
Gulva terkejut saat seorang botak yang hampir seluruh kepala dan badannya tertutup tattoo menghampirinya dengan pistol mengarah padanya.
“Siapa kau?” tanya Gulva.
“Penting buat lu? Menjauh lu dari sandera!” perintah Zul.
Gulva tidak menuruti perintah Zul, ia malah meraih senjatanya.
DORRR!!! Zul tanpa sungkan menembak sehingga Gulva jatuh tersungkur.
“Gue serius ******! Buka rompi anti peluru lu! Cepet!” perintah Zul sambil menendang senjata Gulva agar jauh dari jangkauannya.
Gulva memegang dadanya yang sakit, walaupun memakai rompi anti peluru tetap saja tekanan dari peluru membuat dadanya sesak, ternyata orang ini sama sekali tidak ragu-ragu menembaknya.
“Heh, wartawan! Ini masih live?” tanya Zul tanpa mengalihkan matanya dari Gulva, ia tetap menjaga jarak dari Gulva yang ia tahu sangat berbahaya.
“Masih, Bang! Abang penjahat juga?” tanya Rahmad.
“Penjahat pala lu pitak! Pak Budi dan bapak-bapak lain, cepat tinggalkan tempat ini!” perintah Zul.
Para tokoh Al Kahfi Land membantu Budi Rahajo berjalan. Mereka segera meninggalkan Zul setelah berterima kasih.
“Wartawan di sini aja! Lu kabarin ke penonton, sandera udah aman!” ujar Zul.
*****
Samuel tampak geram memandangi TV, ia meremas minuman kalengnya. “Dia orang kau?” tanya Samuel.
“Dia teman baru dari Penjara Karakas. Kemampuannya bisa ku andalkan. Kau kan tahu aku enggak pernah hanya menyiapkan satu rencana, ada plan B, plan C. Cuma ternyata dia berimprovisasi, menghilang dulu. Ku pikir dia pulang, tadinya aku mau menjalankan plan C,” jawab Fahri.
“Apa plan C mu?” tanya Samuel.
“Hahaha, itulah enaknya punya banyak teman. Di atas sana ada 3 anak muda dari rusun yang telah memasang bom waktu di helikoptermu. Lalu seandainya si botak itu kalah oleh Gulva dan kau juga mampu mengalahkanku, maka kau dan Gulva akan menjadi mainan seperti di video game oleh 3 anak muda itu melalui ruang kontrol. Semua eskalator dan lift di gedung akan terputus oleh bom, beberapa tempat tak terduga dan pintu-pintu darurat juga telah mereka pasangi bom. Oh iya, di kantung kanan jas ketiga tokoh Al Kahfi dan Budi Raharjo ada bom asap beracun yang pernah kupelajari dari Gulva dan di kantung kiri mereka ada masker, itu jadi langkah terakhir untuk mereka menyelamatkan diri apabila plan A,B dan C gagal. Jadi sebut saja itu plan D, apalagi yang mau kau ketahui, Sam? Aku masih bersedia mengajarimu banyak hal untuk memenangkan perang,” canda Fahri.
*****
MNews telah mengabarkan kepada rakyat Indonesia bahwa Budi Raharjo dan para tokoh Al Kahfi telah selamat dari penyanderaan, setelah itu barulah Zul meminta para kru MNews untuk meninggalkan gedung.
“Jalan!” Perintah Zul pada Gulva setelah ia memastikan semua orang meninggalkan gedung.
Zul tetap menjaga jarak aman dari Gulva. Tiba-tiba karena jalan yang mereka lewati becek, Zul terpeleset, pistolnya jatuh. Gulva langsung meluncur di lantai yang becek untuk merebut pistol Zul, Zul langsung menendang pistol yang berada dalam jangkauan kakinya sejauh-jauhnya agar tidak terebut Gulva.
Kini keduanya siap berkelahi dengan tangan kosong.
*****
Samuel tidak terlalu percaya dengan perkataan Fahri, tetapi ia sadar dirinya telah kalah semenjak Gulva kehilangan sanderanya. Samuel tidak takut berkelahi menghadapi Fahri tetapi ia takut gedung ini akan segera di kepung polisi atau tentara, ia langsung berlari meninggalkan Fahri.
Fahri tidak mengejar Samuel, ia berkomunikasi dengan 3 anak muda dari rusun.
“Dul! Saatnya main video game!!” perintah Fahri.
DUARRR!!!!
Samuel melonpat menghidari bom yang meledak di depannya, ternyata ucapan Fahri bukan omong kosong. Kini ia bagai tikus yang terperangkap. Ia tak berani melangkah lagi, dari kejauhan Fahri dengan santai menghampirinya.
“Sam! Sudahlah! Ayo kembali berdiri di belakang rakyat!,” ajak Fahri.
__ADS_1
Samuel sangat marah, ia berlari menghampiri Fahri sambil berteriak, “Bangsaaat kau, Fahri!”
Fahri menyiapkan tenaga dalamnya.
