
Samuel dan Fahri tidak melanjutkan perkelahian karena ingin menyimak pers conference yang digelar Gulva. Mereka duduk bersebelahan di atas meja menonton TV dengan damai.
“Apa kau tidak merasa aneh, Sam?” ujar Fahri sambil merebut minuman kaleng yang di pegang Samuel, kemudian Fahri meneguk minuman itu. “Pasukan T7 di bentuk untuk membela negara. Lalu siapa yang dimaksud negara? Beberapa saat yang lalu membela negara adalah membela kemauan Anggito Suryo, tiba-tiba berubah jadi membela kemauan Jendral Priyo, sekarang berubah lagi…hahaha jadi membela kemauan Kolonel Samuel. Jadi ternyata Pasukan T7 itu dibuat cuma untuk membela hasrat penguasa saja, betul kan?”
Samuel merebut kembali minuman kalengnya dari tangan Fahri dan meneguknya. “Ya, memang! Di Pasukan T7 cuma aku, kau dan Stefano yang sadar, kita enggak mau dijadikan alat untuk membela hasrat penguasa. Makanya kau dan menolak perintah Jendral Priyo. Aku pun tak mau jadi antek-antek Ben Jani dan Priyo, makanya negara ini aku kuasai,” sahut Samuel lalu menyerahkan minuman kalengnya ke Fahri.
Fahri meneguk minumannya sedikit dan mengembalikannya ke Samuel. “Sam, sudahlah! Kau tak perlu menjadi Ben Jani, kita selesaikan ini baik-baik, apalagi ku dengar 2 teman kita sudah gugur, silahkan kau pimpin Pasukan T7, tapi berdirilah bersama rakyat,” ujar Fahri.
“Hahaha, menjadi Ben Jani? Aku lebih hebat lah dari Ben Jani! Fahri, hanya dengan cara menggengam kekuasaan, maka kau tidak akan dikuasai. Menurutmu kita masih perlu bertarung?” tanya Samuel, sambil menwari miumuman kaleng yang baru diteguknya.
Fahri tidak menyahut, ia berdiri lalu mengamati TV dengan seksama.
“Alhamdulillah!” ujar Fahri.
“Oh, karena ada pesawat tempur lain di udara? Itu Stevano? Hahaha, sandera sudah bersama Gulva, apa pengaruhnya?” tanya Samuel ikut mengamati TV.
“Matamu kurang awas, sebentar aku ambilkan minuman kaleng baru, sepertinya bakal ada tontonan seru lagi,” ujar Fahri.
*****
“Kenapa kau tak menembak pesawatku tadi?” tanya Stevano melalui alat komunikasi pesawat.
“Stevano, aku ingat pernah berhutang nyawa padamu. Kau pernah mendorongku saat ditembak musuh, gara-gara itu kepalamu yang jadi terserempet peluru, makanya kau jadi setengah sinting, hahaha. Sekarang hutangku sudah lunas,” ujar Farhat.
“Oh gitu. Terima kasih Farhat, sejujurnya aku enggak bisa bertempur melawan teman,” kata Stevano.
“Kau pikir aku bisa? Tapi tujuan hidup kita sekarang sudah berbeda. Maaf kawan, kuberi waktu 2 menit untuk menjauh dan turun, kalau kau tetap berada di udara, maka kau jadi musuhku,” ancam Farhat.
“Baiklah, ternyata kita memang harus berhadapan,” sahut Stevano sambil menjauh dari MiG Farhat.
Farhat menghitung waktu, setelah 2 menit berlalu, ia langsung mengejar pesawat Stevano. Stevano membawa MiGnya menjauhi kota.
Tiba-tiba monitor radar menangkap ada 5 pesawat F-16 menuju ke arah 2 MiG Farhat dan Stevano.
“Stevano, 5 pesawat tampaknya ingin bergabung, itu pesananmu?” tanya Farhat.
“Aku tak punya akses ke penguasa. Entahlah, kita lihat saja siapa yang mereka tembak,” sahut Stevano.
Setelah dekat ternyata 5 F-16 tersebut ternyata menembaki kedua pesawat MiG. Mereka tidak tahu kalau salah satu dari 2 MiG itu adalah kubu mereka. Dalam kondisi kepemimpinan negara yang tidak jelas, rupanya salah seorang petinggi TNI Angkatan Udara memilih untuk bertidak sendiri tanpa berkordinasi.
Kini perhatian utama Farhat tidak lagi untuk mengejar Stevano yang menjauhi kota, ia memutar pesawatnya kembali ke kota untuk memancing F-16 bertarung di sana.
“Eagle Alpha 1! Salah satu sasaran menuju pusat kota, apa kita bagi pasukan?” tanya seorang pilot F-16.
“Alpha 2! Kita hadapi yang mau menyerang kota dulu!”
“Tapi apakah aman dari penduduk sipil?”
“Alpha 2! Kita dalam keadaan perang, lontarkan misil kalian, jangan ragu!”
“Roger, Alpha 1!”
__ADS_1
MiG Farhat dikejar dan dihujani tembakan oleh F-16 di belakangnya, pesawatnya dengan cepat melakukan manuver-manuver sulit untuk menghindari tembakan.
