Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Perang Saudara - Part 4


__ADS_3

Jeep yang disetir sendiri oleh Gulva sampai di perbatasan Kota Bandar Lampung. Ia memarkir jeepnya di sebuah hotel murahan pinggir kota lalu mendatangi salah satu kamar. Ia mengetuk pintu kamar.


"Siapa?" tanya orang di dalam hotel yang memegang pistol.


"Kawan baru," sahut Gulva.


Orang itu membuka pintu, setelah tamunya masuk, ia memperhatikan sekeliling lalu menutup pintu kamar.


"Ben Jani sudah tewas?" tanya Rizal Salman.


Gulva menunjukkan foto mayat Ben Jani yang di foto oleh Farhat pada Rizal Salman.


"Daud dimana?" tanya Rizal Salman.


"Daud sudah di Jakarta, dia akan menemui Andi Permana, aktifkan ponsel kau, Samuel mau bicara," sahut Gulva.


"Media sudah ku arahkan untuk menggiring isu agar rakyat menurunkan dan menggantikan Priyo dengan Daud Haris. Kubu Andi Permana, mahasiswa dan MindNews pasti setuju kalau Daud yang maju, walau umurnya belum cukup, kan kondisi darurat," ujar Rizal Salman.


"Hebat juga kau! Bisa menipu Ben Jani," puji Gulva.


"Kalian di Pasukan T7 juga hebat bisa menipu Priyo, Daud Haris pun hebat bisa menipu kubu opoisi. Kalau sudah militer, politikus dan pengusaha terbaik di negeri ini bersatu, mana ada yang mengalahkan kita? Hahaha," sesumbar Rizal Salman sambil mengangkat ponselnya, "sebentar, Samuel menghubungiku."


"Rizal! Gulva sudah datang?" tanya Samuel.


"Sudah, boleh aku ke Jakarta sekarang?" tanya Rizal Salman.


"Kita tunggu pers conference dari Presiden Priyo dan tanggapan dari Andi Permana di media, kalau tak sesuai rencana, kita mainkan cara militer lagi," jawab Samuel.


"Setuju! Bagaimana Daud, dia masih mellow dengan teman-teman dekatnya?" tanya Rizal.


"Yah, justru karena dia mellow, dia dicintai rakyat. Kalau kau yang dicintai rakyat, kita kan enggak usah meladeni syarat Daud yang merepotkan pekerjaanku. Biarlah dia menjadi dirinya sendiri, biar aktingnya sempurna, yang penting jangan melakukan kesalahan sekecil apapun. Baiklah Rizal, aku harus terus mengarahkan Priyo, supaya dia tidak bertindak diluar kemauanku, sampai nanti Rizal," ujar Samuel mengakhiri pembicaraannya.


*****


 


 


"Samuel, aku senang dengan pekerjaanmu, kau memang anak buahku yang terhebat! Tinggal satu lagi hal yang harus kita bereskan yaitu 3 tokoh Al Kahfi bersama mahasiswa pendukungnya, sebentar lagi aku telah menjadwalkan pers conference dengan media, bagaimana pendapatmu?" tanya Presiden Priyo.


"Tangkap dan hukum mati 3 tokoh Al Kahfi itu," sahut Samuel.


"Hah? Kau sudah gila? Mahasiswa akan meruntuhkan pagar istana kalau itu kulakukan," ujar Presiden Priyo.


"Ben Jani saja yang punya pasukan tidak bisa mendekati anda, apalagi mahasiswa? Selama orang-orang itu masih ada, mahasiswa akan menuntut anda mundur. Saya tahu, Jendral bukanlah orang yang lemah seperti Anggito Suryo dan bahkan Ben Jani, anda pasti mampu bersikap tegas pada musuh-musuh anda," hasut Samuel.

__ADS_1


"Kau memang hebat! Siapapun yang menghalangi jalanmu pasti kau sikat, mungkin dalam pers conference ini aku akan menaikan lagi pangkatmu menjadi BrigJen agar kau segera bisa menjadi panglima ku, bagaimana?" tanya Presiden Priyo.


"Saya selalu patuh pada anda, Jendral!" jawab Samuel.


Jendral Priyo tersenyum penuh arti.


Samuel berencana untuk membuat Presiden Pryo tergelincir dengan pernyataannya sendiri saat pers conference, setelah itu ia tinggal memberikan pernyataan pada media bahwa ia mendukung kubu mahasiswa dan 3 tokoh Al Kahfi yang diyakininya akan mendukung Daud Haris.


Beberapa menit kemudian podium pers conference telah dinaiki Presiden Priyo.


"Sebelum menyatakan pengumuman, saya ingin dilapisi oleh para paspampres, pimpinan tertinggi dari semua angkatan darat, laut dan udara serta kepolisian," ujar Presiden Priyo.


Presiden Priyo berbisik pada Samuel yang berada di dekatmya, "Samuel, kau kan belum Jendral, nanti setelah ku umumkan kau baru mendekat."


"Siap, Presiden!" sahut Samuel.


Samuel sedikit menjauh dari Presiden Priyo, ia melihat presiden berbisik kepada komandan paspampres. Tak lama kemudian para paspampres sudah berlapis-lapis menutupi presiden, beberapa dari mereka memandangi Samuel.


