
Akhirnya semua rombongan Fahri berhasil mencapai bagian belakang bukit tertinggi di kawasan perbukitan di Pulau Karakas sebelum matahari terbenam. Matahari seolah sengaja menunggu mereka untuk menyaksikan keindahan alam di balik bukit tertinggi di Pulau Karakas yang sangat indah dan menakjubkan.
Di balik tikungan tebing yang baru saja mereka lewati, terdapat banyak air-air terjun dan aliran air deras yang melewati batu-batu alam yang bagai terpahat seniman. Batu-batu hitam pun tak mau kalah, membuat tekstur meliuk-liuk melapisi batu-batu cadas seolah melukis tebing.
Fahri dan rombongannya duduk menikmati keindahan terbenamnya matahari, separuh badannya tampak telah hilang di garis horison, refleksinya bagai membuat sapuan kuas warna emas di kanvas laut.
Matahari sebentar lagi pulang, pertunjukan senja pun akan usai. Fahri kembali mengamati situasi kawasan ini dan mencari tempat aman untuk bermalam, sebelum langit gelap. Zul dan Didan mendatangi pohon-pohon berbuah untuk mengganjal perut para rombongan.
Fahri menemukan gua yang cukup besar, ia segera memeriksa kondisi gua. Fahri senang karena rombongannya punya tempat bermalam yang aman, ia pun langsung memberitahukan rombongannya untuk bermalam di gua, setelah itu ia mengajak mereka memasuki gua untuk sholat berjamaah dan berisitirahat.
Gelap menyelimuti kawasan ini saat para rombongan yang muslim melaksanakan sholat, usai sholat ternyata para rombongan disuguhi keajaiban. Tiba-tiba dari stalaktit di gua yang tinggi ini keluarlah titik-titik cahaya berwarna kebiruan yang bergoyang-goyang dari objek semacam benang-benang yang menjulur, mirip lampu kristal.
Orang-orang di dalam gua langsung berdiri dan menoleh pada Fahri, walaupun indah, tapi mereka kuatir cahaya itu berbahaya.
"Yang menempel pada stalaktit gua adalah larva binatang yang sangat tipis dan mampu mengeluarkan cahaya, itu tidak berbahaya, bahkan kalau terlalu banyak orang di dalam gua ini, binatang-binatang itu bisa mati karena kebanyakan karbon dioksida," kata Fahri.
“Apa namanya?” tanya Daud Haris.
“Arachnocampa luminosa, setahu saya cuma ada di Selandia Baru. Alhamdulillah, gua ini jadi tak lagi terlalu gelap,” sahut Fahri.
" Kita enggak boleh nyalain api, Ri?" tanya Daud Haris.
"Jangan, Ris! Selain bisa membunuh binatang itu, musuh jadi bisa melihat posisi kita," ujar Fahri.
"Hahaha, Fahri, emangnya lu kira musuh bisa ngelewatin tempat-tempat yang tadi kita lalui? Untung pemandu wisata kita elu, mantan pasukan T7" ujar Zul.
"Pasukan T7 kan bukan cuma gue, Zul. Lagian bukan cuma Pasukan T7 doang lah yang punya kemungkinan mencapai tempat kita, bisa jadi juga ada jalan lain yang lebih gampang untuk ke sini. Jadi sebaiknya kita tetap hati-hati," ujar Fahri.
"Betul juga lu," sahut Zul.
Setelah puas mengagumi keindahan cahaya, stalaktit dan stalaknit gua, orang-orang di rombongan Fahri memanfaatkan waktu dengan beristirahat.
Malam di tengah hutan memang terasa berjalan lebih lama, beberapa orang yang telah merasa bugar membentuk kelompok-kelompok diskusi kecil.
Fahri dan beberapa orang keluar dari gua untuk memeriksa kondisi, ternyata di luar gua juga tampak terang karena cahaya penuh bulan purnama. Dini mengikuti mereka, ia tak mau jauh dari Fahri, hanya Fahri yang bisa membuatnya tenang berada di tengah-tengah hutan ini.
Fahri dan orang-orang yang mengikutinya menaiki bukit landai, sebuah tempat yang bisa melihat ke arah utara dan selatan Pulau Karakas.
