Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Jakarta Kota Megapolitan Baru part2


__ADS_3

FFahri telah sampai di Rusun Ciawi. Kawasan ini memiliki 10 gedung yang disebut blok oleh warga. Fahri tinggal di Blok 7, satu-satunya gedung rusun yang aman dan bersih karena dipimpin oleh ketua RW yang sangat disegani, Pak Ruslan, pensiunan prajurit tentara.


Pak Ruslan sangat dekat dengan Fahri, mereka berdua adalah tokoh yang dicintai warga Blok 7. Pak Ruslan tidak sia-sia mengajak Fahri tinggal di Blok 7 karena kehadirannya membawa banyak manfaat untuk warga. Fahri mampu memperbaiki semua fasilitas elektronik gedung yang rusak sehingga semuanya tetap berfungsi. Fahri juga senang berbagi ilmu, mengajari warga mengaji, membekali anak-anak muda keterampilan komputer, elektronik dan bela diri.


Blok 7 memiliki semua perlengkapan mengajar yang dibutuhkan Fahri karena Pak Ruslan punya kenalan orang dari Yayasan Al Kahfi Land, kelompok yang sangat memperhatikan kebutuhan rakyat kecil.


Siapa sebenarnya Fahri? Di Blok 7 hanya Pak Ruslan yang tahu bahwa Fahri memang bukan pemuda biasa.


*****


Fahri adalah anak yatim-piatu yang sejak kecil dipelihara di pesantren kampung milik Kyai Hamid di Sukabumi, Jawa Barat. Otaknya cerdas, saat umur 15 tahun ia telah menghafal 30 juz Al Qurán dan banyak hadist. Selain ilmu agama, prestasi belajarnya di sekolah umum juga sangat menonjol. Kemampuan fisik Fahri juga luar biasa, ilmu silat dan pernafasan tenaga dalamnya yang didapat dari Kyai Hamid sulit ditandingi santri-santri lainnya.


Setelah Fahri lulus SMA, Kyai Hamid memintanya ke Magelang untuk ikut tes masuk Akabri, Fahri berhasil menjadi lulusan terbaik pada waktu itu, setelah menjadi tentara angkatan darat, Fahri juga berhasil masuk dalam kesatuan elit Paskus (Pasukan Khusus).


Nasib baik terus berpihak pada Fahri. Saat itu TNI ingin membuat pasukan baru, anggotanya adalah 7 orang tentara terbaik yang disaring dari seluruh angkatan darat, laut dan udara. Mereka akan ditempa menjadi tentara luar biasa dan digabungkan dalam sebuah pasukan, yaitu Pasukan T7. Lagi-lagi Fahri berhasil lulus menjadi anggota Pasukan T7.


Anggota Pasukan T7 memang bukan tentara biasa, mereka dibekali dengan seluruh kemampuan militer yang tidak lagi tersekat oleh darat, laut dan udara. Mereka harus bisa mengoperasikan semua jenis senjata dan alat transportasi penting militer, juga memiliki kemampuan menembak yang cepat dan akurat.


Mereka menguasai berbagai macam ilmu bela diri tradisional dan modern, baik tangan kosong, maupun  menggunakan berbagai jenis senjata tradisional, seperti pisau, pedang. tombak, panah dan sebagainya.


Latihan ketahanan fisiknya pun sangat berat, semua anggota Pasukan T7 harus menang dalam perkelahian, yaitu 1 orang melawan 10 prajurit tentara dari kesatuan lain dalam waktu singkat. Mereka pernah merasakan berenang menyebrangi Selat Sunda, mengarungi Laut Arafuru dengan perahu kecil tanpa mesin dan alat navigasi untuk mencapai darat, naik-turun Gunung Everest, menyusuri Gurun Sahara, Hutan Amazon dan sebagainya. Semua ujian itu hanya untuk mengambil baret, seragam, pangkat dan kelengkapan lain yang akan mereka pakai sebagai anggota Pasukan T7, mereka hanya dibekali pisau dan waktunya juga dibatasi.


Hebatnya lagi, kecerdasan otak Pasukan T7 juga harus diatas rata-rata. Mereka dibekali dengan berbagai ilmu teori militer seperti, strategi perang, intelejen, penangan teror dan sebagainya. Selain itu anggota Pasukan T7 harus menguasai minimal 2 bahasa asing dan punya satu keahlian khusus yang bukan hal militer.


