
Walau kehilangan Dion, para tentara tetap memburu target mereka. 6 tentara yang tersisa berjalan ke arah barat Pulau Karakas, arah yang juga dilalui oleh Wanto dan anak buahnya.
Kawasan hutan yang mereka lalui sangat gelap karena pohon-pohonnya lebat dan jaraknya rapat, tapi para tentara masih bisa melihat jalan dan berjalan dengat sangat pelan, karena jarak pandangnya terbatas. Sesekali mereka terbantu oleh cahaya bulan purnama yang menembus pohon-pohon yang tak begitu lebat.
Suara-suara aneh di hutan saat malam hari seringkali membuat pikiran-pikiran buruk mampir di kepala. Hembusan keras angin yang melewati tebing-tebing sering kali menghadirkan suara yang menggetarkan nyali, sesekali juga juga terdengar suara binatang dari atas pohon yang mirip suara perempuan cekikikan, untungnya yang sedang menyusuri hutan ini para tentara. Mereka tentunya punya mental yang lebih kuat ketimbang masyarakat biasa.
Tiba-tiba dari batang-batang pohon yang lebat muncul sekelebatan bayangan-bayangan hitam yang melompat berpindah-pindah tempat dengan sangat cepat sambil. Para tentara bersiaga dengan senjata mereka.
“Tembak saja binatang itu!” ujar salah seorang tentara.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
“Hihihihihi”
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
“Hihihihihi”
Para tentara terus menembaki tempat sumber suara itu. Anehnya tak ada binatang yang jatuh. Binatang-binatang itu juga seolah dapat menghilang begitu saja dan muncul kembali di tempat lain sambil cekikikan.
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Akhirnya suara dan gerakan-gerakan dari binatang-binatang itu berhenti. Para tentara bersiaga untuk menghadapi kemungkinan serangan mendadak.
“Itu binatang atau?” tanya seorang tentara.
“Biarpun setan kita habisi saja!” jawab tentara yang memiliki codet di pipinya.
Para tentara memandangi pohon-pohon berusaha mengetahui jenis binatang yang mengganggu perjalanan mereka, walau kegelapan di atas sana membuat mereka tidak mungkin melihat apapun.
Tiba-tiba kelebatan bayangan-bayangan hitam kembali muncul, tapi semuanya menuju satu arah menjauhi para tentara. Para Tentara mengejar bayangan-bayangan hitam itu yang terus melompati pohon-pohon.
“BERHENTI!” teriak tentara yang beralis tebal.
Semua tentara berhenti. Untungnya tentara beralis tebal itu masih sempat memperhatikan langkahnya saat berlari.
“Astaga! Itu mungkin setan, mereka hampir menjebak kita,” ujar tentara beralis tebal.
Para tentara lain baru sadar tinggal beberapa langkah lagi, mereka akan tercebur di jurang dalam yang memisahkan tanah yang mereka pijak dengan tanah sekitar 5 meter di depan mereka. Bayangan-bayangan hitam itu kembali cekikikan dari pohon-pohon di seberang sana.
“Ah, itu cuma binatang! Mana mungkin ada….. SETAAAAAN!!!! teriak tentara bercodet.
Di sebelahnya ada manusia yang menyender di pohon dengan mata terbelalak dan wajah menyeringai.
“Setan apanya? Ini mayat sipir! Lu bikin kaget aja,” omel tentara beralis tebal.
Tentara beralis tebal memeriksa mayat tersebut, ternyata punggung sipir itu menancap pada patahan batang pohon yang ia sandari.
Tiba-tiba di seberang jurang, bayangan-bayangan hitam itu menguncangkan semua pohon, kali ini mereka mengeluarkan suara mengeram.
“Balik ke penjara! LARI!!!” teriak tentara beralis tebal.
Para tentara itu segera berlari sekencang-kencangnya. Suara-suara cekikikan perempuan terdengar ramai mengantar kepergian para tentara.
*****
Di bagian kawasan hutan yang lain, para Napi yang kabur menelusuri hutan dengan kelompok masing-masing, sehingga terpisah dalam kelompok-kelompok kecil.
