Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Reuni Pasukan T7 - part 7


__ADS_3

Fahri sebenarnya sangat diharapkan para mahasiswa dan rakyat Indonesia untuk punya peran penting di pemerintahan, tetapi ia menolak berbagai jabatan tinggi dan penting yang ditawarkan padanya, yaitu menjadi KASAD jika ia mau kembali ke dunia militer, menjadi menteri pertahanan, bahkan sempat di usulkan parlemen menjadi wakil presiden mendampingi Budi Raharjo walau usianya belum cukup. Rupanya Fahri lebih tertarik untuk memiliki perusahaan sendiri, ia bersama Erlangga Yusuf, tokoh Al Kahfi, akan membuat perusahaan pengembangan teknologi.


*****


________________________


Yayasan Al Kahfi, Jakarta, 2040


Fahri janjian bertemu dengan Dini sore hari di danau dekat rumah kotak, Yayasan Al Kahfi. Ia datang lebih awal untuk mengenal tempat yang sebentar lagi akan menjadi kantornya karena Erlangga Yusuf akan membangun sebuah kantor untuk perusahaannya dengan Fahri di bagian danau yang lain.


Setelah berkeliling Yayasan Al Kahfi dan berkenalan dengan orang-orang yang berada di sini, Fahri duduk tepi danau di dekat rumah kotak untuk menunggu Dini.


"Assalamualaikum," sapa Dini.


"Waalaikumusalam. Dini, kamu? Alhamdulillah," sahut Fahri yang takjub melihat penampilan Dini dengan hijabnya.


"Kamu pasti mau tanya alasanku," tebak Dini.


"Kalau kamu bersedia menceritakannya tentunya," sahut Fahri.


"Aku merenungi ucapan kamu di Pulau Karakas," ujar Dini.


"Itu kan cuma sekedar tanggapan dari orang tak berilmu," sahut Fahri.


"Itu hal yang paling aku suka dari kamu, rendah hati. Sebaliknya hal yang paling membahayakan dari diriku adalah tinggi hati atau sombong pada ilmu. Menurut hasil renunganku ternyata ilmu pengetahuan dan ketaatan itu harus berjalan seiring. Kita semua umumnya sudah sering mendengar tentang kisah terusirnya Iblis, tapi ada detail kisah menarik yang ibrohnya (pelajarannya) aku dapat. Saat Iblis masih bernama Azazil, ia adalah jin yang paling taat pada Allah dan yang paling luas pula ilmu pengetahuannya. Saking taatnya beribadah pada Allah maka derajatnya terus naik hingga ia bisa berada di langit bersama para malaikat. Ketaatan Azazil ternyata terus menaikkan derajatnya hingga menjadi imam para malaikat. Sampai di sini aku tertegun, Azazil sangat luar biasa, di saat itu ia bisa mencapai derajat tertinggi di antara para makhluk lainnya, lalu apa sebabnya kemudian ia bisa terjun bebas mencapai derajat terendah di antara para makhluk lainnya? Ilmu pengetahuannya yang luas tetap ia miliki, tetapi ternyata ia kehilangan ketaatan. Kenapa? Karena Allah memberi perintah yang bertentangan dengan keinginannya, yaitu sujud pada Adam. Sampai di sini aku kembali tertegun. Dari semua makhluk, hanya Azazil yang berani menentang dan mengeluarkan argumen, artinya ia hanya mau taat pada perintah yang ia sukai, tetapi saat perintah itu tidak disenanginya, maka ia menentangnya dengan mengeluarkan dalil-dalil pembenaran berdasarkan ilmu pengetahuannya. Aku tiba-tiba merasa tidak ada bedanya dengan kisah itu. Ketimbang taat, aku malah selalu mencari dalil-dalil pembenaran untuk menentang perintah yang tidak sejalan dengan keinginanku,"


"MasyaAllah, Dini. Oh iya apa kamu tahu, Iblis melakukan dosa, Adam pun melakukan dosa karena melanggar perintah Allah. Lalu kenapa manusia masih diberi kesempatan lagi untuk masuk syurga, sementara Iblis dikutuk selama-lamanya dan tidak diberi kesempatan lagi untuk masuk syurga?" tanya Fahri.


"Yang pernah kubaca, setelah sadar melakukan kesalahan Adam mau minta maaf dan bertobat, sementara Iblis tidak, ia malah semakin menantang dengan berjanji akan menjerumuskan manusia," ujar Dini.


"MasyaAllah, ustadza Dini, sepertinya aku sudah kehabisan kata-kata, kecuali untuk yang satu ini, Dini, izinkan aku untuk menikahi kamu," ucap Fahri.


"Hahaha."


"Yah, kok ketawa sih? Jelek amat ceritanya, kalo kita emang berjodoh, gimana ceritainnya ke anak cucu, nih?" sahut Fahri.


"Hahaha, kalo enggak berjodoh lebih jelek lagi ceritanya, udah ketawain terus di tolak, hahaha."


"Iya juga sih, tahu gini lamarnya pas di hutan Pulau Karakas aja ya, kalo nolak kan bisa ditinggal," ujar Fahri.


