
“Sam! Lu ladeni mereka, gue harus keluar dari gedung ini untuk menyandera tokoh-tokoh di gedung sebelah sebelum tentara dan polisi ke sini,” usul Gulva.
“Oke! Farhat, kita berpencar agar masing-masing mendapat satu musuh, biar Gulva bisa menjalankan tugasnya,” perintah Samuel.
Gulva berlari menuju arah belakang Samuel dan Gulva yang menahan Fahri dan Stevano. Setelah Gulva menghilang, 2 tentara ini langsung berpencar.
Samuel yang berlari menuju kanan gedung di kejar Fahri dan Farhat yang berlari ke kiri gedung dikejar Stevano. Mereka berlari sambil bergantian melepas tembakan.
Fahri mencari Samuel yang mendadak hilang sebuah ruang kantor. Tiba-tiba peluru-peluru menghampiri Fahri, untungnya ia cepat menghindar. Kini gantian Samuel yang mencari Fahri, tiba-tiba Samuel menemukan pantulan badan Fahri di salah satu kaca. Keduanya saling menatap dari pantulan kaca.
“Apa kabar, kawan?” teriak Samuel.
“Sammy! Kabarku tidak seburuk kabarmu, kawan!” teriak Fahri dari tempat persembunyiannya.
“Hahaha, siapa bilang? Kau pikir kau sudah menang? Sudahlah mari kita keluar dari tempat persembunyian masing-masing, sudah lama aku tidak melihat wujudmu,” ajak Samuel.
“Aku pernah jadi komandanmu, Sam! Aku hafal kelakuanmu, kau tidak punya beban untuk menembak orang yang mempercayaimu,” ujar Fahri tetap bersembunyi.
“Hahaha, kau memang pandai mengukur musuhmu! Oke, aku buang senjata larasku ke tempatmu, bisa kita berhadapan sekarang?” tanya Sammy sambil membuang senjatanya jauh-jauh.
“Tapi pistol dipinggangmu belum kau buang, Sam!” ujar Fahri.
“Ah, kau tahu aja, hahaha. Oke, ini pistolku, aku buang sekarang,” sahut Samuel sambil melempar pistolnya jauh-jauh.
“Sekarang aku punya senjata, dan kau tidak, Sam. Kau kalah!” ujar Fahri.
“Kau pun juga pernah jadi komandanku, Fahri. Mana tega kau menembak orang tak berdaya? Kau memang seharusnya kerja di dinas sosial, ketimbang memimpin pasukan terhebat di negeri ini,” ujar Samuel sambil keluar dari tempat persembunyiannya.
Fahri keluar dari tempat persembunyiannya sambil membidik Samuel dengan senjatanya. Samuel tertawa.
DORRR!!! Fahri menembak Samuel.
Samuel terkejut. Tapi ternyata Fahri telah mengukur tembakan itu untuk meleset beberapa centi menter dari kepala Samuel, setelah itu Fahri membuang senjatanya jauh-jauh.
“Kau benar, Sam! Tembakanku meleset, aku memang lebih cocok kerja di dinas sosial,” sahut Fahri.
Samuel tertawa, tanpa disangka-sangka ia dengan cepat mengambil pisau bayonet dari sepatunya dan melemparnya ke arah jantung Fahri, untungnya Fahri cepat menghindar sehingga pisau itu hanya menancap ke dinding yang terbuat dari gipsum.
“Hahaha, reflekmu masih bagus, Fahri!” ujar Samuel.
“Gaya khas mu juga masih belum hilang,” sahut Fahri.
Dua kawan lama ini saling mendekat.
“Tentunya kau tidak ingin mengajakku berpelukan, bukan?” tanya Fahri.
“Hahaha, bukannya enggak kangen, tapi aku sejujurnya agak sakit hati karena tadi kau bohongi. Luar biasa tukang servis elektronik ini berhasil menipuku sehingga salah gedung,” ejek Samuel.
__ADS_1
“Ah kau terlalu senang memuji. Lain kali sebaiknya kau sewa tukang ojek untuk mengantar, biar tak salah alamat,” balas Fahri.
“Hahaha, panitia reuni Pasukan 7 tak bilang, kalau kau juga di undang. Fahri, bersedia sedikit cari keringat? Dulu kau pernah mengalahkanku duel, aku ingin memperbaiki catatan kekalahanku itu,” tanya Samuel.
“Ah, itu bukan satu-satunya catatan kekalahanmu. Sebetulnya Stevano juga hampir mengalahkanmu juga, tapi kau mencuri kesempatan dengan menghajarnya di titik fatal saat ia bersedia menyambut tanganmu untuk berdiri,” ujar fahri.
“Ya, ku akui, saat itu kemampuan berkelahi kau dan Stevano memang lebih baik, tapi itu kan dulu. O iya, aku pernah lihat kau menghajar musuh dengan pukulan tenaga dalammu saat kita masih bertempur bersama, ku harap kau bersedia menggunakan itu untuk menghadapiku,” ujar Samuel sambil menekan tabung besi pemadam kebakaran.
Dari jari-jari tangan Samuel tampak asap, tabung besi itu jadi berlubang dan bocor.
“Wow! Bagaimana cara membuat suhu sepanas itu tanpa jarimu terbakar? Boleh juga, bisa untuk merebus telur?” canda Fahri.
