
Pagi, Jakarta, 2040
Samuel dan kubunya telah menahan Presiden Priyo, para petinggi militer dan kepolisian di penjara Way Krui, Lampung. Ia menyerahkan urusan negara pada Rizal Salman dan Daud Haris, karena hari ini ia berencana bersama 2 anggota pasukan T7 menangkap sendiri 3 tokoh Al Kahfi di Jakarta.
Di helikopter yang dikemudikan Farhat, tampak Samuel dan Gulva memantau keberadaan 3 tokoh Al Kahfi dengan menggunakan perangkat digital.
“Lihat, tiga orang itu masing-masing sepertinya sedang menuju Mind Park. Farhat, kita langsung ke sana! Gulva coba kau lihat dari satelit, apa itu memang benar mobil mereka? Perbesar gambarnya!” perintah Samuel.
Gulva mengarahkan agar satelit mencari titik kordinat mobil-mobil itu, setelah mendapat visual, komputer menunjukkan jenis mobil yang mereka pantau.
Mercedez Benz. Classy 10, 2018. Limited Edition. Daimler AG, Germany ....
Huruf-huruf dalam monitor terus berganti untuk mencari nama pemilik mobil.
Janetta Riyadi, 01-IN-79453OSU, Erlangga Yusuf, 02-IN-79583FRW-18, Rizal Salman, 03-IN-79333JWK-18, Michael Lee, 04-IN-79354KLR-18 .....
“Betul, itu mobil Erlangga!” ujar Gulva saat melihat nama ‘Erlangga Yusuf” berkedip-kedip di layar monitor, kemudian ia mengecek 2 mobil lainnya. Setiap mobil ada dua titik, satu di posisi pengemudi, satu lagi duduk di belakang. Komputer juga memberi tahu informasi tempat keberangkatan mereka sebelumnya, yaitu dari alamat rumah masing-masing.
“Menurutku mereka mau rapat. Nah mobil-mobil mereka sudah memasuki tower2! Farhat, nanti kita mendarat di helipad tower 2,” ujar Samuel sambil terus memantau layar.
“O iya, tadi Rizal Salman bilang, Daud sudah menceritakan perjalanannya di Pulau Karakas. Kau pasti terkejut,” ujar Gulva pada Samuel.
“Ah, sudah terlalu banyak hal mengejutkan, apa lagi hal yang bisa bikin aku kaget? Hahaha,” sahut Samuel.
“Stevano lah yang mengantarkan Daud ke Jakarta,” ujar Gulva.
“Stevano? Hah? Ternyata memang mengejutkan! Dia menghilang dan tahu-tahu berurusan dengan Daud, apa lagi yang dikatakan Daud ke Rizal?” tanya Samuel.
“Sammy, tadinya rencana kita menyetujui keinginan Daud untuk datang ke Pulau Karakas adalah agar menjauhkan dia dari Ben Jani sekaligus membuka akses untuk Dion agar mudah membunuh Budi Raharo dan Fahri, kita kan enggak mau mereka jadi kuda hitam lagi setelah hura-hara yang kita buat ini. Ternyata Fahri dengan bantuan Stevano malah membebaskan Budi Raharjo dan membawanya ke Jakarta, tadi malam setelah mengantar Daud, Stevano kembali ke Pulau Karakas untuk menjemput Fahri,” jawab Gulva.
“Hmm Fahri... Dan Stevano berdiri dibelakang Fahri? Hmm, pantas Dion dan Rudi gagal menjalankan misi, Rudi sudah mati?” tanya Samuel.
“Betul. Apa menurutmu Fahri dan Stevano akan ikut meramaikan pesta kita?” tanya Gulva.
“Fahri tidak tertarik pada kekuasaan, jabatan dan uang. Bahkan ia pun sebenarnya tidak ingin jadi tentara, aku rasa ia hanya ingin keluar dari penjara. Kalau Stevano, walau sadis pada musuh, tapi rasa setia kawannya tinggi, tidak mungkin ia membunuh Dion dan Rudi. Kalau kita yang dalam posisi Fahri, ia pun pasti mau membantu,” jawab Farhat.
“Bagaimana jika menurut Stevano, kita sudah bukan kawannya lagi? Ia lebih dekat dengan Fahri ketimbang teman-teman lain di pasukan T7, menurutku mungkin saja mereka berdua yang menghabisi Dion dan Rudi,” sahut Gulva.
