Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Pasukan Kecil Dalam Perang Besar Part 1


__ADS_3

"Pemirsa MNews, kericuhan kemarin di kawasan Rumah Susun Ciawi mengundang pertanyaan besar, benarkah para penghuni menolak pindah? Kami mendapat informasi bahwa ada rekayasa dibalik pernyataan setuju pindah yang telah diklaim oleh pemerintah. Bersama kami telah hadir Walikota Bogor Endang Drajat, Anggota DPR dari Partai Indonesia Bersatu Rizal Salman dan Anggota DPR dari Partai Bintang Nasional Daud Haris. Saya lebih dahulu ingin mendengar pendapat Rizal Salman, apakah benar ada rekayasa dibalik pernyataan setuju yang diklaim pemerintah? tanya Dini Tanjung.


"Yang terjadi di sana cuma kericuhan kecil, ada provokator, para preman! Yah, nanti biar diusut pihak aparat yang berwenang saja." jawab Rizal.


"Yang saya tanyakan, apakah benar ada rekayasa dibalik pernyataan setuju yang diklaim pemerintah?" kejar Dini.


"Saya tidak mau terjebak pertanyaan yang tidak nyambung, peristiwa kericuhan kecil kok dibesar-besarkan media anda? Tapi okelah saya jawab, bagaimana mungkin ada rekayasa? Yang terjadi di Rusun Ciawi, cuma 3 preman ngamuk-ngamuk dan tidak jelas kenapa, kalo benar ada rekayasa, yang ngamuk-ngamuk itu harusnya seluruh penghuni rusun," jawab Rizal santai.


"Kami tidak membesar-besarkan, apakah anda tahu bahwa kericuhan kecil di Rusun Ciawi itu ternyata menimbulkan efek domino, sehingga pada hari yang sama, beberapa jam setelahnya juga terjadi kericuhan serupa di Rusun Jonggol, Rusun Ciampea dan Rusun Rangkasbitung, dan sebagainya, mereka mengatakan memang ada rekayasa, oleh karena itu kami ingin mendengar konfirmasi dari pemerintah dan partai pendukungnya," sanggah Dini.


Endang Drajat langsung memotong, "Begini, saya hanya bicara yang di wilayah kabupaten Bogor saja ya, kita punya 10 rusun pemerintah yang tersebar di banyak tempat, masing-masing rusun memiliki 8 hingga 10 gedung, lalu yang ricuh di Bogor cuma ada 3 rusun dan cuma sebagian kecil warganya dari beberapa gedung. Itu cuma segelintir warga, kalo ada segilintir orang yang tidak setuju, itu adalah wajar. Tapi kalo tidak setuju lalu berbuat anarkis, itu menjadi tidak wajar, lho yang setuju kan jauh lebih banyak."


Daud Haris langsung menanggapi, "Nanti dulu! Rizal dan Endang ini selalu bicara tentang angka. Mereka lupa proklamasi kemerdekaan Indonesia ini disampaikan oleh 2 orang founding father, bukan rame-rame seluruh rakyat Indonesia naik panggung. Kecuali kalo Rizal sudah lahir, mungkin dia mau bikinin panggung proklamasi yang segede rusun jelek buatannya yang mau dia gusur lagi sekarang. Sumpah pemuda juga dinyatakan oleh segelintir pemuda, tapi segelintir pemuda itu berani bilang 'Kami putra dan putri Indonesia'. Jadi jangan kaya truk pasir lah, kalo muatannya dikit enggak diangkut. Maksud saya gini, kita kan bukan penjajah, pemerintah harusnya denger dong suara rakyatnya, walau sedikit datengin baik-baik, ajak dialog terbuka, kok malah suruh pedagang yang datengin rakyat, terus mereka bagi-bagi amplop untuk ditukar tanda-tangan. Orang lapar dikasih duit ya tanda tangan aja, urusan belakangan." ujar Daud Haris.


"Daud ini nih contoh provokator! Kami sudah dialog!" sahut Rizal.


"Iya dialog antar sesama pedagang memang sudah, giliran orang yang enggak mau beli langsung dibilang provokator. Mau bilang saya fitnah? Mau bukti? Tuntut aja saya ke pengadilan, biar enak, urusan hukum enggak mungkin saya buka di media,” tantang Daud Haris.