*****
Gulva menghantam Zul, tapi Zul mengelak sambil menendang ke arah rusuk Gulva. Gulva yang terjatuh karena terkena tendangan langsung menyapu kaki Zul. Zul jatuh terpelanting kebelakang, ia langsung menekuk badannya, agar kepala belakangnya tak terbentur lantai, benturan pada kepala belakang bisa membuat petarung kehilangan kesadaran dan berakibat fatal setelahnya.
Gulva langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk mengunci leher Zul dengan tangannya, Zul dengan cepat menggeliat untuk melepaskan kuncian, kuncian Gulva pun terlepas.
Kedua petarung itu berdiri kembali. Gulva memukul Zul bertubi-tubi tetapi semua pukulan itu di tutup Zul dengan kedua tangannya, Gulva menendang perut Zul dan berbalik memberi tendangan berputar pada kepala Zul, ternyata Zul hanya sempat menangkis tendangan yang mengarah pada perutnya, sementara kepalanya terkena tendangan telak Gulva.
Gulva tidak memberi jeda pada Zul, pukulan Gulva bertubi-tubi yang tidak lagi tertutup oleh perisai tangan Zul membuatnya roboh dengan wajah lebam dan bersimbah darah.
Zul tergelak di lantai dengan nafas yang tersengal-sengal, Gulva menjatuhkan badannya sambil mengarahkan sikunya ke ulu hati Zul, untungnya Zul cepat menghindar sehingga justru Gulva yang kesakitan karena sikunya menghantam lantai kosong.
Zul kembali berdiri, begitu pula Gulva. Zul langsung menabrak tubuh Gulva sehingga keduanya terjatuh berguling-guling menuruni tangga eskalator yang sangat panjang, dari lantai 20 langsung menuju lantai 10.
Kedua petarung itu tampak cidera berat. Keduanya melihat keberadaan pistol yang agak jauh dari tempat mereka terjatuh, tetapi belum ada yang memiliki stamina cukup untuk mengambil pistol tersebut. Dua petarung itu masih mengatur nafas untuk mengembalikan stamina mereka.
Secara fisik rupanya Zul tampak lebih kuat dari Gulva. Di penjara Karakas ia tidak punya banyak kegiatan selain mengolah kekuatan fisiknya sehingga ia bisa lebih dahulu merangkak menuju tempat pistol berada. Gulva yang telah kalah langkah tampak panik, tapi staminanya belum cukup untuk merangkak menyusul Zul.
Karena ia tidak mungkin menang menyusul Zul, Gulva malah merangkak mendekati eskalator yang menghubungkan lantai 10 dengan lantai 1, kemudian ia sengaja menjatuhkan dirinya di eskalator sehingga kembali terguling-guling menuju lantai 1 agar tidak ditembak Zul yang sebentar lagi memiliki pistol.
*****
Fahri telah mengerahkan tenaga dalamnya dengan maksimal sehingga pukulan-pukulan Samuel yang juga telah terisi tenaga dalam mampu ditangkisnya tanpa merasa sakit.
Samuel meremas tangan Fahri agar berlubang, tetapi kini justru jarinya yang terasa panas, semakin lama malah menjalar hingga ke lengan dan bahunya. Tiba-tiba sengatan listrik membuat Samuel kesakitan sehingga ia melepas tangannya.
“Cukup!” teriak Samuel saat Fahri mendekati.
Seperti biasa, Samuel selalu memanfaatkan kelengahan lawan, ia menghantam wajah Fahri dengan kekuatan tenaga dalam maksimal.
Sinar biru yang terang muncul, saat tangan Samuel menyentuh pelipis Fahri, tangannya menempel dan terkena sengatan listrik energinya yang sangat besar. Fahri mengerahkan tenaga dalamnya semaksimal mungkin untuk memukul Samuel, tetapi karena tidak tega, ia hanya memegang leher Samuel dan mengangkat tubuh Samuel yang terasa sangat ringan, lalu melempar sejauh-jauhnya. Samuel pun terpental jauh menghantam kaca ruang dan merobohkan benda-benda yang ia tabrak.
Fahri meringis kesakitan, pelipisnya sobek dan sedikit menghitam. Darah mengucur dari pelipisnya dan mata kanannya menjadi lebam. Ia berusaha bangkit tapi malah terjatuh lagi. Akhirnya ia mengatur nafas untuk menyalurkan tenaga dalam yang sangat besar agar dapat bangkit.
Sekitar 10 detik kemudian Fahri telah merasa segar, kini ia dapat berdiri dengan mudah, Fahri bingung karena rasa sakitnya cepat hilang. Fahri menghampiri Samuel.
Samuel tampak sekarat. Matanya terbelalak dan badannya kaku. Wajah dan badannya jadi putih pucat seperti mayat hidup dengan urat-urat yang tampak jelas seperti Zombie. Seluruh lubang di wajah dan tubuhnya mengeluarkan darah segar. Mulutnya masih berusaha mengambil nafas walau sulit.