“Setuju! Walau tidak tertarik pada kekuasaan dan sebagainya, tapi Fahri pernah di kecewakan oleh negaranya, bisa saja ia ingin balas dendam. Aku tidak pernah meremehkan musuh, apalagi jika benar Fahri dan Stevano mau meramaikan pesta dan menempatkan diri sebagai musuh, mereka berdua jauh lebih sulit ditaklukan ketimbang Priyo dan Ben Jani. Tapi soal itu nanti saja kita pikirkan setelah mengurus 3 orang Al Kahfi ini,” ujar Samuel.
“Sammy! Daud menelpon,” sela Gulva.
Samuel mengangkat ponselnya.
“Samuel! Lu udah dimana?” tanya Daud.
“Sebentar lagi sampai di Mind Park, kenapa Pak Calon Presiden?” tanya Samuel.
“Mahasiswa berbondong-bondong ke Lampung, jangan lama-lama di sana,” ujar Daud.
__ADS_1
“Kau urus dulu lah sama Rizal, nanti setelah 3 tokoh ini tidak berdaya, mahasiswa pasti ikut, kalo masih melawan, kita habisi!” balas Samuel.
“Lu gila! Gue enggak mau ada darah! Cukup lu ancam aja 3 tokoh itu,” sahut Daud.
“Oke, oke, Pak Calon Presiden,” sahut Samuel lalu menutup ponselnya.
Helikopter akhirnya sampai di helipad tower 2.
*****
Samuel, Gulva dan Farhat menembaki pintu kaca, mereka memasuki gedung tanpa halangan, tidak ada petugas keamanan yang menjaga, bahkan tidak ada orang sama sekali di gedung tersebut. Karena negara chaos, kebanyakan perusahaan libur, para tentara mereka bersiaga dengan senjata mereka.
“Menurut alat pelacak, titik-titik yang keluar dari mobil telah berada di lantai 25,” ujar Gulva.
Tiba-tiba screen besar di gedung menampilkan wajah 3 tokoh Al Kahfi Land.
“Selamat datang di gedung 3 Minds tower 2,” sapa Andi Permana melalui screen, di sebelahnya tampak Ali Tanjung dan Erlangga Yusuf.
“Kau bisa dengar suara ku?” teriak Samuel.
“Enggak usah teriak, suara anda bisa kami dengar dengan jelas, kalian mencari kami?” tanya Kang Andi.
“Ya, kami cuma mau bicara, bisa kita bertemu langsung?” tanya Samuel.
“Maaf anak-anak muda, setelah apa yang kalian lakukan, kami rasa kalo cuma mau bicara, begini saja juga bisa, sampaikan apa yang kalian mau?” tanya Kang Andi.
“Menarik, tapi kerjasama seperti apa yang kalian mau?” tanya Kang Andi.
“Rasanya aku enggak perlu basa-basi lagi. Aku minta kalian berbohong pada rakyat, karang cerita bagus untuk membersihkan nama kami. Setelah itu desak parlemen untuk mengangkat Daud Haris sebagai presiden. Gampang kan?” ujar Samuel.
“Anak muda, usia Daud Haris belum memenuhi syarat, kenapa tidak Rizal Salman saja?” tanya Andi.
“Hukum bisa kita rubah dan Rizal pun tahu diri, baginya jabatan menteri sudah cukup, asal sebagian aset Mind Group jatuh ke tangan dia,” jawab Samuel.
“Kata kau jika kami mau bekerjasama aset kami aman, ternyata belum apa-apa kalian sudah mau merampok kami, bagaimana kami bisa percaya bahwa keselamatan jiwa kami juga aman?” tanya Andi.
“Pak Andi, kalian sudah sangat kaya, apa salahnya sedikit berbagi? Ku pastikan nyawa kalian aman. Sudahlah, aku sudah sangat baik dengan kalian, kalian kan tahu, sebenarnya kalian tidak punya pilihan,” jawab Samuel sambil melirik ponselnya yang terus dihubungi Daud Haris.
Samuel menonaktifkan suara panggilan ponselnya. “Daud Haris ribut sekali, masak urusan sepele menghadapi mahasiswa aja, harus tanya aku terus, *****!” maki Samuel.
“Soal aset bukan masalah besar, oke kalian tidak membunuh kami tapi kalian nanti akan memenjarakan kami di Penjara Karakas, kami tahu apa yang kalian lakukan pada Budi Raharjo, itu yang kami enggak mau, sepertinya akan lebih aman jika kami lari ke luar negeri,” ujar Andi.
“Jangan begitu lah Pak Andi. Budi Raharjo kan koruptor, beda,” elak Samuel.
Tiba-tiba Budi Raharjo muncul, ia duduk di sebelah 3 tokoh Al Kahfi.
“Samuel, masih ingat saya?” tanya Budi Raharjo.
