Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Banjir Darah di Blok 3 Part 1


__ADS_3

Fahri bersembunyi mengamati situasi dari luar halaman gedung Blok 3. Gedung ini dikelilingi pagar tembok tinggi, bahkan lebih dari 3 meter hingga nampak seperti benteng, pintu pagarnya terbuat dari besi yang juga tinggi.


“Teman-teman, bagaimana kondisi halaman gedung?” tanya Fahri.


“Sepi Bang, tapi ada orang yang mau keluar, dia sendirian,” jawab Dul.


Pagar besi terdorong sedikit oleh orang dari dalam, ia keluar dan kembali menutup pagar. Fahri mengikuti orang itu, saat orang itu menoleh Fahri langsung meringkusnya, ia mengambil jaket hitam bertudung dan kaca mata hitam milik orang yang diringkusnya.


Fahri masuk ke halaman gedung Blok 3, di halaman yang tidak dijaga dan tanpa lampu penerangan, hanya ada beberapa mobil mewah yang parkir, padahal sekitar kawasan Rusun Ciawi kecuali Blok 7 sangat rawan, ini membuktikan Blok 3 memang terlalu angker, bahkan pencuri pun takut memasuki tempat ini. Fahri berjalan cepat sambil mengamati jendela-jendela gelap dan atap gedung, berjaga-jaga dari kemungkinan snipper yang mengintainya.


Fahri berhasil mencapai pintu utama gedung yang terbuka, ternyata di sini juga kosong. Fahri mengamati bagian dalam gedung. Pencahayaan gedung ini agak temaram, dibeberapa sudut malah gelap karena banyak lampu yang sudah rusak, beberapa lampu tampak kelap-kelip menunggu sisa umurnya. Kondisi gedung ini juga sangat kotor, lantai penuh sampah, puntung rokok, kaleng-kaleng dan botol bir. Tembok gedung penuh bercak coklat, seperti muncratan darah yang telah lama mengering. Bau pesing dan anyir terasa menyengat hidung, banyak genangan air, entah karena dikencingi atau dari saluran pipa-pipa yang bocor.


Setelah belokan, Fahri melihat 2 orang kakek bermain catur di dekat pintu lift, saking seriusnya mereka tidak memperdulikan kemunculan Fahri. Kakek berambut gondrong mengenakan kaos singlet, tangannya menggengam bir kaleng, yang sesekali ditenggaknya sambil bersenandung. Kakek yang satunya tidak mengenakan baju, seluruh badannya penuh tattoo, di mulutnya terselip rokok kretek. Fahri curiga kedua kakek ini semacam anjing penggonggong yang akan menyalak memanggil pasukan penyambut jika ada tamu yang mencurigakan, Fahri melewati dua kakek yang tidak mengacuhkannya.


Seorang kakek bertattoo terkekeh-kekeh sambil terbatuk-batuk, "Baju sama, muka beda. CCTV emang bisa diboongin. Hehehe, ini yang dibilang, rezeki enggak dicari, dateng sendiri. Monyong! Henpon gue baterenya abis. Henpon lu masih rusak?"


“Masih. Lu cas aja sebentar, asal bisa buat miskol. Eh, nanti bilang tangkap hidup-hidup, lumayan, kita bisa jual organnya ke Mr. Chung,” usul kakek gondrong, mereka bicara tanpa melihat sedikit pun ke Fahri.


Fahri segera menjauhi 2 orang tadi, ia langsung menghubungi Dul dan bicara agak berbisik, "Ketahuan Dul! Durasi rekaman kakek main catur ini lama enggak?”


“Lama Bang,” jawab Dul.


“Bagus, setelah saya belok, gambar live CCTV nomor 3 ganti dengan yang rekaman kakek-kakek ini. Kalo ada yang datang, segera lapor,” perintah Fahri.


“Paham, Bang,” jawab Dul.


Setelah Fahri belok, Dul langsung menjalankan perintah Fahri.


“Sudah di ganti?” tanya Fahri.


“Sudah, Bang,” sahut Dul.


