Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Penjara Karakas - Part 1


__ADS_3

Penjara Karakas dibangun di atas Pulau Karakas, sebuah pulau yang dikelilingi pulau-pulau kecil lain, karena Pulau Karakas adalah pulau yang terbesar kawasan ini juga sering disebut Kepulauan Karakas.


Kepulauan Karakas berada di sebelah selatan Pulau Jawa atau di pinggir Samudera Hindia. Sebelum dibangun penjara, keberadaan kepulauan ini memang tadinya tidak banyak diketahui, selain jaraknya sangat jauh dari ujung pantai Pulau Jawa, kawasan perairannya juga dihindari oleh para pelaut karena cuacanya sering ekstrim dan gelombang ombaknya tinggi. Dari pencitraan satelit kepulauaan ini juga selalu tertutup awan yang menggumpal di atas bukit serta kabut, tak heran keberadaannya jarang diketahui di masa lalu.


Penjara Karakas hanya memiliki satu akses masuk, yaitu melalui jembatan panjang khusus mobil yang menghubungkan Pulau Karakas dengan Pulau Bantar yang berada di sebelah kanannya. Pulau bantar adalah satu-satunya pulau yang memiliki kontur tanah yang rata sehingga memiliki landasan pesawat kecil dan bangunan-bangunan. Selain Pulau Bantar, seluruh pulau di Kepulauan Karakas memiliki tanah dengan kontur bukit-bukit tinggi, tebing-tebing terjal dan hutan perawan yang hanya dihuni oleh fauna. Pulau Karakas dihuni karena ada penjara di sana.


Pulau Karakas ternyata punya keistimewaan yang tidak dimiliki oleh pulau-pulau kecil di sekelilingnya. Menurut para ahli, 70% Pulau Karakas terdiri dari batu-batuan dengan kandungan magnet yang tinggi, baik yang di bawah tanah maupun yang muncul di permukaan tanah dan tebing. Oleh karena itu Penjara Karakas di bangun agak jauh dari bagian pulau  yang tananhnya mengandung magnet, agar tidak mengganggu sistem elektronik dan kelistrikan di sana, yaitu berada di ujung pulau yang menghadap Samudera Hindia.


Dengan kondisi tersebut Penjara Karakas memiliki benteng alam yang membuat para napi yang berniat kabur harus memperimbangkan keselamatan nyawa mereka. Penjara Karakas berada di atas tebing terjal yang sangat tinggi dari permukaan laut, jika mereka berhasil melompati pagar tinggi, maka mereka akan jatuh membentur batu-batu sebelum menyentuh laut. Cara lain adalah melalui jembatan penghubung pulau, sayangnya karena jembatan itu adalah satu-satunya akses keluar masuk, tentu saja pengamanannya sangat ketat.


Sebenarnya ada cara yang lebih memungkinkan, yaitu melompati pagar dinding pada sisi penjara yang memunggungi hutan, untuk menuju kawasan bukit-bukit yang penuh dengan kandungan magnet. Setelah melewati bukit ada sebuah pantai yang landai. Tetapi nyatanya, menembus hutan di bukit-bukit tinggi yang berada jauh di belakang penjara itu justru lebih ditakuti oleh para napi dan sipir penjara.


Berdasarkan cerita dari pengalaman mereka yang pernah mencapai bukit-bukit itu, kandungan magnet di sana sangat menganggu, semua perangkat teknologi tidak bisa digunakan karena mendadak rusak, segala benda yang mengandung unsur besi akan bertambah berat jika dibawa, bahkan dalam jarak tertentu peluru tidak bisa ditembakkan dengan akurat. Tetapi yang membuat paling takut adalah cerita-cerita tentang munculnya visualisasi dan suara-suara aneh dari mereka yang pernah mencapai hutan di bukit-bukit tersebut. Itulah sebabnya Penjara Karakas dianggap sebagai penjara yang tidak mungkin ditembus.


Penjara Karakas dibuat khusus penjahat kasus-kasus kejahatan besar yang dosanya setimpal dengan hukuman mati, semenjak Indonesia menghapus vonis hukuman mati. Selain itu penjara ini juga menampung tahanan koruptor kelas kakap dan tahanan politik. Penjara ini adalah penjara modern yang memiliki keamanan sangat ketat yang diperkuat oleh teknologi. Saking ketatnya negara tidak memperbolehkan siapapun menjenguk tahanan di sini kecuali seizin Menkumham, bahkan negara membuat pengadilan khusus di Pulau Bantar untuk tersangka yang masih dalam proses pengadilan tetapi dianggap punya potensi besar untuk melarikan diri. Sebagai penjara modern Penjara Karakas tidak seperti penjara-penjara biasa yang jorok dan terkesan angker, Penjara Karakas sangat bersih dan terawat, bahkan lebih bagus bila dibandingkan dengan kawasan rusun-rusun bersubsidi, tetapi nyaman bukan berarti aman, di penjara manapun hukum rimbalah yang berlaku.


