Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
3 Minds Part 1


__ADS_3

3 Minds adalah tiga gedung pencakar langit tertinggi se-Asia Tenggara yang telah menjadi ikon baru Indonesia, ketiga gedung ini dibangun di salah satu pulau reklamasi kawasan bisnis Mind Park.


Mind Park dibangun oleh perusahaan raksasa Mind Group, milik 3 pengusaha besar, Ali Tanjung, Andi Permana dan Erlangga Yusuf.


Pada masa pemerintahan rezim sebelumnya, Jakarta nyaris dilupakan karena terendam laut. Erlangga Yusuf, seorang arsitek kebanggaan Indonesia, diminta membantu pemerintah menata ulang bagian kota yang rusak dan terbengkalai.


Erlangga Yusuf berhasil menyulap bangkai kota yang terendam menjadi menjadi kawasan lalu-lintas perairan dangkal, ia membatasi wilayah genangan dengan MH Thamrin Wall dan mempertahankan gedung-gedung tinggi perkantoran yang masih layak dengan menimbun tanah di sekelilingnya seperti pulau kecil dengan taman-taman bakau sehingga menjadi kawasan bisnis paling unik dan indah di dunia.


Mind Group membeli sebagian wilayah kawasan pantai Jakarta, di tempat yang pernah dikenal dengan nama Taman Impian Jaya Ancol sebelum tergenang air laut. Mind Group membangun mega proyek Mind Park dengan perjanjian membagi sebagian pendapatannya untuk negara.


Mind Park adalah pulau-pulau reklamasi besar dengan bentuk kontur perbukitan yang penuh hutan-hutan buatan, di antara gedung-gedung tinggi dengan arsitektur modern yang indah. 3 gedung yang paling tinggi adalah 3 Minds.


Mind Park menjadi kawasan paling favorit bagi para pelaku bisnis di Asia Tenggara karena memiliki akses lengkap. Mind Park memiliki jalan raya dan jalur kereta cepat khusus eksekutif. Untuk akses perairan, Mind Park memiliki dermaga perairan dangkal dan pelabuhan Tanjung Priok yang telah ditata ulang untuk kapal-kapal laut yang besar. Untuk akses udara, Mind Park memiliki bandara khusus pesawat pribadi dan cargo.


*****


Fahri bekerja di MNews yang berada di salah satu tower Gedung 3 Minds. Sejak pertama kali menginjakkan kaki hingga sekarang, ia tak peduli terlihat begitu norak demi menikmati dan mengagumi keindahan gedung gedung 150 lantai ini.


Fahri belum bosan menikmati pemandangan indah pulau-pulau reklamasi Mind Park di bawah sana saat menaiki salah satu lift kaca yang berada di luar gedung. Ia juga masih senang menikmati pemandangan bawah laut yang tampak dari kaca-kaca besar di beberapa tempat saat berada di bagian lantai yang berada di bawah ketinggian air laut. Padahal Fahri sering berkunjung ke luar negeri dan sering melihat berbagai karya arsetektur dunia, tetapi ia lebih mengagumi gedung ini. Anehnya Fahri malah tidak terlalu kagum pada hal yang justru lebih dibanggakan para pekerja di gedung ini, yaitu teknologi gedung ini.


Gedung 3 Minds dirancang memiliki sistem pengendalian operasional dan keamanan terkomputerisasi dengan teknologi artificial intelligence. Bagai memiliki kecerdasan manusia, gedung ini seolah dapat diajak berkomunikasi tentang segala hal yang berkaitan dengan databasenya melalui perangkat-perangkat digital asisten yang tersebar di banyak tempat.


Gedung ini mampu mengenali dan mengarahkan pengunjungnya bahkan mengurung tamu tak diundang. Setiap pintu kaca mampu mengenali setiap pengunjung dan akan terbuka otomatis jika pengunjung punya hak untuk memasukinya. Fahri tidak kagum pada semua kecanggihan itu, karena sangat mudah baginya untuk meretas teknologi yang digunakan gedung ini.


MNews merupakan salah satu anak perusahaan Mind Group. Perusahaan ini didirikan anak Ali Tanjung yang bernama Dini Tanjung, perempuan cantik yang masih muda. Dini sangat mencintai dunia jurnalistik sehingga selain ia juga menjadi pemimpin redaksi, ia pun sering tampil di depan kamera untuk mewawancarai narasumber penting.