"Lihat ada titik api di kejauhan sana!" ujar Zul.
"Titik api itu berada di sebelah barat dari bukit kita. Posisinya malah menjauhi pantai yang berada di bagian selatan bukit kita. Setahu gue, pantai cuma ada di bagian selatan, ujung pulau yang lain adalah jurang-jurang tinggi, seperti di jembatan panjang gerbang Penjara Karakas," ujar Fahri.
"Kira-kira, kalau para tentara memilih rute yang sama dengan kita, seberapa jauh atau selisih waktu kita dengan mereka?" Tanya Zul.
"Walaupun kita harus tetap hati-hati, insyaAllah, tidak mungkin ada pihak yang memilih rute kita,” sahut Fahri.
“Oh, jadi kamu tidak merubah rute saat menemukan medan yang sangat berat, karena itu?” tanya Dini.
“Hmm, ini akan terdengar tidak masuk akal. Seolah ada suara yang menuntunku ke sini,” jawab Fahri.
__ADS_1
“Hah? Gila, lu!” maki Zul. Ia terkejut.
“Gue enggak tahu, apakah itu adalah intuisi atau hal lainnya. Tapi gue sangat yakin itu datang dari sesuatu yang baik,” sahut Fahri.
“Fahri, apa rencana kamu selanjutnya kalau kita berhasil mencapai pantai?" tanya Dini.
"Nah, suara-suara itu juga memberitahu bahwa seorang kawan telah menunggu kita di sana,” jawab Fahri.
Zul kembali terkejut. “Beneran udah gila, lu!” maki Zul lagi.
“Seandainya salah, kawasan pantai kan enggak mengandung magnet. Kita bisa telpon teman yang bisa di percaya, untuk jemput kita,” sahut Fahri.
“Terserah elu aja deh, kita juga enggak punya pilihan. Seenggak-enggaknya kita udah ngelewatin banyak mayat, dan hingga saat ini terbukti semua anggota rombongan lu selamat. Teman-teman balik ke gua, yuk!" ajak Zul sambil seolah-olah memberi kode. “Lu pada ganggu aja.”
"Dari tadi kek!" timpal Fahri.
Orang-orang meninggalkan Fahri dan Dini sambil tertawa.
Setelah hanya berdua dengan Dini, Fahri berdiri. "Mau jalan-jalan ke tempat indah di bawah sana? Suara air yang jatuh dari batu-batu di sana kayaknya bisa nenangin pikiran kita," ajak Fahri.
"Boleh, tapi bukan mau ngelamar di situ, kan?" canda Dini.
"Yah, kok ketebak, sih?" sahut Fahri.
*****
"Abis mau cari dimana lagi tempat ngelamar seromantis ini?” tanya Fahri.
“Gratis pula, ya, kan?” ujar Dini.
“Iya,” sahut Fahri
“Untuk menuju ke sini, dramatis pula, ya, kan? ujar Dini.
“Bodo, ah! Jawabnya kapan?” canda Fahri.
"Hahaha. Oke, aku serius. Fahri, aku lihat kamu sangat relijius, mirip seperti Abi dan sahabat-sahabatnya. Kamu yakin? Aku kan enggak serelijius kalian," ujar Dini.
"Kenapa kamu ngerasa enggak relijius?" tanya Fahri.
"Salah satunya masalah hijab. Abi sudah berkali-kali menyarankan aku untuk berhijab, tapi aku belum juga mau, untung aku punya dalil," sahut Dini.
“Ada ya, dalil yang mendukung kamu untuk tidak usah pakai jilbab?” tanya Fahri.
“Ayo, kita berdebat tentang itu,” tantang Dini.
__ADS_1
Fahri tertawa. “Kalo pemahaman dalil ditentukan oleh kemampuan berdebat, kamu, Daud Haris dan Rizal Salman boleh tuh diajukan jadi ketua MUI. Lagi pula apa yang perlu didebatkan, jika kamu hanya mau menerima pemahaman dalil yang sejalan dengan pemikiran kamu?” tanya Fahri.
“Hmm, jadi menurut kamu, aku enggak objektif?” tanya Dini.
