
Bandar Lampung
Pagi ini suasana ibu kota negara Bandar Lampung memanas, perang saudara di Indonesia tampaknya akan segera berkecamuk.
Presiden Anggito telah menyatakan mundur dari jabatan presiden dan menunjuk Jendral Priyo Hartono menggantikannya sementara hingga pemilu mendatang.
Pada saat bersamaan sebuah pasukan tentara dari kesatuan elit Paskus AD yang setia pada Ben Jani berhasil membebaskan Ben Jani dari tahanan yang berada di pinggir kota, Way Krui, Lampung.
Ben Jani menjadikan markas kesatuan elit Paskus AD yang juga berada di Way Krui sebagai tempat untuk membangun kekuatan dan menggelar pers conference melaui media-media yang dikendalikan Rizal Salman.
Ben Jani membocorkan kudeta yang dilakukan Presiden Priyo dan memberi ulitimatum bahwa, paling lambat sebelum jam 12 siang, Presiden Priyo harus melepas jabatannya dan memberikannya pada Rizal Salman atau akan digempur habis-habisan.
Pagi ini Kota Bandar Lampung menjadi sangat mencekam karena 2 pasukan bersenjata dalam jumlah besar akan saling berhadap-hadapan. Presiden Priyo bersama seluruh instrumen pertahanan dan keamanan negara, sedangkan Ben Jani bersama pasukan TNI yang membelot dan pasukan bayaran dari dari luar negeri.
*****
Jakarta
Suasana Pagi di Jakarta juga sedang memanas, para mahasiswa melakukan aksi demontsrasi besar-besaran di MH Thamrin Wall sehingga bendungan sangat panjang ala tembok China itu dipenuhi oleh lautan manusia. Mahasiswa tahu, mereka tidak mungkin melakukan aksi di Bandar Lampung yang akan menjadi medan pertempuran, sehingga mencari lokasi yang dianggap lebih aman untuk menunjukkan pada dunia, bahwa mahasiswa tidak percaya pada kedua kubu yang sedang berebut kekuasaan.
Sebagian mahasiswa diutus mendatangi Al Kahfi Land. Mereka ingin agar 3 tokoh besar yang dekat dengan rakyat, yaitu Andi Permana, Ali Tanjung dan Erlangga Yusuf mau tampil ke depan untuk mengatasi konflik ini.
Andi Permana sulit memenuhi keinginan mahasiswa, karena kubu ketiga yang diciptakan mahasiswa ini tidak punya dukungan militer. Negara sudah berada dalam keadaan chaos, kekuatan senjata akan yang akan menjadi faktor penentu kemenangan. Kang Andi tidak ingin jatuh banyak korban dari pihak sipil.
Setelah berdebat alot dengan para mahasiswa, akhirnya tiga tokoh besar itu tidak punya pilihan selain sepakat menandatangani hasil diskusi mereka dengan mahasiswa yaitu Deklarasi Rakyat Indonesia yang berbunyi :
1. Negara Republik Indonesia adalah amanah dari Allah SWT yang wajib dipertahankan oleh seluruh Rakyat Indonesia.
2. Rakyat Indonesia adalah pemilik sah Negara Republik Indonesia
Negara terancam oleh pihak-pihak yang mengkhianati bangsa. Sebagai pemilik sah Negara Republik Indonesia, seluruh Rakyat Indonesia wajib membela dengan kemampuan terbaiknya.
Deklarasi tersebut dibacakan oleh Andi Permana di depan para awak media pemberitaan, ia didampingi oleh Ali Tanjung, Erlangga Yusuf dan perwakilan mahasiswa. Setelah itu Andi Permana langsung menanggapi berbagai pertanyaan wartawan.
"Jadi siapa sebenarnya Presiden Republik Indonesia saat ini?" tanya seorang wartawan.
"Secara konstitusional mantan Presiden Anggito Suryo telah menyerahkan jabatannya kepada Presiden Priyo Hartono. Tetapi kita juga mendengar pernyataan Pak Ben Jani tentang peristiwa kudeta yang dilakukan oleh Presiden Priyo. Oleh karena itu, kita harus mendapat kejelasan mengenai itu. Satu-satunya hal yang jelas saat ini adalah Pak Ben Jani tidak menempuh jalur hukum untuk menyampaikan tuduhannya dan telah memberi ultimatum pada Presiden Priyo untuk menyerahkan kekuasaannya kepada Rizal Salman, itu adalah tindakan inkonstitusional," sahut Andi Permana.