“Hehehe, adik saya yang masih muda ini, Daud Haris, sebetulnya orang bagus, tapi kayaknya lagi stres dia, cari perhatian sama warga, sayangnya caranya salah. Tapi potongan kau lebih cocok untuk maju ke pilpres langsung,” ujar Rizal Salman mengalihkan tantangan Daud.


“Zal, udah lah, yang sebenernya ngebet ngincer Jakarta kan anda. Tapi Zal, kan enggak ada salahnya anda baik juga sama warga Bogor, Tangerang, Bekasi dan semua wilayah si Indonesia. Kalo nyakitin rakyat terus, nanti anda sendiri yang susah dapet suara. Justru saya males maju kalo lawan saya enggak kuat. Intinya, stop rekayasa," ledek Daud membuat orang-orang di meja talkshow tertawa termasuk Rizal.


Talkshow berdurasi setengah jam ini berlangsung seru. Rizal Salman  dan Endang Drajat habis jadi bulan-bulanan Daud Haris. Mereka tak berkutik karena Daud telah banyak mengantungi informasi dari Fahri, kemampuan Fahri menyusup melalui internet membuat Daud memiliki banyak peluru untuk menghajar musuh-musuh politiknya.


Usai talkshow, Dini mendapat laporan Rusun Ciawi telah dikepung ratusan masa Ormas Barisan Macan Rakyat, tetapi reporter MNews tidak dapat mendekati kawasan tersebut. Polisi dan tentara menutup semua jalan-jalan utama menuju lokasi tanpa kecuali, sehingga orang-orang dari luar kawasan tidak ada yang diperbolehkan ke sana dengan alasan keamanan. Padahal mereka dapat perintah dari Rizal Salman untuk menyortir pihak-pihak yang berseberangan.


"Tolong carikan saya helikopter, campers (camera person) dan pengawal, saya sendiri yang akan ke sana," pinta Dini pada staffnya.


*****


 


Mobil-mobil truk parkir berjejer di jalanan di depan gedung  Blok7 Rusun Ciawi. Orang-orang berseragam loreng merah-hitam telah berkumpul menunggu instruksi pemimpinnya. Mereka membawa tongkat-tongkat kayu sambil menyanyikan lagu mars mereka, suaranya bergemuruh sehingga dapat merontokkan nyali siapa pun yang berurusan dengan mereka, wartawan-wartawan bodrek pesanan Rizal Salman juga hadir bersama mereka. Para tetangga gedung Blok 7 juga memadati jalanan untuk menonton.


Berbeda dengan suasana di balik pagar area halaman, Blok 7 terlihat sangat sepi seolah tempat ini tak berpenghuni, karena semua perempuan, anak-anak dan orang yang berusia lanjut telah mengungsi tadi malam. Fahri berada di atas gedung, ia bersembunyi sambil mengawasi orang-orang berseragam loreng merah-hitam di bawah sana.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim, untuk yang muslim pasang niat, kita bertempur untuk menjaga hak dan martabat kita karena Allah. Bagi yang berbeda keyakinan, berdoalah menurut cara masing-masing. InsyaAllah kita pasti menang! Situasi di bawah sana sesuai dengan perkiraan saya semalam, jumlah mereka sekitar 500 orang. Tidak besar! Mereka bukan orang terlatih, yang benar-benar berani bertarung paling hanya segelintir orang. Bandingkan, kita yang punya petarung-petarung hebat sebagaimana teman-teman saksikan sendiri kemarin. 500 pengecut itu akan berhadapan dengan pasukan kita yang hebat. Ingat! Jangan berkerumun! Pecah mereka! Bertarung sesuai instruksi saya. InsyaAllah kita pasti menang!” ujar Fahri menyemangati pasukannya melalui HT yang juga dibagian ke masing-masing pemimpin pasukan.


Fahri harus menanamkan rasa superior pada hati pasukannya, karena 50 warga sipil biasa ini harus menghadapi sekitar 500 orang bahkan mungkin lebih. Pagi ini warga laki-laki yang mau menjadi pasukan Fahri ternyata tidak sebanyak peserta rapat semalam, sebagian besar laki-laki memilih ikut mengungsi bersama keluarganya.


"Semua pasukan! Dengarkan! Pasukan Koh Edi  sedang bersama saya di atap gedung, Pasukan Koh Edi  siap?" tanya Fahri.


"Cincay, Bang Fahli," sahut Koh Edi  dan pasukannya. Pasukan ini berjumlah 2 orang, tugas mereka melempar bom Molotov dan mengelas penyangga utama tangga besi. Koh Edi kebetulan punya bengkel las.


