Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Lubang Waktu - Part 8


__ADS_3

"Bos ada enggak di kantor?" tanya Ali pada Pak Jajat.


"Itu dia yang gue heran! Pak Didi bilang, baru aja nganter bos ke bandara, tapi barusan si bos telpon gue, katanya dia lagi di rumah kotak," ujar Pak Jajat.


"Salah denger lu. Berarti bos ada di rumah kotak, ya?" tanya Ali.


"Kebetulan nih! Kata bos, Mas Fahri itu tamu dia, elu disuruh anter ke rumah kotak. pesen bos, enggak ada yang boleh tau si bos lagi di rumah kotak dan enggak boleh ada orang lain yang ke sana selain lu berdua," ujar Pak Jajat.


"Oh gitu? Oke, Pak Jajat," sahut Ali.


Ali dan Fahri meninggalkan Pak Jajat.


Saat menyusuri kantor Ali tersenyum geli melihat Fahri, ia terkesima memandang seorang perempuan cantik yang baru saja melewati tanpa menegur atau menoleh pada mereka.


"Ehm! Cantik ya? Hahaha, sampe bengong gitu, naksir sama Soffie? Tapi biar cantik, gue sih anti banget sama dia, perempuan sengak, negur aja harus lihat kasta dulu," gerutu Ali.


"Astaghfirllahaladzim, gue enggak kepikiran soal itu. Soffie mirip banget dengan almarhum ibu saya. Apalagi kalo Soffie itu pakai hijab," sahut Fahri.


"Hahaha, alesan aja! Tapi..." Ali mengamati wajah Fahri. "Ya ampun, gue baru ngeh, emang ada garis muka Soffie di elu. Jangan-jangan lu beneran dari masa depan? Mungkin lu emang anaknya Soffie. Hahaha,"


"Al, sebentar!" sapa perempuan lain yang menggunakan jaket lusuh dan menenteng helm motor.


Fahri mengenali wajah perempuan ini, tapi ia kaget karena penampilannya sangat berbeda di masa depan.


"Eh, Widi. Kenapa?" sahut Ali sambil menghentikan langkahnya.


"Kata orang-orang kantor, lu gamparin Desmond, betul?" tanya Widi yang sedang menenteng helm motor.


"Belum, banci itu takut, gue tantangin ribut," ujar Ali.


"Terus, betul lu bener mau resign?" tanya Widi.


"Gitu deh. Eh, sori Wid, nanti aja kita ngobrol, gue lagi di panggil Pak Erlangga, entar dia marah-marah kalo nunggu kelamaan. Salam enggak? Lu kan naksir Pak Erlangga" canda Ali, ia tahu Widi sangat tidak suka pada Erlangga.


"Males banget! Ya udah, gih sana! Gue juga mau ke lokasi proyek," ujar Widi, kemudian menyapa Fahri sebelum berlalu.


"Kalian memang punya masa lalu yang unik. Pantas Dini bilang Al Kahfi Land menyimpan banyak cerita," ujar Fahri.


"Lu udah gue temuin ke Erlangga masih aja belagak jadi manusia masa depan,Dini itu siapa? Di sini enggak ada yang namanya Dini," ujar Ali.


"InsyaAllah, Dini itu calon istri gue. Setuju enggak?" tanya Fahri sambil cengar-cengir.


"Terserah lah! Emang gue bapaknya?" ujar Ali.


 


*****


 


 


Di Pulau Karakas tahun 2040, sebentar lagi matahari mengintip di balik garis horison laut.

__ADS_1


Stevano mengemasi tenda-tendanya setelah menjalankan sholat subuh berjamaah. Ia rupanya telah menjadi seorang mualaf.


“Menurut gue, kita harus berjaga-jaga berhadapan dengan aparat negara. Kalo ketemu di pantai, kita hadapi dengan senjata api, tapi kalo ketemu bukit-bukit penuh magnet, maka teknologi senjata kalian enggak berguna. Kita akan berperang seperti di zaman Rasulullah, yaitu menggunakan busur panah. Siapa yang tahu cara memakai busur panah?” tanya Stevano.


Topa, Abew, Oblak dan beberapa napi mengangkat tangan. Beberapa napi lain tertawa terpingkal-pingkal.