Salah satu kelompok tampak dipandu oleh seorang napi yang pernah melarikan diri dari penjara ke hutan, namanya Abew. Dulu Abew terpaksa kembali ke penjara setelah 3 bulan berada di hutan ini, katanya tak tahan karena banyak keanehan yang ia temui. Tapi kali ini ia merasa lebih berani karena tidak lagi seorang diri.
Di sepanjang perjalanan, rombongan Abew sering bertemu dengan mayat-mayat napi yang telah jauh mencapai bagian dalam hutan sebelum mereka. Abew sudah tahu hutan ini punya banyak tanaman beracun dan binatang-binatang berbahaya sehingga ia sangat berhati-hati membawa rombongannya. Tak heran rombongan Abew jauh tertinggal dari kelompok rombongan napi lainnya.
Rombongan Abew mulai merasa letih, karena jalan yang mereka tempuh terus menanjak bahkan sesekali harus merangkak untuk mencapai elevasi tanah yang sulit dilewati.
Abew terlihat santai dan tidak memperdulikan suara-suara aneh yang mereka dengar, maka anggota rombongannya juga tidak menganggapnya sebagai ancaman.
Kini Rombongan Abew menemukan kawasan yang penuh dengan batu-batu hitam dan sebuah aliran sungai yang penuh dengan kabut asap. Abew membawa rombongannya berjalan di pinggir sungah dengan arah melawan arah sungai.
“Lu mau bawa kita kemana sih?” tanya seorang napi yang tampak sudah sangat letih.
“Kita akan telusurin kali ini sampai nanti ketemu dua cabang. Kali ini punya dua hulu, salah satunya sumber airnya berasal dari sungai magma yang ngalir dari bukit-bukit bagian tengah Pulau Karakas,” ujar Abew.
“Pantesan banyak kabut asap di situ, air kali itu anget?” tanya salah seorang napi.
__ADS_1
“Bukan anget, lumayan panas. Kalo lu bawa telor, sebentar aja juga mateng,” sahut Abew.
“Apa enggak sebaiknya kita istirahat dulu?” tanya napi lain yang juga sudah sangat lelah.
“Lu denger kan suara-suara aneh yang sesekali terdengar di sepanjang perjalanan malam kita? Gue jujur aja, enggak tahu itu apa. Anggap aja binatang, tapi gue pikir mereka juga ngarepin kita berhenti. Lu mau berhenti?” tanya Abew.
“Udah jalan aja!” Perintah salah seorang napi yang bernama Topa. Ia seorang napi yang berwajah sangar dan berbadan tinggi besar seperti Bong, tapi soal hantu, ia sangat penakut.
“Sebenarnya kalo kita tadi lewat hutan bagian tengah, perjalanan enggak akan sejauh ini, tapi medannya berat banget, enggak mungkin kita lewatin, makanya gue pilih lewat bagian timur. Nanti setelah ketemu cabang sungai, kita pilih ikutin cabang dari kali yang dingin untuk menuju bukit sebelah timur,” ujar Abew.
“Terus kenapa enggak lewat hutan di bagian barat?” tanya napi bernama Oblak.
“Males gue nyeritainnya, lu mendingan enggak usah nanya itu malam-malam, besok aja gue ceritain. Nih liat, gue sampe merinding gara-gara lu tanya itu,” ujar Abew.
“Banyak setan ya?” tanya Oblak.
“Eh, Si *******! Di bilangin enggak usah nanya!” bentak Topa.
“Dasar gede boong, lu, Topa! Eh, Bew, emang, kalo lewat sini enggak ada setannya? Nah suara-suara serem tadi emangnya apa?” tanya Oblak.
“Eh, Si Monyet! Nanya begituan terus, gue tabok lu!” ancam Topa.
“Iya, iya! Bew, gue penasaran, lu kan tau banget hutan ini, kok elu malah balik lagi ke penjara?” tanya Oblak.