Dalam segala hal Fahri selalu berhasil jadi yang terbaik di Pasukan T7, ia mampu menguasai 5 bahasa asing. Keahlian khusus selain hal militer yang dimiliki Fahri adalah menguasai koding komputer dan elektronik. Sebenarnya Fahri memang bercita-cita menjadi programer komputer, jika Kyai Hamid tidak memintanya menjadi tentara.


Fahri pernah tampil memukau dalam suatu proyek uji coba yang diizinkan negara. Ia dengan mudah melumpuhkan sistem keamanan jaringan sekelas bank, meretas situs penting milik pemerintah, mengganti tampilan palsu monitor CCTV di mabes TNI hingga menyadap telepon petinggi militer.


Fahri lulus menjadi anggota Pasukan T7 dengan nilai tertinggi sehingga ia mendapat hadiah istimewa, di usia muda pangkatnya langsung naik 2 level menjadi Kapten, sementara 6 anggota pasukan lainnya juga naik 1 level menjadi Letnan Dua, secara otomatis ia menjadi pemimpin Pasukan T7 yang bertanggung jawab langsung ke Jendral Priyo Hartono, pencetus ide pembentukan Pasukan T7 yang menjabat sebagai Menhankam sekaligus Panglima Abri.


Pasukan T7 memang pantas untuk dibanggakan, setelah terbentuk pasukan tersebut langsung menunjukkan berbagai prestasi gemilang menjalankan misi penting negara.


Misi pertama adalah menumpas gerombolan bersenjata dari negara lain yang aksinya tidak diakui oleh negara mereka. Gerombolan bersenjata terlatih itu menguasai Pulau Natuna selama beberapa jam. Pasukan T7 langsung diterjunkan untuk menumpasnya. Pihak musuh yang menghadang di laut kecolongan, Pasukan T7 berhasil menyusup masuk ke pulau tanpa ketahuan dan melumpuhkan musuh yang berada di darat. Setelah itu dengan menggunakan kapal perusak milik musuh, Pasukan T7 menghajar sisa musuh dalam pertarungan laut. 47 dari 60 orang gerombolan bersenjata tersebut tewas dalam baku tembak, sisanya menyerah, termasuk pemimpinnya.


Misi kedua adalah membebaskan 10 WNI yang disandera oleh kelompok Suku Moro di Filipina. Dalam misi ini, Fahri memilih melakukan pendekatan persuasif, di sini perannya sebagai anak jebolan pesantren sangat penting, hanya dengan dialog ternyata pemimpin kelompok Suku Moro mau membebaskan sandera, bahkan ia berjanji pada Fahri akan membantu jika ada WNI yang tertangkap anggotanya yang lain.


Misi ketiga Pasukan T7 adalah membebaskan 8 mahasiswa Indonesia yang disandera di sebuah kampus, di Australia. Para ******* menuntut pembebasan teman-temannya yang di tahan di Penjara Karakas terkait kasus pengeboman kantor Dubes Australia di Indonesia.


Awalnya Pemerintah Australia ingin menangani kasus ini sendiri, tetapi mereka malah kecolongan, 2 mahasiswa Indonesia tewas ditembak ******* asal Australia itu. Akhirnya pemerintah Indonesia punya alasan kuat melibatkan Pasukan T7 untuk membebaskan warga negaranya sendiri. Lagi-lagi Pasukan T7 berhasil menjalankan misi dari negara, semua sandera berhasil diselamatkan.


Pasukan T7 terus berhasil menjalani misi-misi penting lainnya. Keberhasilan beruntun membuat Pasukan T7 terkenal, mereka sering muncul di headline berbagai media, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di media luar negri, tetapi masyarakat umum tidak tahu wajah mereka, karena anggota Pasukan T7 selalu menutupi wajah dan merahasiakan nama anggotanya dalam setiap press confrenece.


Fahri kembali mendapat hadiah kenaikan pangkat menjadi Mayor. Tadinya para petinggi militer memprediksi Fahri akan mencetak sejarah, ia berpeluang menjadi Panglima ABRI dengan usia termuda. Sayangnya pada akhir tahun 2035 karir militer Fahri yang cemerlang harus kandas, ia malah dipecat, bahkan dipenjara karena menolak menjalankan misi yang bertentangan dengan prinsip hidupnya. Fahri menjadi korban politik dalam negeri yang sedang memanas.