Fahri cepat berlari menghampiri kedua kakek tadi, ia langsung membekap kain mengandung chloroform ke hidung Kakek Bertattoo hingga pingsan, kepalanya jatuh di atas papan catur sehingga bidak-bidak catur buyar.


Si Kakek Gondrong mengeluarkan parang dari balik meja catur dan menyabetkannya ke Fahri, tapi Fahri telah menghindar dan langsung membekap mulut Kakek Gondrong dengan kain tadi, Kakek Gondrong pun pingsang, badannya ambruk ke meja alas papan catur sehingga semuanya buyar. Fahri segera menyembunyikan mereka ke bilik-bilik di toilet lantai 1.


Alat komunikasi Fahri memunculkan setitik cahaya hijau berkelap-kelip, Fahri mengaktifkan suaranya, “Kenapa, Dul?”


"Bang, ada 2 orang menuju ke bawah," ujar Dul.


"Oke makasih, Dul," sahut Fahri singkat sambil berusaha membereskan tempat, tetapi suara langkah kaki yang menuruni tangga terdengar semakin dekat, akhirnya Fahri mengambil kaleng bir kosong yang berada di dekatnya lalu duduk di dekat bidak catur yang berantakan.


2 orang laki-laki yang tadi dibilang Dul muncul.


"Woy Bray! Aki-aki bau tanah pada kemana?" tanya laki-laki berbaju lengan buntung dari jauh.


"Gue suruh beli bir! Abis nih, lu punya stok enggak?" tanya Fahri sambil menunjukkan kaleng bir kosongnya.


"Sama, gue ke bawah mau nyuruh beli bir juga, henponnya pada ******," ujar laki-laki berbaju lengan buntung sambil mendekati Fahri.


"Gue nyuruh beli banyak kok, santai," ujar Fahri.


Kedua laki-laki berbadan kekar ini memandangi catur yang berantakan. Fahri langsung mengomentari, "Biasa, ada yang ngamuk gara-gara dicurangin, untung gue datang."

__ADS_1


"Hahaha! kenapa enggak lu biarin aja aki-aki itu berantem, lumayan ada tontonan," kata laki-laki berwajah brewok.


"Terus, yang bisa gue suruh beli bir siapa? Yuk nunggu di atas aja,  mereka udah gue suruh anter ke atas." sahut Fahri.


“Sip, Bray!" ujar Si Brewok.


Fahri lega, ia telah dapat tiket emas menuju lantai 2 dengan aman. Setelah berada di atas, Fahri mengamati situasi, ternyata lantai 2 tidak kotor dan bau, walau tetap sepi dan temaram. Fahri menduga pemilik gedung memang ingin membuat lantai 1 tampak angker.


Dua laki-laki kekar itu memilih tempat di bekas ruang pos keamanan yang tak jauh dari tangga, mereka duduk di kursi yang ada di situ.


“Oh iya, lu dari kelompok mana sih?" tanya si baju buntung.


"Mr. Chung," jawab Fahri, mengutip nama yang di sebut para kakek tadi.


Si Brewok memperhatikan Fahri dengan seksama, "Orang Mr. Chung? Kok gue enggak pernah lihat lu?”


"Oh, lu belum tahu? Ah, tapi bahaya kalo gue omongin di sini! Lu ngerti kan?" tanya Fahri dengan wajah meyakinkan, seolah identitasnya rahasia.


"Oooh, gue tau! Ternyata elu orang yang dibilang Mr Chung itu!" tebak si baju buntung.


“Pelan dikit, *******!” maki Fahri.


“Sori, sori Bray,” ujar si baju buntung dengan suara pelan.


“Emang cuma orang-orang penting di sini aja yang tahu siapa gue,” pancing Fahri.


"Sialan! Gue tahu siapa elu, cuma belum ketemu aja. Jadi elu orangnya Rizal yang bakal nyiapin kita untuk ngadepin pasukannya Big Kong, Tapi emang lu yakin?" tanya si kaos buntung.


