
“Aku tetangga kau, dari Blok 7. Cuma mau minta tolong, agar jangan diganggu,” sahut Fahri.
“Mana pernah aku ganggu tetanggaku? Tapi kalo ada yang masuk rumah tanpa permisi, jangan salahkan anjing-anjingku yang menggigit. Hmm, baik lah aku minta maaf, bisnisku ini memang tak benar, aku memang sudah berniat pensiun dari bisnis ini, ya setelah dengar gedung-gedung kita ini mau dihancurkan penguasa. Pas betul kau datang, kangen sekali aku sama kau!” ujar Big Kong.
“Ternyata kau masih kenal,” sahut Fahri.
“Hahaha, Fahri Hussein, tak mungkin aku lupa sahabatku, bahkan kau pasti sudah tahu ini aku sejak kita saling tembak tadi” ujar Big Kong sambil tertawa.
“Mana akau tahu? Kenapa kau masih pakai topeng jelekmu itu, Stevano Revan? Dan kenapa nama samaranmu juga aneh sekali, Big Kong?” tanya Fahri.
“Hahaha, biar orang-orang pikir ini kandang kingkong. Fahri, matikan dulu kau punya kerjaan iseng menyadap CCTV ku, biar aku bisa buka topeng ini,” pinta Stevano.
“Dul! Restrart komputer kita!” perintah Fahri.
Lampu-lampu gedung kembali menyala, Stevano membuka topengnya, ia memberi hormat pada mantan komandannya lalu mereka berpelukan. Setelah melepas pelukan, Fahri melihat mayat Kompol Jono, ia menjadi sedih.
“Jangan salahkan aku, dia masuk rumahku tanpa izin, kau saja pun ku tembak, tadi,” ujar Stevano.
“Dia polisi baik, sayangnya ia kurang pandai menghitung resiko, banyak sekali peluru di badannya, mudah-mudahan setiap peluru memberatkan timbangan amalnya karena berani menegakkan kebenaran,” ujar Fahri sambil menutup mata Kompol Jono yang tewas dengan keadaan tersenyum.
“Kau masih jadi orang yang melow, pantas Samuel tak suka kau pimpin Pasukan T7,” ujar Stevano.
“Samuel pun tak suka sama kau yang aneh, hehe. Ya sudahlah, resiko perang. Dini dimana?” tanya Fahri.
“Oh, dia aman dikurung di ruangan yang nyaman di ruang sebelah. Aku takut dia kena peluru nyasar, makanya aku suruh orang ku bawa ke atas lewat tangga darurat, nanti kau antar Dini pulang naik helikopter ku di atas, tapi aku ingin kita ngobrol dulu di kantorku,” pinta Stevano.
Lantai 10 ternyata seperti kantor mewah di Mind Park, kondisinya jauh berbeda dengan lantai-lantai di bawah yang menyeramkan, Fahri dan Stevano kini duduk di sofa empuk ruang kerja Stevano.
Fahri melihat foto-foto besar yang di gantung di dinding, ada foto Ali Tanjung, Pasukan T7, Stevano bersama Fahri dan keluarga kecil Stevano. Di ruang kerja stevano sangat banyak buku-buku, kebanyakan buku tentang tentang bisnis.
“Ali Tanjung itu idolaku, aku terobsesi menjadi seperti dia. Aku kagum dengan dia dan teman-temannya di Al Kahfi Land, mereka para pebisnis hebat!” cerita Stevano.
“Oh, kau tahu tentang Al Kahfi Land? “ tanya Fahri.
“Tentu, tapi aku tak pernah ke sana, mudah-mudahan suatu hari ada yang mengajak. Di sana 3 orang hebat di negeri ini mengajak para cendikiawan muslim menyumbang pikiran, tenaga dan biaya untuk mengatasi masalah-masalah bangsa, salah satunya mengatasi masalah kemiskinan. Saat negara membangun infrastruktur pakai uang rakyat untuk kepentingan raksasa bisnis asing, Al Kahfi Land malah mengerjakan pe-er negara yang terbengkalai, aku sangat kagum! Tapi mana mungkin penjahat sepertiku ini berada bersama mereka, hahaha,” ujar Stevano.
“Hmm, kau ini memang aneh! Sejak peluru menyerempet otak belakangmu di misi Pulau Natuna, kau jadi sekejam Samuel sekaligus semelow aku,” ujar Fahri.
