
Pagi ini Presiden Anggito Suryo dan Rizal Salman mendatangi rumah Jend (pur) Ben Jani di Jakarta. Presiden Anggito dan Ben Jani memang sering melakukan pertemuan 4 mata, kali ini ia membawa Rizal Salman.
"Anggito memang tidak bisa menjelaskan kenapa Daud Haris bisa-bisanya jadi menteri di kabinet dia, baguslah kau bertanya, aku memang mengundang kau ke sini untuk mengajarimu seni berpolitik," ujar Ben Jani sambil membakar cerutu yang terselip di mulutnya.
“Terkadang kau harus merangkul lawanmu supaya tenagamu tidak habis mengurusinya, bahkan kau bisa pakai tenaganya untuk membantumu. Contoh nyatanya Ali Tanjung, dia memang bukan sosok lawan, tipikal pebisnis yang tak suka berkelahi dengan penguasa, walaupun sebenarnya dia juga tak suka jadi kawan orang yang berseberangan. Lalu kenapa dia ku rangkul? Karena dia punya pengaruh besar di kubu lawan. Dengan melibatkan dia, maka kubu lawan terpaksa berhenti mengonggonggongi kita, kebetulan dia juga handal di bidangnya. Ternyata ada yang luput dari perhitunganku, Anggito sempat cerita tentang kekuatiran kau, dan aku sangat berterimakasih karena kau telah mengoreksi langkahku yang keliru. Karpet merah untuk Ali Tanjung yang kau bilang itu memang terbukti. Menurut orang survey kita, gara-gara Ali Tanjung, orang-orang jadi ingat keberhasilan Andi Permana menyejahterakan rakyat Jawa Barat dan menginginkan dia naik lagi ke panggung politik, maka wacana itu harus cepat ku padamkan sebelum meluas," ujar Ben Jani.
"Lalu kenapa Pak Ben malah memberi karpet merah yang sama untuk Daud Haris? Dengan jabatan menteri di usia muda, dia punya modal untuk memenangkan kursi Gubernur Jakarta. Saat usianya nanti cukup, dia tinggal melompat menduduki kursi presiden," tanya Rizal Salman.
"Hahaha, cara berpikir politikus muda seperti kau masih terlalu linear! Banyak jalan menuju Roma, Rizal! Kau pikir untuk menjadi penguasa nomor 1 di sebuah negara, kau harus jadi presiden? Hahaha." Ben Jani tertawa lepas. Presiden Anggito tersenyum kecut sambil mengangguk-angguk.
"Pernah dengar kalimat bersejarah ini? Izinkan saya mengeluarkan dan mengendalikan uang suatu negara, dan saya tidak peduli siapa yang membuat hukumnya!" tanya Ben Jani.
"Itu ucapan Mayer Amschel Rothchild," jawab Rizal Salman.
"Kau paham kalimat itu? Rothchild mau bilang, aku mengizinkan siapa pun jadi presiden jika ia menyerahkan urusan uang negara padaku. Itulah sebabnya aku mengizinkan Anggito menjadi presiden. Sekarang kau tahu siapa penguasa sesungguhnya negeri tercinta ini?” ujar Ben Jani.
“Saya tahu anda dekat dengan Presiden Anggito, tapi saya baru tahu bahwa isu yang sering dibicarakan orang itu ternyata benar,” sahut Rizal Salman.
"Rizal, sekarang waktunya kau belajar! Kalau waktu itu aku ngotot jadi presiden, maka kubu kita pasti dikalahkan Budi Raharjo. Kenapa dulu aku dorong Anggito jadi calon presiden? Karena saat itu Anggito masih dicintai rakyat, tidak seperti setelah jadi presiden, dia didemo terus sama orang-orang yang pilih dia, hahaha," ujar Ben Jani.
Ben Jani menghisap cerutunya dalam-dalam, seperti sedang mengenang masa lalu. Presiden Anggito dan Rizal labih senang diam menyimak ucapan Ben Jani.