Si baju buntung tertarik membahas lebih jauh, ia menutup pintu ruang dan menggeser kursinya lebih mendekat, sebelum bicara ia melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar obrolan ini, "Bos, tadi Mr Chung dan Bang Jonas dan beberapa pentolan lain ngomongin elu, katanya sebagian besar kelompok yang mau kudeta Big Kong udah siap lu latih. Lu bener dari Pasukan T7 yang mau ngelatih kita pake senjata militer, mana buktinya?”


Fahri menunjukkan kartu anggota andalannya yang kadaluwarsa, tapi ia menutup namanya dengan jempolnya,  sehingga 2 laki-laki kekar itu hanya bisa melihat tulisan ‘Pasukan T7’ dan fotonya, lalu cepat memasukkannya kembali ke dompet.


“Gue Mayor Toyib, cukup panggil gue Bang Toyib. Ini emang misi rahasia TNI, karena kita punya musuh yang sama. Rizal nyuruh gue lihat perlengkapan gudang senjata militer kalian. Tapi ingat! Lu enggak perlu ngasih tahu Mr Chung dan Jonas, biar pentolan-pentolan itu terima beres aja. Lagian, nanti malah rame, kalo kubu lain tahu kedatangan gue. Bisa ****** lu semua dihajar Big Kong!”


"Tenang Bang Toyib! Kunci gudang senjata Mr. Chung ada di gue," ujar Si Brewok.


"Oke, kumpulin beberapa orang terbaik yang bisa dipercaya, gue mau lihat skill pasukan gue. Ingat, jangan salah pilih orang! Sekarang salah satu dari lu bawa gue ke gudang senjata, yang lain kumpulin orang dan bawa ke gudang senjata, urusan ngebir kita tunda dulu,” perintah Fahri.


“Siap Bos Toyib! ujar si kaos buntung.


Fahri kini berani menyalakan alat komunikasinya di depan 2 laki-laki kekar ini, " Lapor Jendral! Saya sudah bersama 2 orang terbaik Blok 3, mereka akan mengumpulkan yang lainnya untuk jadi pasukan penumpas Big Kong. Tolong Pasukan T7 tetap pantau kondisi Blok 3." Fahri membuat gimmick kecil untuk melengkapi siasatnya.


"Bagus! Pasukan T7 masih terus memantau," jawab Pak Ruslan tanggap.


Dul dan kawan-kawan tanpa diperintah juga sudah paham untuk mengganti tampilan CCTV kamera di jalur yang akan dilewati Fahri.


Di control room Blok 7, Pak Ruslan tersenyum penuh arti,  peranan otak memang paling penting untuk memenangkan pertempuran.


*****


3 mobil pickup polisi memasuki halaman parkir gedung Blok 3. Rupanya Kompol Jono, seorang Kapolsekta baru di Ciawi yang pernah mengirim anak buahnya sehingga menghilang saat penyerbuan, belum menyerah, kali ini ia langsung memimpin dan membawa pasukan yang lebih banyak. Setelah parkir di halaman para polisi langsung menyebar untuk memasuki gedung.


Kebetulan mobil MNews yang membawa Dini Tanjung dan 2 orang staffnya untuk bertemu Fahri, melihat iring-iringan mobil polisi lewat, maka anak buah Dini langsung merubah tujuan semula, mengikuti mobil-mobil polisi masuk ke halaman gedung.

__ADS_1


Kompol Jono panik melihat Dini dan timnya keluar dari mobilnya, “Mbak Dini, jangan ikut kami! Sebaiknya tunggu di luar gedung saja, kami sedang melakukan penyerbuan, kemungkinan besar bakal ada baku tembak.”


Dini menurut, ia mengajak timnya untuk menjauh.


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!


Terlambat, suara desing peluru dari pintu gedung telah menyambut mereka, semua polisi di halaman langsung berhamburan mencari posisi aman untuk membalas tembakan. Kompol Jono menarik Dini menuju pohon besar yang berada di dekat mereka. Tim Dini yang lain di selamatkan polisi lain untuk bersembunyi di tempat aman.