“Hahaha, tapi sejak itu aku mengerti, kalau Tuhan belum ingin kau mati, bom atom pun tak kan bisa membunuhmu, hahaha…. Oh iya! Bicara tentang Tuhan, sebenarnya ada hal yang ku diskusikan sama kamu, coba kau lihat buku-buku ini!” tunjuk Stevano pada buku-buku yang dikeluarkannya dari laci.
Fahri kaget melihat judul buku-buku yang dibaca Stevano, buku-buku sederhana, cara sholat lima waktu, cara belajar cepat membaca Al Qur’an dan sebagainya.
“Kau sudah masuk …”
“Hahaha, belum! Aku belum mualaf, makanya aku sebenarnya sudah lama cari kamu, cuma kau lah yang aku yakin bisa menjawab keragu-raguanku,” ujar Stevano.
“Apa yang membuat kamu tertarik?” tanya Fahri.
“Selama ini hatiku selalu bingung, gelisah, marah sekaligus takut. Untuk menenangkan diri, hampir setiap sore aku selalu berada di atas gedung ini. Entah kenapa setiap mendengar suara adzan maghrib dari masjid di dekat tempatmu, aku ingin menangis. Suaranya indah seperti orang yang rindu dengan Tuhannya, tidak seperti adzan yang biasa ku dengar, saking indahnya aku juga ikut merasakan kerinduan itu dan ingin berkenalan dengan yang membuatnya rindu itu, Tuhan kalian. Lalu aku mulai mencari tahu, aku membeli Al Qur’an dengan terjemahan,” ujar Stevano. Ia tidak tahu yang didengarnya adalah suara Fahri.
“MasyaAllah, penguasa mafia Blok 3 yang sangat ditakuti ternyata tersentuh mendengar adzan, lalu membeli Al Qur’an untuk berkenalan dengan Tuhan?” tanya Fahri kagum.
__ADS_1
“Ya! Dan ini mengagumkan. Aku bukan muslim, mana ku tahu membaca Al Qur’an itu dari belakang ke depan? Aku sebenarnya salah memilih halaman awal, tetapi aku malah jadi bertemu dengan surat Al Ihklas. Luar biasa! Saat aku mencariNya, Tuhan kalian langsung mengenalkan diriNya pada ku! Ayat-ayat itu membuatku kagum, yang sedikit ku ingat saat membaca terjemahannya adalah ternyata kalian memiliki Tuhan yang satu, satu-satunya tempat bergantung untuk segala sesuatu dan tidak ada yang setara denganNya. Konsep keesaan Tuhan kalian sangat mudah ku pahami,” ujar Stevano.
“Mudah bagaimana?” tanya Fahri.
“Kalau ada 2 Big Kong di Blok 3, artinya aku setengah berkuasa, mudah sekali bukan?” tanya Stevano.
“MasyaAllah, tapi kenapa kau masih ragu?” tanya Fahri.
“Ya ulah kalian sendiri yang membuatku ragu,” ujar Stevano.
“Ulah kami yang bagaimana?” tanya Fahri.
“Ini negeri muslim, penguasanya muslim, penduduknya muslim, yang lain cuma minoritas, tapi kau lihat sendiri kondisi negeri ini, jadi apa bedanya?” tanya Stevano.
“Memangnya muslim itu artinya apa?”tanya Fahri.
“Orang islam kan?”
“Betul. Untuk pantas di sebut muslim kan ada syarat, sama saat kita masuk tentara, tapi bedanya, yang tidak memenuhi syarat tetap mengaku muslim,” ujar Fahri.
“Hahaha, aku sudah belajar Rukun Islam. Orang-orang yang mengaku muslim di sekitarku memang kebanyakan cuma lolos syarat nomor satu, syahadat! 4 Rukun yang lain tak dijalankan dengan benar. Hahaha, pantas negara ini enggak beres, mereka sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk mengaku muslim, persis seperti tentara gadungan,” sahut Stevano.
“Nah itu jawabannya, terus apa rencana kau?” tanya Fahri.
“Kau ingat saat kita harus punya keahlian selain bidang militer di Pasukan Tim7? Ternyata bakat terbesarku adalah di bidang bisnis, Jendral kita sampai bingung, apa gunanya bakat bisnis di tentara? Hahaha. Untung nilai menembakku dan menerbangkan pesawatku sangat tinggi sehingga layak dipertimbangkan,” kenang Stevano.
“Akhirnya kau berhasil sesukses Ali Tanjung di dunia bisnis hitam. Kata anak buahmu kau ingin meledakkan tempat ini setelah memberi mereka dana pensiun, itu betul?” tanya Fahri.