“Sam! Bertahan, Sam!” teriak Fahri panik. Ia tak menyangka tenaga dalam yang ia keluarkan tadi terlalu besar untuk diterima tubuh Samuel. Untung saja ia tidak jadi memukul Samuel.
Fahri tidak tahu cara menyembuhkan Samuel, tanpa sadar ia memegang bahu Samuel dengan kedua tangannya dan menyalurkan tenaga dalamnya, seolah cara ini bisa menolong Samuel.
Ternyata memang berguna, Fahri merasakan aliran hangat di tangannya, lalu pundak Samuel juga terasa merespon aliran hangat itu dengan kedutan. Perlahan tapi pasti urat-urat di tubuh Samuel mulai menghilang, kulitnya mulai kembali berwarna, darah yang mengalir dari lubang-lubang di tubuhnya berhenti keluar.
Samuel terbatuk-batuk, walau sudah tidak lagi sekarat, tapi ia bagai tak punya tenaga.
“Fahri….. Gila!…. energi…..kau…. mengandung…. listrik…… sangat…… besar…..” ujar Samuel terbata-bata.
“Maaf Sam, aku pun enggak tahu kalau akan sedahsyat itu,” ujar Fahri.
Fahri meletakkan badan Samuel di punggungnya, lalu menarik kedua tangan Samuel di antara lehernya untuk menggendong Samuel dari belakang badannya.
“Kau… mau…. bawa…aku… kemana?” tanya Samuel.
__ADS_1
“Sam, kau harus kubawa ke rumah sakit,” sahut Fahri yang berjalan menuju lift sambil menggendong Samuel.
“Fahri!..... kau… tembak…saja…aku…. biar… aku…. mati…. terhormat…. ketimbang…. di… penjara…sampai… mati….” pinta Samuel.
“Kau akan ku bawa ke Stevano. Biar aku yang bertanggung-jawab atas kelakuan bekas anak-anak buahku yang gagal kupimpin! Kau, Gulva dan Farhat harus dapat kesempatan kedua,” sahut Fahri.
Air mata Samuel tampak jatuh dari matanya.
“Aku…. tak… pantas… kau… bela….”
Fahri tidak mengacuhkan ucapan Samuel yang terus minta ditembak. Ia tetap menggendongnya hingga sampai ke luar gedung.
Ternyata di luar gedung sudah ramai dengan polisi, tentara dan masyarakat. Suara sirene mobil polisi, ambulan dan pemadam kebakaran serta helikopter sangat riuh. Para wartawan langsung mengerubungi dan mengambil gambar Fahri yang sedang menggendong Samuel.
Di depan Fahri tampak kerumunan masa yang terlihat bergerak brutal, tampaknya mereka sedang memukuli seseorang. Fahri curiga mereka memukuli Gulva.
“Tolong jaga kawan saya!”ujar Fahri pada polisi yang menghampirinya sambil menurunkan Samuel, “maaf saya pinjam sebentar,” ujar Fahri yang juga merebut pistol di pingggang polisi tersebut.
DORRR!!!
Fahri menembakkan pistol ke udara sehingga membuat kerumunan masa buyar. Benar saja, kini ia dapat melihat sosok Gulva yang tampak babak belur dihajar masa.
Wajah Fahri terlihat sangat sedih, ia langsung berlari memeluk Gulva.
“Kita hajar lagi!!!!” teriak salah satu orang dari kerumunan masa. kerumunan masa kembali mendekat.
Fahri membuang pistolnya. Ia memasang kuda-kuda untuk menghajar siapa pun yang berani memukul Gulva.
“Ayo! Maju semuanya!” tantang Fahri.
Ternyata tidak ada yang berani menghampiri Fahri. Masyarakat telah mengenal sosok Fahri.
Karena tidak ada lagi yang berani mendekat, Fahri menggendong Gulva menuju tempat Samuel. Semua orang memberi jalan untuk Fahri.
Samuel mengumpulkan sisa tenaga terakhirnya, dengan cepat ia merebut pistol polisi yang berada di dekatnya lalu mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri.
“Fahri!... Gulva!.... Maafkan aku!” ujar Samuel.
DORRR!!!
“Sam!” teriak Fahri.
Samuel roboh terkena peluru.
Fahri ingin mengejar Samuel, tapi tangan Gulva mencengkramnya.
“Fahri… aku… juga… tidak.. bisa.. bertahan… lagi!” ujar Gulva terbata-bata.
“Bertahan Gulva, itu ada ambulan, kau pasti bisa bertahan!” ujar Fahri.
Gulva tersenyum pada Fahri, “Aku… salah… menilaimu… Maafkan aku… Fahri!”
Gulva menghembuskan nafasnya yang terakhir. Fahri menangis.
Badannya terasa lunglai, ia bagai tak punya tulang lagi untuk menopang badannya sendiri.
Seseorang memegang pundak Fahri. Fahri menengok ke arah orang itu, ternyata Dini. Fahri menjatuhkan kepalanya di pundak Dini dan melepas tangisnya di situ.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1