“Hmm, waktu itu gue udah sampe ke cabang kali yang bakal kita lewatin nanti, tapi gue lupa, tau-tau gue udah ada di belakang penjara lagi,” ujar Abew.
“Bangke, lu! Jadi jalan ini belum tentu bener dong?” maki Topa sambil mendorong tubuh Abew.
“Yang nyuruh lu ikut gue siapa?” tanya Abew.
“Topa! Kalo lu gabung sama rombongan lain, lu liat banyak yang jadi mayat, yang nguburin aja enggak ada, apalagi yang pocongin. Lu tahu pocong?” tanya Oblak iseng menakut-nakuti Topa lagi.
“Blak! Bacot lu perlu gue sumpel peluru?” ancam Topa.
“Mati dong gue! Mau gue datengin lu? Mau dalam bentuk pocong, kuntilanak laki, genderuwo, kalong wewe, banaspati, leak atau apa?” canda Oblak menikmati menyiksa Topa.
“Dasar otak lu emang udah oblak!” sahut Topa sambil menutup kupingnya. “Eh, bau apaan nih?”
“Tutup hidung lu semua, aroma aneh ini dari asap-asap di kali itu, jangan-jangan beracun,” perintah Abew.
“Eh, Bew, makin berkabut tuh jalan di depan kita, gara-gara asap dari sungai di samping kita,” ujar seorang napi sambil menutup hidungnya.
“Eh, Bew, kalo mayat-mayat tadi bangun gimana?” tanya Oblak kembali menjahili pada Topa.
“Blak! Gimana kalo lu berantem aja lu sama gue!” teriak Topa.
“Ssst….. Diem semua! Kalian denger, enggak?” tanya Abew.
Para napi mendengar sayup-sayup suara manusia dari kejauhan, ada yang meraung, ada yang bicara, ada yang menangis, dan sebaginya. Rombongan Abew saling merapat satu sama lain, terutama Topa.
“Lu sih konyol, SETAN!” maki Topa pada Oblak sambil memegangi baju Abew erat-erat.
“Yah, malah lu panggil,” sahut Oblak.
“Bukan, maap… maap!” ujar Topa, celananya jadi basah, saking takutnya.
Tiba-tiba angin berhembus kencang menyapu kabut-kabut, pemandangan di depan sana kembali menjadi jelas terlihat, rombongan Abew melihat siluet orang-orang aneh jauh di depan sana. Ada yang cuma berdiri, ada yang berjalan tanpa arah, ada yang menabrak pohon lalu bangkit lagi, ada pula yang berputar-putar di tempat yang sama.
“MAYAT HIDUP!!!!” teriak Topa.
Abew langsung membekap mulut Topa agar makhluk yang belum mereka ketahui itu tak mendatangi mereka.
“Mereka kayaknya belum sadar sama kita, padahal Topa teriak kenceng banget,” ujar Oblak.
Tiba-tiba dari belakang ada sesuatu yang menabrak Topa.
“Hiyyaaaaaa!!!! SETAAAN!!!!” teriak Topa.
Abew dan rombongannya terkejut mendengar teriakan Topa, sehingga semuanya menoleh ke belakang. Ternyata di belakang mereka sangat banyak mayat hidup berseragam napi.
Abew dan teman-temannya langsung lari berhamburan ke depan, sambil berkelit di antara mayat- mayat hidup di depan yang tetap tidak menyadari keberadaan mereka.
Abew dan teman-temannya telah berlari sangat berjauh dan tidak menemukan mayat- mayat hidup lagi. Mereka menjatuhkan badan ke tanah karena sangat lelah.
“Gue kapooook! Mendingan di penjara aja deh kalo tau gini!” raung Topa, ia menangis seperti anak kecil, lupa akan wajah sangar dan bobot tubuhnya yang tinggi besar.
__ADS_1
“Emang itu tadi mayat hidup?” tanya Oblak sambil meluruskan kakinya.
“Terserah deh itu apa, yang jelas tatapan mereka kosong dan berjalan tanpa arah, masak harus gue cari dulu bekas gigitan zombienya?” sahut Abew dengan nafas tersengal-sengal.
