Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
3 Minds Part 2


__ADS_3

"Ri, lu kan udah tiga minggu di kantor ini, betah?" tanya Dodo, rekan sesama petugas keamanan.


"InsyaAllah betah, Do," sahut Fahri sambil merapikan seragamnya di ruang locker sekuriti.


"Hehe, mudah-mudahan tetap betah setelah ketemu komandan kita."


"Orangnya kemana sih? Kok enggak pernah keliatan?


(Note : Mohon tidak menduplikasi novel ini tanpa seizin penulisnya, Indra W)


"Dia baru operasi ambeien, cuti sebulan, hahaha. Hari ini katanya masuk, yuk baris di basement sebelum dia dateng."


Sesaat kemudian di basement parkir mobil yang masih sepi, para sekuriti berbaris rapi untuk mendengar arahan Pak Diding. Komandan sekuriti Mnews.com ini bertubuh gempal dan memiliki kumis tebal. Walau ingin terlihat galak, tetapi orang-orang malah melihatnya lucu.


Pak Diding menatap wajah anak buahnya satu persatu, kini matanya tertuju pada Fahri. Hmm, ada orang baru, gumamnya. "Kamu siapa? Ayo perkenalin diri dengan lengkap!" perintah Pak Diding.


"Siap Komandan! Nama saya Fahri Husein, bergabung di sini 3 minggu yang lalu, saya tinggal di Rusun Ciawi Blok..."


"Husss! Nyerocos terus, tunggu saya tanya dong!" bentak Pak Diding, "sebelumnya pernah jadi sekuriti dimana?"


"Belum pernah, Komandan!"


"Belum pernah? Ck ck ck... Pantes banyak ngomong," ujar Pak Diding sinis, ia menghampiri dan mengitari Fahri, "Bahri!" panggilnya.


"Nama saya Fahri, Komandan!"


"Tadi gue bilang juga Fahri, kuping lu aja yang ga stereo!"


"Siap!"


"Lu pikir gampang jadi sekuriti? Mentalnya harus kuat!"


"Siap!"


"Fisiknya juga harus kuat!"


"Siap.. siap..siap.. Dengerin dulu ampe kelar!" bentak Pak Diding.


Kali ini Fahri diam.


"Yaah kaga nyaut, denger ga sih lu?"


Fahri tetap diam menunggu kalimat komandannya benar-benar selesai.


"Woy, nyaut!"


"Siap!"


"Nah gitu!" Pak Diding memandangi Fahri dari ujung kaki hingga ujung kepala, "gue heran, bocah kaya anak mall gini jadi sekuriti, entar dibentak penjahat lu kencing di celana lagi."


Tingkah Pak Diding membuat para sekuriti tertawa, kecuali Fahri.


"Kenapa ketawa?" tanya Pak Diding hingga membuat semua sekuriti langsung diam, kecuali Maman dan Anthony yang terlihat sulit menahan tawa. "Darman! Joni! Push up 20 kali! Aneh lu berdua, yang laen aja ga ada yang ketawa." perintah Pak Diding.


Pak Diding mengeluarkan ponselnya dari kantong, kemudian ia menghitung angka sampai 20 sambil merekam video 2 anak buahnya yang sedang push up. Setelah itu Pak Diding mendekati Fahri lagi.


"Yakin sanggup jadi sekuriti?" tanya Pak Diding.


"Yakin, Komandan!


"Yakin.. yakin aja lu, coba pasang kuda-kuda yang kuat, kalo lu tahan sapuan maut gue, baru gue percaya, awas ya kalo jatoh."

__ADS_1


"Siap, Dan!" jawab Fahri sambil memasang kuda-kuda.


Pak Diding meremehkan Fahri karena iri melihat kegantengan anak buahnya, ia mengabaikan potongan badan Fahri yang atletis dan gerak tubuhnya yang sigap. Pak Diding menyerahkan ponselnya ke Dodo, "Jojo! rekam! Terus lu aplod kaya biasa, biar subkriber Yutub gue nambah. Jangan lupa lu juga harus laik ama komen kalo udah lu aplod."


"Siap, Dan!" sahut Dodo.


Pak Diding mendekati Fahri, "yaahh dari cara diri lu aja salah. Lu tahan ya, di hitungan ketiga gue sikat, semua hitung!"


Para sekuriti menghitung...Satu! Dua! Tiga!!!


DUK! Kaki Pak Diding menyambar betis Fahri. Jangankan jatuh, bergeser pun tidak pun, ekspresi wajah Fahri juga terlihat tetap santai. Pak Diding tampak terkejut, ia tak pernah melakukan tes seperti ini pada anak buahnya yang lain, ia berani menantang karena wajah Fahri yang tidak seram seperti anak buahnya yang lain.