“Hahaha, aku selalu suka selera humormu, Fahri. Bagaimana jika kita buat sedikit lubang di dadamu, mungkin kau ingin mencicipi jantung rebus?” tanya Samuel.
“Ah, kau ini, kalau punya bakat bagus, kenapa selalu harus digunakan untuk hal jelek? Kita bisa bikin usaha bersama servis elektronik, bukan? Tangan kau bisa membantuku menyolder perangkat elektronik yang rusak,” ujar Fahri.
“Hahaha. Sebenarnya aku masih menikmati obrolan ini, tapi sayangnya aku harus berpacu dengan waktu. Fahri, lihat itu! Rupanya duel kita ini juga akan disiarkan MNews. Nanti aku akan minta pendapatan iklan dari tayangan ini untuk memperindah kuburanmu, jangan kuatir!” ejek Samuel.
“Kau ternyata bisa menjadi kawan yang baik, ku pikir tak ada hal baik yang bisa kuharapkan darimu,” ujar Fahri.
“Hahaha, oke siap?” tanya Samuel.
“Kau tunggu apa lagi?” tantang Fahri.
*****
Gulva menyalakan mesin motor dan memacu motor trailnya menuju lantai 20 melalui tangga-tangga eskalator. Kemudian, ia mengeluarkan senjata berat untuk membolongkan kaca tebal gedung tower 2 dan tower 1, yang berada di seberang.
DUARRRR!!! DUARRR!!! DUARRRR!!! DUARRR!!!
kaca-kaca berhamburan, dua gedung yang saling berhadapan sudah bolong.
Gulva memutar motornya untuk mencari landasan dan memberi kecepatan yang cukup untuk menyeberangi gedung.
BRRUMMMM!!! BRUMMMM!!
Suara raungan motor trail Gulva memekakkan telinga, ia memacu motor sekencang-kencangnya melompati gedung.
Gulva berhasil! Orang-orang di gedung tower 1 lantai 20 melongo menyaksikan motor terbang dari gedung seberang.
*****
__ADS_1
Farhat dan Stevano telah berada di lantai dasar gedung. Farhat melirik beberapa mobil yang parkir di dekat lobby gedung, ia berpikir untuk membawa mobil itu menuju airport kecil di Mind Park, karena ia tahu ada 3 pesawat tempur yang parkir MiG di sana.
Farhat menghujani Stevano dengan peluru, kemudian melempar granat agar punya waktu cukup untuk menguasai mobil di dekat lobby gedung.
DUARRR!!!! Granat meledak, untungnya Stevano sudah melompat mundur sejauh-jauhnya saat Farhat mengayunkan granatnya.
Saat ledakan dan asap menghilang Stevano mendengar suara mesin mobil.
BRUMMM!!! CIIIIIT!!!! Farhat telah berada di salah satu mobil sport dan kabur darinya. Stevano langsung mengambil mobil sport lainnya untuk mengejar Farhat.
Lokasi Mind Park yang kosong kini menjadi arena balap liar di tengah kota antara mobil Farhat dan Stevano.
Farhat tidak hanya tangkas di udara, di jalanan ia juga mampu membuat gerakan ekstrim yang tidak mungkin diikuti lawan, tetapi karena lawannya adalah Stevano, maka ia mendapatkan musuh seimbang, bahkan jika nanti mereka berhadapan di udara. Farhat dan Stevano adalah 2 anggota pasukan T7 yang paling ahli menggunakan pesawat tempur.
Farhat berkali-kali berusaha menjebak Stevano, ia sengaja memilih jalan yang tidak terduga untuk diikuti dalam kecepatan tinggi agar mobil Stevano tertinggal, tetapi Stevano tetap mampu membaca pilihan jalan yang dilalui Farhat.
Kini Farhat ingin menguji nyali Stevano. Farhat menembus sebuah gedung besar yang di dalamnya terdapat banyak cafe, dengan kecepatan tinggi ia menabrak kaca gedung dan menghindari tiang-tiang bangunan serta memilih furniture yang bisa ia tabrak tanpa menghentikan mobilnya.
Farhat melihat dari spion mobil, ternyata mobil Stevano juga mampu melakukan hal yang dilakukannya, mobil Stevano sama sekali tidak terperangkap di antara furniture-furniture café tersebut.
Akhirnya mobil Farhat keluar dari bangunan tersebut. Farhat terus memacu mobilnya meninggalkan mobil Stevano, ia melihat di depan sana ada sebuah underpass, mobil memasukinya, setelah ia merasa punya jarak yang cukup, ia berputar 180 derajat.
Mobil Stevano telah memasuki underpass dengan kecepatan tinggi, ia melihat mobil Farhat menuju ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
Mobil Farhat dan Stevano saling berhadapan, sebentar lagi nobil mereka akan bertabrakan jika sama-sama tidak mau bergeser dari tengah jalan, tetapi keduanya tidak ada yang mau bergeser atau mengurangi kecepatan, padahal mobil mereka sudah semakin dekat. Hanya dalam waktu sepersekian detik keduanya baru sama-sama bergeser, untungnya pilihan jalur mereka tidak sama sehingga mobil mereka tidak hancur karena tabrakan.
Tapi kondisi tadi membuat selisih jarak antara kedua mobil menjadi cukup jauh. Stevano perlu memutar mobilnya, sementara Farhat telah semakin menjauh dan menghilang.
Stevano tahu Farhat pasti menuju airport Mind Group, ia langsung menuju ke sana untuk mengejar Farhat
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1