Sebelumnya anggota Pasukan Big Kong yang baru saja turun dari lift untuk berpatroli, mendengar teriakan 2 kakek yang berada di bilik toilet. Pasukan Big Kong akhirnya tahu Blok 3 sudah dimasuki orang luar yang bukan tamu, sehingga saat polisi datang mereka langsung berhadapan dengan anak buah Big Kong yang sedang mencari tamu tak dikenal.


*****


 


 


Fahri menduga Big Kong bukanlah sosok yang mudah didekati, apalagi oleh orang tak dikenal, buktinya para pentolan mafia Blok 3 ingin mengkudetanya. Sehingga Fahri berencana untuk menguasai tempat ini dengan bantuan pasukan barunya.


Fahri telah berada di gudang senjata bersama 10 orang pasukan barunya. Penjahat Blok 3 sudah biasa menggunakan pistol, tetapi belum pernah menggunakan persenjataan militer, maka Fahri mengajarkan cara pengoperasian standar.


Lampu indikator perangkat komunikasi Fahri berkelip-kelip, ia segera mengaktifkan suaranya.


“Ada masalah?” tanya Fahri.


“Betul! Ada baku tembak di halaman gedung, di sana ada 3 mobil polisi dan 1 mobil media. Sekarang di lantai 9 sekumpulan orang mempersiapkan senjata, jumlahnya sangat banyak!” lapor Pak Ruslan pada Fahri.


“Ok, terima kasih,” sahut Fahri singkat pada Pak Ruslan.


Fahri terdiam beberapa saat, ia mencoba membaca situasi.


“Ada perubahan rencana karena kehadiran tamu enggak diundang. Pesta besar pasti terjadi malam ini! Blok 3 akan terpecah menjadi 4 kelompok. Big Kong, Polisi, Blok 3 dan kita. Kenapa gue bilang kita bukan jadi bagian Blok 3? Karena gue yakin para pentolan Blok 3 akan buat keputusan konyol, curi kesempatan menghajar Big Kong tanpa perencanaan matang, akhirnya mereka malah punya dua lawan kuat. Blok 3 sendiri akan terpecah, karena masing-masing pentolan juga ingin curi kesempatan,” ujar Fahri.


“Jadi kita perang sama siapa?” tanya Si Brewok bingung.


“Sekarang lu semua gue bebasin, pilih mau berada di kelompok mana? Kalo lu keluar dari gudang senjata ini, artinya kita akan berhadapan! Tapi kalo lu pilih tetap di sini, lu adalah pasukan gue, dan lu harus tembak siapa pun yang gue suruh, walaupun orang itu sebelum ini adalah kawan lu. Silahkan pilih! Gue kasih waktu 10 detik untuk keluar sekarang, setelah itu mungkin aja lu jadi buruan pasukan gue!” ujar Fahri dingin. Wajahnya seperti berubah jadi menakutkan.


Ternyata tidak ada yang mau keluar,  semua orang di dalam gudang lebih percaya dengan kemampuan Fahri.


“Oke semua pakai rompi anti peluru dan helm, bawa senjata yang cocok, alat komunikasi, kaca mata night vision, granat dan bom-bom yang tadi udah gue setting, kita keluar setelah gue komando! Gue akan menghadapi Big Kong sendiri. Tugas kalian hanya mengamankan jalur yang gue pilih dari pengacau.” Perintah Fahri pada pasukan dadakannya.


Tiba-tiba alat komunikasi Fahri kembali berkelap-kelip, “Gimana perkembangannya?” tanya Fahri.


“Mobil media itu ternyata punya MNews, tadi kita sempat lihat ada perempuan yang keluar memakai jaket kuning seperti yang dipakai Dini Tanjung, kita belum tahu pasti itu siapa, jaraknya terlalu jauh dari kamera CCTV,” lapor Pak Ruslan.


Fahri memeriksa ponselnya, ia memang sengaja tidak mau menjawab telepon Dini telah menghubunginya berkali-kali, agar konsentrasinya tidak buyar, Fahri membaca pesan singkat terakhir dari Dini, Fahri, aku terjebak di halaman gedung Blok 3. Wajah Fahri yang tadinya tenang kini jadi tegang, tugasnya jadi semakin berat.


*****


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


__ADS_2