"Jangan seneng dulu, itu baru pemanasan, gue belon serius. Hitung lagi!"


Satu! Dua! Tiga!!!


DUK! Kaki Pak Diding menyambar betis Fahri lagi. Hasilnya tetap sama. Nafas Pak Diding mulai terengah-engah.


"Lumayan juga lu Fajri! Tapi itu belon sepersepuluh tenaga gue, oke deh sekarang gue baru beneran serius," ujar Pak Diding sambil menjauh dari Fahri. Kali ini ia harus mampu menjatuhkan Fahri bila tidak ingin kehilangan muka.


Jarak Pak Diding dari Fahri sekitar 10 meter, ia melakukan pemanasan dengan lompat-lompat kecil sambil meninju-ninju seperti seorang petinju, "Hitung!"


Satu! Dua! Tiga!!!


Pak Diding langsung berlari sekencang-kencangnya menghampiri Fahri.


Duk! Gedubrak!!!!


Tubuh bulat itu jatuh terguling-guling. ternyata ia malah tersandung karena menendang sambil berlari. Fahri dengan sigap menolong Pak Diding, sementara anak buahnya yang lain tampak sedang berusaha sekuat mungkin menahan tawa.


"Enggak usah dibantu!" Bentak Pak Diding pada Fahri, walau ia terlihat susah untuk bangkit.


"Siap, Komandan! Terimakasih!" sahut Fahri.


Dodo menghampiri Pak Diding, ia bertanya pelan, "videonya mau di upload, Dan?"


"Apus blo on, bangke lu!" maki Pak Diding, juga pelan.


*****


Sebagian mahasiswa yang tidak bisa masuk ke studio ramai mengerumuni screen besar di dekat meja resepsionis MNews.com, perdebatan antara Daud Haris dengan Rizal Salman sedang berlangsung sengit.


"Pemerintah kita ini seperti anak kecil yang megang kartu kredit bapaknya, mau beli mainan apa saja tinggal gesek, dia enggak peduli bapaknya bukan orang kaya. Nah yang pusing kan bapaknya, gimana cara bayar utang sama bunganya? Makan saja susah! Seperti bapak itulah, psikologis rakyat kita sekarang, Dini," ujar Daud Haris.


"Anda setuju itu, Rizal Salman? Rakyat jadi susah karena hutang pemerintah," tanya Dini pada Rizal Salman.


"Justru Daud ini yang seperti anak kecil, enggak ngerti dia! Negara besar pun berhutang, semua Presiden Indonesia yang lalu-lalu juga berhutang, tapi baru pada pemerintahan Presiden Anggito Suryo lah pemerataan benar-benar terwujud di Indonesia. Dengan hutang itu, banyak kota-kota kecil yang menjadi besar, itu ada di masa pemerintahan siapa? Presiden Anggito! Itu lah sebabnya rakyat menginginkan agar Pasal 7 UUD 1945 yang membatasi masa jabatan presiden hanya 2 kali itu harus diamandemen!" sahut Rizal Salman sengit.


"Betul banget, rakyat yang mau amandemen itu rakyat yang kebagian jatah proyek-proyek raksasa, itu maksudnya," sahut Daud Haris.


"Rakyat yang membuat Anggito Suryo terpilih dong! Mayoritas rakyat kan? Dan ditambah rakyat yang dulu khilaf tidak memilih, tapi pasti sekarang sudah pada insyaf karena melihat dengan jelas kemajuan Indonesia," sahut Rizal Salman.


"Nah, yang sekarang berbondong-bondong demonstrasi di Lampung itu, bukan rakyat?" tanya Daud Haris.


"Berbondong-bondong apanya? Itu jumlahnya berapa persen dibandingkan seluruh rakyat Indonesia?" tanya balik Rizal Salman.


"Zal! yang pernah berbondong-bondong di tahun 66, 99  dan 2037, itu jumlahnya berapa persen dibandingkan seluruh rakyat Indonesia?" tanya Daud Haris.


"Kalo mau populer, jangan jadi provokator, Bung! Saya tahu anda ngebet jadi Gubernur Jakarta. Nanti kita bantu bujuk warga sana deh, kasian banget, hahaha," ejek Rizal Salman.


"Anda punya rencana ingin maju jadi Gubernur Jakarta?" tanya Dini pada Daud Haris.

__ADS_1


"Jangankan Gubernur Jakarta, kalo Rizal maju jadi calon presiden, saya juga maju! Bahkan kalo Rizal maju jadi calon ketua umum PBB, saya juga maju! Biar Rizal dan teman-temannya sadar, di sini rakyat enggak ngontrak, negeri ini bukan punya kakeknya. Orang-orang di luar lingkaran mereka harus ada yang berani maju, supaya rakyat kecil enggak terus terpinggirkan," sahut Daud Haris.