“Aku datang memang hanya untuk bicara agar warga Blok 7 tidak diganggu, keinginan ku telah terpenuhi. Aku sama sekali tak mau mencampuri urusanmu dan aku berjanji akan menyimpan rahasia Blok 3,” ujar Fahri
“Nanti kau harus ke rumahku di Jakarta untuk kenalan dengan anak dan istriku, sekaligus aku mau belajar islam. Ini nomor ponselku, ini kartu akses ruang sekaligus helikopter dan ini remote bom gedung, ledakan setelah kau pergi. Aku pergi duluan dengan helikopterku,” ujar Stevano.
Kedua sahabat itu saling berpelukan lalu berpisah. Setelah itu Fahri segera menjemput Dini.
Fahri membuka pintu terkunci di tempat Dini Berada, tiba-tiba sebuah kursi menghantam badan Fahri hingga kusri itu terpental, orang itu berusaha mencari kursi lain untuk memukulnya lagi, tapi Fahri menangkap tangannya.
“Dini! Ini aku, Fahri!” teriak Fahri sambil melepas tangan Dini.
Dini kaget, ia kira orang yang masuk adalah penjahat Blok 3. Kini Dini menjadi tenang, saking senangnya melihat Fahri yang menyelamatkannya ia hampir memeluk Fahri, tapi Fahri cepat menahannya dan langsung mengajaknya keluar, “Ayo cepat! Gedung ini mau meledak!” teriak Fahri berusaha terlihat panik agar Dini tidak malu.
Dini memang malu. Ia terlalu senang bisa selamat, padahal ia juga bukan pererempuan yang terbiasa bersentuhan dengan laki-laki. Dini berasal dari linkungan keluarga yang taat pada agama seperti Fahri, walau ia belum bisa setaat orang tuanya, salah satunya soal hijab.
“Fahri, terimakasih ya,” ujar Dini di helikopter.
“Alhamdulillah. Maaf ya aku enggak jawab telepon kamu, aku…”
“Ngambek?” canda Dini.
“Masak ditolak aja ngambek?” sahut Fahri.
“Ih, emang aku pernah bilang nolak atau nerima? Ternyata payah jagoan kita,” ujar Dini.
__ADS_1
“Enggak penting dibahas, sebentar lagi kamu jadi istri sahabatku kan?” kata Fahri.
“Hah? Oh.. hahaha, ngambek karena aku diantar pulang Daud Haris?” tanya Dini.
“Kalo ngambek masa sekarang aku antar pulang?” tanya Fahri.
“Cemburu?” tanya Dini.
“Masak cemburu sama calon istri sahabat sendiri?” tanya Fahri.
“Siapa yang bilang mau nikah sama dia sih?” tanya Dini.
“Calon suami kamu lah,” sahut Fahri.
“Hah, calon suami apaain, sih? Emang Daud ngomong apa ke kamu?” tanya Dini.
“Minta doain supaya lancar, insyaAllah undangan kalian segera dicetak, gitu katanya,” adu Fahri.
“Hahaha, oh Daud ngarep ternyata, pantesan dia ngajak ketemuan berdua terus, ternyata punya misi cetak undangan. Terus pilih mundur kalo sahabat kamu juga suka?” tanya Dini.
“Tadi niatnya begitu, tapi sayang juga kalo dilepas, orang seperti Dini Tanjung, cantik, pinter, pejuang pula, enggak banyak diproduksi di zaman ini,” sahut Fahri.
“Hahaha, colongan ngerayu, serius mau saingan sama sahabat sendiri?” tanya Dini.
“Peluangnya lebih besar siapa?” tanya Fahri.
“Pedekate dulu Bang Fahri, kita lihat siapa yang bisa bikin hati aku lumer,” saran Dini.
“Masih kurang? Saingan berat ku pasti lagi enak-enakan tidur saat pujaan hatinya ditangkap penjahat,” ujar Fahri.
“Ya, kan dia enggak tau,” sahut Dini.
“Kenapa kamu enggak kasih tau?” tanya Fahri.
“Enggak lah, emang dia siapa? Cuma kamu doang yang aku kasih tau,” sahut Dini.
“Serius? Kenapa?” tanya Fahri.
“Karena cuma wajah Bang Fahri yang satu-satunya singgah di kepalaku,” ujar Dini.
Fahri merasa kepalanya tiba-tiba membesar seperti balon udara.
“Cieeee, ge-er ya Bang? Awas tetap konsen sama helikopter, jangan sampai nyemplung ke laut!” canda Dini.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1