
“Maaf Pak Ali, Pak Presiden Anggito, saya kurang setuju dengan pendapat Pak Ali. Jika rencana pemindahan warga rusun dihentikan, artinya pemerintah kita ini sangat lemah, mudah didikte oleh segelintir orang yang mau menghambat kemajuan bangsa,” ujar Rizal Salman pada Ali Tanjung dan Presiden Anggito Suryo di Istana Negara Bandar Lampung.
“Kemajuan bangsa? Rizal, cara kamu mindahin orang-orang miskin itu, tidak beda dengan orang yang menyembunyikan sampah ke kolong karpet. Masalah itu harus diatasi bukan disembunyikan, kalo masalah kamu timbun terus, nanti jadi gunung, bisa longsor nanti. Satu lagi, Rizal, kamu sebagai orang partai pendukung pemerintah seharusnya menyelamatkan trust rakyat pada presiden kita, bukan malah membenturkan Presiden ke rakyat! Rakyat yang protes itu, membutuhkan perhatian pemerintah, bukan sedang mendikte,” ujar Ali Tanjung.
“Ya sudah, saya rasa masalah ini tidak bisa dibicarakan cuma oleh kita bertiga, harus dibawa ke rapat kerja kabinet, karena terkait dengan kewenangan banyak departemen, parlemen juga harus diajak bicara, jadi untuk sementara kita selesai dulu, soalnya saya juga punya janji membicarakan hal penting dengan Daud Haris,” sahut Presiden Anggito, kemudian ia memanggil staffnya, “Daud sudah datang?”
“Sudah menunggu di Ruang Prambanan sejak satu jam yang lalu, Pak Presiden,” sahut seorang staff kepresidenan.
“Oh iya, kalau begitu saya segera ke sana,” pinta Presiden Anggito pada staffnya.
“Oke, saya pamit, Pak Presiden, Rizal, sampai nanti, assalamualaikum.” ujar Ali Tanjung, setelah bersalaman ia meninggalkan ruangan.
Rizal masih ingin bicara pada presiden, tapi ia menunggu sampai Ali Tanjung benar-benar sudah menjauh.
“Ali Tanjung itu pengusaha tulen, dia belum pernah jadi orang politik, makanya dia enggak paham, rakyat itu bukan seperti karyawan yang gampang diatur,” hasut Rizal.
“Justru karena itu saya butuh dia! Selama ini saya cuma dengerin kamu dan orang-orang lain di sekitar saya yang enggak jauh beda sama kamu, kalian kebanyakan main kayu, rakyat keseringan dipukul lama-lama jadi kebal. Bener tadi kata Pak Ali, kamu ngebenturin saya terus sama rakyat, padahal mereka cuma minta sedikit perhatian,” sindir Presiden Anggito Suryo.
Wajah Rizal Salman langsung memerah, “Pak Presiden, saya cuma mengingatkan, politik itu perlu ongkos besar dan martir! Ali Tanjung tidak pernah punya kontribusi untuk membawa Pak Presiden ke kursi yang sekarang bapak duduki hingga bertahan sampai 2 periode. Tolong bapak ingat, dia ada di mana waktu ada demonstrasi besar saat itu? Siapa yang selama ini habis-habisan berkelahi untuk Pak Presiden? Bahkan saat jatah periode ini akan berakhir, kami masih setia berkelahi di parlemen dan di medianya untuk mengamandemen undang-undang, cuma kami yang mau berjuang supaya batas masa jabatan presiden dicabut!”
“Zal, tenang saja lah! Saya tahu siapa kawan dan siapa lawan. Maksud saya, memang ada beberapa hal positif yang bisa kita ambil dari Ali Tanjung,” ujar Presiden Anggito menenangkan Rizal Salman.
“Saya percaya Pak Presiden tahu siapa kawan dan siapa lawan, tapi bapak lupa, kita kini punya calon lawan yang sekarang masih berkawan,” sahut Rizal Salman.
“Maksud kamu?” Tanya Presiden Anggito.