"Harus ada yang mau mewakili rakyat kecil yang selama ini terpinggirkan, baik! Jangan dijawab dulu Rizal! Kita akan kembali setelah jeda berkut ini,” ujar Dini.


Suara para mahasiswa yang menonton live streaming MNews.com di screen besar langsung bergemuruh, mereka sengaja datang ke sini untuk bertemu Daud Haris, saking banyaknya mahasiswa penggemar Daud Haris, studio besar tidak muat menampung mereka. Fahri mengamati para tamu itu dari meja resepsionis, sebagaimana perintah Pak Diding yang berada di sebelahnya.


"Samsuri, inget! Lu sekarang kerja di media, banyak orang-orang terkenal datang ke sini. Jadi lu jangan norak kalo ngeliat mereka, apalagi nyamperin terus ngajak selfie. Tugas lu jaga keamanan, ngerti?" tanya Pak Diding.


"Siap, Komandan!" sahut Fahri.


15 menit kemudian acara live selesai, Daud Haris dan Rizal Salman keluar dari pintu studio, para mahasiswa langsung menyerbu Daud Haris, sebaliknya dengan Rizal Salman, tidak ada yang mau menghampirinya.


Setelah berbincang dengan para mahasiswa, Daud Haris menoleh ke arah meja resepsionis. Ia terkejut melihat Fahri, wajahnya terlihat sangat senang, ia segera menghampiri.


Pak Diding tampak senang. "Wah kebetulan! Daud Haris kayaknya mau ke sini tuh, sendirian lagi. Norma, potoin gue sama dia dong." pinta Pak Diding pada seorang staff resepsionis.


"Nanti fotoin aku juga ya sama Daud Haris," sahut Norma.


"Iya, ntar lu gue fotoin juga," sahut Pak Diding lembut, lalu menatap Fahri dengan wajah galak, "Lu jangan! Anak baru soalnya."


"Siap, Komandan!" sahut Fahri sambil tersenyum geli melihat tingkah komandannya yang ajaib.


"MasyaAllah, Fahri Hussein!" teriak Daud Haris saat dekat meja resepsionis. Ia langsung memeluk Fahri. Pak Diding terbengong-bengong melihatnya, ia pun lebih mendekat berharap dikenalkan.


"Ris, jangan tanya-tanya dulu ya. O ya, kapan ada waktu? Gue mau minta tolong nih," ujar Fahri.


"Buat elu, kapan aja insyaAllah gue bisa, sekarang?" tanya Daud.


"Jangan sekarang, gue lagi tugas," ujar Fahri.


Pak Diding mendehem keras cari perhatian, Fahri dan Daud menoleh ke Pak Diding.


Pak Diding merasa punya kesempatan untuk nimbrung, "Wah kenal anak buah saya, Bang Daud?"


"Iya Pak, Fahri ini sahabat saya yang sudah lama enggak ketemu, dulu kita satu pondok," ujar Daud.


"Waaah sama dong, Fahri ini sahabat saya juga. Fahri!" panggil Pak Diding. Kali ini ia bisa memanggil nama orang dengan benar.


"Siap, komandan!" sahut Fahri.


"Ah elu, pake siap-siap, ama komandan-komandanan segala, kaya ama orang lain aja, hahaha. Ri, Bang Daud pasti kangen ama elu, jangan gitu dong ama sahabat lama, melipir aja dulu ke Cafe depan kalo mau ngobrol," ujar Pak Diding sambil meletakkan tangan di pundak Fahri, sahabatnya.


"Alhamdulillah, terima kasih," ujar Fahri pada Pak Diding, lalu ia menoleh ke Daud Haris, "Ris, kenalan dulu dengan sahabat sekaligus komandan saya, Pak Diding."


"Diding Gading." ujar Pak Diding sambil menyalami Daud.


"Daud Haris," sahut Daud.


"Ris, boleh foto dulu sebentar sama Pak Diding? Teman-teman di resepsionis juga ya, setelah Pak Diding" pinta Fahri ingin menyenangkan Pak Diding dan teman-temannya.


"Wah kayak artis aja, yuk deh! Kita foto-foto buat kenang-kenangan," ujar Daud sambil merangkul Pak Diding, wajah sang komandan terlihat sangat senang.


Setelah meladeni orang-orang berfoto dengannya, Daud dan Fahri menuju cafe. Di sana Fahri bercerita tentang masalah yang dihadapi di rumah susun, lalu Daud berjanji akan berjuang untuk Fahri.


*****


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


__ADS_2