Saat itu para mahasiswa, aktivis dan rakyat miskin bersatu menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di seluruh kota-kota besar. Konsentrasi masa terbesar berada di depan pagar gedung parlemen di Ibu Kota Negara Bandar Lampung, rakyat ingin menumbangkan Presiden Anggito Suryo dan menggantikannya dengan Budi Raharjo.


Budi Raharjo adalah seorang anggota DPR dari partai oposisi yang paling lantang pada pemerintah, ia dianggap sebagai pemimpin perjuangan rakyat. Seluruh elemen masyarakat yang turun ke jalan meyakini Budi Raharjo mampu merubah keadaan jika menggantikan Presiden Anggito Suryo. Para demonstran telah merobohkan pagar gedung parlemen di Bandar Lampung, mereka membawa Budi Raharjo ke tengah lautan masa dan memberi ultimatum kepada MPR, paling lambat malam ini harus menggelar Sidang Istimewa untuk memberhentikan Presiden Anggito Suryo dan menggantinya dengan Budi Raharjo.


Di Istana Negara Bandar Lampung kelompok inti kubu rezim Presiden Anggito Suryo juga telah berkumpul, mereka sadar sudah terpojok. Partai-partai koalisi pendukung kubu rezim tidak bisa diharapkan lagi, karena semuanya oportunis, mereka sedang berkalkulasi, sangat mungkin tiba-tiba melakukan manuver mendukung demonstran agar dirangkul menjadi kelompok penguasa baru.


Kekuasaan Presiden Anggito Suryo tidak mungkin bisa dipertahankan jika tidak menggunakan tangan besi militer sehingga Jendral Priyo Hartono yang berada di kubu Presiden Anggito Suryo dituntut segera bertindak, karena waktu tidak banyak. Untuk menjalankan misi yang tidak mungkin, Jendral Priyo Hartono butuh Pasukan T7.


Jendral Priyo Hartono memerintahkan Pasukan T7 menculik Budi Raharjo sekaligus anak dan istrinya, agar bisa dikendalikan. Ternyata kali ini Jendral Priyo Hartono kecewa pada Pasukan T7. Rupanya Fahri dan seorang anggotanya, Stevano, menolak dengan alasan misi ini bertentangan dengan hati nurani mereka.


Jendral Priyo Hartono sangat marah, jika tidak ada Presiden Anggito Suryo di dekatnya, ia pasti sudah menembak 2 anak buahnya yang membangkang, sebagai pelampiasannya ia membuang tanda pangkat Fahri dan Stevano lalu menyuruh pengawal menangkapnya.


Jendral Priyo Hartono tetap melanjutkan rencananya walau hanya dijalankan oleh 5 anggota Pasukan T7, ia menunjuk Samuel menjadi pemimpin baru Pasukan T7 menggantikan Fahri.


Akhirnya rasa kecewa Jendral Priyo Hartono pada Pasukan T7 terobati, Samuel berjanji bisa membereskan Budi Raharjo sekaligus membubarkan aksi, jika gagal ia siap memberikan kepalanya untuk ditembak.


Pasukan T7 memang sangat hebat, walau tanpa Fahri, Samuel mampu menyusun rencana dan melaksanakannya dengan sangat cepat.


Gulva, anggota Pasukan T7 yang ahli biologi dan kimia bersama 2 anggota lain berhasil menyusup di tengah-tengah demonstran. Mereka membawa ambulan, serum buatan Gulva, peralatan medis dan jaket almamater kuning dengan tulisan dan logo palsu Sukarelawan Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran UI.


Salah seorang anggota Pasukan T7 yang menyamar sebagai pendukung berhasil mendekati Budi Raharjo, tanpa ketahuan ia menyuntikkan serum ke tubuh Budi Raharjo sehingga langsung menggelapar.

__ADS_1


Demonstran di sekitar Budi Raharjo langsung panik, beberapa demonstran yang melihat 2 orang berjaket kuning bertulisan Sukarelawan Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran UI dan membawa peralatan medis langsung diminta membantu.