Fahri akhirnya resmi menjadi penghuni baru Penjara Karakas. 3 tokoh utama di Al Kahfi tidak mampu berbuat banyak membantu Fahri melalui jalur hukum karena berhadapan dengan penegak hukum curang yang membela kepentingan rezim, Dini pun tidak punya narasumber pendukung Fahri yang kuat untuk mengimbangi para penggiring opini dari media-media pendukung pihak rezim, bahkan Daud Haris juga diancam oleh Ben Jani saat ia minta izin untuk membantu Fahri. Kini Fahri benar-benar sendiri.


Menjelang senja berlalu, Fahri digiring 3 petugas sipir penjara menuju selnya dengan tangan diborgol, sambil berjalan ia memperhatikan dengan seksama sistem keamanan penjara yang serba teknologi, setiap sipir mendekati pintu-pintu besi di sepanjang lorong, maka pintu langsung terbuka secara otomatis, CCTV ada di mana-mana.


Fahri memasuki koridor Blok B, ia melewati kamar-kamar sel yang masing-masing di huni 2 narapidana, beberapa napi yang dilewatinya memandangi Fahri dengan garang, ada pula napi yang mengejek untuk memancing emosinya.


Akhirnya Fahri dimasukan ke dalam salah satu kamar sel yang telah berpenghuni. Teman sekamar Fahri adalah laki-laki kekar yang hampir seluruh wajah dan kepalanya yang plontos tertutup tattoo. Laki-laki itu tetap berbaring di tempat tidurnya tanpa memperdulikan Fahri dan sipir-sipir yang memasuki kamar selnya.


Salah seorang sipir berbadan besar membuka borgol Fahri, “Bung! Lu di taro di Blok B artinya sama aja udah di vonis hukuman mati, nyawa napi Blok B itu enggak ada harganya, mati tinggal dikubur di hutan belakang penjara, enggak bakal ada tuntutan hukum, hukum enggak peduli sama pembunuh sadis seperti kalian.”


Fahri diam tak merespon ucapan sipir yang membuka borgolnya.


“Bung! Si Plontos enggak suka ada orang lain di istananya, yang udah-udah sih rela bayar mahal supaya bisa pindah kamar, lu punya duit?” tanya sipir berbadan kurus.


Fahri menggelengkan kepalanya. Para sipir segera meninggalkan Fahri sambil menertawakannya. Pintu kamar sel kembali tertutup secara otomatis.


Fahri mendekati teman sekamarnya, “sori  ya, gue jadi bikin tempat lu sempit, nama gue Fahri,” sapa Fahri sambil menyorongkan tangannya untuk bersalaman, tapi laki-laki botak itu tidak menggubrisnya.


Fahri menjauhi laki-laki itu sambil meneliti kondisi kamar sel, lalu ia menduduki tempat tidur yang kosong.


“lu lihat CCTV di koridor itu?” tanya teman sekamar Fahri yang tetap berbaring tanpa menoleh.


“Lihat, kenapa?” tanya Fahri.


“Sipir-sipir ******* itu butuh tontonan, untungnya gue malas bikin mereka senang. Lu lihat kan, di kasur yang lu dudukin ada buku-buku gue. Sekarang lu pilih, duduk di lantai tanpa keributan atau gue perlu benturin muka lu ke besi supaya lu paham?” tanya teman sekamar Fahri tanpa menoleh.


“Paham..paham... Oke, tempat gue di lantai, tapi kalo boleh gue minta satu hal aja, selimut ini buat alas gue sholat, boleh?” tanya Fahri sambil melihat jam digital di koridor yang sudah menunjukkan waktu maghrib.


“Lu sholat?” tanya teman sekamar Fahri.

__ADS_1


“Iya, udah masuk waktu maghrib, boleh?” tanya Fahri.


Laki-laki botak itu akhirnya menatap Fahri, ia mengangguk.


“Alhamdulillah, makasih kawan,” ujar Fahri.


Fahri segera menuju tempat yang berada di balik sekat tembok setinggi dada dan semacam kaca bening berbahan plastik, Fahri membuka pintu gesernya, di situ terdapat WC jongkok, keran dengan ember dan gayung yang kondisinya bersih, ia mengambil wudhu.