“Emang mukanya kaya mayat?” tanya Oblak pada Topa.
“Bodo amat!” sahut Topa malas meladeni Oblak.
“Iya ya. Kayaknya belum mati,” sahut Abew.
“HIIYYYYAAAA!!!!!!” teriak Topa lagi.
Para napi kembali berdiri.
“Brengsek! Kenapa sih, lu? Ngagetin aja,” tanya Abew pada Topa setelah memastikan tidak ada zombie di dekat Topa.
“Lu enggak liat di pohon-pohon ada apa?” teriak Topa, tubuhnya gemetaran dan ia kembali terkencing-kencing.
Para napi rombongan Abew melihat manusia-manusia berseragam napi yang terikat di pohon-pohon.
“Bew! Itu orang apa setan?” tanya Topa gemetaran.
“Lu aja yang tanya ke sana, gih!” sahut Oblak.
“Ntar kalo dia jawab, setan, gimana?” Tanya Topa.
“Ya, lari lah, ****! Masa cium tangan?” sahut Oblak
Tiba-tiba dari balik pohon lain muncul 4 orang menghampiri rombongan Abew dengan menodongkan panah.
“Bew!!! Zombie mau bunuh kita, kenape pake panah?” teriak Topa. Ia langsung berlutut sambil memejamkan matanya, seperti posisi orang yang sedang minta diampuni.
“Kalo pake caling, namanya Drakula,” bisik Oblak.
“Jatuhkan senjata kalian semua!” perintah Stevano.
Para napi yang membawa senjata langsung menjatuhkan senjata mereka dan mengangkat tangan. Begitu pula Topa yang masih memejamkan mata.
“Kalian kenal Fahri?” tanya Stevano.
Topa membuka sedikit sebelah matanya karena mendengar pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan zombie. Wajahnya tampak lega.
“Fahri sudah kabur duluan dari penjara bersama Daud Haris, Budi Raharjo, Dini Tanjung dan yang lainnya, seharusnya dia lebih jauh dari kita. Lu siapa? ” tanya Abew.
“Gue orang yang mau bebasin Fahri,” sahut Stevano.
“Kalo gitu kami bukan musuh, cuma napi yang sama-sama mau kabur dari penjara,” sahut Abew.
Stevano menurunkan panahnya dan memberi kode pada 3 anak muda asuhan Fahri untuk juga menurunkan panahnya.
“Yang kalian lihat itu bukan zombie, mereka masih hidup. Air sungai yang panas itu, ngelewatin hamparan tanaman bunga Datura atau bunga Terompet Setan. Karena banyak bunga yang jatuh ke sungai, sama aja kayak di masak, efek asap-asap itu mirip opium yang bisa menghilangkan kesadaran orang sekaligus berhalusinasi. Beberapa orang terpaksa gue ikat di pohon, apa yang mereka lihat sepertinya enggak sama dengan yang kita lihat. Ocehan halusinasinya lagi perang di zaman Belanda. Sisanya enggak gue ikat, mereka enggak agresif, cuma berjalan di sekitar kawasan ini. Efek Bunga Datura biasanya paling lama bertahan sekitar 6 jam,” ujar Stevano.
“Sukur deh kalo gitu. Oh iya, kalo lu enggak ketemu Fahri, kemungkinan besar dia lewat tebing-tebing di bagian tengah Pulau Karakas,” ujar Abew.
“Kalo gitu, besok pagi gue balik lagi ke arah pantai, mungkin Fahri juga akan ke sana. Kalian mau ikut ke tenda kita? Jalan malam-malam di hutan ini bahaya banget, mau bergabung?” tanya Stevano.
Tadi Stevano cukup lama memperhatikan rombongan Abew, sehingga ia yakin mereka tidak berbahaya.
“Gue mau! Terserah yang lain kalo mau ketemu setan beneran,” sahut Topa cepat.
“Lu yakin, yang ini juga beneran orang?” canda Oblak.
“Bodo amat! Gue lebih takut jalan ama lu, SETAN!” sahut Topa.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1