Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Lubang Waktu - Part 6


__ADS_3

Orang-orang di rombongan Fahri telah tidur di gua yang mereka temui, para laki-laki saling bergantian menjaga rombongan yang tidur, saat ini Budi Raharjo dan Zul mendapat giliran  untuk menjaga. Orang-orang yang tidur tampak nyenyak sekali karena sangat letih.


Tiba-tiba Budi Raharjo berdiri, ia heran karena cahaya-cahaya biru dari stalaktit gua tampak semakin terang. Zul berdiri melihat keanehan itu.


“Saya kuatir cahaya itu membahayakan kita, ayo kita bangunkan teman-teman!” ajak Budi Raharjo pada Zul.


Kedua orang tersebut bergegas membangunkan orang-orang yang tidur. Beberapa orang termasuk Dini, sudah bangun sebelum dibangunkan, semua memandangi langit-langit gua yang semakin terang, hanya Fahri yang belum bangun.


Zul ragu membangunkan Fahri, ia melihat tubuh Fahri memancarkan cahaya biru seperti binatang-binatang kecil di stalaktit. Zul menyentuh Fahri.


“Aaaaah!” teriak Zul,


Tubuh Zul terpental, ia seperti terkena listrik tegangan tinggi. Orang-orang di dalam gua terkejut.


Tiba-tiba cahaya dari stalaktit padam, seketika seluruh gua menjadi gelap, kecuali tubuh Fahri yang bersinar kebiru-biruan.


Para penghuni gua panik, mereka berhamburan keluar gua. Zul menarik tangan Dini yang terpaku melihat Fahri, agar ikut keluar bersama yang lain.


Semua orang telah keluar, kecuali Fahri. Mulut gua tiba-tiba mengeluarkan cahaya biru seolah memberikan pintu pembatas yang tidak  boleh dimasuki lagi.


Zul kembali masuk gua untuk menyelamatkan Fahri.


“Aaahh!” teriak Zul, badannya terpental seperti yang dialaminya tadi.


Kini orang-orang di luar gua hanya bisa memandangi Fahri yang tetap tertidur dengan badan mengeluarkan cahaya, tanpa ada yang bisa menyelamatkannya.


Tiba-tiba badan Fahri mengambang, lalu berputar mengikuti sumbu putaran tinggi tubuhnya ke arah kanan, makin lama putarannya semakin kencang. Nafas orang-orang di luar gua tertahan menyaksikan pemandangan aneh ini. Cahaya di tubuh Fahri tampak semakin terang dan menyilaukan, sehingga orang-orang di luar gua menutup mata dengan tangan, saking silaunya.


Setelah mencapai intensitas cahaya paling terang, gua mendadak gelap, semua cahaya hilang. Tak lama kemudian binatang-binatang di stalaktit kembali memunculkan cahaya, ternyata Fahri telah hilang dari dalam gua.


Dini ketakutan melihat Fahri hilang. Zul memberanikan diri masuk karena gua telah tampak normal, karena aman yang lain menyusul Zul untuk mencari Fahri.


Dini menangis karena Fahri benar-benar hilang. Budi Raharjo berusaha menenangkan Dini.


“Ayo, tinggalkan gua ini, sebelum ada lagi yang hilang,” ajak Bram.


Semua orang setuju, kecuali Dini.


“Dini, semuanya sudah jadi kehendak Allah, mungkin tugas Fahri mengantar kita sudah selesai, dia anak baik, insyaAllah dia pasti berada di tempat yang baik pula. Sudahlah, saya enggak mau kamu juga jadi korban, ayo kita pergi,” ajak Budi Raharjo.


Akhirnya Dini mengalah, dengan lunglai ia mengikuti rombongan meninggalkan gua.

__ADS_1


*****


 


 


Di pantai Pulau Karakas 3 perahu boat baru saja merapat di sebelah sebuah perahu boat yang sudah lebih dulu bersandar.


“Ada tamu lain, ternyata” ujar Rudi, anggota pasukan T7 yang memimpin 30 tentara untuk melanjutkan misi Dion yang gagal.