"Aku tidak mungkin memenangkan hati rakyat, oleh karena itu untuk melawan Budi Raharjo, aku harus majukan orang yang memiliki charming di mata rakyat yang tak kalah kuat dengannya. Saat itu Anggito sudah punya modal, berikutnya tinggal aku poles habis-habisan. Memangnya semua sepak terjang Anggito yang membuat hati rakyat meleleh pada saat itu, kau pikir tidak ada sutradaranya? Hahaha," tanya Ben Jani sambil tertawa terbahak-bahak.
"Eh, Zal! Kau tak merokok? Jangan sungkan! Kalau Anggito memang anak baik-baik. Kalau kau kan pasti sama seperti aku, senang menikmati hidup! Hahaha," ujar Ben Jani.
Rizal tertawa sambil mengambil cerutu yang ditawarkan Ben Jani.
"Saat itu Anggito berhasil aku buat menjadi media darling, padahal media belum kita kuasai. Bagaimana caranya? Mudah sekali! Media itu kan tak ada bedanya dengan tukang ngadu di sekolah,” ujar Ben Jani sambil menyalakan cerutu untuk Rizal.
“Tukang ngadu atau media hanya akan memberitakan yang paling baik atau yang paling jahat, bukan yang nanggung! Kita supply terus kebaikan untuk Anggito sehingga jadi orang paling baik agar media terus membuntutinya dan kita pun berhasil menang. Tiba-tiba peran anak baik itu direbut Budi Raharjo dan kita tak punya stok untuk melawannya, untung Jendral kita bisa menghancurkan nama baiknya. Sekarang, menurut kau siapa yang sedang pegang peran sebagai anak paling baik?” tanya Ben Jani.
“Daud Haris?” jawab Rizal Salman ragu.
__ADS_1
“Hehe, kau benar. Lalu siapa yang sedang pegang peran sebagai anak paling jahat?” tanya Ben Jani.
“Hehe, saya?” jawab Rizal Salman.
“Hahahaha, kau sadar diri rupanya,” sahut Ben Jani.
“Ah, Pak Ben. Media telah kita kuasai kecuali media Ali Tanjung. Kenapa kita tidak padamkan saja?” tanya Rizal Salman.
"Hahaha, Rizal si tukang sogok! Zal, Ali tanjung itu belum kelas mu! Kau main kayu ke dia, habis kau dikunyah dunia luar! Pergaulan dia itu internasional, kau tahu siapa Ali Tanjung di mata dunia?" tanya Ben Jani.
"Iya tahu, maaf Pak Ben," sahut Rizal.
"Hey, Rizal, santai! Aku memang sedang memberi kau kuliah politik. Hahaha, justru kita pasti menang! Bukankah sekarang pemegang peran paling baik dan paling jahat sudah berada di belakangku, aku tinggal membuat skenario cantik yang disukai semua media, bahkan media anaknya Ali Tanjung. Sudah paham?” tanya Ben Jani.
"Paham, Pak Ben, tapi Daud Haris itu kan orang lain, bukan seperti Pak Presiden Anggito yang sejak awal sudah bersama Pak Ben." tanya Rizal.
"Daud Haris itu memang orang lain dan akan selamanya menjadi orang lain, tapi kepalanya sudah ku pegang. Jangan habiskan energi untuk memusingkan dia lagi, karena dia justru akan bertugas mencuci namamu, butuh sabun sekelas Daud Haris untuk itu, hahaha. Lagi pula kau punya musuh baru sekarang, kau tahu siapa orang ini?" tanya Ben Jani sambil memberikan foto di dalam amplop coklat.
Rizal memperhatikan foto orang yang ternyata sedang diburunya. Presiden Anggito yang sejak tadi hanya menyimak jadi ikut memperhatikan foto tersebut.
