebolan sini, makanya sekedar pintar. Mudah-mudahan anak-anak kami ini sukses untuk urusan dunia dan akhirat," kata Ali Tanjung.
"Aamiin. Kalo rumah kotak di atas danau itu bangunan apa, Pak Ali?" tanya Fahri.
"Nah, kita akan ke sana. Itu rumah singgah khusus Pak Erlangga. Teman-teman saya sepertinya sudah datang." ajak Ali Tanjung.
Fahri sangat menyukai suasana kawasan yang sangat asri ini, suara-suara serangga dan burung yang sudah asing bagi telinga orang kota masih terdengar ramai di sini.
"Assalamualaikum, maaf telat. Wah yang punya Bandung sudah sampai duluan, apa kabar Kang Andi? Kalo Kang Angga, aku masih sering ketemu di Mind Park," sapa Ali Tanjung.
Ali Tanjung memeluk Andi Permana dan Erlangga Yusuf, kemudian ia menyapa para istri sahabatnya, "masyaAllah! Ada Ibu-ibu juga ternyata, Apa Kabar Widi, Soffie? Ya sudah aku minta supir jemput istriku, ya," ujar Ali Tanjung.
Fahri tak menyangka, hari ini ia banyak bertemu orang-orang besar yang ia kagumi. Ali Tanjung, Andi Permana pernah menjadi Gubernur Jawa Barat dan Erlangga Yusuf arsitek kebanggaan Indonesia.
"Sibuk banget nih Pak Menteri. Oh ada Dini! Dan yang ini? Aku sepertinya belum pernah ketemu, tapi…" ujar Kang Angga sambil memandangi Fahri penuh selidik.
"Saya Fahri, petugas keamanan," sahut Fahri sambil mencium tangan Kang Angga dan Kang Andi.
"Betul, tadinya, tapi sekarang Fahri sudah jadi asisten khususku di Mind Group. Anak pondok dan pintar, sayang kalau tidak dimanfaatkan ilmunya. Al Kahfi pun butuh Fahri, makanya ku ajak ke sini untuk bantu kita nanti," ujar Ali Tanjung.
"Aku pikir calon mantu kau, Bang Al," canda Kang Angga, lalu ia melihat Dini, "Gagah ini Dini! Cocoklah sama kamu yang cantik, nunggu apa lagi sih?" tanya Kang Angga membuat Fahri dan Dini tak berkutik.
"Kang Angga, kunaon cari gara-gara! Dini, undang Kang Angga di talkshow bahas Amnesia Disosiatif, siap nteu, Kang? Hahaha," canda Kang Andi membuat semua tertawa.
Dini sudah biasa bercanda dengan sahabat-sahabat ayahnya, sementara Fahri hanya bisa senyum dan bingung mendengar percakapan mereka.
Tak lama kemudian terdengar suara Adzan Ashar, Para laki-laki sholat berjemaah di Masjid Al Kahfi yang berada di komplek gedung pusat pembinaan, setelah kembali orang-orang di rumah kotak hanyut dalam suasana nostalgia, mereka lupa keberadaan Dini dan Fahri.
Fahri tak mau merusak suasana, ia duduk sendiri di luar menikmati suasana danau yang semakin sore. Ia betah membaca aplikasi AlQurán di tempat tenang ini. Dini yang mulai bosan akhirnya ke luar menghampiri Fahri.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu Dini?" tanya Fahri saat Dini duduk di dekatnya, ia merasa canggung.
__ADS_1
"Oh, kamu lagi baca Al Qurán, lanjutin aja," ujar Dini.
"Cuma manfaatin waktu kosong, Bu Dini. Ibu butuh sesuatu?" tanya Fahri.
"Tadinya butuh teman ngobrol, tapi ternyata malah jadi ganggu kamu, enggak jadi deh, takut dosa," ujar Dini.
"Ibu ada-ada aja, silahkan Bu Dini, InsyaAllah nanti saya lanjutkan deh, biar Ibu enggak dosa," sahut Fahri.
"Fahri, maaf ya, saya kayaknya terlalu suuzon sama kamu. O iya, kenapa sih kamu enggak melamar kerja di bidang IT?" tanya Dini.