“Kita bukan ulama, tak pantas beradu dalil. Soal hijab, nanti harus kita tanyakan pada ulama yang benar-benar berilmu dan taat pada Tuhannya. Tapi untuk sekarang, kita mungkin boleh berandai-andai. Kalau nanti di hadapan Allah ternyata pemahaman dalil kamu yang benar, alhamdulillah. Tapi kalau ternyata pemahaman dalil kamu yang salah, bagaimana? Apa siap menerima ancaman yang dijanjikan Tuhan pada makhluknya yang tidak taat? Lagi pula apa kita tega? Yang diminta pertanggung-jawaban atas kesalahan kita, bukan cuma kita yang berbuat kesalahan lho, orang tua kita juga! Anggap lah orang tua kita akhirnya selamat, tapi bayangkan hancurnya perasaan orang tua yang menyaksikan anaknya yang tak selamat,” ujar Fahri.
“Hmm, aku jadi sedih, teringat betapa sabarnya Abi terus menasehati aku. Padahal aku lumayan rajin mempelajari hal tentang agama, apa yang kurang?” tanya Dini.
“Mungkin memperbaiki niat. Mempelajari agama pada saat hati ingin beserah diri, tentu hasilnya jauh berbeda dengan pada saat akal ingin menyombongkan diri,” ujar Fahri.
Dini merenungi diri sejenak, dari hati yang paling dalam ia mengakui, bahwa ia memang belum rela menutupi kelebihan fisik yang Tuhan berikan, sehingga ia berupaya keras mencari pemahaman dalil yang mendukung keinginannya dan memanfaatkan kecerdasannya untuk melindungi pilihan dalilnya.
Dini tampak puas dengan jawaban Fahri. “Nah, kenapa kamu malah melamar perempuan yang menyombongkan akal ini?” tanya Dini sambil tersenyum.
“Karena hati kamu sebenarnya enggak sesombong itu dan kamu butuh seseorang yang mau membantu mencari sekeping puzzle yang belum terpasang untuk menyempurnakan hatimu yang sangat indah,” jawab Fahri.
“Ih, jago banget nih ngerayunya! Belajar di mana sih?” tanya Dini sambil tertawa.
“Erlangga,” ujar Fahri.
“Hah? Om Angga?” tanya Dini tak percaya.
“Bukan! Suara yang menuntunku, menyebut nama Erlangga,” ujar Fahri.
“Oh, ya? Ya ampun, aku jadi ingat sesuatu. Om Angga nitipin sesuatu untuk kamu,” kata Dini sambil mengeluarkan sesuatu. “Ini!”
Fahri mengamati benda yang diberikan Dini. “Batu hitam? Untuk apa ya?” tanya Fahri heran.
"Om Angga hanya bilang Ashabul Kahfi. Setahuku, Ashabul Kahfi, kisah yang menceritakan tentang para penghuni gua yang tidur selama beratus-ratus tahun, kisah tersebut diceritakan dalam Al Qur’an surat Al Kahfi. Aku juga heran, Om Angga tidak mau menjelaskan tujuannya,” ujar Dini.
“Al Kahfi itu artinya gua. Mungkin di Al Kahfi Land terdapat gua, makanya tempat itu disebut Al Kahfi Land, dan batu hitam ini diambil dari sana, lalu diserahkan padaku sebagai semacam kartu anggota Al Kahfi Land, mungkin enggak?” tanya Fahri sambil mengantungi batu hitam itu.
“Tentang gua, mungkin aja. Tapi soal batu menjadi kartu anggota, enggak mungkin! Memangnya perkumpulan dukun?” sahut Dini sambil tertawa.
Fahri menguap.
“Kamu sudah ngantuk?
Fahri tidak menjawab, ia bahkan menguap lebih lebar, matanya mendadak sayu dan badannya mulai condong, bahkan kepalanya bagai tidak ditopang leher yang kokoh.
Dini paham, Fahri pasti sangat lelah, ia telah menjalani hari-hari yang berat. Dini mengajak Fahri segera kembali ke gua. Untungnya Fahri masih bisa menjaga kesadarannya dan berjalan, walau sesekali Dini harus memeganginya.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1