
Malam hari usai pertempuran para warga Blok 7 dan tetangga menikmati kemenangan di halaman Blok 7 dengan lesehan mengelilingi api unggun. Para tetangga membawakan makanan, minuman dan obat-obat luka. Mereka berterimakasih karena warga Blok 7 telah mewakili penolakan yang tidak berani mereka sampaikan.
Fahri yakin Ormas Barisan Macan Rakyat sudah tamat, kini ia kuatir pada para pembunuh profesional yang tinggal di Blok 3, tapi ia menyingkirkan perasaan itu untuk sementara, karena dalam situasi seperti ini Rizal Salman selalu menunggu, ia tidak pernah konyol mengirim tukang jagal saat suasana masih hangat.
Para warga puas dengan kemenangan hari ini, mereka bercerita pengalaman tadi siang sambil bergurau. Walau tampak santai, Fahri tetap waspada, sejak tadi diam-diam matanya terus memperhatikan sosok perempuan yang mengenakan jaket bertudung dan masker yang ikut berbaur dengan warga. Ia yakin perempuan ini bukan warga rusun.
"Bukan cuma orang ormas, wartawan juga Gilang kasih kopi supaya mules, abisannya kaga ada yang dari Mak Nyus sih, Bang Fahri! Kalo wartawan lain mah nyalahin orang kecil kaya kita melulu," ujar Gilang.
"MNews, Lang, bukan Mak Nyus norak! Lidah lu kaga bisa nekuk, makanya sekali-kali jajalin makan keju," ledek Emi.
“Ah kuping lu aja yang sinyalnya lemah! Bang Fahri aja kaga protes.” balas Gilang.
“Emang cara kamu bedainnya gimana? Tau-tauan enggak ada MNews,“ tanya Fahri.
“Seragamnya, Bang! Pokoknya siapapun yang ngerekam, mau pake kamera, mau pake handphone pasti wartawan, Gilang tawarin kopi aja, bodo amat! Eh semuanya pada mau lagi, hahaha.” ujar Gilang.
Dini berdiri, lalu membuka tudung jaket dan maskernya, "gara-gara minuman kamu, kameraman saya yang enggak pake seragam harus pulang karena sakit perut sampai lemas, hahaha. Boleh enggak saya bicara dengan pahlawan kita hari ini?" tanya Dini pada warga.
Fahri dan para warga terkejut dengan kehadiran Dini Tanjung di tengah-tengah mereka, para ibu-ibu dan fans Dini langsung menyerbunya untuk berfoto.
Setelah memberi waktu yang cukup lama, Pak Ruslan memberi kode pada warga agar memberi kesempatan Dini bicara dengan Fahri, untungnya warga pandai menangkap kode itu, mereka satu-persatu menjauh.
Setelah tidak ada warga yang mendekatinya lagi, Dini duduk di sebelah Fahri.
“Bu Dini, kenapa Ibu langsung yang datang? Untung Ibu enggak kenapa-napa,” tanya Fahri.
“Biar bisa melihat langsung aksi Bang Fahri, Abang sendiri enggak kenapa-napa, Bang?” canda Dini.
“Hahaha, iya-iya ‘Dini’ enggak pake ‘Ibu’. Ya begini deh kondisi kami. Kalo terus dibiarkan, lama-lama Rizal Salman akan membuang kami ke laut,” ujar Fahri.
“Kalimat itu harus didengar banyak orang, kita ngomongin ini yuk di talkshow aku, kamu mau? tanya Dini.
“Hmm, aku enggak nyaman terlihat di depan publik luas apalagi tampil di media,” sahut Fahri.
“Karena kamu sedang sembunyi, kan?” tanya Dini.
__ADS_1
“Sembunyi?” tanya Fahri lagi.
“Iya, apa sih yang membuat Mayor Fahri Hussein sembunyi? Komandan pasukan elit terhebat di negeri ini, Pasukan T7.” Ucapan Dini membuat Fahri terkejut.
“Kok kamu bisa tahu?” tanya Fahri heran.
Dini tertawa, “seorang petugas keamanan kantor menguasai 5 bahasa asing, masuk jaringan server milik perusahaan besar tanpa kesulitan. Hmm, kalo itu tidak membuatku bertanya, sebaiknya aku pensiun aja jadi jurnalis.”
“Hahaha, oke, terus kamu dapat jawabannya dari mana? Aku sudah menghapus semua jejak informasi digital tentang keberadaanku,”tanya Fahri.
Dini mengeluarkan buku agenda dari ranselnya, “kamu bisa hapus ini?” tanya Dini sambil membuka lembaran buku catatannya. “Coba lihat halaman yang kutandai,” pinta Dini sambil memberikan buku tersebut.
Fahri melihat buku agenda tersebut. Dini menulis lengkap segala informasi penting tentang Pasukan T7, ada 2 nama yang diberi lingkaran dan tanda tanya.
“Dua manusia hebat ini mendadak hilang. Saat aku punya kesempatan bertanya pada Mayjen Priyo Hartono tentang keberadaan kamu dan Stevano, dia bilang kalian sedang menjalani pendidikan khusus. Tapi aku enggak percaya, seharusnya jika menjalani pendidikan khusus, karir kalian akan semakin bersinar, sebaliknya aku tidak pernah mendengar nama kalian lagi di kesatuan manapun,” ujar Dini.