Laki-laki yang wajahnya penuh tattoo itu berdiri untuk mengambil selimut dari tempat tidurnya, ternyata ia menggelar untuk alas sholatnya. Para sipir yang menonton dari CCTV tampak kecewa karena sepertinya tidak ada perkelahian yang mereka harapkan.


Usai sholat berjemaah, teman sekamar Fahri memperkenalkan diri, “Nama gue Zul. O iya, lu boleh pakai tempat tidur lu. Fahri, sebentar lagi waktu makan malam, omongan sipir-sipir ******* itu bener, di sini nyawa enggak ada harganya, jadi lu siap-siap aja ngadepin binatang-binatang buas pas makan malam. Sori kawan! Urusan nyawa jaga masing-masing.”


*****


Beberapa saat kemudian terdengar suara alarm penanda waktu makan malam, semua pintu-pintu sel pun terbuka secara otomatis, begitu pula pintu-pintu besi pemisah di sepanjang koridor menuju tempat makan bersama. Fahri mengikuti Zul keluar dari kamar sel, beberapa penghuni sel lain memandangi Fahri tatapan tidak bersahabat, untungnya Zul salah satu penghuni sel yang cukup ditakuti, sehingga belum ada yang berani mengganggu Fahri saat mereka jalan bersebelahan.


Semua napi berkumpul di aula yang besar, Fahri mengamati, sekitar 6 meter di atas sana ada penyangga besi yang mengelilingi aula, tempat para sipir mengawasi narapidana. Di aula ini juga terdapat sekat-sekat besi yang memisahkan ruang makan antara pelaku kriminal yang berbeda, Fahri sempat melihat Budi Raharjo dan beberapa orang yang terkenal berada di ruang makan khusus tahanan politik dan koruptor.


Fahri berjalan menuju tempat antrian para napi mengambil makanan yang mirip loket, ada beberapa jalur di situ. Fahri mempelajari tata caranya, saat napi mendekati loket, sebuah alat langsung memindai barcode yang ada pada seragam napi terdekat, kemudian jika nomor barcode itu diterima maka nasi dan lauk yang dibungkus rapi keluar dari celah loket, selanjutnya napi yang telah mendapat jatah meletakkan makanannya pada baki yang banyak tersedia di dekat loket.


Beberapa saat kemudian Fahri melihat Zul tampak lahap menyantap makanan di mejanya, sementara Fahri baru berhasil mencapai celah loket untuk mengambil jatah makanannya. Ternyata napi-napi tertentu seperti Zul tidak perlu antri, napi-napi yang lemah pasti mendahulukan napi-napi yang kuat.


Tiba-tiba seorang napi mendekati Fahri, napi ini memang terus mencari gara-gara sejak pertama kali ia melihat Fahri datang, tanpa basa-basi ia mengambil baki makanan Fahri. Fahri tak melawan, dengan santai ia mengambil air minum di dispenser dan mencari meja makan kosong terdekat walau tanpa membawa makanan. Fahri sengaja mencari meja yang tidak ditempati Zul, ia tak mau terkesan berlindung pada Zul.


Setelah duduk, tiba-tiba Fahri mendengar keributan di loket yang tidak terlalu jauh dari meja yang ditempatinya, rupanya seorang napi baru lain tidak rela makanannya diminta oleh napi lama, ia meletakkan makanannya dan mendorong napi lama tersebut.


Napi lama itu langsung membalas mendorong, tetapi napi baru itu menghindar sambil memiting leher napi lama hingga musuhnya tampak kehabisan nafas. Saat napi baru melonggarkan pitingannya, napi lama itu langsung melepaskan diri dan kabur.


Sebagai tanda kemenangan napi baru itu meletakkan makanan napi lama yang ditinggalkan ke baki miliknya, kemudian ia menghampiri meja yang ditempati Fahri dan duduk di situ.


“Nih buat lu. Lu enggak usah takut sama mereka,” ujar napi baru itu pada Fahri sambil memberikan makanan yang ditinggal oleh napi lama dari bakinya.


“Wah, makasih, tapi …” Fahri tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, sudut matanya menangkap bahaya yang akan menghampiri teman barunya.


5 napi lain mendekati meja Fahri dan teman barunya. Fahri segera menjauhi kedua tangannya dari makanan yang belum dia sentuh, “silahkan ambil, gue enggak lapar.”


“Ada masalah apa?” tanya teman baru Fahri sambil berdiri kembali.


5 napi berwajah seram itu langsung mengelilingi teman baru Fahri. Tiba-tiba Zul hadir di tengah mereka, orang-orang yang ingin mengeroyok teman baru Fahri langsung menyingkir, mereka takut pada Zul.