"Ini Fahri Hussein. Dia mesin pembunuh nomor 1, bekas Komandan Pasukan T7, Priyo terpaksa membuangnya karena tidak mau menangkap Budi Raharjo," ujar Ben Jani.
Rizal bergumam dalam hati, pantas saja evakuasi menggunakan ormas gagal, aku juga dapat laporan Blok 3 sudah hancur, bisa saja orang itu terlibat.
"Kau bilang tadi jagoan kampung? Hahaha. Saat ini seluruh rusun-rusun miskin memajang gambar dia, sudah macam Che Guevaranya Indonesia saja. Aku sudah minta tim survey kita untuk menghitung tingkat populeritasnya, kalau hari ini Rizal Salman, Daud Haris dan jagoan kampung bernama Fahri Hussein itu bertanding untuk Pilkada Jawa Barat, kalian tidak mungkin menang melawan dia, hahaha. Lebih bahaya lagi jika dia datang di talkshow program Dini Tanjung, namanya akan melejit di tingkat nasional, pembawaannya mudah membuat rakyat jatuh cinta," kata Ben Jani.
"Apa rencana Pak Ben dengan orang ini?" tanya Rizal.
"Rizal, kau tidak usah lagi berkoar tentang amandemen masa jabatan presiden, Anggito sudah terlalu berat untuk dipertahankan. Dengar, Zal! Orang ini sangat bahaya jika di dekati lawan-lawan kita, cari orang lain untuk memadamkan kuda hitam yang bisa merusak skenarioku ini. Jangan main kayu, karena kau akan ku poles menjadi tokoh yang dicintai rakyat, hahaha.” ujar Ben Jani.
*****
__ADS_1
Daud Haris bagai menghilang, ia belum mau menghadiri sejumlah undangan media pemberitaan yang biasanya jarang ia lewatkan, ia juga belum sempat menemui partai tempat bernaungnya, apalagi mengurusi amanah Fahri untuk memperjuangkan pembatalan pindah warga rusun. Ia lebih banyak berdiam di kantor kementriannya di Bandar Lampung tanpa mau diganggu siapa pun kecuali presiden.
Daud memandangi ruangan tempat ia bekerja, ada rasa bangga, sekaligus kuatir setiap memandangi ruangannya yang mewah, tiba-tiba ponselnya dihubungi Ben Jani. Jantung Daud langsung berdegup keras, ia sangat takut Ben Jani memberikan kejutan yang tidak ia harapkan.
“Daud, kemana saja kau?” tanya Ben Jani.
“Saya selalu di kantor, Pak Ben,” jawab Daud Haris.
“Maksudku aku tak pernah lihat kau lagi di media, ada apa?” tanya Ben Jani.
“Maaf saya masih sibuk, Pak Ben,” jawab Daud.
“Sibuk? Hahaha, sepertinya kau salah paham. Begini, masalah kesalahan kau di masa lalu lupakan saja, aku terpaksa mengatakannya kepadamu, supaya niat baikku tak kau tolak. Kau sudah jadi menteri sekarang, apa kebaikanku masih kurang?” tanya Ben Jani.
“Saya sangat berterimakasih, Pak Ben” ujar Daud Haris.
“Dengarkan Daud, jadilah Daud Haris yang garang seperti biasanya! Rakyat kangen dengan suaramu lantangmu. Aku ingin memberi hadiah istimewa lagi untuk kawan baruku. Sekarang kau hubungi media untuk wawancara, terutama media Dini Tanjung! Bilang, Rizal Salman telah berhasil kau yakinkan untuk membatalkan rencana pemindahan warga rumah susun! Oke Daud? Aku tunggu secepatnya ya!” ujar Ben Jani.
“Baik, Pak Ben, sekali lagi terima kasih,” ujar Daud Haris.
“Alaaah Daud, itulah gunanya kita berkawan. Oke, kau tak usah kuatir lagi, selama kita bisa berteman, semuanya aman,” ujar Ben Jani mengakhiri perbincangan.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1