“Makanya pada sholat di masjid. Pak Budi, selain ngajar ngaji, beliau juga ngajar manah,” sahut Topa.


“Hahahaha, ke masjid? Jadi pukulan bedug aja, lu pada kagak pantes!” ledek seorang napi.


“Lagian buku catatan amal lu udah dirobek malaikat, kali. Kagak kepake,  hahaha,” ledek seorang napi yang lainnya.


“Dasar lu pada, bulu ketek Dajal! Hahaha,” balas Oblak.


Stevano tertawa, walau ikut menikmati tapi ia harus menyudahi acara lenong dadakan ini,  ia harus membekali pasukannya dengan kemampuan memanah dalam waktu singkat.


Di tempat lain, Rudi, anggota Pasukan T7 yang memipin 30 tentara, juga telah bergerak. Rudi menduga Fahri pasti menyusuri sungai dangkal berbatu di dekatnya, jalan termudah untuk mencapai pantai. Rudi ingin mencegat Fahri di sungai ini.


Rudi juga yakin Fahri mudah dikalahkan, karena ia membawa persenjataan militer canggih, karena kesombongannya, ia tidak mau menyempatkan diri mempelajari karakter unik Pulau Karakas.


*****


 


"Silahkan masuk, tolong nanti pintunya jangan ditutup," sahut orang di balik pintu kaca rumah kotak.


Ali terkesima melihat Erlangga yang terlihat agak berbeda. Penampilannya lebih santai, tidak senecis dan seklimis biasanya. Raut wajah dan sikapnya pun mendadak bersahabat.


"Silahkan duduk teman-teman," ujar Angga ramah.


"Apa kabar Al?" tanya Angga.


"Masih sama, belum ada perubahan kabar," jawab Ali sinis.


"Hahaha. Masih marah sama dunia, Al?" canda Angga, kemudian ia menoleh pada Fahri. "Fahri! Ali Tanjung ini guru besar saya soal bisnis."


Ali menangkap keganjilan, ia seperti menemukan kembali Angga yang dulu ia kenal.


"Jangan bingung Al. Pak Erlangga memang lagi ke luar negeri. Gue Angga, tapi umur gue beberapa bulan lebih tua dari elu, dari masa depan," ujar Angga


Ali jadi bingung. Hal-hal tentang lintas waktu semakin membuatnya merasa kehilangan kewarasan. Ia merasa dijebak Fahri datang menemui Erlangga yang menurutnya sama sintingnya dengan Fahri.


Angga tersenyum. "Tenang, Al. Soal bisnis nanti lu omongin ke Angga yang waktunya sama dengan elu aja. Oke, waktu kita enggak terlalu banyak, tapi gue harus bicara panjang tentang fenomena lintas waktu ini. Ini pasti emang kedengeran gila buat lu, tapi tolong denger penjelasan gue dengan serius, setuju, Al?" tanya Erlangga.


"Terserah elu aja lah," sahut Ali yang masih bingung sedang berhadapan dengan siapa.


"Sebelumnya gue mau bilang, prinsip yang harus di jaga oleh para time traveller adalah bijaksana dalam mengelola pengetahuan. Karena bagi tuan rumah yang berbeda waktu, beberapa pengetahuan itu sebaiknya tetap jadi rahasia. Bukan karena takut takdir jadi kacau, karena biasanya malah pikiran orang yang menerimanya yang jadi kacau. Nah, Angga yang sekarang itu, sedang mengalami kekacauan pikiran, akibat dia mengetahui rahasia waktu saat mentalnya belum siap," ujar Angga.


"Oke, gue ladenin diskusi sinting ini! Lu salah, dalam time travel, kunjungan orang dari masa depan itu akan membuat timeline alternatif. Jadi, perubahan yang dilakukan orang masa depan yang kembali ke masa lalu, akan menyebabkan alur cerita terbagi dalam dua jalur yang tetap akan berjalan secara bersamaan," koreksi Ali.


"Hehe, lu kebanyakan nonton film produksi orang-orang yang enggak percaya rukun iman ke enam sih. Fahri ini datang dari tahun 2040," ujar Angga.


Ali tertawa. "Kayaknya otak gue udah rusak, jangan-jangan kalian ini juga cuma delusi gue aja."

__ADS_1


"Kasih bukti aja deh, biar gue enggak perlu ke rumah sakit jiwa," ujar Ali.