"Nah betul, kamu emang lebih ganteng maksimal kalo di tempat-tepat bahaya, cewek mana aja pasti enggak mungkin nolak dilamar kalo lagi lihat aksi kamu,"


"Nasib tukang pukul... Enggak ah, aku lagi mau ganti imej nih, sekarangkan udah jadi pengusaha. Ulang ya, kasih jawaban yang romantis dong,"


"Bang Fahri, kisah romantis itu udah jadi milik pasangan Om Angga dan Tante Widi. Jatah bang Fahri itu, aku ketangkep penjahat, kamu nyelamatin aku, terus kamu pukulin penjahatnya, setelah itu baru kamu lamar aku,"


"Hahaha, apaan sih? Gue ngomong sama bapaknya aja deh, biar dia yang maksa!"


"Hahaha, kok kamu gitu sih? Ya udah, tanggal berapa?" tanya Dini.


"Hah? Hahaha."


"Tuh, sekarang malah kamu yang ketawa."

__ADS_1


"Enggak ah, ulang-ulang," ujar Fahri. Ia berlutut di depan Dini, kemudian memasang wajah serius.


Dini mati-matian menahan tawa melihat Fahri.


"Dini..."


"Hahaha, udah ah! Enggak ada pantes-pantesnya kamu kaya gitu, udah diterima pake di ulang segala," tawa dini pecah sambil mengacak-acak rambut Fahri.


Fahri berdiri kembali sambil tertawa.


"Berarti tinggal ngomong ke Pak Ali sama Ibu, ya," ujar Fahri.


"Abi sama Umi sih seneng banget sama kamu, insyaAllah lancar. Tapi aku mau mengajukan beberapa syarat sama kamu,"


"Mudah-mudahan aku mampu," sahut Fahri.


"Kamu hafal Al Qur'an dan artinya?" tanya Dini.


"InsyaAllah,"


"Bimbing aku untuk mampu melakukannya juga dan jadikan itu tuntunan hidup keluarga kita nanti, bersedia?" tanya Dini.


"InsyaAllah, aku akan berusaha semampuku untuk itu, kuharap kamu juga selalu membantuku agar mampu melaksanakannya," sahut Fahri.


*****


 


 


 


 


Yayasan Al Kahfi, Jakarta, 2040


 


"Masih ingat? 36 tahun yang lalu kita bertiga pernah bertemu di sini," ujar Ali Tanjung.


"Buat kita 36 tahun tapi buat Fahri itu hanya beberapa minggu yang lalu," sahut Erlangga Yusuf.


"Makanya kita bisa bertemu saat rambut kita  dan Fahri masih sama-sama hitam, hahaha," balas Ali Tanjung.


"Rambut memang sama hitam, tapi optimisme mu saat itu lagi jauh di bawah, terutama isi dompetmu, Al. Hahaha," canda Erlangga Yusuf.


"MasyaAllah betul sekali itu! Aku berhutang budi pada Fahri, sebenarnya saat aku pertama kali berjumpa kamu di kantor, aku sudah mengenali kamu, makanya ku ajak ke sini supaya Angga juga melihat kamu," ujar Ali Tanjung pada Fahri.


"Tidak ada hutang budi Pak Ali, semuanya itu qadar Allah," sahut Fahri.


"Aku juga kaget saat melihat kamu, tapi kami harus tetap menjaga rahasia perjalanan lintas waktumu," ujar Erlangga Yusuf.


"Saya punya pertanyaan, Pak Ali masih ingat sesuatu yang saya katakan tentang Bu Soffie?" tanya Fahri.

__ADS_1


"Aku ingat. Angga kau perhatikan tidak, ada garis-garis Soffie di wajah Fahri?" tanya Ali Tanjung.


Erlangga tersenyum penuh arti. "Memang Fahri ini keponakan Soffie, kok," sahut Erlangga.


Fahri dan Ali Tanjung tampak terkejut.


"Hah? Soffie punya saudara kandung?" tanya Ali Tanjung.


"Tepatnya saudara kembar, Soffie dan ibunya Fahri itu kembar. Kau dan Andi kenal kok. Tapi kalo kau ingat jangan sebut namanya di depan Fahri," pinta Erlangga Yusuf.


"Kenapa enggak boleh?" tanya Ali Tanjung.


"Bijaksanalah saat kau mengetahui apa yang tidak orang lain ketahui. Masih ingat itu? Ini soal rahasia lintas waktu, Al," ujar Erlangga Yusuf.


"Pak Erlangga, maaf, tapi saya butuh tahu siapa ayah saya dan dimana keluarga ibu dan ayah saya. Saya mohon Pak Erlangga bersedia memberitahu tentang informasi itu," pinta Fahri.


"Fahri, apa kamu pikir kita cuma bertemu dalam dimensi waktu berbeda saat 36 tahun yang lalu itu saja? Maaf Fahri, ada yang boleh aku beritahu, ada pula yang sebaiknya aku simpan," sahut Erlangga Yusuf.


"Kalau begitu mohon ceritakan hal yang boleh saya ketahui," pinta Fahri lagi.


"Bersabarlah Fahri, tak lama lagi kau akan tahu," ujar Erlangga.


*****


Terimakasih telah membaca tulisan ini hingga selesai.


Note


Al Kahfi Land Series


1. Al Kahfi Land\, Menyusuri Waktu


2. Al Kahfi Land\, Dua Sisi


3. Ak Kahfi Land\, Delusi


Penulis, Indra W


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2