"Saya enggak punya ijazah, sertifikasi dan pengalaman di bidang IT," sahut Fahri.
"Tapi kemampuan kamu malah di atas mereka yang punya semua itu, gimana caranya?" tanya Dini.
"Dari internet, jangankan belajar programming, tutorial ngerebus air juga ada," ujar Fahri membuat Dini tertawa.
"Fahri, kamu kan udah jadi orangnya Abi, panggil nama ajalah, lagian umur kita juga sepertinya enggak jauh beda, kan? Berapa sih umur kamu?" tanya Dini.
"Saya 29 tahun, Bu Dini. Maaf, kurang sopan rasanya kalo saya panggil nama," jawab Fahri.
"Kamu itu lebih tua 6 tahun, jauh tau! Berarti saya yang enggak sopan," sahut Dini.
"Bagi saya, ibu tetap atasan saya," ujar Fahri.
"Jadi kita enggak boleh berteman, Bang Fahri?" canda Dini.
Telinga Fahri terasa gatal dipanggil ‘bang’, ia jadi serba salah. "Ya boleh."
"Kalo gitu panggil Dini aja, Bang Fahri," ujar Dini.
"Panggil saya Fahri aja, Bu Dini," sahut Fahri gugup.
"Hahaha, kalo kamu panggil Bu, saya juga panggil Bang, nah adil kan? Di MNews, semuanya juga panggil Mbak, kamu emang kaya orang Mind Group, kaku" ujar Dini.
"Iya deh, Mbak Dini ya?" tawar Fahri.
"Jadi kita enggak bisa berteman nih, Bang Fahri?" tanya Dini.
"Iya, iya, maaf.... Dini," sahut Fahri.
Lidah Fahri serasa kelu menyebut nama Dini langsung, seolah lancang merubuhkan dinding tebal "Thamrin Wall', tapi ia malas berdebat tanpa habis soal panggilan.
"Haha, kamu kaku banget deh, kaya tentara aja," ledek Dini.
"Kamu juga mojokin banget, kaya presenter berita aja," balas Fahri mulai membiasakan diri menjadi teman Dini.
"Hahaha, gitu dong bales, ciee.. panggil kamu," ledek Dini.
"Aduh, maaf.. Bu, eh, Dini! Gawat, akhirnya ngerasain juga jadi pejabat yang dipojokin kamu di depan kamera." sahut Fahri.
"Ciee kamu lagi, hahaha." ledek Dini lagi.
"Terserah deh mau dipecat juga enggak apa-apa, kan 'kamu' yang membuat 'aku' jadi enggak sopan. Mana surat PHK 'kamu' yang harus 'aku' tanda-tangani, Dini?" balas Fahri.
"Haha, nah gitu, ternyata kamu dan aku bisa berteman," canda Dini.
“Hehe,”
Tiba-tiba beberapa saat mereka saling diam. Dini yang biasa mengorek informasi dari nara sumber penting, bisa kehabisan pertanyaan, akhirnya Fahri membuka pembicaraan lagi agar suasana tidak canggung.
"Kamu sering ke sini?" tanya Fahri, sambil membiasakan diri menjadikan Dini teman.
"Aku ke sini cuma saat Abi ngajak aja, tapi tempat ini punya cerita yang membuatku iri," sahut Dini.
"Cerita apa?" tanya Fahri.
"Ceritanya panjang, kapan-kapan kita ke sini berdua untuk ngobrol tentang kisah romantis di danau ini," ujar Dini.
Jantung Fahri berdegup keras mendengarnya. Untuk sesaat harapannya sempat melambung tinggi, tapi Fahri segera menjernihkan otaknya, ia melirik Dini, ternyata Dini sedang menatapanya agak lama, seperti mengamati Fahri. Jantungnya kembali berdegup, bahkan lebih keras.
"Kenapa wajah kamu tidak asing ya?" tanya Dini.
"Ya wajarlah, aku kan tiap hari duduk di dekat meja resepsionis, semua orang MNews yang lewat pasti aku sapa," jwab Fahri.
"Hmm, aku yakin kita pernah ketemu sebelum kamu di MNews." ujar Dini.
