
"Koh Edi! lihat situasi di bawah untuk jalankan rencana berikutnya. Wayan! Lempari terus mereka dengan batu dari atas sampai habis, supaya saya punya cukup waktu ke tempat kamu. Setelah batu habis bawa teman-teman di tangga besi naik ke lantai lebih tinggi supaya tidak terjangkau batu, karena mereka sudah punya modal batu dari kita, provokasi mereka supaya sebanyak-banyaknya mau naik ke tangga besi.”
Aksi batu mengagetkan ini berhasil membuat barisan terdepan ormas mundur kembali, batu-batu dari atas telah banyak membuat bocor kepala teman-teman mereka.
Pemimpin ormas tidak menyangka warga Blok 7 memilih untuk melawan. Ia tidak mempersiapkan diri untuk pertempuran, dipikirnya dengan menunjukkan massa, warga Blok 7 pasti menyerah ketakutan.
“Barisan Macan Rakyat! Mundur! Mereka punya banyak batu!” teriak pemimpin ormas melalui toa
Pasukan Wayan terus menghujani halaman dengan batu.
“Kasih waktu ke anak kecil itu buat mainan batu, kalo udah habis kita gebukin rame-rame!” teriak pemimpin ormas melalui toa sambil tertawa.
“Batunya udah habis, Bang Fahri!” ujar Wayan.
“Oke siap-siap! Sebentar lagi akan ada balasan lemparan batu dari mereka."
“Wooy, hahaha udah habis batunya? Barisan Macan Rakyat! Hancurin gedungnya pake batu mereka, balas!” teriak sang pemimpin ormas.
Benar kata Fahri, tak lama kemudian batu-batu berhamburan ke arah pintu utama sehingga memecahkan kacanya yang sudah dilapisi papan tebal, sebagian batu-batu lain berhamburan menuju orang-orang yang berada di tangga besi walau sasarannya sudah naik ke tempat yang lebih tinggi dan menggunakan pelindung agar tidak dapat terkena batu.
Setelah kelompok ormas puas melempar batu, pemimpin ormas kembali bicara.
“Oke, cukup main batunya! Warga Blok 7! Cuma 6 bocah doang yang berani muncul? Yang lain ngumpet? Hahaha.” teriak pemimpin ormas.
“Hey Barisan Macan Ompong! Gue pemimpin Blok 7! Pasukan Ganas Blok 7 doyan daging macan! Sayangnya lu semua cuma anak ayam! Naik lu semua, kita kunyah!” teriak Fahri yang sudah berada di tangga besi lantai 6 bersama pasukan Wayan.
Ormas Barisan Macan Rakyat berhasil diprovokasi Fahri, tanpa menunggu aba-aba pemimpinnya, mereka langsung berhamburan, sebagian besar lebih bernafsu menghajar Fahri dan orang-orang di tangga besi, sebagian kecil berlari menuju pintu utama gedung.
*****
__ADS_1
Anggota ormas yang memasuki gedung menendang pintu yang tidak tertutup dengan benar, ternyata di dalam gedung yang sengaja dibuat gelap hanya terlihat 3 pemuda yang langsung lari ketakutan.
“Cuma 3 orang! Kita gebukin rame-rame!” teriak salah seorang anggota ormas. Teriakan ini membuat orang-orang semakin semangat memasuki gedung, saking bernafsunya mereka melupakan ruang di kiri-kanan yang menyembunyikan 21 orang di dalamnya.
Di atas sana rupanya Fahri sedang berhitung cepat, ia sedang membagi ormas ke dalam dua kelompok tanpa mereka sadari. Fahri menduga hampir 100 orang memasuki gedung, jumlah ini menurutnya cukup seimbang untuk dihadapi 21 Pasukan Dul yang sebagian besar petarung unggulan Blok 7.
“Koh Edi, lempar bom molotov ke depan pintu gedung!” perintah Fahri.
“Awas bom molotov!” teriak pemimpin ormas. Para anggota ormas yang tadinya masih mau masuk ke dalam gedung langsung mundur menjauh.
Duer!!! Ledakan bom molotov menghambat tambahan orang yang ingin masuk ke dalam gedung, sekaligus kode untuk pasukan Dul beraksi. Semua pasukan Dul keluar dari persembunyiannya, beberapa orang langsung menutup pintu gedung dan menggemboknya dengan rantai.
*****
Benar saja, satu persatu orang ormas meninggalkan kelompoknya dengan wajah panik menuju gedung lain mencari toilet.