Saat ini MNews dianggap sebagai satu-satunya media paling independen yang berani mengangkat fakta. Di saat media-media lain menjilat penguasa karena pemiliknya ikut berpolitik bersama rezim, Dini malah menyoroti masalah-masalah yang ditimbulkan rezim.


Untungnya di belakang MNews ada Ali Tanjung. Hingga sekarang belum ada orang-orang dari rezim yang berani mengusik Ali Tanjung dengan cara 'main kayu'. Ali Tanjung adalah konglomerat yang memiliki koneksi luas dengan dunia internasional, bahkan sempat jadi pemimpin di berbagai organisasi internasional.


*****


Sekitar 3 bulan yang lalu Presiden Anggito Suryo memanggil Ali Tanjung ke Istana. Presiden Anggito Suryo telah berkuasa selama 2 periode. Setelah peristiwa aksi demonstrasi besar 3 tahun yang lalu dapat dipadamkan, para mahasiswa mulai kembali turun ke jalan. Pemicunya lagi-lagi soal ekonomi, kali ini Presiden Anggito Suryo ingin menyelesaikan masalah ekonomi dengan merangkul orang yang dianggap mampu, ia menjajaki Ali Tanjung.


"Menurut Pak Ali, ada apa sebenarnya? Angka pertumbuhan ekonomi kita bagus, pembangunan begitu pesat tetapi demo mahasiswa malah menyoroti masalah ekonomi?" tanya Presiden Anggito Suryo.

__ADS_1


"Maaf Pak Presiden, saya tak mau menyinggung perasaan siapa pun, tetapi saya juga tidak mau memanipulasi fakta demi menyenangkan hati. Apa yang sebenarnya ingin anda dengar?” tanya Ali tanjung ramah.


"Saya mengharapkan pendapat jujur anda, silahkan Pak Ali," sahut  Presiden Anggito Suryo.


“Kata orang bijak, kejujuran terkadang terdengar pahit. Kata orang pintar, hanya pengusaha bodoh yang mau melawan penguasa. Saya cuma pedagang kecil yang masih ingin diizinkan berdagang di negeri ini, boleh saya pamit pulang?” tanya Ali Tanjung.


“Hahaha. Kalau Pak Ali yang menyampaikan kritik, walau pahit, tapi itu pasti obat! Saya siap menelan obat dari anda,  silahkan Pak Ali," pinta  Presiden Anggito Suryo.


"Baik Pak Presiden. Mungkin masalahnya adalah orang-orang anda selalu menunjukkan angka yang benar tetapi tidak menggambarkan kebenaran," jawab Ali tanjung.


"Bagaimana bisa, benar tetapi tidak menggambarkan kebenaran?" tanya Presiden Anggito Suryo.


"Saya bukan orang pandai, jadi maaf jika pemikiran saya sangat sederhana. Saat seekor gajah dan seribu semut naik ke atas timbangan, tentu saja angkanya besar. Tapi, apa angka yang benar itu menunjukkan kebenaran tentang berat rata-rata yang mereka berada di atas timbangan itu?” tanya Ali tanjung.


"Hmm, betul, angka ekonomi kita itu tinggi tapi tidak merata. Baik, mungkin daya juang rakyat kita juga tidak merata, benar, Pak Ali?” tanya Presiden Anggito.


Ali Tanjung tersenyum. “Saya berasal dari keluarga miskin, sejak kecil berjuang habis-habisan tapi tetap saja miskin. Alhamdulillah, akhirnya saya dapat kesempatan. Rakyat juga sudah berjuang habis-habisan, tapi mereka sulit mendapat kesempatan. Itu masalahnya, Pak Presiden, kesempatan," ujar Ali Tanjung.


"Negara sudah membangun infrastruktur, fasilitas dan sebagainya, itu untuk meningkatkan produktivitas mereka. Rakyat tinggal memanfaatkan itu. Apa itu bukan kesempatan?" tanya Presiden Anggito Suryo.


“Maaf Pak Ali, jangan lupa, anda sendiri kan pengusaha besar,” ujar Presiden Anggito Suryo.


"Hahaha, lupa saya. Pak Presiden, saya sebenarnya kuatir pahala saya dicoret, tapi mungkin ini bisa menjadi role model. Saya, Pak Erlangga dan Pak Andi Permana memiliki Yayasan Al Kahfi Land untuk membina anak-anak dari keluarga yang sangat miskin, orang tua mereka kami modali dan bimbing berdagang.. Mungkin tidak banyak yang tahu, sebagian besar eksekutif Mind Group adalah anak-anak miskin dari Al Kahfi Land. Bukan cuma di perusahaan kami, anak-anak kami itu juga sering muncul di media-media bisnis sebagai eksekutif sukses di perusahaan-perusahaan global. Para staff ahli yang baru anda rekrut beberapa bulan yang lalu juga kebanyakan jebolan Al Kahfi Land. Itu yang saya maksud, orang miskin butuh kesempatan,” ujar Ali Tanjung.