“Bapak sedang membesarkan calon lawan, Ali tanjung punya segalanya kecuali kesadaran rakyat, bahwa dia punya potensi untuk memimpin negara. Bapak tidak sadar telah memberi karpet merah untuk dia, padahal dia bukan bagian dari kita dan dia tidak pernah sepemikiran dengan kita,” hasut Rizal Salman.
“Ali Tanjung tidak punya ambisi politik, kamu pasti tahu,” sahut Presiden Anggito.
“Betul, tapi dia bisa memberikan tongkat etafet popularitasnya ke Andi Permana. Jangan membangunkan macan tidur, bagaimana jika Andi Permana tertarik kembali terjun ke dunia politik? Semoga bapak juga tidak lupa, lawan-lawan politik kita sangat dekat dengan Andi Permana, habis lah kita nanti! Dosa-dosa politik kita saat menghantam mereka dan mencari ongkos politik yang mahal ini akan dibongkar semua, setelah kekuasaan tidak di tangan kita. Jika bapak terus memelihara Ali Tanjung, artinya kita sedang menggali kuburan kita sendiri,” ancam Rizal Salman.
Kini wajah Presiden Anggito Suryo ikut memerah, ia baru sadar kenapa Rizal Salman selalu menentang Menteri pilihannya itu.
*****
__ADS_1
Fahri berlomba dengan waktu, ia harus mendahului para pembunuh bayaran profesional dari Blok 3, sebelum mereka mendapat perintah untuk menghabisi warga Blok 7. Urusan patah hatinya pada Dini tidak punya ruang di otaknya untuk saat ini, melalui internet ia mencari informasi tentang calon lawannya.
Mencari informasi tentang Blok 3 tidak mudah, tapi Fahri tahu cara menemukan para pelaku kriminal tingkat kejahatan berat itu. Mereka tidak berada di jalur internet publik, oleh karena itu, Fahri menggunakan pintu lain untuk masuk ke dunia mereka, Deep Web.
Deep Web secara sederhana adalah semacam semesta lain dari dunia internet yang keberadaan tidak diketahui pengguna internet biasa. Semesta Deep Web tidak bertuan, tidak berpenjaga dan tidak aman juga pastinya, tetapi merupakan surga bagi pengguna internet yang punya kemampuan khusus yang punya tujuan baik ataupun buruk. Bagain semesta Deep Web yang di huni oleh orang-orang yang punya tujuan buruk dikenal dengan istilah Dark Web, yaitu tempat situs-situs berbahaya seperti situs perdagangan senjata, narkoba, organ tubuh manusia, hingga mengajarkan ideologi terlarang.
Kini Fahri berselancar di semesta Dark Web, ia memunguti informasi yang dapat membawanya bertemu dengan calon lawannya, ternyata Blok 3 sangat terkenal, banyak situs hitam yang bicara tentang Blok 3, bahkan situs-situs berbahasa asing. Akhirnya Fahri sampai juga ke rumah calon lawannya, ternyata Blok 3 memiliki semacam situs resmi.
Situs resmi Blok 3 membuat Fahri geleng-geleng kepala, siapapun pemiliknya, dia punya cara bisnis yang uptodate terhadap perubahan zaman. Mereka membuat situs e-commerce marketplace seperti milik Ali Tanjung, tetapi khusus barang dan jasa terlarang. Fahri tertawa sekaligus ngeri, situs ini mengumpulkan pedagang dan penawar jasa hal-hal mengerikan seperti mengumpulkan pedagang baju saja, sebuah langkah mainstream yang antimainstream untuk pelaku dunia kejahatan yang biasanya tertutup, sedikit perbedaan web marketplace para penjahat ini adalah transaksi dan pengambilan barang harus dilakukan secara langsung di kantor atau toko fisik mereka yang Fahri duga seharusnya berada di gedung Blok 3, sesuai nama situsnya.
Fahri penasaran ingin tahu apakah dugaannya benar. Ia mengikuti langkah seperti ingin membeli sesuatu. Ia menyusuri kategori ‘senjata - assault rifle - M16’, muncul banyak foto M16. Fahri memilih salah satu, kemudian muncul spesifikasi senjata, harga dan alamat toko, yaitu CTB3-F4-201. Ternyata alamat toko hanya berupa kode.
