Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Pasukan Kecil Dalam Perang Besar Part 3


__ADS_3

Di dalam gedung lantai 1 perkelahian telah selesai, walaupun 24 orang melawan sekitar 100 orang anggota ormas, tetapi petarung Blok 7 menggunakan senjata besi untuk melawan kayu, dan betul kata Fahri, hanya sedikit anggota ormas yang benar-benar punya nyali bertarung, sisanya hanya orang-orang pengecut yang berani karena menang jumlah, setelah beberapa petarung dari ormas roboh, sisanya menyerah.


“Bang Fahri! Alhamdulillah macan ompong di dalam gedung udah nyerah, anak-anak lagi ngiket tangan mereka ke belakang pake lakban, kalo lakbannya kurang, apa kita gebukin sampe pingsan aja?” Tanya Emi melalu HT Dul.


“Sadis juga lu, Mi! Cukup pentolan-pentolan mereka aja yang di ikat pake lakban terus kurung di gudang kosong. Sisanya kumpulin di situ, terus kasih 2 orang kita yang sangar untuk jaga mereka, yang lain siap-siap keluar, sekarang kita hajar yang di halaman,” ujar Fahri.


“Siap, Bang Fahri,” jawab Emi dan Dul.


“Pak Ruslan, bawa pasukan keluar sekarang!” perintah Fahri.


“Siap Komandan Fahri! O iya Mang Uus sudah bersama kita, dagangannya laku keras! hahaha,” lapor Pak Ruslan.


“Alhamdulillah, nanti saya traktir minuman Mang Uus,  tapi yang enggak bikin sakit perut, hehe. Oke, semua pasukan, dengar! Jumlah macan ompong sekitar 500 orang, mudah-mudahan taksiran saya benar, kurang lebih sekitar 150 orang jatuh dan tertimpa tangga besi, 100 orang dikurung di dalam gedung, 150 orang antri WC, artinya sisanya tinggal 100 orang di halaman kita. Ayo kita ajarin mereka menghargai hak orang lain! Mudah-mudahan kita menang! Aamiin!” seru Fahri.


*****


Pemimpin ormas terlihat bingung, sebagian anggotanya yang masuk ke dalam gedung Blok 7 tidak keluar lagi, sebagian anggotanya yang lain juga hilang, sebagian anggotanya terjatuh dari tangga, kini anggota yang tersisa sibuk menolong teman-temannya yang jatuh di tangga.


Tiba-tiba kelompok ormas dikejutkan suara lantang 10 orang warga bersenjata kayu dari arah kanan gedung. Pasukan Pak Ruslan yang beranggota para orang tua datang, bahkan Opung Saragih memaksa masuk dalam pasukan ini.


“Serang!” teriak Sang pemimpin ormas pada anggotanya, sambil menunjuk pasukan Pak Ruslan.


“Koh Edi, sikat pakai molotov, orang ormas sebelum bentrok dengan pasukan Pak Ruslan,” perintah Fahri dari balik pintu utama gedung.

__ADS_1


Duar!!!! Duar!!! Duar!!! Kerumunan ormas panik menghindari bom sehingga terpencar dalam kelompok kelompok kecil. Asap mengepul, mereka semakin tidak terkordinasi karena mencari selamat masing-masing.


Setelah asap mulai menipis, pemimpin ormas kembali terkejut, pintu gedung telah terbuka, Fahri dan pasukan Dul telah keluar dari sana. Pemimpin ormas kini tahu, anggotanya yang masuk ke dalam gedung telah kalah.


“Rizki! Sekarang!” perintah Fahri melalui HT. Lalu Fahri berteriak pada pasukan Dul. “Bantai!”


Pasukannya Dul langsung menghajar para anggota ormas di halaman yang sudah kocar-kacir terpisah-pisah, pasukan Pak Ruslan juga membantu sehingga pihak ormas yang seharusnya mengeroyok malah sedang dikeroyok, yang biasanya memukuli, malah dipukuli.


Beberapa menit kemudian terdengar suara pemimpin ormas dari toa, “Semua anggota Barisan Macan Rakyat! Selesai! Kita sudah kalah!”


Semua mata memandang ke tengah halaman dan langsung menghentikan perkelahian. Fahri tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Rizki.


Dengan wajah pongah Rizki membopong linggis di pundaknya dan meletakkan satu kakinya di pundak pemimpin ormas yang berlutut di depannya,  para anggota utama ormas yang menjaga pemimpinnya juga tampak berlutut dengan wajah babak belur.


Fahri mendatangi pemimpin ormas, lalu ia merebut toa milik pemimpin ormas dengan kasar, lalu bicara ke semua orang-orang ormas yang tertunduk lesu di halaman Blok 7.


Fahri menjambak rambut pemimpin ormas hingga berdiri lalu mendorongnya menjauh, “Ayo jadi laki-laki! Lu punya nyali berkelahi satu lawan satu?”


“Sudah.. sudah.. Cukup!” ujar peminpin ormas ketakutan.


Fahri mengambil sebuah linggis yang dipegang Rizki, lalu melemparkannya ke dekat pemimpin ormas tersebut.


“Pake senjata itu! Gue tangan kosong, ayo!” teriak Fahri.

__ADS_1


Pemimpin ormas itu tidak berani meladeninya, Fahri mengambil bongkahan batu kali di dekatnya yang ukuannya lebih besar dari helm. Ia langsung menghampiri pemimpin ormas dengan tangan mengangkat bongkahan batu kali itu, pemimpin ormas itu langsung memeluk kaki Fahri sebelum dipukul dengan batu tersebut.


“Ampun Bang! Jangan!” pinta pemimpin ormas sambil menangis, ia sangat ketakutan.


Fahri mengatur nafas sejenak untuk menyalurkan ilmu tenaga dalam, BLARRR!! Tinju Fahri menghantam bongkahan batu kali itu hingga hancur berkeping-keping.


“Ampuuun Bang! Ampuuun!” teriak pemimpin ormas sambil menangis meraung-raung, ia memeluk kaki Fahri lebih erat agar kepalanya tidak dihancurkan seperti bongkahan batu itu.


Fahri sengaja melakukan itu agar wibawa pemimpin ormas itu jatuh sehingga ormas pengganggu masyarakat ini tidak lagi ditakuti oleh warga manapun.


Fahri mengambil gulungan kertas dari kantongnya, “Baca ini!” perintah Fahri pada pemimpin ormas sambil melepaskan rangkulan di kakinya, kemudian melempar kertas itu ke wajah pemimpin ormas. Dengan gemetar pemimpin ormas membaca kertas tersebut.


“Dengar semua! Gue tahu di mana alamat rumah lu semua! Jadi kalo lu masih berani ngancurin rumah orang lagi, gue udah tahu cari lu dimana! Gue akan hancurkan kepala lu semua seperti batu ini di rumah lu sendiri! Sekarang lu semua pulang!” teriak Fahri.


Jangankan orang-orang ormas Barisan Macan Rakyat, warga Blok 7 sendiri tercengang dan ngeri melihat kemarahan pemuda yang biasanya sangat lembut ini. Rupanya Fahri punya sisi mengerikan yang hanya ditunjukkan pada mereka yang pantas.


*****


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


 


 


__ADS_2