
“Itu adalah kudeta, Sam!” ujar Jendral Priyo.
“Kudeta adalah pilihan kata yang dipakai jika misi gagal, kalau berhasil ini adalah revolusi. Apa Jendral punya pilihan lain?” tanya Samuel.
“Hmm, aku memang sebenarnya sudah sangat muak dengan Ben Jani. Langkahnya sering meleset, kalau sudah di ujung tanduk, barulah militer yang diminta membereskan kesalahannya. Ben Jani terlalu banyak berdiskusi dan memberikan kepercayaannya pada orang-orang sipil seperti Rizal Salman,” ujar Jendral Priyo.
“Betul, Jendral! Keputusan Rizal Salman menempatkan Fahri di penjara yang ada Budi Raharjonya sangat sembrono. Jika Jendral tidak setuju dengan usulan saya tadi, saya kuatir Fahri akan berhasil meloloskan diri bersama Budi Raharjo, lalu mereka muncul di media Dini Tanjung untuk mengabarkan pada dunia tentang berbagai rekayasa yang dilakukan rezim.” hasut Samuel.
“Hmm, soal menghabisi Fahri aku setuju, tapi soal aku merebut kursi presiden, apa tidak ada cara lain?” tanya Jendral Priyo.
“Apa ada, Jendral? Apakah Jendral Ben Jani setuju anda mengendalikan situasi? Padahal jika terlambat kita akan jatuh bersama-sama,” sahut Mayor Samuel.
“Jalankan rencanamu!” perintah Jendral Priyo.
“Siap, Jendral!” sahut Samuel.
*****
Budi Raharjo yang sedang sholat malam terkejut pintu kamar selnya dibuka seseorang tanpa mengetuk, ia langsung membatalkan sholatnya. Rupanya seseorang dari Blok B yang tadi berkelahi di ruang makan.
“Assalamu’alaikum,” salam Fahri sambil memperhatikan kondisi sekelilingnya.
Kamar-kamar sel para tahanan politik, koruptor dan bandar narkoba memang memiliki ciri khas yang sama, tertutup, lebih luas dan satu kamar hanya diisi satu napi.
“Wa’alaikumussalam. Anda mau apa?” Tanya Budi Raharjo galak. Ia kaget seorang napi bisa masuk ke dalam selnya, berasal dari Blok B pula.
Fahri memberi kode agar Budi Raharjo tetap tenang. “Pak Budi, saya Fahri Hussein, izinkan saya bercerita agak panjang, ini penting!”
Budi Raharjo menurut, ia mendengarkan cerita Fahri hingga selesai, setelah itu giliran Budi Raharjo menceritakan kenapa ia terpaksa mengakui kesalahan yang tidak ia lakukan.
“Pak Budi masih mau berjuang untuk rakyat kecil?” tanya Fahri.
“Saya selalu ingin hidup saya berguna, tapi rakyat pasti sudah membenci saya,” sahut Budi Raharjo.
“Kita memang butuh bukti kuat agar rakyat percaya, tapi jika kita telah punya bukti, apa Pak Budi masih mau melanjutkan perjuangan?” tanya Fahri.
__ADS_1
“Maaf, bukan tidak mau tapi iman saya memang lemah, saya tidak tahan melihat orang-orang dibunuh demi membela saya, apalagi jika orang itu istri dan darah daging saya sendiri,” jawab Budi Raharjo.
“Saya pun mungkin akan melakukan hal yang sama, untuk itu saya telah mengirim email ke Kang Andi untuk mengamankan keluarga Pak Budi dan keluarga mereka juga, agar perjuangan kita kali ini tidak bisa mereka patahkan, insyaAllah,” ujar Fahri.
“InsyaAllah. Bagaimana dengan bukti?” tanya Budi Raharjo.
“Saya telah mengakses arsip rahasia pasukan T7 dan berhasil menemukan video rekaman pernyataan Pak Budi saat di ruang interogasi tanpa ada potongan, rakyat akan melihat bahwa itu semua rekayasa. Untuk kasus saya, alhamdulillah saya juga menemukan dokumen visum palsu. Bukti telah lengkap, sekarang tugas saya adalah mencari cara untuk keluar dari sini, anda siap?” tanya Fahri.
“MasyaAllah. Dulu, 5 anggota Pasukan T7 menculik saya untuk menghentikan perjuangan. Sekarang, seorang anggota Pasukan T7 yang lain ingin mengeluarkan saya untuk melanjutkan perjuangan. Bismillah, ayo kita berjuang!” ujar Budi Raharjo.
*****
Di pagi hari tampak iring-iringan 3 mobil melintasi jembatan panjang menuju Pulau Karakas, salah satu mobil tersebut membawa Daud Haris dan Dini, 2 mobil lainnya membawa para pengawal menteri dan sipir.
Tiba-tiba salah seorang pengawal yang berada di mobil belakang melihat dari spion ada 4 mobil lain yang melaju kencang di belakang mereka, ia langsung menghubungi kepala pengawal khusus menteri yang berada satu mobil bersama Daud Haris. “Komandan! Ada 4 mobil yang melaju kencang di belakang, mohon konfirmasi pada Kepala Penjara Karakas secepatnya, itu mobil siapa?"
“Oke, jangan biarkan mobil itu mendahului.” Sahut Kepala Pengawal, kemudian ia bertanya pada Kepala Penjara,”Anda tahu mobil siapa yang sedang melaju kencang di belakang rombongan kita?”
