Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Perang Siasat Dalam Politik - Part 3


__ADS_3

Di tempat lain Ben Jani menonton acara talkshow ini. Wajahnya tampak geram, ia merasa Andi Permana sudah berada di depannya satu langkah.


“Kurang ajar anak ini! Jika partai oposisi mengusung Andi Permana, maka partai itu akan mengantongi Fahri, 3 pengusaha besar itu akan berada dibelakangnya, media paling dipercaya juga berada di belakangnya, maka sekitar 70% suara sudah pasti mereka dapat,” ujar Ben Jani.


“Sudah kubilang, seharusnya dulu Fahri dihabisi saja, tapi Anggito terlalu lembek,” ujar Jendral Priyo.


“Priyo, justru kau terlalu keras! Kita sama-sama Jendral, tapi aku bisa lentur, gara-gara itu kau kehilangan senjata terbaik buatanmu dan kini dia dipakai musuhmu,” ujar Ben Jani.


“Maaf Jendral! Karena senjata itu sudah tidak bisa kita pakai, aku rasa sebaiknya kita habisi saja sebelum jadi senjata makan tuan,” usul Jendral Priyo.


“Oke, lalu istana akan didatangi seluruh manusia, kalo sudah begitu pelurumu tidak akan lagi mereka takuti,” sahut Ben Jani.


“Memangnya siapa Fahri? Dia cuma terkenal sebagai orang kalut yang buat gaduh di rusun, buat apa orang-orang mendatangi istana demi dia? Kalo dia ******, selesai urusan kita,” ujar Jendral Priyo.


“Pakailah sedikit otakmu, Priyo! Kau tak tahu kan? Sekarang kalo usianya cukup, jadi penguasa negeri ini pun dia bisa, apalagi TV sialan itu bilang Fahri mantan komandan Pasukan T7! Kalau kau dulu jadi penjajah, pasti kau pikir proklamasi itu cuma 2 orang kalut yang baca kertas bungkus kacang, tembak dan urusan selesai. Bodoh kau! Fahri adalah harapan! Membunuh manusia yang telah berhasil menanamkan harapan sama saja menyiram api dengan bensin,” Bentak Ben Jani kesal.


“Apa bedanya Fahri dengan Budi Raharjo? Budi selesai, perlawanan selesai!” tanya Jendral Priyo tak mau kalah.


“Dulu kau berhasil mengancam Budi, apa kau pikir yang ini bisa kau ancam?” Tanya Ben Jani.


“Bisa! Serahkan aja urusan Fahri padaku, Jendral,” pinta Jendral Priyo.


“Ah, aku kenal kau sejak masih jadi anak buahku. Jangan kau yang atasi, biar Rizal Salman agar lebih halus, kuperintahkan kau untuk tidak ikut campur, paham!” perintah Ben Jani.

__ADS_1


“Siap Jendral,” sahut Jendral Priyo menahan marah.


*****


 


 


Usai talkshow Daud Haris mengajak Fahri bicara di sebuah café, ia menjelaskan posisinya pada Fahri dan berharap Fahri mau mendukungnya.


“Ri, kalo Kyai Hamid tahu, dia bakal kecewa banget sama kita. Udah lu gagal jadi tentara dan pernah dipenjara, masak gue juga gagal dan bakal dipenjara juga. Makanya gue terpaksa ikutin kemauan rezim, tolong ngerti lah, Ri,” pinta Daud Haris.


“Ris, gue emang malu sama Kyai Hamid karena gagal jadi tentara dan pernah dipenjara, tapi gue yakin beliau enggak kecewa kalo dengar alasan gue. Sebaliknya lu pikir dia bakal bangga sama elu yang udah ninggalin prinsip hidup yang dia tanamkan ke elu, walau lu bisa jadi menteri?” tanya Fahri.


“Ris, gue enggak mau campurin urusan pribadi lu, tapi sebagai sahabat, gue sekedar mengingatkan, apa elu mau selamanya hiduplu dikendalikan orang-orang jahat itu? Apa enggak sebaiknya lu sendiri yang mengakui kesalahanlu lewat jalur hukum? Kasus suap lu itu kan enggak seberapa, mungkin hukumannya enggak lama, tapi setelah itu lu tenang, karir bisa lu mulai lagi dari bawah,” saran Fahri.