Samuel mendapat firasat buruk, ia mundur perlahan-lahan dan langung lari setelah terhalang tembok.


"Baik sebelum mengumumkan hal penting pada Rakyat Indonesia, saya ingin minta diputarkan rekaman pembicaraan telpon saya dengan Ben Jani sebelum dia tewas oleh pesawat tempur TNI" ujar Presiden Priyo.


Asisten presiden segera memperdengarkan rekaman telepon Presiden Priyo dengan Ben Jani.


"Halo Priyo! Aku Ben Jani,"


"Hahaha, aku pernah jadi atasanmu, jangan kau nilai aku serendah itu," sahut Ben Jani.


"Oke, apa maumu?" tanya Presiden Priyo.


"Priyo! Kita di adu domba," ujar Ben Jani.


"Ah, ku kira hal penting yang mau kau sampaikan," ejek Presiden Priyo.


"Priyo! Ku lihat dari radar sebentar lagi pesawat tempurmu akan sampai ke tempatku, tembaklah! Aku tak minta kau ampuni, cuma aku tak mau mati sebagai orang bodoh yang dipecundangi anak-anak kemarin sore. Perang ini terjadi sesuai dengan rencana Samuel, Rizal Salman dan Daud Haris!" ujar Ben Jani.


"Ah, kau cuma mau bikin suasana jadi kacau sebelum mati, memangnya kau punya bukti?" tanya Presiden Priyo.


"Rizal Salman ceroboh, dia meninggalkan bukti catatan pertemuan dan rencana mereka, sudah aku letakkan di brankas, semoga tidak hancur oleh pesawat tempurmu. Setelah aku mati, Rizal akan menemui anak buah Samuel bernama Gulva di Hotel Transit Andalas, kamar 107. Anak buah Samuel yang lain bernama Rudi menjemput Daud Haris di Pulau Karakas, kau buktikan nanti!" ujar Ben Jani.


"Ben! Kau tak perlu mengulur waktu, bilang saja menyerah, mungkin masih ada waktu untuk ku suruh berhenti pesawat tempurku!" potong Presiden Priyo.


"Dengar Priyo, setelah kematianku, Samuel akan menghasutmu untuk menangkap dan menghukum mati Andi Permana dan 2 sahabatnya ......sebaiknya kau....pesawatmu sudah di atas.... DUARRRRR!!"


Tuuut.... tuuuut.... tuuuut....

__ADS_1


"Ya, pertama-tama saya umumkan bahwa mantan Kolonel Samuel Dave, mantan Kapten Gulva Rendy, mantan Kapten Farhat Akbar, mantan Mendagri Rizal Salman dan mantan Menkumham Daud Haris sebagai penghianat negara yang harus ditangkap untuk diadili sesuai hukum yang berlaku. Intelejen negara sudah menemukan dokumen yang tadi disebut oleh Ben Jani, juga telah memantau hotel tempat pertemuan yang juga tadi disebutkan dan ternyata pertemuan tersebut memang benar. Menurut intelejen, Daud Haris sendiri sudah berada di Jakarta setelah beberapa hari di Pulau Karakas. Satu hal lagi yang disampaikan Ben Jani juga benar, beberapa menit yang lalu mantan Kolonel Samuel telah menyarankan saya sebelum naik podium untuk menangkap dan menghukum mati 3 tokoh Al Kahfi ......." Presiden Priyo menghentikan pengumuman karena lampu ruangan mendadak mati.


Suasana menjadi kisruh, saat tidak ada cahaya tiba-tiba asap memenuhi ruang sehingga semua yang ada di ruangan menjadi sesak nafas dan pingsan.


*****


 


 


"Ternyata kau benar, Budi! Daud Haris ada di pihak mereka," ujar Kang Andi pada Budi Raharjo yang sedang sama-sama menonton pers conference di salah satu rumah rahasia untuk para tokoh besar dan keluarganya, yang dipesan Fahri saat masih di Penjara Karakas.


"Kenapa siaran pers conference tiba-tiba gelap?" tanya Kang Angga.


"Hmm, aku curiga Samuel melakukan kudeta," jawab Budi.


Tiba-tiba media kembali menayangkan pers conference. Kali ini Samuel yang bicara di depan kamera, ia di damping Gulva, Farhat dan Rizal Salman. Di belakangnya tampak dalam keadaan pingsan dan terikat pada kursi, Presiden Priyo dan para petinggi militer dan kepolisian.


"Selamat malam! Saya Samuel Dave menyatakan mulai detik ini, mengambil alih kekuasaan negara. Bagi siapa saja yang berani menentang, baik dengan senjata maupun aksi demonstrasi, maka kami tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas. Sekian, selamat malam!" ujar Samuel.


Andi Permana langsung berdiri dan tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Lawan kita Pasukan T7, tidak main-main itu," ujar Kang Andi.


Budi Raharjo tersenyum, "Alhamdulillah, jangan lupa Kang Andi, yang bersama kita justru komandannya! Saya sudah menyaksikan sendiri kehebatan Fahri Hussein dan Stevano revan,”


Tiba-tiba Dini menghampiri Ali Tanjung, “Abi, Fahri mau bicara,” ujar Dini sambil menyerahkan ponselnya pada Ali Tanjung.


 


 


 


*****


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


 

__ADS_1


 


__ADS_2