“Ternyata dalam juga juga perhatian kamu pada Pasukan T7,” ujar Fahri sambil membolak-balik halaman selanjutnya.
“Jangan dibuka!” ujar Dini panik.
“Hahaha, semalam aku baru sadar, ternyata dulu kita pernah foto bareng. Jangan ge-er ya! Namanya juga dulu masih abege. Ih Fahri! Kamu sih, main buka-buka aja! Bukannya izin dulu!” omel Dini menutupi rasa malunya.
Memang sulit untuk tidak ge-er, seorang Dini Tanjung yang ia sukai melingkari wajahnya dengan kurva berbentuk hati. Fahri segera menenangkan Dini dengan menunjukkan bahwa ia juga melakukan hal konyol.
“Jangan Ge-er juga ya, soalnya aku juga punya foto itu,” kata Fahri sambil mengambil sesuatu dari dompetnya. Dini langsung tertawa melihat kertas foto yang sangat kecil, ternyata Fahri menggunting foto tersebut seolah mereka foto hanya berdua.
Mereka tertawa sambil memandangi orang-orang di sekitar api unggun yang asik bergurau.
“Kamu mau cerita? Kenapa kamu keluar dari militer?” tanya Dini.
“Ini pertanyaan seorang jurnalis?” Tanya Fahri.
“Pertanyaan seorang teman, aku akan merahasiakannya, kalo itu yang terbaik buat kamu,” jawab Dini.
“Aku menolak tugas yang tidak sesuai dengan hati nuraniku, aku dipecat dan dihukum 2 tahun di penjara militer,” jawab Fahri.
__ADS_1
“MasyaAllah, kamu memang seorang pejuang, Fahri. Mudah-mudahan Allah akan mengembalikan sesuatu yang pantas kamu dapatkan,” ujar Dini kagum.
Tiba-tiba Fahri mendapat keberanian untuk mengutarakan isi hatinya.
“Aamiin, semoga setelah pantas, aku juga bisa mendapatkan sesuatu yang paling ku inginkan?” Tanya Fahri.
“Apa sih yang paling kamu inginkan?” Tanya Dini.
“Punya calon istri yang juga seorang pejuang, makanya fotonya ku taro didompet, dari dulu aku selalu berharap suatu hari bisa mengatakan ini di depannya,” ujar Fahri sambil menatap Dini.
Dini terkejut, ia tidak menyangka Fahri ternyata punya perasaan khusus padanya. Walaupun ia pernah melingkari wajah Fahri di foto tetapi itu hanya ketertarikan fisik saat ia masih muda. Kondisinya sudah berbeda, sekarang ia bingung menanggapi pernyataan jujur Fahri.
Tiba-tiba sebuah mobil mewah memasuki halaman gedung Blok 7, beberapa anak muda langsung mendekati mobil itu, Fahri pun berdiri, situasi ini menyelamatkan Dini dari keharusan untuk menanggapi isi hati Fahri.
Daud Haris keluar dari mobil mewah itu, kini giliran Daud yang diserbu para penggemarnya. Fahri sangat senang Daud akhirnya mengunjungi tempatnya, ia langsung menghampiri dan memeluk Daud.
“Ri, besok gue mau ketemu Presiden Anggito Suryo, lu dan warga sini banyakin berdoa, mudah-mudahan suara gue di denger presiden. Gue denger tadi sempet rame di sini, kalian baik-baik aja, kan?” tanya Daud sambil melirik Dini yang sedang diajak bicara oleh seorang warga.
“Alhamdulillah, makasih banget lu mau ngunjungin gue. Mudah-mudahan dengan kunjungan lu, warga jadi merasa lebih tenang, tolong kasih sepenggal kalimat sambutan ke warga, mereka pasti mau denger lu ngomong,” pinta Fahri.
Daud menyanggupi permintaan Fahri, dia langsung bicara dengan lantang pada warga yang mengerumuninya, “Warga Rusun Ciawi, khususnya warga Blok 7 dan semua orang di sini yang saya hormati, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh! Sebagaimana permintaan Fahri, saya berjanji akan berusaha sekuat tenaga mengemban amanah yang tidak ringan ini. Kita harus semangat memperjuangkan hak-hak kita! Tapi saya perlu mengingatkan, bahwa apa pun hasilnya, entah itu baik atau buruk, semua itu merupakan kehendak Tuhan yang akan kita terima dengan rasa sabar dan tawakal. Sekali lagi para warga Rusun Ciawi, mari berjuang! Usahakan tetap tenang, jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan kita sendiri dan utamakan jalur hukum. Terima kasih! Maaf saya cuma bisa mampir sebentar, kalo ada yang mau disampaikan, nanti bisa melalui Fahri, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Setelah bicara pada warga Daud melambai pada Dini, lalu berbisik pada Fahri, “Ri, gue mau antar pulang ibu cantik yang satu itu dulu ya, terimakasih udah lu jagain, tolong doain supaya lancar, biar undangan kami bisa segera dicetak.”
Fahri merasa bagai tersengat listrik, tubuhnya lemas. satu-satunya perempuan yang mengisi hatinya ternyata akan menikah dengan sahabatnya sendiri. Rupanya malam ini adalah malam kemenangan sekaligus kekalahannya.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
__ADS_1
Penulis, Indra W