*****
Dari lantai 6 tangga besi Fahri menghitung anggota ormas yang telah menaiki tangga besi, barisan terdepannya telah mencapai lantai 4.
“Koh Edy! Las besi tangga, sekarang!” perintah Fahri melalui HT, lalu ia memberi perintah pada Wayan dan teman-temannya, “kalian masuk ke dalam gedung sebelum tangga roboh dan langsung kunci, jangan buka kecuali saya perintah.”
__ADS_1
Sekrup-sekrup tangga besi yang menempel ke dinding telah dilepas tadi malam, kini kekuatan konstruksi tangga besi darurat hanya mengandalkan besi tebal penyangga utama yang terikat pada beton di atas gedung, Koh edi menyuruh asistennya mulai mengelas sambil memperhatikan jumlah orang yang menaikinya, agar putus sesuai keinginan Fahri.
Menurut hitungan cepat Fahri sekitar 150 orang dari pihak lawan sudah mengisi tangga, jarak barisan terdepan dengan Fahri sudah dekat, tetapi rupanya penyangga utama cukup tebal, sehingga masih kuat menahan beban tangga, Koh Edi masih perlu waktu.
Jika tangga besi ini tidak roboh, maka anggota ormas akan mencapai pintu-pintu darurat yang berada mulai dari lantai 6 hingga lantai 10. Pintu-pintu darurat yang terbuat dari besi, bila dihantam berkali-kali pasti jebol. Fahri segera bertindak, ia menuruni tangga untuk menghadang kerumunan ormas agar tidak naik.
Fahri berhadapan dengan 3 orang barisan terdepan kelompok ormas. Sebuah sabetan kayu menghampiri wajahnya, sambil mengelak Fahri memukul tangan orang yang menyabetnya sehingga kayu itu terlepas, tiba-tiba sabetan kayu lain hampir menyentuh kepalanya jika Fahri tidak menutup dengan tangannya, kayu itu pun patah.
Fahri ingin mengambil kayu yang terjatuh, tapi kayu lain menyambar tangannya, dengan cepat Fahri menghindar lalu kembali mengungut kayu itu. Setelah memiliki senjata Fahri mengibas-ngibaskan kayu untuk menakut-nakuti orang terdepan.
Posisi ini menyulitkan Fahri, ia harus tetap dalam posisi berhadapan sambil mundur teratur menaiki tangga, jika salah langkah ia bisa terperangkap di tengah kerumunan yang tidak memberi ruang untuk berkelahi, untungnya lawannya juga susah bergerak maju, walaupun jumlah mereka banyak tetapi lebar tangga besi ini tidak mungkin dilewati banyak orang bersamaan.
“Fahli, lu olang gimana, lu bisa jatuh kalo gua lanjut?” tanya Koh Edi melalui HT.
“Teruskan aja Koh Edi!” sahut Fahri.
Fahri tidak boleh terlalu lama dalam situasi terpojok ini, ia harus melakukan ancaman serius sebelum lawannya nekat menerima kibasan kayunya untuk memberikan jalan pada yang lain.
Fahri kembali maju, dengan sangat cepat 3 sodokan keras kayu Fahri merontokkan gigi orang-orang di hadapannya, kemudian ia mengulanginya lagi pada orang-orang di belakangnya dan di belakangnya lagi, setelah itu Fahri menyabet mereka semua sekeras mungkin agar jatuh ke belakang, 9 orang terdepan terjatuh menimpa teman-teman dibelakangnya, akhirnya ia punya waktu untuk kembali naik mendekati pintu. Para penonton di luar halaman gedung bersorak-sorak menyaksikan seorang warga Blok 7 mampu menghajar kerumunan ormas di depannya.
Fahri merasa tangga mulai bergoyang. ia yakin sebentar lagi tangga besi ini akan roboh, Fahri segera berlari secepat mungkin menuju pintu darurat lantai 6, tiba-tiba tangga besi jadi condong menjauhi gedung, Fahri langsung melompat, tangannya menangkap engsel pintu besi, sedetik kemudian terdengar dentuman tangga besi roboh bersama kerumunan ormas yang menaikinya.
Sambil bergantung Fahri melihat ke bawah. Sekitar 150 orang jatuh dan tertimpa besi atau orang di atasnya. Penonton kembali bergemuruh senang melihat warga Blok 7 yang mereka dukung selamat. Fahri membenahi posisinya, ia membuka kunci pintu besi dan masuk ke dalam.
*****
Bersambung
__ADS_1
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W