Zul dan teman baru Fahri kini duduk bersama Fahri. Mereka saling berkenalan.


“Fahri, di penjara lu harus tunjukin keberanian elu, kalo enggak lu bakal diinjek-injek sama ********-******** kaya orang tadi seumur hidup,” teman baru Fahri memberi nasehat. Fahri mengangguk-angguk mendengar ucapannya.


“Dean! Lu baru hari ini masuk, justru tindakan lu itu konyol,” ujar Zul.

__ADS_1


“Ah, apa bedanya masuk hari ini atau seratus tahun yang lalu? Yang lemah bakal di hajar,” sahut Dean.


“Nah apa gue bilang? Bong dan sekitar 10 orang anak buahnya yang ada di ujung sana kayaknya mau datengin meja ini. Itu mau lu hadepin?” tanya Zul.


“Apa boleh buat? 10 lawan 3, kalo kita berani mereka bakal takut!” ujar Dean.


“Goblok! Gue bertahan hidup 2 tahun tanpa di usik, karena pake otak, bukan cuma otot. Lu hadepin sendiri!” Bentak Zul pada Dean.


“Oke!” sahut Dean, ia langsung berdiri dan berjalan menuju Bong dan para anak buahnya.


“Zul, Bong itu yang paling gede ya? Dia pemimpin tertinggi di Blok ini?” tanya Fahri.


“Betul, semua jagoan di sini enggak ada yang bisa menang ngelawan dia. Badak itu punya pegangan ilmu tenaga dalam, gue sendiri hampir mati saat ngelawan dia, walau dia juga babak belur. Untung gue punya temen lama yang jadi sipir di sini, kalo Bong enggak ditembak pake obat bius, mungkin gue udah ******,” ujar Zul sambil memperhatikan Dean yang sudah berdiri berhadapan dengan Bong dan anak buahnya. “Kasian tuh temen baru lu, bisa mati tuh anak, padahal dia baik dan berani, sayangnya otaknya dikit.”


Fahri mengangguk, ia memang sengaja tidak mau berkelahi karena ingin tahu siapa yang pemimpin sesungguhnya di sini, menurutnya ia cukup menundukkan orang yang paling berkuasa di sini untuk menghemat tenaganya dari banyak perkelahian.


Salah seorang dari 10 anak buah Bong langsung berusaha memukul, tapi Dean bergerak sangat cepat, ia menendang muka orang itu hingga lawannya jatuh, setelah itu ia mengincar lawan lainnya dengan pukulannya yang keras, orang yang terkena pukulannya juga jatuh. Anak buah Bong lainnya secara bersamaan berusaha memukul Dean, tapi Dean ternyata memang punya keahlian bela diri yang handal, ia mampu menghindari semua pukulan.


Bong terlihat kesal, ia melayangkan tangan kirinya ke arah wajah Dean. Dean mampu menangkisnya tetapi pukulan susulan tangan kanan Bong cepat menghantam rahang Dean tanpa sempat ia tangkis, Dean terlontar dan jatuh.


Para anak buah Bong segera mendirikan Dean dan memeganginya beramai-ramai hinggga Dean tidak bisa bergerak. Bong tampak sedang mengatur pernapasan untuk memberi aliran tenaga dalam.


Habisin! Habisin! Habisin! Habisin! Teriak orang-orang di aula ini serempak.


Fahri melirik ke atas, para sipir tampak sangat menikmati tontonan, mereka sama sekali tidak peduli keselamatan para napi.


“Bener juga omongan sipir tadi, masuk blok ini sama aja hukuman mati!” ujar Fahri sambil berdiri membawa baki.


“Mau ngapain lu?” tanya Zul kuatir, tetapi terlambat, Fahri telah meninggalkannya dan menghampiri tempat perkelahian.


Glondang!!! Baki besi di lempar Fahri ke arah tempat perkelahian, kini semua mata tertuju pada Fahri, suara yang tadinya ramai langsung menjadi hening. Bong menunda pukulannya untuk Dean.


“Cuma banci yang beraninya mukulin orang dipegangin!” Teriak Fahri,.


Bong mengamati Fahri yang mendekatinya. “Jangan halangin! Kasih jalan badut itu!” Perintah Bong saat anak-anak buahnya ingin menghadang Fahri.


Para sipir semakin ramai memenuhi bagian atas aula untuk menyaksikan tontonan seru dan para napi langsung membentuk lingkaran besar untuk memberi ruang perkelahian. Fahri kini hanya berjarak 2 meter dari Bong, tinggi Fahri hanya sedada Bong yang sangat tinggi, besar dan kekar.


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


 


 


__ADS_2