Gulva memberikan suntikan serum penawar pada Budi Raharjo, karena berhasil menyembuhkan, ia langsung mendapat kepercayaan penuh dari para demonstran. Dokter gadungan Gulva menyarankan agar Budi Raharjo segera di bawa ke rumah sakit dengan ambulan palsu mereka, dengan alasan pertolongan pertama ini hanya bersifat sementara, jika terkena serangan lagi, ia bisa meninggal.


Budi Raharjo dikawal 5 orang pendukungnya masuk ambulan, ternyata di tengah perjalanan 3 pasukan T7 meringkus Budi Raharjo dan pendukungnya. Pasukan T7 mengikat dan menutup kepala para tawanan.


Setelah sampai ke suatu tempat, penutup kepala Budi Raharjo dibuka, ia kaget, melalui kaca satu arah ia melihat istri dan anak laki-lakinya yang masih kecil berada di ruangan sebelah. Budi Rahajo mengenali baret dan seragam yang dikenakan tentara yang membawanya, kini ia sadar dalam bahaya, karena tahu sedang bersama pasukan terbaik yang tidak berada di pihaknya.


Budi Raharjo dibawa pindah ke ruang interogasi, ia melihat 5 pendukungnya duduk berjejer dalam keadaan badan terikat di kursi dan kepala yang masih tertutup.


"Anda kira dengan menculik saya, demonstrasi akan berhenti?" ejek Budi Raharjo pada Samuel yang sedang menatapnya.


Dengan santai Samuel membidik salah satu pendukung Budi Raharjo.


DOR! Darah berhamburan dari kepala salah satu tawanan, tawanan lain menjerit ketakutan.


Samuel memang sangat sadis dan tidak mengenal ampun pada musuh. Ia pernah dihukum Fahri karena menembak lawan yang sudah menyerah, sehingga ia punya dendam pribadi pada Fahri. Ia selalu berkata pada teman-teman dekatnya di Pasukan T7, bahwa Fahri tidak pantas memimpin pasukan terbaik di negeri ini, karena terlalu lembut dan tidak berjiwa militer.


"Samuel! Cepat katakan, apa yang kau mau?" tanya Budi Raharjo setelah melihat nama di dada tentara sadis yang baru saja membunuh seorang pendukungnya.


"Simpel, itu ada kamera yang sedang merekam, bilang anda telah melakukan korupsi dan minta maaf lah pada rakyat," sahut Samuel sambil menyalakan rokok.


Budi Raharjo tahu ancaman Samuel bukan gertakan. Budi Raharjo menghadap kamera dan menuruti keinginan Samuel. "Saya minta maaf pada rakyat Indonesia karena telah melakukan korupsi."


Samuel menghela nafas berat, ia membidik pistolnya pada salah seorang tawanan lain. DOR!


Para tawanan kembali menjerit ketakutan.


"DIAAAM!" bentak Samuel. Suasana langsung kembali hening.


"Samuel, kenapa? Saya sudah ikuti kemauan kamu!" tanya Budi Raharjo sedih.


"Anda sendiri yang membuang peluru saya sia-sia, orang bodoh mana yang percaya dengan kalimat dan gestur seperti itu? Silakan ulangi," ujar Samuel dingin.


Budi Raharjo berusaha mengulangi kalimatnya dengan gaya yang lebih meyakinkan, tetapi lagi-lagi suara pistol menyalak, lagi-lagi Samuel tidak puas dengan akting dan pilihan kalimat Budi Raharjo. 5 pendukung Budi Raharjo telah tewas, menyisakan istri dan anak Budi Raharjo yang berada di ruang lain.


"Tolonglah Samuel! Saya akan bicara sebaik mungkin agar tidak ada keraguan sekecil apapun bagi penonton rekaman ini, tapi kalau salah, tolong jangan bunuh siapapun lagi, saya akan terus perbaiki hingga sempurna, saya mohon."


"Nah, seharusnya anda seserius ini dari awal, silahkan," perintah Samuel.


Budi Raharjo menghela nafas berat, ia menyetel wajahnya dengan sebaik mungkin, kemudian membeberkan kasus korupsi nyata yang memiliki bukti-bukti kuat, lalu mengatakan bahwa dirinya yang bertanggung jawab, serta menambahkan alasan logis tentang pengakuan mendadak ini.