"Gue tahu lu emang akan tanya ini. Lu inget tadi gue minta pintunya jangan ditutup? Ini alasannya, sebentar lagi pintu itu akan tertutup sendiri karena angin kencang," ujar Angga sambil melihat jam tangannya.


Detik-detik berlalu tapi pintu tetap terbuka.


Ali tertawa. "mungkin perlu gue bantu," ujar Ali sambil berdiri dan menghampiri pintu.


Tiba-tiba angin bertiup kencang. BRAAK!!!! Pintu pun tertutup.


Ali terlompat kaget.


"AWAS! Lu jangan..." teriak Angga.


GEDEBUK! "ADUH!" teriak Ali kesakitan. Ia jatuh karena tersandung karpet. Ali menyembunyikan rasa sakitnya di pinggulnya yang terbentur lantai.


"Gue baru mau bilang, lu jangan mundur," ujar Angga sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Ah, itu kebetulan," ujar Ali sambil bangkit, diam-diam ia mengelus pinggulnya.


"Kalo sakit enggak usah malu-malu, layar ponsel lu jadi retak tuh sekarang," ujar Angga.


Ali mengeluarkan ponselnya dari kantong celana, benar saja layarnya jadi retak.


"Jangan dikantongin, nanti ponsel lu jatuh lagi," ujar Angga.


Ali tetap mengantungi ponselnya. Benar saja, ponsel itu jatuh lagi.


"Kantong celana kiri lu bolong, seharusnya lu taro di kantong celana kanan, di tempat semula, di tempat lu ngantongin batu hitam kecil," ujar Angga sambil tertawa.


"Udah, udah! Gue mending percaya," sahut Ali sambil mengambil ponselnya yang jatuh, ia heran Angga tahu tentang batu di kantongnya.


"Berarti ada yang menceritakan kejadian ini, sebelum anda ke sini?" tanya Fahri.


"Siapa lagi yang nyeritain ini ke gue selain Al sendiri? Oh iya, Fahri, ini perjalanan lintas waktu elu yang pertama tapi ini bukan satu-satunya perjalanan elu. Bumi ini ternyata memiliki portal-portal yang memungkinkan kita memasuki waktu yang berbeda, tentunya atas izin Allah," lanjut Angga.


"Hmm berarti gua tempat saya berangkat dan tiba di sini adalah portal, pasti ada hubungannya dengan batu hitam yang anda berikan pada saya di tahun 2040?" tanya Fahri sambil mencari batu kecil di kantongnya. "Wah, batu itu hilang."


"Betul. Ayah gue, Pak Dheng, melakukan penelitian pada batu hitam yang mengandung gelombang elektromagnetik yang kuat itu. Dengan ukuran sebesar batu di dekat rumah kotak ini, batu hitam itu dapat mengirim data lintas waktu, semakin besar ukuran batu hitam, maka dapat mengirim objek seperti manusia. Pak Dheng pernah membagikan batu hitam yang dilekatkan pada flashdisk untuk gue, Ali dan Andi. Masih inget, Al?" tanya Angga.


"Masih. Hah? Pak Dheng itu bokap lu?" tanya Ali kaget.


"Iya. Tapi Angga yang sekarang belum tahu tentang ini," ujar Angga.


"Hmm, pantes kandungan magnet di pulau yang mengirim saya ke sini sangat tinggi, di sana sangat banyak batu-batu hitam bermuatan elektro magnetik, sangat besar, bahkan berbentuk tebing-tebing" ujar Fahri.


"Nah, Pak Dheng pasti butuh informasi ini. Batu-batu hitam itu sangat langka. Sekarang gue jelasin bagaimana teknis batu-batu hitam itu bisa mengantar Fahri. Gua yang material dindingnya sama dengan batu hitam itu adalah portal dan batu hitam kecil adalah tiketnya, jadi bila portal mendeteksi tiket, maka semua orang yang berada di dalam Gua batu hitam secara otomatis akan melintasi waktu menuju tempat asal batu hitam kecil saat diambil dari tempatnya, setelah terpakai batu hitam itu tidak hilang, tetapi kembali ke tempatnya berasal," ujar Angga.


*****


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.

__ADS_1


Penulis, Indra W


__ADS_2