
Sebuah mobil SUV parkir di depan tower rumah susun blok 7. Seorang berpakaian rapi dan 5 orang berbadan besar keluar dari mobil.
"Dari 10 blok tinggal 2 blok lagi yang belum kita dapat persetujuan warganya," ujar Pak Herman geram, ia adalah seorang Manajer Proyek PT. Karya Salmara yang ditugaskan untuk membebaskan kawasan Rusun Ciawi.
"Gedung Blok 3 enggak usah dihitung, Bos! Itu sarang begundal! Penghuninya bandit, pelarian dari penjara, pembunuh, perampok, bandar narkoba, mana ada RWnya di sana? Kita tanda-tangan sendiri aja terus tempel spanduk ini, mana peduli mereka," sahut Rolando sambil membuka gulungan spanduk yang bertuliskan 'warga mendukung proram pemerintah pindah ke hunian baru yang sehat dan nyaman'. Rolando adalah komandan petugas keamanan PT. Karya Salmara.
"Iya juga. Nah blok 7 ini nih yang jadi masalah! Pak Ruslan, enggak mau terima amplop. Gara-gara dia, gue dimaki-maki Rizal Salman, katanya ngurus urusan sepele aja enggak becus" ujar Pak Herman kesal.
"Pak Rizal ngomong gitu? Wah, harus cepet beres ini, ya udah, kalo RWnya enggak mau dibikin seneng, kita main kayu aja! Bos, pasang aja spanduk ini, enggak usah minta tanda-tangan, biar gue sama anak-anak yang ngurus kalo ada yang ngehalangin," ujar Rolando.
"Setuju! Soalnya hari ini Rizal Salman bakal ngirim wartawan-wartawan media bodrek untuk ngambil gambar spanduk-spanduk dukungan warga, sekaligus wawancara sama tokoh masyarakat yang udah terima amplop. Elu hajar aja kalo ada warga yang macem-macem! Pemerintah dan media dukung kita kok, paling MNews yang ribet," ujar Pak Herman.
Setelah anak buah Pak Rolando selesai memasang spanduk di depan tower blok 7, Pak Ruslan datang bersama beberapa warganya, ia minta spanduk itu dicopot, Pak Herman mencoba sekali lagi untuk melakukan pendekatan persuasif.
"Pak Ruslan, PT Karya Salmara hanya menjalankan amanah pemerintah, menurut Pemda, pembangunan wilayah ini sangat ketinggalan dibandingkan dengan kota-kota lain di sekeliling Jakarta, maka mereka ingin mengembangkan kawasan bisnis baru di sini. Kebetulan perusahaan kami yang ditunjuk untuk menjalankannya," ujar Pak Herman, ia langsung disambut teriakan warga yang tidak setuju dengan pernyataannya.
"Nah, PT Karya Salmara kan hanya pelaksana, tunggu dulu dong sampai urusan pemerintah dengan masyarakat selesai, sekarang malah pasang spanduk seperti itu, maksudnya apa?" tanya Pak Ruslan.
__ADS_1
"Gini Pak Ruslan, justru kami ingin membantu kedua belah pihak. Kami bantu pemerintah, kami juga bantu masyarakat supaya bisa segera pindah ke tempat tinggal yang jauh lebih layak dan supaya cepat menerima kompensasi uang. Masyarakat Rusun Ciawi akan lebih diuntungkan berhadapan dengan PT Karya Salmara, karena kami bisa bantu menyampaikan pesan-pesan masyarakat ke pemerintah, apa yang masyarakat mau kita perjuangkan! Daripada menunggu aparat yang bertindak, nanti masyarakat enggak dapat apa-apa," ujar Pak Herman.
"Ah, kau pikir bodoh kali kami ini?" teriak Opung Saragih marah, ia mendekati Pak Herman, "Warga mana yang dukung rencana pemerintah? Kau pasang spanduk bawa-bawa nama warga, sembarangan! Ayo kita copot sekarang!" teriak Opung mengajak para warga.
Rolando menghadang Opung yang ingin mencopot spanduk, karena Opung tak mau tenang, Rolando mendorong Opung sehingga laki-laki tua itu tersungkur.
Suasana mendadak hening, warga blok 7 seketika terdiam. Pak Ruslan menghampiri Opung dan membopongnya.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam kerumunan, anak Opung Saragih sangat marah, ia maju ingin memukul Rolando, tapi Rolando mengelak dan memukuli anak Opung berkali-kali hingga terjatuh. Suasana langsung menjadi gaduh.
4 anak buah Rolando langsung menembus kerumunan, mencari laki-laki terdekat dari pihak warga untuk dipukul, perkelahian terjadi. Warga terlihat kocar-kacir, para perempuan menjauh, semua laki-laki Blok 7 yang terlibat perkelahian lebih banyak terkena pukulan ketimbang memukul, mereka menjauh satu persatu.
Rolando memandang sekelilingnya, ia merasa sudah berada di atas angin. Kali ini tidak ada lagi keramahan untuk warga blok 7, ia dan anak buahnya menyeret mereka yang tadi terlibat perkelahian ke tengah lingkaran kerumunan.
"Bangs*t kalian!" teriak Rolando sambil memukuli para lelaki yang berhasil diseret ke tengah, suasana kembali gaduh oleh teriakan makian anak buah Rolando yang mengikuti aksi komandannya. Para warga yang tidak mau ikut berkelahi jadi ketakutan, mereka menjauh tetapi tidak ada yang mau meninggalkan tempat karena ingin menonton, beberapa orang terlihat merekam dengan ponsel.
(Note : Mohon tidak menduplikasi novel ini tanpa seizin penulisnya, Indra W)
__ADS_1
Pak Herman baru sadar, para wartawan sudah berada di tengah kerumunan, ia langsung menghampiri Rolando untuk menghentikan aksinya dan mengambil alih situasi.
"Tenaaaang!" teriak Pak Herman sambil mencari keberadaan Pak Ruslan, setelah tampak olehnya ia membawa Pak Ruslan ke tengah lingkaran kerumunan. Pak Ruslan tidak takut, tetapi ia tidak mau perlawanannya malah membuat semakin banyak korban dari warganya.
"Warga blok 7, tenaaang! Provokator ini sudah kami amankan! Siapa lagi yang mau jadi provokator? Biar kami serahkan ke polisi, supaya tidak meresahkan warga Rusun Ciawi yang ingin pindah." tantang Pak Herman.
Tiba-tiba spanduk milik Pak Herman terlempar ke tengah lingkaran kerumunan, 3 remaja laki-laki berseragam sekolah muncul, salah seorang langsung membakarnya. Pak Herman kaget, wajahnya terlihat sangat marah, ia memberi kode pada Rolando untuk menghajar tiga remaja kurang ajar itu.
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1