Dengan wajah ketakutan Budi Raharjo menatap Samuel, rupanya kali ini Samuel menyarungkan pistolnya ke pinggangnya.


Samuel mengutip potongan akhir kalimat Budi Raharjo, "Hmm, anda mau mengakui kejahatan korupsi ini karena malu pada rakyat dan merasa berdosa pada Tuhan? Masuk akal, setahu saya, anda memang cukup relijius."


“Apa yang harus saya koreksi?” tanya Budi Raharjo.


"Cukup meyakinkan! Rekaman video ini hanya untuk latihan, kau akan diantar menemui lautan masa demonstran pendukungmu lagi, panggil media untuk mendekat, setelah itu kau ulangi pernyataan tadi. Kalau rakyat tak percaya, berarti kau yang mau keluargamu mati!" ujar Samuel.


Sekitar 2 jam kemudian, di Istana Presiden, terdengar suara gemuruh teriakan kemenangan dari kubu Presiden Anggito Suryo. Orang-orang di sana memuji Jendral Priyo Hartono dengan Pasukan T7nya yang mampu memutar balik posisi kemenangan dengan sempurna. Mereka baru saja menonton siaran langsung pengakuan mengejutkan Budi Raharjo di televisi.


Di gedung parlemen konsentrasi masa yang menguasai gedung parlemen langsung buyar setelah Budi Raharjo bicara di depan media dan langsung menyerahkan diri pada polisi. Demonstran yang kecewa pada Budi Raharjo segera membubarkan diri, sebagian kecil masa yang tidak percaya masih bertahan, tetapi mereka telah kehilangan komando, sehingga aksi besar ini mudah dipadamkan polisi.


Rezim Presiden Anggito Suryo kembali menguasai negeri. Fahri dan Stevano disidang di pengadilan militer, mereka dipecat dan di tahan di penjara militer. Fahri divonis penjara 2 tahun dan Stevano divonis 6 bulan. Jendral Priyo Hartono, tadinya ingin menghukum mati keduanya, tetapi Presiden Anggito Suryo melarang, karena keduanya juga telah punya banyak jasa untuk negara.


Usai menyelesaikan masa tahanan Fahri tidak berani pulang ke pondok pesantrennya, ia malu pada Kyai Hamid karena gagal jadi tentara. Fahri terpaksa luntang-lantung tinggal dari satu masjid ke masjid lainnya hingga akhirnya ia bertemu Pak Ruslan di Masjid di Blok 7.


Sebagai mantan tentara yang sempat melihat Pasukan T7 dan penggemar berat tayangan berita politik, Pak Ruslan mengenali Fahri dan yakin anak muda ini telah menjadi korban politik, Pak Ruslan memutuskan menampung Fahri di salah satu unit Blok 7 yang kosong.


Fahri menjalani hidup barunya sebagai warga sipil biasa dan merahasiakan masa lalunya pada semua orang kecuali pada Pak Ruslan. Sebenarnya Fahri ingin meneruskan cita-cita lamanya menjadi programer komputer, tetapi sayangnya ia tidak memiliki ijazah akademis dan pengalaman kerja untuk bidang itu, sehingga ia terpaksa mengandalkan kemampuan fisiknya lagi dengan menjadi petugas keamanan di MNews.com. Sementara Stevano yang telah keluar penjara lebih cepat dari Fahri, entah dimana keberadaannya.


*****


 

__ADS_1


Dari jauh Pak Ruslan melihat Fahri menghampiri dirinya. Ia memang menunggu Fahri di warung kopi Mang Uus karena ada hal penting yang ia ingin sampaikan.


"Assalamualaikum bapak-bapak," sapa Fahri sopan sambil menyalami Pak Ruslan dan dua bapak yang sedang bermain catur.


"Wa'alaikumussalam. Pesan kopi dulu, Ri, ada yang mau saya bicarakan," pinta Pak Ruslan.


"Boleh, kopi satu, Mang Uus," pesan Fahri.


"Ri, tadi siang orang-orang PT Karya Salmara datang ke sini lagi," kata Pak Ruslan sambil memberi kode pada Mang Uus untuk mengecilkan volume TV yang menayangkan berita MNews. "Mereka memberi ultimatum, paling lama 1 bulan, kita harus mengosongkan rusun, pindah ke rusun baru di Kalimantan. Bukan cuma kita, semua penghuni rusun bersubsidi harus pindah, Nah itu muncul lagi berita nya.”