"Tapi mahasiswa punya keyakinan bahwa Jendral Priyo juga telah melakukan kudeta, mahasiswa tidak percaya pada kedua kubu tersebut, makanya mereka mendatangi 3 tokoh bangsa. Anda dan teman-teman berdiri di salah satu kubu atau menjadi kubu ketiga?" tanya seorang wartawan lain.
"Kami bukan kubu ketiga yang ingin bersaing berebut kekuasaan. Kebetulan mahasiswa datang kemari untuk meminta pendapat dari orang yang mungkin mereka anggap sebagai orang tua yang bisa diajak bicara, Kami akan berupaya mencari kejelasan tentang hal ini pada pemerintah yang sah. Tetapi! Jika pemerintah yang masih kami anggap sah ini tidak mau atau tidak mampu menjelaskan hal yang sangat penting untuk diketahui Rakyat Indonesia ini, atau terbukti telah melakukan kudeta, maka kami akan turun ke jalan bersama seluruh Rakyat Indonesia mendatangi DPR/MPR agar menarik mandatnya, mengangkat presiden sementara dan mempercepat pemilu!" jawab Andi Permana.
Para mahasiswa bersorak-sorak mendukung tiga tokoh Al Kahfi.
*****
Pulau Karakas
Rudi dan pasukannya terus menyusuri pinggiran sungai dangkal berbatu untuk mencegat rombongan Budi Raharjo, yang ia kira masih dipimpin Fahri.
Tiba-tiba dari dalam hutan seekor **** hutan bergerak cepat menuju mereka. Para tentara memuntahkan peluru ke **** hutan tetapi semuanya melenceng karena pengaruh magnet.
"Tahan tembakan!" teriak Rudi sambil mengambil belatinya, kemudian ia berlari kencang menuju **** hutan yang akan menyerang itu.
Saat telah dekat Rudi menghindar sambil menancapkan belatinya ke perut **** hutan itu. Binatang itu masih sempat berlari beberapa langkah hingga kemudian terguling dan mati. Rudi mencabut belatinya dari perut **** hutan, kemudian mendekatkan belatinya pada salah satu batu hitam besar di dekatnya, wajahnya terlihat heran.
"Pasukan! Gunakan belati kalian, sepertinya senjata api kita tak berguna di sini. Ayo lanjutkan perjalanan," perintah Rudi.
__ADS_1
*****
Jarak rombongan Budi Raharjo sudah semakin dekat dengan pasukan Rudi, sehingga mereka bisa mendengar suara tembakan para tentara tadi.
"Jauhi sungai ini, sebaiknya kita bersembunyi ke tengah hutan dulu. Ayo, cepat!" perintah Zul pada rombongan Budi Raharjo.
*****
Pasukan Stevano yang sedang berada di tengah hutan. Mereka mendengar suara tembakan.
"Hati-hati! Kita belum tahu itu suara tembakan pihak mana, semuanya berpencar dan bersembunyi," perintah Stevano pada pasukannya.
*****
"Ada jejak-jejak kaki di tanah becek itu. Fahri enggak sendiri, dia menjauhi sungai karena mendengar suara tembakan. Ayo kita kejar dia ke tengah hutan!" perintah Rudi pada pasukannya.
*****
Rombongan Budi Raharjo terus memasuki hutan. Tiba-tiba Zul menghentikan langkahnya dan menyuruh semua orang berhenti.
"Kayaknya gue ngeliat ada yang bergerak di balik pohon-pohon di sana," ujar Zul sambil berusaha menajamkan pandangannya.
Tiba-tiba dari atas pohon seseorang menerjang Didan hingga terjatuh, kemudian badannya ditindih dan lehernya ditempeli belati.
Zul mampu menghindari serangan dari atas pohon, ia melayangkan pukulan pada orang yang ingin meringkusnya sehingga belatinya terlempar, tapi orang itu tidak menyerah, ia menendang Zul. Tetapi Zul dengan mudah menangkisnya sambil melayangkan pukulan telak ke wajah orang itu hingga ia roboh.
Daud Haris juga terjatuh akibat diterjang tetapi, lehernya tidak ditempeli belati.