“Oh iya, beberapa menit yang lalu saya baru dapat kabar dari Pulau Bantar, beberapa tentara mendarat, mereka dapat perintah dari Panglima untuk membawa Fahri Hussein, katanya Pak Menteri Daud Haris sudah tahu,” ujar Kepala Penjara.
“Membawa Fahri kemana?” tanya Dini pada Daud.
Mendengar itu Kepala Pengawal segera menghubungi anak buahnya yang berada di mobil terbelakang. “Kalian berhenti, jangan bolehkan mobil-mobil itu melewati kalian, suruh mereka kembali karena Pak Menteri tidak tahu!”
Mobil paling belakang langsung berhenti mendadak dengan posisi melintang untuk menutup jalan, para pengawal langsung turun dan bersiaga dengan senjata mereka.
*****
Di istana negara Bandar Lampung Presiden Anggito Suryo baru saja menutup pembicaraan dari telpon, tiba-tiba Kepala Paspampres tampak terburu-buru mendekatinya untuk menyampaikan sesuatu, Kepala Paspampres itu menyuruh para anak buahnya untuk menjauh dari presiden, setelah itu ia berbisik pada presiden.
“Pak Presiden, ada 3 anggota pasukan T7 di depan, dia dapat perintah dari Panglima untuk mengamankan Bapak ke tempat rahasia, ada kondisi genting. Katanya, mantan pasukan T7, Fahri Hussein sedang mengirim orang-orangnya untuk membunuh Bapak, beberapa anggota paspampres juga sudah berada di pihak Fahri. Apakah bapak berkenan untuk menanyakan langsung pada Panglima?” Tanya Kepala Paspampres pada Presiden Anggito.
“Saya juga baru dihubungi Panglima, kita segera berangkat segera!” Perintah Presiden Anggito Suryo.
__ADS_1
*****
Di tempat Ben Jani, Samuel datang langsung menjalankan misi. Ternyata misinya tidak selancar di tempat presiden Anggito, ia mendapat banyak pertanyaan dari Ben Jani.
“Kondisi genting? Mengamankan dari orang yang mau membunuh saya? Seandainya Pasukan T7 sekalipun yang ingin membunuh saya, kalian enggak akan mampu. Hahaha. Di negeri ini satu-satunya orang yang harus ditakuti adalah saya! Telpon Priyo, suruh dia ke sini! Biar otaknya yang kosong itu aku isi!” Perintah Ben Jani.
“Siap, Jendral!” sahut Samuel.
Tidak ada yang salah dari pernyataan Ben Jani, saat ini Samuel dikelilingi sekitar 20 tentara dengan senjata yang siap memuntahkan peluru. Samuel melirik jam tangannya, stopwach menyisakan 2 detik menuju angka nol.
Dua detik kemudian, tiba-tiba Ben Jani dan semua pengawalnya mendadak pingsan, mereka telah terkontaminasi bahan kimia buatan Gulva dari AC. Gulva yang menyamar jadi tukang service AC membantu Samuel membawa Ben Jani.
*****
4 orang yang menginap di Pantai Pulau Karakas telah mengemas tenda dan menghabiskan sarapan mereka, daging rusa liar yang mereka panah setelah sholat subuh telah kandas.
Salah seorang dari mereka kembali membuka perangkat elektroniknya yang mirip komputer, ia mengamati posisi pulau dan arah mata angin di monitor setelah itu ia membuat garis di atas pasir pantai dengan kayu dan menancapkan kayu itu di tengah garis.
“Rizki, Ahmad, Dul. Kita akan menyebrangi bukit tanpa bisa mengaktifkan perangkat elektronik apapun, satu-satunya petunjuk kita adalah posisi matahari dan bayangan. Perhatikan garis ini dan arah bayangan pada kayu yang saya tancap! Kalian kan tahu Indonesia berada di posisi khatulistiwa dan posisi Pulau Karakas berada di bagian selatannya, ini adalah garis imajiner yang menghubungkan barat dengan timur Pulau ini, maka bayangan di Pulau ini tentu akan selalu berada di seberang garis ini. Kalo kita telah berjalan dan menemukan posisi bayangan telah menyebrangi garis, maka kita sudah berada di orientasi yang salah atau akan kembali lagi ke pantai ini. Monitor ini menunjukkan posisi posisi Penjara Karakas kira-kira lurus di seberang bukit-bukit itu, kalau kita berjalan siang hari saat matahari tepat berada di atas, maka arah bayangan akan tepat menujuk ke arah Penjara Karakas. Pagi ini arah bayangan melenceng jauh di kanan dari arah Penjara Karakas dengan sudut sekitar 800, bayangan akan bergerak dari kanan ke kiri mengikuti pergerakkan matahari, memang tidak mungkin seakurat kompas tetapi setidaknya kita tidak akan melenceng terlalu jauh atau kembali ke posisi semula jika cuaca hari ini cerah. Jangan menyentuh atau makan sesuatu dari pohon yang belum kamu kenal, bawa tongkat untuk meraba jalan sebelum kaki kalian melangkah. Kita akan sholat dhuha sebelum berangkat! Oke ada yang tidak paham?” tanya Stevano.
“Paham Bang Stevano!” Ujar anak-anak asuhan Fahri dari Blok 7 Rusun Ciawi serempak.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1