“Enggak semudah itu, Ri. Semua politikus punya dosa, eksistensi kita itu ditentukan oleh kemampuan kita menutup dosa. Dengan tangan kotor ini akhirnya gue mencapai posisi yang bisa gue gunakan untuk memperjuangkan orang kecil, sebaliknya kalo gue bersihin kotoran ini, maka perjuangan gue untuk orang kecil juga udah selesai. Gue tahu lu pasti tetap enggak setuju, tapi gue akan tetap berjuang dengan cara gue. Nanti mungkin kita akan berhadapan, tapi apapun yang terjadi sebenarnya tujuan kita sama dan sampai kapanpun lu tetap sahabat gue,” ujar Daud Haris.


Dua sahabat itu akhirnya berpisah dalam kondisi menempuh jalan yang berbeda.


*****


 

__ADS_1


Gedung 3 Minds mendadak ramai, Fahri ditangkap polisi saat menuju kantor. Polisi menggelar pers conference, bahwa Fahri ditangkap karena telah membunuh 3 anggota Ormas Barisan Macan Rakyat.


“Dari hasil penyelidikan diketahui beberapa anggota Ormas Barisan Macan Rakyat mengalami luka serius, kemarin malam pukul 20.00 WIB, 3 orang yang terluka parah tidak dapat tertolong lagi nyawanya, mereka meninggal dunia. Tentunya di negara hukum ini, siapapun tidak boleh menghilangkan nyawa orang lain dengan dalih apapun, kami memiliki banyak bukti bahwa Fahri Hussein, terlibat dan memang otak dari insiden tersebut. Sebagai tambahan informasi, tersangka Fahri Hussein ini memang pernah terdaftar menjadi anggota pasukan T7, tetapi karena yang bersangkutan memang sering sembarangan menghilangkan nyawa orang sipil yang tidak ada kaitannya dalam tugas, maka Fahri Hussein pernah dipecat dengan tidak hormat dan ditahan di penjara militer. Satu lagi, karena tersangka termasuk dalam kategori berbahaya, maka tersangka untuk selanjutnya akan di tahan di Rutan Karakas dan menjalani pengadilan di sana. Saya rasa ini saja dulu yang dapat saya laporkan, mungkin dari media ada pertanyaan?” tanya Kapolri Maman Suparman.


“Saya Wanda dari MNews. Pak, bukankah insiden itu terjadi seminggu yang lalu. Apa benar kematiannya akibat insiden itu?”


“Baik, 2 pertanyaan lagi, nanti akan saya jawab sekaligus. Ada lagi?” tanya Kapolri Maman Suparman.


“Saya Roy dari Beritautama.com, kenapa selama ini negara tidak melakukan pengawasan ketat, padahal tersangka adalah mantan narapidana berbahaya yang tinggal ditengah-tengah masyarakat sipil?”


“Saya Bintang dari IRN.com, kenapa tersangka tidak dipenjara di penjara militer?”


“Baik cukup 3 pertanyaan saja untuk hari ini. Jawaban untuk pertanyaan pertama, tentunya kami telah mengkonfirmasikan pada tim ahli, menurut hasil visum dokter, 3 korban memang tewas akibat benturan dan luka serius yang dideritanya seminggu yang lalu, bagi anda mungkin aneh, tentu saja karena anda bukan orang medis. Jawaban pertanyaan kedua, tersangka sudah diawasi dengan ketat, tetapi dia memang sangat terlatih, sehingga mampu memprovokasi warga sipil tanpa sepengetahuan pihak militer yang mengawasinya. Jawaban pertanyaan terakhir, karena statusnya sudah bukan tentara, maka tersangka akan ditahan di penjara sipil, tetapi karena dia sangat terlatih dan berbahaya, maka sekali lagi kami beritahukan, tersangka akan kami tahan di penjara Pulau Karakas yang memiliki pegamanan paling ketat, sidang juga akan dilakukan di sana. Baik saya rasa cukup pers conference hari ini,” ujar Kapolri Maman Suparman.


*****


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


__ADS_2