Fahri penasaran, ia membanding kode alamat tersebut dengan kode milik toko yang lain, ternyata semua toko memiliki kode awal yang sama, akhirnya ia berhasil memecahkan kode yang tidak terlalu sulit itu.
Dugaan Fahri tidak meleset, semua pemain bisnis haram ini berada di Blok 3. CT adalah Ciawi Tower, B3 adalah Blok 3, F4 adalah lantai 4 dan 201 adalah nomor unit. Situs ini hanya katalog, bisnis mereka lakukan secara langsung di gedung Blok 3. Fahri paham, ternyata gedung Blok 3 adalah semacam pusat grosir atau mall dunia kriminal. Pantas saja, menurut para warga banyak mobil mewah yang datang ke gedung kumuh itu dan tak jarang penumpangnya Warga Negara Asing.
Blok 3 berarti lebih berbahaya dari yang ku duga. Kalau penguasa gedung mampu mengumpulkan para mafia untuk ngantor di sana, penguasa Blok3 itu berarti bapaknya mafia! Pasti enggak gampang untuk masuk ke sana, tapi bukankah seharusnya mafia Blok 3 punya kepentingan yang sama dengan warga rusun jika tempat ini digusur? Hmm mungkinkah para penjahat itu bisa diajak bicara?
*****
Di depan Dini para staff redaksi ramai membahas aksi-aksi penolakan susulan dari warga rumah susun lain setelah kejadian kemarin..
“Jadi bagaimana Mbak Dini?” tanya Dea, seorang reporter.
Dini diam, pikirannya masih terkunci pada Fahri.
“Mbak Dini?” panggil Dea lagi lebih keras.
“Oh.... iya.... kenapa, Dea?” sahut Dini kaget.
“Iya mbak, jadi? Undang Fahri Hussein sebagai narsum di talkshow Mbak Dini?” ulang Dea.
__ADS_1
“Oh itu. Hmm Fahri belum mau tampil untuk media,” jawab Dini.
“Fahri Hussein itu bukannya sekuriti kantor kita ya, Mbak?” tanya Rahmad, campers yang diajak Dini ke Ciawi.
“Iya, tapi sekarang udah jadi asisten Abi di Mind Group,” jawab Dini.
“Oh Fahri yang sekuriti kita itu? Emang terlalu ganteng untuk jadi anak buah Pak Diding,” ujar Dea.
“Wah lompatan karirnya gila banget. Kalo udah jadi asisten bapak sih, boleh juga tuh,“ sambut Vee.
“Hahaha, dasar lo! Suka harus liat status dulu! Bukan cuma ganteng, aku udah beberapa kali iseng-iseng ngajak ngobrol di depan, wuiiih gila banget wawasannya,” kata Lana.
“Iseng-iseng apa lagi pedekate?” tanya Rini.
“Sekalian lah, hahaha,” jawab Lana.
“Woy! ini mbak-mbak repoter yang cantik-cantik kenapa jadi ngomongin laki? tanya Rahmad risih.
“Selingan dikit kenapa sih? Mbak Dini aja santai. Sebel ya? Lu enggak diomongin, hahaha.” sahut Lana.
“Iya sih, hehe,” jawab Rahmad.
Dini hanya tertawa kecil mendengar percakapan anak buahnya, ia baru tahu ternyata Fahri punya banyak penggemar di kantornya. Jangankan mereka, Dini sendiri pernah melingkari wajah Fahri di foto, ia jadi teringat saat Fahri melihat foto itu semalam.
Malam kemarin, ia sangat nyaman berada di dekat Fahri dan warga rusun. Duduk lesehan mengitari api unggun di tengah-tengah orang-orang yang sangat akrab satu dengan yang lainnya, mendengar gurauan remaja asuhan Fahri yang membuatnya berkali-kali tertawa lepas, semua itu membuatnya kangen mengulangi suasana semalam. Ada rasa penyesalan, andai saja ia menolak permintaan Daud Haris, yang katanya punya informasi penting untuk disampaikan sambil mengantar Dini pulang.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1