Mang Uus membesarkan lagi volume suara dengan remote TV.


Pemerintah menghimbau warga rumah susun bersubsidi di Jawa Barat dan Banten untuk segera pindah ke Rumah Susun Warga Sejahtera di Kalimantan agar memiliki pemukiman yang sehat dan layak, serta mendapat kompensasi uang tunai, ......


"Alaaah, mak! Pening kepalaku dengarnya," ujar Opung Saragih sambil mengambil remote control dari tangan Mang Uus untuk mengecilkan lagi volume suara TV. "Lagu lama itu! Dulu pun gitu katanya."


"Nasib orang kecil ya, Pung, Sekaaak!" ujar Pak Tomo.


"Nasib orang tak teliti memilih pemimpin! Skak apa pulak? Kebukak lah raja kau! Hehehe, apa kubilang? Memang bahaya kalau kita kalau tak teliti," canda Opung.


"Kabarnya mahasiswa mulai demo lagi di Bandar Lampung. Bisa jadi bakal mirip cerita 2 tahun yang lalu," ujar Pak Ruslan.


"Oalah, mahasiswa sekarang ndak bisa diharap! Wong, yang bisa kuliah cuma anak-anak orang kaya! Paling demo cuma buat pamer di sosmed atau bikin konten," sahut Pak Tomo apatis.


"Tiap zaman ada pahlawannya sendiri-sendiri, Pak Tomo" bela Pak Ruslan.


"Lho, mana?" tanya Pak Tomo.


"Kau macam tak pernah nonton berita. Kurang garang Si Daud Haris rupanya? Satu langkah lagi, jadi menteri! Hahaha," ujar Opung Saragih sambil menggeser pion caturnya ke depan, jika tidak dihalangi, pion itu bisa menjadi bidak menteri.


"Yaaa, Daud belum ngerasain digebhuk aja dia kaya Budi Raharjo. Wah! Pion Opung juga harus digebhuk iki! Hehehe" sahut Pak Tomo sambil menutup langkah pion milik Opung.


Fahri tersenyum, Daud Haris adalah sahabatnya, sama-sama anak yatim piatu yang dipelihara Kyai Hamid di pesantren. Setelah Daud lulus SMA, Kyai Hamid mengirimnya ke Fakultas Hukum UGM. Kyai Hamid sangat puas karena berhasil mengantarkan Fahri menjadi tentara dan Daud menjadi pengacara LBH.


Waktu Fahri dipenjara, Daud ingin membantunya karena yakin Fahri tidak bersalah, sayangnya Fahri melarang, dengan alasan masa hukumannya bisa dipersingkat jika Daud tidak ikut campur. Sebenarnya karena Fahri takut membahayakan nyawa Daud.


"Ah, jadi lupa kan! Saya tadi mau tanya Fahri, menurut kamu apa yang sebaiknya kita lakukan kalo orang PT Karya Utama mengusir kita, menyerah atau melawan?" tanya Pak Ruslan.


Fahri terdiam, ia sulit menjawab pertanyaan ini.


"Kita lawan lah!" ujar Opung Saragih.


"Iya dong, lawan!" sambut Pak Tomo.


"Setuju, lawan!" tambah Mang Uus.


"Bagaimana, Fahri?" tanya Pak Ruslan.


"Kita lawan, tapi dengan cara yang benar," jawab Fahri.


"Maksudnya?" tanya Pak Ruslan.


"Lewat dialog," jawab Fahri.


"Ah mana pulak suara kita di dengar, Fahri!" gerutu Opung Saragih.


"Betul Opung, karena suara rakyat kecil tidak didengar, maka kita akan bicara melalui Daud Haris, saya kenal dia, mudah-mudahan lewat dia, suara kita akan didengar penguasa," ujar Fahri.


Sebenarnya Fahri tidak yakin suara Daud Haris mempan, tetapi ia tidak ingin masyarakat rusun Blok 7 konyol menghadapi perang yang tidak mungkin dimenangkannya.


*****


 


Bersambung

__ADS_1


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


__ADS_2