Pasukan Wayan, siap?" tanya Fahri melalui HT.


"Siap, Bang Fahri," sahut Wayan. Pasukannya berjumlah 6 orang, tugas mereka memancing sebagian pasukan ormas untuk naik ke tangga darurat dari besi yang berada di sisi kiri luar gedung dan melempar batu.


"Pasukan Dul, siap?" tanya Fahri melalui HT.


"On position, Bang Fahri!" jawab Dul. Pasukannya berjumlah 24 orang, sebagian besar adalah petarung terbaik Blok 7.


"Pasukan Mang Uus sudah menyusup, Dul?" tanya Fahri, ia tidak membekali pasukan Mang Uus dengan HT, karena tugas mereka adalah menyusup di antara ormas menjadi pedagang keliling kopi kemasan.


"Hahaha.. udah Bang." sahut Emi ikut bicara di HT Dul.


"Lucu Bang, kalo Mang Uus mah enggak usah nyamar, emang tiap hari dagang kopi. Nah, Awi ama Gilang ternyata lebih mirip tukang kopi ketimbang Mang Uus, hahaha," canda Emi.


"Hahaha, enggak nyobain kopinya tadi, Mi?" tanya Fahri.


"Hahaha, Emi tau bang, udah dikasih cairan yang bakal bikin mencret, hahaha," sahut Emi.


"Hahaha, ya udah, fokus lagi ya!" perintah Fahri.


"Siap Bang Fahri!" sahut Emi.


"Pasukan Pak Ruslan, sedang standbye di masjid, sambil doain kita, tunggu aba-aba ya, Pak!" ujar Fahri.


"Siap, Komandan Fahri!" sahut Pak Ruslan. Pasukannya berjumlah 10 orang, mereka adalah para orang tua, tugasnya sebagai bala bantuan untuk melapisi pertempuran.


"Pasukan Rizki, standbye di belakang gedung, jangan lupa, setelah perang dimulai, sebisa mungkin jangan ladeni perkelahian! Fokus kalian cari pemimpin pasukan ormas, seret dia!" ujar Fahri.

__ADS_1


"Siap Bang Fahri!" sahut Rizki, remaja petarung terbaik yang kemarin hampir mematahkan kepala anak buah Rolando. Pasukannya berjumlah 5 orang.


Barisan Macan Rakyat telah membongkar pagar besi yang tergembok, sang pemimpin  bersama 5 orang anak buahnya memasuki area halaman, lalu bicara melalui toa yang ditentengnya.


"Warga blok 7. Bagi siapa saja yang mau mendukung rencana pemerintah untuk kebaikan rakyatnya, segera keluar dan berbaris di sini! Kalian tidak kami perangi! Tapi kalau kalian tidak keluar, tempat kalian kami hancurkan! Hidup Barisan Macan Rakyat!" teriak sang pemimpin. Halaman Blok 7 langsung bergemuruh dengan teriakan.


"Pasukan Wayan keluar! Serang sekarang!" perintah Fahri.


Dari pintu darurat di lantai 4, keluarlah 6 pemuda menenteng karung berisi batu, kemudian mereka berdiri di tangga darurat besi dengan sebelah tangan mengenggam batu.


Pimpinan ormas membaca gelagat buruk, benar saja, tanpa basa-basi 6 pemuda itu melempar batu ke arah pemimpin ormas.


*****


 


Helikopter yang ditumpangi Dini telah mendarat di Ciawi di lapangan bola yang berjarak sekitar 3 km dari lokasi rusun, di sana sudah menunggu 2 pengojek motor yang dipesan Rahmad, campers MNews yang tinggal di daerah Ciawi.


Mereka menyamarkan penampilannya agar tidak terlihat seperti wartawan. Dini memakai jaket bertudung dan masker yang sering dipakai orang yang terkena flu, di sana ia akan berpisah dengan Rahmad, masing-masing akan merekam kejadian-kejadian penting dengan ponselnya.


Saat tiba di Rusun Ciawi, Dini dan Rahmad langsung berbaur dengan kerumunan masyarakat yang menonton di sekitar lokasi. Mereka datang pada saat yang tepat, kelompok ormas gaduh karena pemimpinnya dilempari batu, para anggota ormas tampak sedang berhamburan memasuki halaman.


*****


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


 


 

__ADS_1


__ADS_2