Para penduduk Jakarta yang berada di MWT panik melihat banyak pesawat tempur yang terbang di atas mereka. Farhat sengaja mendekati tempat yang banyak terdapat penduduk sipil agar F-16 tersebut ragu menembaknya tetapi ternyata ia tetap di tembaki, beberapa misil F-16 menghajar perahu-perahu boat MWT hingga meledak.
Stevano terkejut dengan aksi brutal para pilot F-16 itu. Ia menghubungi para pilot itu.
“Pasukan F-16! Aku Stevano Revan dari MiG di belakang kalian, kita berada dalam pihak yang sama. Jangan main-main, kalian berada di atas penduduk sipil!” ujar Stevano.
“Kalau kau benar berada di pihak yang sama, sebaiknya kau segera landing!” perintah komandan pasukan udara F-16.
MiG Farhat dikepung dari segala arah, salah satu F-16 berhasil mengunci posisi MiG Farhat sehingga dikejar oleh rudal. Farhat berusaha melakukan manuver-manuver agar tidak terkejar rudal, tetapi rudal tersebut masih mengejarnya, mau tak mau Farhat terbang lurus ke depan untuk meningkatkan kecepatan pesawatnya agar terhindar dari rudal yang juga tidak kalah cepatnya.
MiG Farhat memancing rudal untuk mengejarnya yang menuju salah satu gedung tertinggi di dekat patung Selamat Datang bekas Bundaran HI. Saat hidung MiGnya telah dekat dengan posisi gedung, Farhat melakukan manuver sehingga rudal tersebut meledak menghajar gedung.
Stevano mulai kesal dengan aksi para pasukan pilot F-16 yang tidak peduli dengan jatuhnya korban dari pihak sipil, jika tidak ada mereka, pertarungan udaranya dengan Farhat tadinya akan berlangsung di atas laut. Stevano terpaksa memberikan tembakan tidak serius hanya untuk memancing sebagian F-16 mau mengejarnya ke luar kota.
“Eagle Alpha 4 dan Alpha 5, jatuhkan MiG di belakang yang menembaki kita!” perintah komandan pasukan udara F-16.
2 pesawat tempur F-16 langsung mengejar MiG Stevano. Stevano juga langsung memacu pesawatnya ke arah Samudera Hindia.
“Siap-siap lontarkan bangku dari cockpit!” ujar Stevano tanpa bermaksud mengejek.
MiG Stevano tiba-tiba melakukan manuver indah, MiGnya terlihat oleng seperti mau jatuh sambil berputar seperti gasing dengan arah yang random untuk mengecoh 2 F-16 yang ingin mengepungnya, lalu memacu kecepatannya lagi untuk mengitari 2 F-16 sambil menembakinya.
“Keluar dari cockpit, sekarang!” teriak Stevano sambil meninggalkan 2 pesawat tempur F-16 yang benar-benar oleng karena mau jatuh.
MiG Stevano kembali menuju pusat kota.
MiG Farhat memancing musuhnya mengikutinya berkelit di antara gedung-gedung tinggi yang rapat. Orang-orang sipil yang berada di atas gedung tampak ketakutan karena deru keras suara pesawat tempur yang mendekati gedung membuat kaca gedung pecah, apa lagi peluru pesawat para pilot F-16 yang meleset dari sasaran itu juga telah banyak membunuh para warga sipil.
“Eagle Alpha1, 2 dan Alpha 3, kalian mundur! Kalau tidak sandera akan dibunuh oleh pasukan T7,” perintah komandan pasukan TNI-AU dari ruang kontrol.
Farhat meliuk-liuk berputar-putar di antara gedung sehingga membuat konsentrasi para pemburunya terbagi. Mereka harus memperhatikan posisi musuh sekaligus mengamati posisi gedung agar tidak menabrak dan menghindari tabrakan sesama pesawat.
Tiba-tiba pesawat Farhat berada di belakang salah satu F-16 dan dibelakang pesawat Farhat, ada pesawat F-16 lain yang berusaha mengunci posisi pesawatnya. Saat F-16 di belakang pesawat Farhat menembak, ia bermanuver sehingga peluru itu justru menghujani buntut pesawat temannya sendiri.
Setelah itu MiG Farhat kembali melakukan manuver sehingga kini pesawatnya berada di belakang F-16 yang menembakinya, ia mengunci posisi pesawat di depannya lalu menekan tombol rudal. Setelah rudal dari MiG Farhat melesat, F-16 di depannya menjadi panik, ia berusaha lari dari kejaran rudal, tapi Farhat langsung menyusulnya untuk membatasi ruang geraknya. F-16 tersebut tidak bisa lari lagi, di depannya ada pesawat temannya, Dua pesawat F-16 bertabrakan.
Farhat melihat MiG Stevano telah sampai ke tengah kota, ia langsung mendekatinya. Stevano memutar pesawatnya kembali menuju Samudera Hindia. MiG Farhat langsung mengejarnya.