Presiden Anggito Suryo tercengang mendengar jawaban Ali Tanjung. “Wah, diam-diam anda dan teman-teman anda punya kontribusi besar untuk negara ini,” puji Presiden Anggito Suryo.


“Itu kontribusi kecil, Pak Presiden. Saya dan teman-teman hanya bisa berbuat untuk segelintir rakyat kita yang susah. Negara tentunya punya kemampuan yang lebih besar,” ujar Ali Tanjung.


“Apa saran anda, Pak Ali?” tanya Presiden Anggito Suryo.


“Pertama, berhentilah berhutang, apalagi jika untuk kebutuhan perut pengusaha besar yang tidak peduli pada rakyat anda. Kasihan, rakyat yang tidak mengerti, bahkan tidak menikmati, mereka harus membayarnya dengan inflasi. Kedua, berikan kesempatan dan dukungan sebesar-besarnya agar rakyat kecil dapat berdiri di atas kakinya,” ujar Ali Tanjung.


"Setuju, tapi soal hutang, kata menteri keuangan saya, bahkan negara maju seperti Amerika Serikat pun berhutang,” ujar Presiden Anggito Suryo.


"Saya juga pernah mendengar itu dari seorang sales kartu kredit. Namanya juga penjual,” sahut Ali Tanjung.

__ADS_1


"Hahaha. Saya tak menyangka pengusaha besar seperti anda mau memikirkan nasib rakyat kecil. Kenapa anda mau serepot itu?" tanya Presiden Anggito Suryo.


"Pak Presiden, umur kita ada batasnya. Saya berharap diantara mereka, ada yang mau mendoakan saya, saya kan ingin selamat di kehidupan setelah mati, sebenarnya saya yang butuh mereka, bukan sebaliknya," ujar Ali Tanjung.


Presiden Anggito Suryo terdiam merenungi perkataan Ali Tanjung. Bukankah aku pemimpin negeri ini? Adakah yang sudi mendoakanku atas perlakuan tidak adilku?


"Baik, Pak Ali, terus terang saya memanggil anda karena ingin meminta anda jadi Menko Perekonomian, apakah anda besedia?" tanya Presiden Anggito Suryo.


Ali Tanjung kaget, ia berpikir sejenak. "Terimakasih Pak Presiden, maaf, saya cuma seorang pedagang yang tidak punya bakat dan minat terjun di dunia politik. Tapi saya berkenan membantu tanpa menjadi menteri," sahut Ali Tanjung.


"Saat ini bukan saya saja yang butuh, rakyat kita butuh orang seperti anda, orang yang peduli rakyat kecil. Dengan jabatan menteri, bukankah akan lebih banyak lagi yang bisa terbantu? Mohon jawabannya besok, Pak Ali. Saya rasa diskusi hari ini cukup. Terima kasih, Pak Ali," ujar Presiden Anggito Suryo.


*****


 


 


2 hari kemudian, Ali Tanjung naik ke pentas politik di usia 60-an atas dorongan Erlangga Yusuf dan Andi Permana. Menurut kedua sahabatnya, tanpa wewenang, keinginan untuk mengatasi masalah kemiskinan memang sangat sulit, Seperti orang yang sedang memadamkan kebakaran hutan, saat memadamkan api di satu titik, ternyata di tempat lain orang-orang serakah membuat titik-titik api baru. Dengan kekuasaan maka bahkan para pembuat titik-titik api bisa dipadamkan.


Keputusan Presiden Anggito Suryo memang tepat, dalam waktu 3 bulan, Ali Tanjung telah berhasil menegosiasikan ulang hutang-hutang negara sehingga mendapat keringanan bunga. Negara ini juga telah punya penghalang besar untuk pihak-pihak yang selalu membuat kebocoran uang negara.


Semenjak ada Ali Tanjung di kubu rezim, aksi demonstrasi mahasiswa beralih dari soal ekonomi ke soal politik, karena pihak rezim memunculkan wacana untuk mengamandemen UUD 45, agar Presiden Anggito Suryo boleh menjadi presiden lagi setelah menjalani 2 periode. Aksi demo mulai membesar.


 


.


*****


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


__ADS_2