__ADS_1
“Hahaha, tentu saja aku ingat. Sudahlah Pak Budi, lupakan masa lalu, aku terpaksa melakukan itu, toh buktinya anda sampai sekarang masih hidup,” ujar Samuel.
“Betul, Allah masih memberikan saya kesempatan hidup lebih lama, tapi nama baik saya sudah hancur. Anda memaksa saya mengakui perbuatan korupsi yang tidak saya lakukan di corong media setelah membunuh beberapa orang di depan mata saya dan keluarga saya juga anda jadikan sandera. Pasukan T7 juga telah mengorbankan pimpinan kalian, Fahri Hussein dan anggota kalian, Stevano Revan, karena tidak mau terlibat menyandera saya,” ujar Budi Raharjo geram.
“Ya, benar, itu ide jeniusku, rakyat-rakyat bodoh itu percaya kan! Ah, kalian membuat kesabaranku habis! Aku bukan politikus dan juga bukan pedagang yang suka bicara lama-lama dan tawar-menawar. Sekarang juga kalian semua turun ke lantai 20! Ku pastikan nyawa kalian dan keluarga semuanya aman dan tidak akan kupenjara asal tunduk pada kemauanku. Ingat! Ben Jani sudah ku bunuh, Priyo sudah ku kurung, apa sulitnya bagiku untuk menghabisi kalian semua di atas sana? Kalau kalian ingin kita selesaikan secara baik-baik, cepat turun!” perintah Samuel.
Samuel akhirnya mengangkat telpon dari Daud Haris.
“Hey, Daud Haris! Kau kan bersama Rizal Salman! Kalian enggak mampu ngurus hal sepele? Aku sedang memberesi tugasku!” teriak Samuel.
“Goblok! Lu sekarang lagi di tonton rakyat! Gambar kalian sedang disiarkan MNews, habis kita!” teriak Daud Haris.
Samuel menutup telponnya, ia mendekati kamera CCTV terdekat.
“Bansat-******* tua, kalian cari mati! Ayo kita bunuh mereka!” teriak Samuel sangat marah.
Farhat terus memperhatikan screen, saat Kang Andi dan kawan-kawannya meninggalkan kamera. tulisan yang tadinya tertutup jadi kelihatan, “Sammy, lihat tulisan itu, tower 1! Mereka ternyata berada di tower 1, bukan di sini. Kita dijebak!”
“Hah!….. *******! Ini pasti kerjaan Fahri! Farhat, kau pergi ambil pesawat tempur, ratakan semua gedung di Mind Park!” perintah Samuel.
“Hati-hati! Gedung ini serba digital, ini mainan Fahri, dia bisa mengurung kita di gedung ini kalau salah memilih jalan,” ujar Gulva.
“Jangan gunakan lift dan jangan masuki tempat yang tanpa kaca! Farhat kau kembali ke helikopter, cepat ambil pesawat tempur dan bawa pasukan militer ke sini!” perintah Samuel.
3 Tentara ini berlari menuju escalator di seberang atrium, mereka melihat diri mereka di layar besar yang jadi sorotan berita dari Mnews.
Pemirsa, kita saksikan bersama, rupanya Kolonel Samuel, Kapten Gulva dan Kapten Farhat telah menyadari bahwa mereka muncul ditayangan langsung MNews.
Kemudian MNews menampilkan suasana Kota Bandar Lampung. Di sana para mahasiswa, tentara, polisi dan wakil rakyat telah berkumpul bersama saling berpegangan tangan di halaman gedung parlemen.
Pemirsa, baru saja sama-sama kita saksikan,apa yang terjadi di tower 2 gedung 3 Minds, telah memberi kejelasan pada kita terhadap peristiwa membingungkan yang terjadi sejak mantan Presiden Anggito Suryo mengundurkan diri. Budi Raharjo ternyata selama ini diancam untuk mengakui korupsi yang tidak dilakukannya. Fahri Hussein dan Stevano Revan juga dipecat dan dipenjara di penjara militer karena menolak tugas untuk menghabisi Budi Raharjo. Saat ini kami juga sudah mendapat laporan dari kepolisian, bahwa mereka telah mengepung tempat Rizal Salman dan Daud Haris…….”
“Pasti Fahri yang merencanakan semua ini. Dia menjebak kita ….” ujar Samuel, ia langsung menghentikan pembicaraan saat mendengar suara langkah orang berlari yang semakin mendekat.
DOR!!! DOR!!! DOR!!! DOR!!! DOR!!!
Samuel dan 2 anggotanya langsung menyambut kehadiran Fahri dan Stevano. Masing-masing kubu mencari posisi aman untuk berlindung sambil menembak.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1