Tiba-tiba Tante Widi, istri Erlangga Yusuf muncul, "Dini, kenapa di luar? Ayo masuk, ajak pacar kamu juga."
"Tante Widi, Fahri ini orangnya Abi, bukan pacar aku. Nanti aku sama Fahri masuk, masih enak ngobrol di luar," sahut Dini.
"Oh gitu, maaf ya, hati-hati lho, yang udah-udah danau ini suka bikin orang berjodoh lho, hahaha. Lanjut deh." canda Tante Widi lalu masuk kembali ke rumah kotak.
Fahri tampak salah tingkah. Ia berusaha keras menutupi perasaan ge-ernya.
"Kenapa ngira pacar ya? Padahal mereka yang di dalam itu, dulunya enggak ada yang pacaran, kenal sebentar, pendekatan, langsung melamar. O iya, kamu udah menikah atau sedang punya pacar?" tanya Dini.
"Aku juga sama dengan orang-orang di dalam itu, maunya enggak usah pacaran. Karena belum ketemu yang cocok, ya jadinya belum menikah, kamu?" tanya Fahri.
"Aku? Mungkin kalo bertemu dengan laki-laki yang punya kualitas seperti orang-orang di dalam itu, aku akan tertarik memikirkan soal jodoh." sahut Dini.
"Mereka memang orang-orang hebat. Pasti banyak lah pengusaha besar seperti mereka yang deketin kamu," ujar Fahri.
"Kualitas yang ku maksud adalah soal kegigihan dalam urusan dunia dan akhirat. Jangan samain mereka dengan pengusaha-pengusaha lain, jauh banget kualitasnya. Fahri, 3 laki-laki hebat di dalam itu pernah kenyang jadi orang miskin," ujar Dini.
Tiba-tiba muncul lagi seorang perempuan yang memanggil Dini, "Hey cantik, sini masuk sama calonnya."
Dini tertawa, "Tante Soffie, Fahri ini orangnya Abi, bukan calon aku. Iya, sebentar lagi Dini sama Fahri ke dalam."
Tante Soffie mendekat, ia menatap Fahri dengan wajah heran sehingga membuat Fahri menunduk. Dini juga menatap wajah Fahri dan Tante Soffie bergantian.
“Eh, baru sadar, Fahri kok mirip ya sama Tante Soffie?” tanya Dini.
“Iya, tepatnya Fahri ini mirip anak aku. Cuma wajah Fahri agak oriental. Oh, jadi Fahri bukan calon kamu? Padahal serasi lho. Kamu gimana sih Fahri? Tante aja pengen banget jadiin Dini menantu, sayangnya dulu pas anak tante niat mau nikah, Dini masih SMP, kelamaan nunggunya, kata anak laki-laki Tante, hihi." ujar Tante Soffie.
"Tanteku sayang kenapa jadi ngegosip sih?" tanya Dini.
"Hihihi. Ya udah, nanti kalian ke dalam," pinta Tante Soffie. Istri Kang Andi itu kembali masuk ke dalam rumah.
"Tuh serasi katanya, usaha dong! Hahaha," canda Dini.
"Pengen sih, cuma siapa yang berani deketin anak satu-satunya Ali Tanjung, enggak sanggup mikirin biaya sewa gedungnya, hehehe," sahut Fahri berusaha mengimbangi gaya becanda Dini.
Fahri baru tahu ternyata Dini sebenarnya suka bercanda, padahal saat di depan kamera ia sangat garang, pada nara sumber yang bermasalah.
"Nabung lah! Minta gaji yang gede sama Abi, hahaha. Ya udah yuk ke dalam, bentar lagi kalo Umi yang ngelihat, bisa lebih repot, kamu belum punya duit buat sewa gedung sih," ledek Dini.
Fahri tidak menyangka bisa sedalam ini mengenal kehidupan pribadi orang-orang besar seperti Ali Tanjung dan teman-temannya, bahkan mendadak menjadi teman perempuan hebat seperti Dini Tanjung.
Untungnya Fahri cukup dewasa untuk menilai candaan Dini. Menurut Fahri, karena Dini nyaman berteman dengannya, Fahri pun sudah sangat senang bisa sedekat ini dengan orang yang dicintainya tanpa harus berharap lebih.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1