
Kemelut di Indonesia telah berlalu parlemen telah selesai mengadakan sidang istimewa. Andi Permana menolak untuk dicalonkan menjadi Presiden Republik Indonesia, ia mengusulkan nama Budi Raharjo. Parlemen secara bulat menyetujui usulan itu sehingga Budi Raharjo akhirnya resmi menjadi Presiden Republik Indonesia sementara hingga waktu digelarnya Pemilu Presiden.
Budi Raharjo menghapus semua catatan kejahatan palsu yang direkayasa oleh rezim sebelumnya pada Fahri, Stevano dan Zul, kemudian ia meminta ketiga orang tersebut untuk kembali aktif di instansi yang mereka tinggalkan. Zul bersedia kembali menjadi jaksa, sayangnya Stevano dan Fahri menolak untuk kembali menjadi tentara walaupun mendapat kenaikan pangkat dan jabatan tinggi di militer.
Daud Haris dan Rizal Salman mendapat vonis hukuman seumur hidup dari pengadilan karena telah berkhianat pada negara.
Presiden Budi Raharjo yang pernah mendekam di Penjara Karakas mengunjungi penjara tersebut, semua napi yang pernah kabur bersamanya dimintanya kembali ke penjara untuk menjalani kurungan yang hanya sebentar, karena ia mau membekali mereka dan para napi lain yang masih bisa dibina dengan kesiapan mental dan kecakapan untuk mencari rezeki halal sebelum kembali ke masyarakat, para tokoh Al Kahfi juga siap membina mereka setelah keluar dari penjara. Tak heran semua napi yang pernah kabur bersama Budi Raharjo mau kembali ke penjara. Ia juga membenahi kondisi semua penjara di Indonesia yang selama ini justru malah menjadi kampus penjahat dan tempat beroperasi paling aman bagi para pelaku kriminal.
Fahri mendorong para pemuda rusun yang tertarik menjadi tentara untuk mengikuti tes masuk Akabri, hasilnya banyak yang lolos. Atas permintaan Presiden Budi Raharjo, TNI membuat Pasukan T7 baru yang akan dilatih dan dididik langsung oleh Fahri. Dul, Rizki dan Ahmad lolos tes menjadi anggota Pasukan T7 baru bersama 4 tentara muda lainnya.
Ali Tanjung diminta Presiden Budi Raharjo untuk kembali menjadi Menteri Kordinator Ekonomi, ia bersedia tetapi sayangnya hanya mau menjabat paling lama 1 tahun. Ali Tanjung hanya ingin membangun sistem ekonomi yang kuat dan adil bagi semua rakyat, setelah itu ia ingin orang yang lebih muda dan cakap untuk meneruskannya.
Stevano dikenalkan Fahri pada Ali Tanjung dan 2 tokoh Al Kahfi lainnya. Menurut Ali Tanjung, Stevano kelak akan menjadi tokoh penting dalam dunia bisnis.
Fahri sebenarnya sangat diharapkan para mahasiswa dan rakyat Indonesia untuk punya peran penting di pemerintahan, tetapi ia menolak. Rupanya Fahri lebih tertarik memiliki perusahaan sendiri, ia bersama Erlangga Yusuf akan membuat perusahaan pengembangan teknologi.
*****
Fahri janjian bertemu dengan Dini sore hari di rumah kotak, Al Kahfi Land. Fahri duduk tepi danau untuk menunggu Dini.
"Assala’mualaikum," sapa Dini.
"Wa’alaikumusalam. Alhamdulillah," sahut Fahri yang takjub melihat penampilan Dini dengan hijabnya.
"Aku merenungi ucapan kamu di Pulau Karakas," ujar Dini.
"Itu kan cuma sekedar tanggapan dari orang tak berilmu," sahut Fahri.
"Itu hal yang paling aku suka dari kamu, rendah hati. Sebaliknya hal yang paling membahayakan dari diriku adalah sombong pada ilmu,” ujar Dini.
"MasyaAllah, ustadza Dini, sepertinya aku sudah kehabisan kata-kata, kecuali untuk yang satu ini, Dini, izinkan aku untuk menikahi kamu," ucap Fahri.
" Hihihi."
"Yah, kok ketawa? Kalo berjodoh, cerita kita jadi enggak romantis nih, " sahut Fahri.