"Daud Haris?" tanya orang yang menyerangnya.
"Lu pikir beruang madu?" tanya Daud sinis sambil meringis kesakitan.
"Stevano!" seru Dini pada orang yang menyerang Daud.
"Teman-teman! Ini bukan musuh!" kata Stevano.
Stevano mencari-cari Fahri di antara rombongan Budi Raharjo, kemudian ia bertanya pada Dini, "Dini! Fahri mana?"
"Nanti kita bicara tentang Fahri, kita harus cepat pergi. Gara-gara dengar suara tembakan, kami terpaksa masuk ke dalam hutan ini," ujar Dini.
"Ya, kami juga dengar. Kalian jangan kuatir, di belakangku ada pasukan dengan panah dan tombak, kalian bergabung di sana. Aku akan mengawasi musuh dari pohon lagi," ujar Stevano.
*****
Beberapa saat kemudian Rudi dan pasukannya telah sampai di tempat pasukan Stevano. Tiba-tiba hujan panah menyambut mereka.
Rudi dan pasukannya terkejut, ia langsung berlindung di balik pohon menghindari hujan panah. "Sembunyi di balik pohon!" perintah Rudi pada pasukannya yang satu-persatu tewas terkena panah yang telah diolesi tanaman beracun.
__ADS_1
Rudi melempar granat, ia tahu jangkauan granatnya tidak bisa terlalu jauh karena terhambat magnet, ia ingin menghalangi pandangan pasukan panah.
DUARRRR!!!
"Mendekat!" perintah Rudi sambil berlari dari satu pohon ke pohon lainnya.
Posisi Rudi semakin dekat dengan pasukan panah Stevano. Rudi melihat seseorang di balik pohon yang tidak jauh darinya, ia menghampiri pohon itu, ternyata Didan yang bersembunyi di situ, dengan sangat cepat belati Rudi langsung menancap di jantung Didan hingga ia tewas, kini Rudi telah memiliki busur panah milik Didan.
Zul yang berada di atas pohon melihat sahabatnya Didan tewas, tidak lagi mau menuruti Stevano untuk menunggu, ia turun menerjang para tentara di bawahnya dengan belatinya, satu per satu tentara mati di tangannya. Sayangnya karena ada Zul di antara para tentara, maka pasukan panah Stevano tidak bisa lagi memanah sembarangan, para tentara semakin mudah menghampiri para pasukan pemanah.
Stevano, Dul, Rizki dan Ahmad segera turun dari pohon untuk menyerang para tentara.
Rudi memanah para napi, hingga satu-persatu tewas. Dean yang melihat aksi Rudi segera menghampiri Rudi, setelah dekat ia menghunjamkan tombaknya ke Rudi, tapi Rudi cepat menghindar hingga tombak itu patah saat menancap pohon.
Rudi menghampiri Dean dengan belatinya, Dean juga mengeluarkan belatinya. Dengan bernafsu, Dean menyabet belatinya ke perut Rudi, sayangnya Rudi menjatuhkan badannya sambil menyapu kaki Dean hingga ia terjatuh. Saat itu pula Rudi menindih Dean dan menggorok leher Dean dengan belatinya.
Di bagian yang lain Abew, Topa, Oblak dan Budi Raharjo yang ahli memanah dengan mudah menghabisi para tentara yang maju. Stevano, Dul, Ahmad dan Rizki juga telah membunuh para tentara di dekat mereka.
Rudi mengincar Budi Raharjo dengan panahnya. Saat ia sedang fokus membidik, tiba-tiba sebuah belati yang dilempar hampir menancap di dadanya, jika ia tidak melirik dan menghindar, tetapi belati itu sempat menyerempet bahunya hingga busur panahnya pun terlepas. Rudi menatap Zul.
Zul langsung menerjang Rudi, tapi Rudi menangkap dan membanting Zul ke tanah. Rudi langsung mengapit leher Zul dan menguncinya. Zul yang tidak mau terkunci langsung menghantamkan kepalanya ke hidung Rudi sekeras-kerasnya hingga hidungnya patah, kuncian Rudi pun terlepas.
Zul mengambil batu yang berada di dekatnya dan menghantamnya keras-keras ke wajah Rudi sehingga wajahnya hancur. Tapi Rudi masih belum kalah, ia berguling-guling mencari jarak yang aman untuk kembali berdiri.