“Pasukan! Dirikan tenda di sini, kita akan masuki hutan besok pagi,” perintah Rudi pada tentaranya.


*****


 


 


Fahri terbangun dari tidurnya, ia kaget karena sudah pagi, padahal ia merasa hanya tidur sebentar. Fahri memandangi gua yang tiba-tiba menjadi lebih sempit. Dimana ini? tanya Fahri dalam hati. Fahri terkejut karena tidak melihat satu pun anggota rombongannya, ia langsung berdiri dan mencari jalan keluar.


Fahri menyingkirkan semak-semak yang menghalangi jalan keluar, semakin mendekati mulut gua, semak-semak semakin rapat.


Fahri telah keluar dari gua kecil itu, ia memandangi sekelilingnya yang penuh dengan pohon-pohon pinus.


Fahri menelusuri hutan pinus tersebut, ini dimana sih? Apa aku sudah ada di pulau berbeda? Suhu udaranya tak sedingin kemarin, kontur alamnya berbeda dan kenapa aku berada di sini sendirian?


Setelah berjalan jauh, Fahri terkejut melihat pucuk sebuahbangunan yang pernah di lihatnya.


Al Kahfi Land? Aku sudah tidak di Pulau Karakas?


Fahri menghampiri bangunan utama Al Kahfi Land dengan perasaan tak menentu. Banyak pertanyaan di kepalanya.


“Cari siapa, mas?” tanya sekuriti yang melihatnya dengan tatapan seolah-olah Fahri orang aneh.


Fahri baru sadar baju dan badannya sangat kotor, untungnya ia sudah tidak mengenakan baju napinya.


“Ini Al Kahfi Land? Pusat pembinaan masyarakat miskin?” tanya Fahri.


“Ini betul kantor Al Kahfi Land, tapi kantor perusahaan properti. Mas cari siapa?” tanya sekuriti itu lagi.


“Hmm... Pak Ali Tanjung, ada?” tanya Fahri.

__ADS_1


“Oh, Ali, sudah ada janji?” tanya sekuriti itu.


“Belum, pak. Tapi saya butuh ketemu beliau,” sahut Fahri.


“Beliau? Hmm, nama mas siapa dan dari mana?” tanya sekuriti itu.


“Saya Fahri, anak buah Pak Ali Tanjung,” jawab Fahri.


“Anak buah Ali?” tanya sekuriti itu semakin heran.


“Pak, tolong! Saya butuh ketemu Pak Ali Tanjung, segera,” pinta Fahri lebih tegas.


“Ya sudah, tunggu dulu di situ,” ujar sekuriti bernama Pak Jajat.


Fahri duduk di salah satu kursi. Ia heran, walau bentuk bangunan ini sama dan ada tulisan Al Kahfi Land, tapi ia merasa mendatangi tempat berbeda.


Pak Jajat terdengar sedang menelpon seseorang.


“Al, ada yang nyariin, namanya Fahri, kayaknya stress berat tuh, lu mau nemuin enggak?” tanya Pak Jajat.


“Fahri? Siapa ya? Ya udah gue temuin, jangan-jangan emang gue kenal, makasih Pak Jajat,” ujar Ali Tanjung.


Fahri memandangi seisi ruang. Ia merasa risih dengan penampilan kumalnya berada di bangunan yang mewah ini, apalagi tatapan orang-orang di sini sangat terasa tidak bersahabat. Mereka itu cendikiawan-cendikiawan muslim yang dibilang Pak Ali? Tanya Fahri dalam hati.


Tiba-tiba seorang anak muda tampan yang usianya kira-kira sebaya dengannya menghampiri Pak Jajat. Fahri heran karena wajahnya mirip dengan Ali Tanjung.


Anak muda itu menghampiri Fahri.


“Cari gue?” tanya anak muda itu.


“Saya cari Pak Ali Tanjung,” jawab Fahri.


“Gue Ali Tanjung.” sahut pemuda itu.


*****


 


 


Bersambung

__ADS_1


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


__ADS_2