"Bang Fahri, kisah romantis itu udah jadi milik pasangan Om Angga dan Tante Widi. Jatah cerita bang Fahri itu, aku ketangkep penjahat, kamu berantem nyelamatin aku," ujar Dini,
"Enggak bisa, udah jadi pengusaha, imej tukang pukulnya harus dirubah," sahut Fahri.
__ADS_1
"Hihihi, kok kamu gitu sih? Keren tau, punya pasangan jagoan! Ya udah, tanggal berapa?" tanya Dini.
"Hah? Hahaha."
"Tuh, sekarang malah kamu yang ketawa," ujar Dini.
"Enggak ah, ulang-ulang," ujar Fahri. Ia berlutut di depan Dini, kemudian memasang wajah serius.
Dini mati-matian menahan tawa melihat Fahri.
"Dini... mau kah kamu menjadi…."
"Hihihi, udah ah! Enggak ada pantes-pantesnya kamu kaya gitu, udah diterima pake ulang segala," ujar Dini sambil mengacak-acak rambut Fahri.
Fahri berdiri kembali sambil tertawa.
"Berarti tinggal ngomong ke Abi sama Umi, ya," ujar Fahri.
"Ciee manggil orang tuaku udah Abi sama Umi, hihihi. Bang Fahri, aku mau mengajukan beberapa syarat sama kamu," ujar Dini.
"Mudah-mudahan aku mampu," sahut Fahri.
"Kamu hafal Al Qur'an dan artinya?" tanya Dini.
"Bimbing aku untuk mampu melakukannya juga dan jadikan itu tuntunan hidup keluarga kita nanti, bersedia?" tanya Dini.
"InsyaAllah, aku akan berusaha semampuku untuk itu, kuharap kamu juga selalu membantuku agar mampu melaksanakannya," sahut Fahri.
TAMAT
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
Bijak Pada Rahasia
__ADS_1
"Masih ingat? 36 tahun yang lalu kita bertiga pernah bertemu di sini," ujar Ali Tanjung.
"Buat kita 36 tahun tapi buat Fahri itu hanya beberapa hari yang lalu," sahut Kang Angga.
"Makanya kita bisa bertemu saat masih sama-sama muda, hahaha," balas Ali Tanjung.
"Usia sama-sama muda, tapi optimisme mu saat itu lagi jauh di bawah, terutama isi dompetmu. Hahaha," canda Kang Angga.
"MasyaAllah betul sekali itu! Aku berhutang budi pada Fahri, sebenarnya saat aku pertama kali berjumpa kamu di kantor, aku sudah mengenali kamu, makanya ku ajak ke sini supaya Angga juga melihat kamu," ujar Ali Tanjung pada Fahri.
"Tidak ada hutang budi Pak Ali, semuanya itu qadar Allah," sahut Fahri.
"Aku juga kaget saat melihat kamu, tapi kami harus tetap menjaga rahasia perjalanan lintas waktumu," ujar Kang Angga.
"Saya punya pertanyaan, Pak Ali masih ingat sesuatu yang saya katakan tentang Bu Soffie?" tanya Fahri.
"Aku ingat. Angga kau perhatikan tidak, ada garis-garis Soffie di wajah Fahri?" tanya Ali Tanjung.
Kang Angga tersenyum penuh arti. "Memang mereka ada hubungan darah. Bersabarlah Fahri, tak lama lagi kau akan tahu.”
"Pak Erlangga, maaf, tapi saya butuh tahu siapa ayah saya dan dimana keluarga ibu dan ayah saya," pinta Fahri.
"Fahri, apa kamu pikir kita cuma bertemu dalam dimensi waktu berbeda saat 36 tahun yang lalu itu saja? Maaf Fahri, ada yang boleh aku beritahu, ada pula yang sebaiknya aku simpan, karena kau akan menyebrangi waktu lagi," sahut Erlangga Yusuf.
*****
Terimakasih telah membaca tulisan ini hingga selesai.
Note
Al Kahfi Land Series
1. Al Kahfi Land\, Menyusuri Waktu\, (Bandung 1999 - Jakarta 2004)
2. Al Kahfi Land\, Dua Sisi 2040 (Indonesia\, 2040)
__ADS_1
3. Ak Kahfi Land\, Ruang Hampa (1992-2020)
Penulis, Indra W