Zul kembali menerjang Rudi, tapi Rudi cepat menghindar sambil meraih badan Zul, kali ini Zul tidak mau terbanting dengan jurus yang sama, ia memundurkan dan melebarkan kakinya sehingga kuda-kudanya kuat, karena posisi kepala Rudi yang sedang memeluk badan Zul berada lebih rendah, maka Zul langsung mengambil kepala Rudi untuk tetap berada di bawah dan menjatuhkan badanya hingga wajah Rudi kembali membentur tanah.
Wajah Rudi sudah sangat hancur dan penuh darah, tetapi ia belum juga berhasil dikalahkan oleh Zul. Rudi masih berusaha lolos dari kuncian Zul pada lehernya. Zul semakin mengencangkan kunciannya sehingga usaha Rudi akhirnya mulai kehabisan nafas.
Sebagai anggota pasukan T7, Rudi sebenarnya punya kemampuan berkelahi dan bertempur yang sangat bagus, tetapi ia terlalu sering meremehkan lawan, termasuk melakukan kesalahan memasuki Pulau Karakas tanpa mempelajari medan tempur. Saat menghadapi Zul, ia juga menganggap cuma menghadapi napi kelas teri yang dibanting sekali langsung menyerah, ia agak setengah hati menghadapi Zul, padahal Zul adalah napi terhebat dan paling ditakuti setelah Bong di penjara Karakas.
Kini Rudi menyesali diri karena akan mati ditangan seorang napi. Zul semakin mengencangkan kunciannya, Rudi tak berkutik mempertahankan nyawanya lagi, ajal terasa sudah di depan mata.
Tiba-tiba Zul melepas kunciannya, Rudi langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya, badannya masih terasa sangat lemas sehingga ia tetap terbaring pasrah.
Rudi heran, Zul yang terlihat sangat marah itu tidak jadi membunuhnya. Rudi terkejut melihat Stevano sedang menempelkan belati di leher Zul.
"Cukup kawan!" ujar Stevano pada Zul.
"Dia bunuh sahabat gue! *******!" maki Zul pada Stevano.
"Gue juga enggak bisa lihat sahabat gue mati di depan gue, maaf banget," ujar Stevano.
Zul menampik belati Stevano dan menjauhinya dengan wajah kesal. Rudi segera memungut belati Stevano dan bangkit kembali.
"Stevano, ngapain kau di sini?” tanya Rudi.
“Aku mau selamatin Fahri, teman seperjuangan kita. Kau tak usah terlalu turuti maunya Priyo. Bilang aja Fahri tak bisa kau temukan, apa susahnya?” tanya Stevano.
“Betul juga kau, kita cuma bertujuh, untuk apa saling bergaduh? Kangen banget aku sama kau,” ujar Rudi sambil merentangkan sebelah tangannya, untuk memeluk Stevano.
Stevano menghampiri Rudi dengan wajah senang.
Zul melirik belati yang dipegang Rudi di balik punggungnya.
Rudi mengayunkan belati ke perut Stevano, untungnya Zul telah lebih dulu mendorong tubuh Stevano sehingga belati Rudi hanya sedikit merobek daging perut Stevano. Zul menancapkan anak panah beracun ke perut Rudi.
Rudi roboh ke tanah, ia sedang meregang nyawa tetapi masih menyempatkan diri mengejek Stevano. “Kau dan Fahri .... tak pantas jadi Pasukan T7 ........ Kalian ... tentara lemah ...... Pengecut! ..... Hahahahahaha .... aaakhhhh!!!”
Stevano memegang perutnya yang terluka dengan hati yang lebih terluka, ia masih tak percaya teman seperjuangannya sendiri mau membunuhnya.
"Maaf kawan! Gue harus bunuh orang yang bunuh sahabat gue. Tapi yang gue bunuh itu jelas-jelas bukan sahabat lu!" ujar Zul sambil mengulurkan tangannya pada Stevano.
Stevano menyambut tangan Zul, kemudian Zul menarik tangan Stevano untuk membuatnya kembali berdiri.
Kini rombongan Budi Raharjo dan Stevano bisa menuju pantai dengan tenang.
*****
Bersambung
__ADS_1
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W