Farhat sangat sulit mengunci posisi pesawat Stevano, seolah-olah kotak tanda pengunci di dalam monitor itu menjadi sekecil jarum karena pesawat Stevano sangat lincah. Farhat mencoba cara lain, ia mencoba mengajak bicara untuk membuat Stevano lengah.
“Stevano!” panggil Farhat.
“Kenapa kawan?” tanya Stevano yang tetap memacu pesawatnya dan membuat posisinya sulit terkunci, ia tahu Farhat ingin membuatnya lengah.
“Kenapa kau memilih ikut Fahri?” tanya Farhat.
“Karena kami berdua bukan robot seperti kalian, kami punya hati,” jawab Stevano.
“Hahaha, itulah kelemahan kalian. Samuel itu tentara sejati, sebaliknya Fahri itu terlalu lemah untuk menjadi tentara, apalagi memimpin pasukan terhebat di negeri ini,” sahut Farhat.
“Farhat, coba jawab dengan jujur! Kau kan sudah punya anak. Kalau kau tahu hari ini bakal mati dan kau masih sempat menitipkan anakmu, lalu hanya ada 2 pilihan manusia untuk itu. Kau titip pada Fahri atau Samuel?” tanya Stevano.
Farhat terdiam. Ia tahu Fahri memang orang yang lurus, sementara Samuel sangat kejam, ia mau melakukan apa saja asal tujuannya tercapai, tak mungkin ia mempercayakan anaknya pada seorang seperti itu.
“Stevano, kita sedang bicara soal komandan militer sejati, tidak ada hubungannya dengan pertanyaanmu,” ujar Farhat.
“Kenapa tidak? Walau tentara, kau tetap manusia, bukan mesin,” sahut Stevano.
__ADS_1
“Hahaha, kau pun orang lemah, aku lupa,” ujar Farhat.
“Baiklah orang militer sejati, bagaimana jika atasanmu menyuruh kau menghabisi keluargamu sendiri?” tanya Stevano.
“Kenapa kau selalu bawa-bawa keluarga?” tanya Farhat.
“Kenapa kalian juga bawa-bawa keluarga untuk menjadi sandera? Kalian menyandera keluarga Budi Raharjo. Apakah kau akan masih membawa jiwa militermu yang hebat itu saat Samuel menyuruhmu menghabisi keluargamu sendiri?” tanya Stevano.
Farhat terdiam.
“Samuel tidak mungkin menyuruhku melakukan itu,” jawab Farhat.
“Hahaha, Samuel tidak mungkin? Dia sangat mungkin membunuh siapa saja hanya demi tujuan pribadinya. Kenapa hari ini Samuel ingin membunuhku dan Fahri? Dan kenapa kau menuruti kemauannya? Apa salah kami pada kalian? Lalu apa anehnya jika suatu saat ia ingin membunuhmu atau keluargamu jika dianggap menghalangi tujuannya?”
Farhat kembali terdiam. Ia termenung, kenangan lama itu hadir dengan jelas di benaknya. Saat itu Stevano tidak lagi memperhitungkan bahaya untuk membantu Farhat yang terkepung musuh, sebaliknya, Samuel justru meninggalkannya karena lawan terlalu banyak. Sebuah peluru yang tadinya akan menembus kepalanya, jadi luput karena di dorong Stevano, sebagai gantinya kepala belakang Stevano terserempet peluru. Beberapa menit kemudian Fahri dan Dion datang menyelamatkan Farhat dan Stevano yang telah pingsan.
“Apa salah kami, Farhat?” tanya Stevano.
“Farhat!”
“Hey! Farhat! Kenapa pesawatmu oleng?” tanya Stevano sambil menoleh ke belakang karena Farhat tidak menyahut.
“Farhaaat!!!!” teriak Stevano lebih keras.
Farhat tersadar dari lamunannya, dengan reflek ia membenarkan posisi pesawatnya dan tanpa sengaja ia menekan tombol pengunci dan rudal pada saat pesawat Stevano berada tepat di kotak tanda pengunci. Farhat terkejut, ia tidak bermaksud menembak Stevano setelah teringat kenangan lama mereka.
“Stevano! Lari! Aku tidak sengaja mengunci posisimu!” teriak Farhat panik.
MiG Stevano langsung melesat lari dari rudal yang mengejarnya, ia berhasil mengecoh rudal itu, tetapi rudal itu terus mengejarnya.
MiG Farhat melesat mendekati MiG Stevano. Stevano pasrah, menghindari rudal ini saja sangat sulit, karena tidak ada gedung, gunung atau pesawat yang ia bisa jadikan sasaran untuk membenturkan rudal ini, jika Farhat menembakinya maka ia tidak mungkin lagi bisa menghindar.
“Aku titip keluargaku padamu Stevano, maafkan aku, selamat jalan sahabat!” ujar Farhat.
DUARRRRRR!!!!!!!!
“Farhat!!!” teriak Stevano.
Di luar dugaan, Farhat menabrakkan pesawat tempurnya ke misil yang tak sengaja ia lontarkan, untuk menyelamatkan Stevano.
Stevano menangis melihat pesawat Farhat yang hancur berkeping-keping.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1
Bersambung