Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Banjir Darah di Blok 3 Part 2


__ADS_3

“Lu olang dimana, Jonas?” tanya Mr Chung.


“Di tempat gue, kenapa lu, Koh?” tanya Jonas.


“Lu tau ga ada polisi tembak-tembak kita punya gedung? Polisi itu lu olang punya kelja, bukan?” tanya Mr. Chung.


“Hah? Bukan! Brengsek! Mungkin kapolsek konyol yang gak doyan duit itu masih penasaran sama Blok 3, biarin aja, paling anak buahnya disembelih Big Kong lagi, hahaha,” ujar Jonas santai.


“Kapolseknya tulun tangan sendili dan bawa banyak olang, sekalang lagi nembakin Blok 3 punya olang di lantai 2. Olang-olang Big Kong uda pada tulun ke lantai 1! Emangnya lu punya anak buah pada kaga lapol?” tanya Mr. Chung panik.


“Koh! Santai! Lu pusing amat, gedung ini urusan Big Kong!” ujar Jonas.


“Lu olang payah aaa! Si Buluk punya otak lebih pintel dali elu! Dia ngajak bos gank-gank lain ngeloyok Big Kong mumpung lagi pelang sama polisi. Gala-gala lu punya kelja sante-sante telus, Lijal Salman bisa milih Si Buluk buat mimpin kita! Bodo!” ujar Mr. Chung.


“Hah? *******! Si Buluk mau cari muka ke Rizal Salman, berani-beraninya ngelangkahin gue, cari ******!” ancam Jonas sambil memutus pembicaraan telpon.


“Bongkeng! Lu kumpulin semua anak-anak, sekarang!” perintah Jonas.


“Udah Bos, tapi ponsel anak-anak banyak yang enggak diangkat, sebagian yang ngangkat katanya kejebak di tengah kelompok yang saling tembak, mereka gak bisa kemana-mana” kata Bongkeng, anak buah Jonas.


Jonas sangat marah, ia mengambil pistol dari laci dan langsung keluar ruangan tanpa bicara apa-apa lagi untuk mencari Si Buluk.


*****

__ADS_1


 


 


Koridor yang dilewati Jonas tampak sepi tapi ia mendengar ramai suara tembak-menembak di bawah sana, tiba-tiba ia melihat Si Buluk baru keluar dari tempat Gank mafia lain ditemani 2 anak buahnya, Si Buluk terkejut karena Jonas langsung membidik pistolnya.


DOR!!! Si Buluk tumbang. 2 anak buah buluk langsung membalas tembakan dengan membabi-buta, tetapi Jonas telah menghindar ke balik tembok. Tiba-tiba Jonas melompat sambil melepas dua tembakan. DOR!!! DOR!!!  2 peluru Jonas mampir ke masing-masing kepala lawan.


*****


 


 


Setelah di halaman gedung tidak ada lagi baku tembak karena semua orang sedang bertempur di dalam, polisi yang menjaga Dini mengajaknya keluar dari persembunyian untuk menjauhi Blok 3.


Saat mereka mengendap-endap menjauhi pohon, tiba-tiba, DUAARRRR!!!!  terdengar letusan sangat keras, polisi di sebelah Dini roboh oleh peluru sniper yang berada di atas gedung. Dini menjerit.


Dini berdiri sambil mengangkat kedua tangannya, ia tidak berani melangkah lagi. Tak berapa lama seseorang dari tangga besi pintu darurat menghampiri Dini, ia memaksa Dini untuk mengikutinya berjalan ke tangga besi darurat, orang ini adalah anak buah Big Kong.


Di control room Blok 7, Pak Ruslan melihat Dini melewati kamera CCTV, ia langsung melaporkannya pada Fahri.


*****

__ADS_1


 


Suara lagu musik klasik menggema di control room CCTV Blok 3 yang mewah dan nyaman. Sang pemiliknya, Big Kong menonton perang sambil sesekali menggerak-gerakkan tangannya bergaya seperti konduktor musik orkestra.


“Bagus, bilang sama orang kita yang bawa anak Ali Tanjung, kalo lecet sedikit aja, dia ku bunuh,” ancam Big Kong pada anak-anak buahnya yang menemaninya.


Ternyata sosok Big Kong jauh dari namanya yang terkesan mirip King Kong, wajahnya sama sekali tidak seram seperti kebanyakan penghuni Blok 3 dan ia  masih seusia Fahri. Selain ganteng dan atletis, Big Kong terlihat necis, penampilannya seperti eksekutif muda di wilayah perkantoran Mind Park, yang terlihat seram dari Big Kong justru sikap-sikap anehnya. Entah bagaimana sosok seperti ini mampu menguasai Blok 3.


Tiba-tiba matanya menyipit melihat keanehan pada CCTV. “Wowww! Ada 3 monitor yang berkedip saling bergantian, hmm, hahaha, hebat juga! Entah kerjaan polisi atau monyet-monyet Blok 3? Rupanya ada yang menyadap CCTV kita! Gitu dong, ada kemajuan!” ujar Big Kong senang.


Big Kong melompat ke atas meja, ia berdiri di situ seolah menjadi konduktor orksetra lagi sambil menunjuk-nunjuk monitor CCTV, tiba-tiba dia melompat ke bawah lagi dengan wajah takjub, “Gila! Berkelas! Kalian lihat monitor-monitor koridor yang tadi berkedip bergantian? Tadinya ada orang Blok 3 berlarian, sekarang tiba-tiba mereka sudah ****** tertembak di sana, pembunuhnya hantu! Ini baru tontonan! Ah, ini pasti bukan kerjaan orang Blok 3 dan polisi-polisi lokal itu. Hmm, Siapa ini? Hahaha, wah betul-betul hebat manusia ini. WOW, cerdas! Dia baru membobol gudang senjata punya Chung di lantai 5! Siapa tamu kita ini?” tanya Big Kong.


Big Kong kini duduk di kursi kebanggaannya, sekarang ia menonton dengan lebih serius, “sayang sekali aku tidak bisa lihat wajahnya, semua tempat yang akan dia lewati monitornya berganti gambar rekaman, pantas dia bisa masuk tanpa dicegah orang kita.”


Big Kong kembali berdiri, ia menggerakkan badannya melakukan pemanasan seperti orang yang ingin olah raga, “Ambilkan aku baju khusus, sudah lama aku tidak olah raga, siapkan juga pasukan utama untuk menyambut tamu istimewa. Kasihan tamu istimewa sudah datang jauh-jauh, masa kita suguhi tempe, hahaha,” perintah Big Kong pada anak buahnya.


*****


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.

__ADS_1


Penulis, Indra W


__ADS_2