Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Lubang Waktu - Part 3


__ADS_3

Untungnya tebing tinggi ini memiliki semacam jalan setapak selebar rentangan kedua tangan untuk menuju ke atas. Masalahnya kini tinggal mengatasi rasa takut pada ketinggian, tetapi justru itu yang akan jadi masalah besar, pemandangan di samping mereka adalah jurang, yang jika terjatuh, maka mereka akan remuk di atas batang tebing cadas atau jatuh ke dalam lava mendidih yang tadi mereka lewati.


Para anggota rombongan menyusuri jalan setapak yang terus memutar mengikuti lengkung tebing, mereka berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati. Dini, Budi Raharjo dan Daud Haris berjalan menyamping dengan menempelkan punggungnya selekat-lekatnya ke dinding tebing karena takut. Semakin tinggi, wajah mereka semakin tegang.


Tiba-tiba Budi Raharjo terpeleset karena menginjak longsoran batu-batu kecil. Semua anggota rombongan kaget, dengan reflek Budi Raharjo memegang lengan Daud Haris yang berada di depannya agar tidak tergelincir. Daud Haris yang di tarik juga dengan reflek memegang lengan Didan yang berada di depannya. Fahri yang berada di paling depan langsung berlari ke belakang melewati Dini dan memegangi badan Didan dengan kuat. Setelah posisi berdiri Didan kokoh, Fahri melewati Didan untuk mengamankan posisi Daud Haris dan Budi Raharjo yang masih memegang lengan orang didepannya masing masing.


"Maaf Daud!" ujar Budi Raharjo dengan wajah yang tampak pucat ketakutan.


"Minta maaf juga ke Didan, pak imam! Hampir jatoh berjemaah!" omel Daud Haris dengan nafasnya tersengal-sengal.


Wajah Dini juga tampak sangat tegang, hampir saja tangannya dijadikan pegangan untuk menopang bobot 3 laki-laki di belakangnya.


Fahri meminta Dini untuk bertukar posisi, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan lebih berhati-hati.


Puncak bukit semakin dekat dari pandangan. Tiba-tiba Dini yang berada di paling depan berhenti, ia bertemu tikungan tajam yang membuatnya tak bisa melihat medan berikut yang harus dilalui. Tapi masalahnya ternyata bukan hanya itu.


"Fahri! Jalan setapak ini jadi menyempit setengah dari sebelumnya," ucap Dini lemah.


Wajah semua anggota rombongan Fahri tampak sangat ketakutan, terutama Dini. Hanya Fahri yang wajahnya masih terlihat tenang.


Fahri kembali bertukar posisi dengan Dini. Ia mulai berpikir keras kembali. Setelah agak lama terdiam, akhirnya Fahri punya solusi. "Teman-teman! Pastikan semua orang memegang satu tali, masih cukup tali kita?" Tanya Fahri.

__ADS_1


Zul mengoper sisa-sisa akar beringin yang masih dipegangnya. "Cukup!" Jawab Zul.


Fahri mengambil tali yang dioper lalu mengikatnya pada tubuh Dini dengan erat dan memegang ujung tali lainnya. Dini melihat wajah Fahri terlihat cemas walau ia menutupinya, dahinya mendadak penuh dengan butir-butir keringat.


"Ikatkan tali masing-masing dengan erat di tubuh kalian dan berikan ujung tali pada orang di depan kalian! Aku akan periksa, jika di balik tikungan ini ada tempat untuk mengikat tali atau pijakkan yang cukup lebar untuk menahan beban, kalian akan tetap tergantung pada tali, seandainya gagal melewati jalan sempit ini, kalian tidak mungkin jatuh!" ujar Fahri.


Suasana terdengar sangat hening, semua orang tidak hanya cemas dengan keselamatan masing-masing, mereka juga cemas pada keselamatan Fahri, jika ia jatuh, apalagi yang harus dilakukan rombongan ini?


Fahri memang menyembunyikan kekuatirannya, kegunaan tali-tali yang terikat pada badan rombongannya itu hanya untuk membangkitkan keberanian dan rasa percaya diri mereka. Tali ini terlalu tipis untuk menahan beban. Seharusnya tali-tali terbuat dari lilitan beberapa akar beringin, bukan hanya satu akar, sayangnya sisa akar beringin yang mereka bawa tidak cukup banyak.


Sebenarnya walau sempit, jika tinggi jalan setapak ini hanya sejengkal dari tanah, tidak lah terlalu sulit untuk dilewati, tetapi karena sangat tinggi, rasa takut bisa membuat orang merasa seolah berjalan di atas seutas tambang. Fahri sadar bukan sedang membawa rombongan Pasukan T7 yang tak punya rasa takut. Sementara kali ini rasa takut bisa membahayakan keselamatan jiwa.


"Aku sampai! Teman-teman, ini adalah puncak tebing tertinggi, di balik tebing ini aku bisa melihat pemandangan hingga ke samudera. Alhamdulillah! Tidak ada medan berat lagi yang akan kita lalui selanjutnya!” teriak Fahri.


“Alhamdulillah, lega” ujar Budi Raharjo.


“Ntar dulu! Enggak liat tuh jalan lebih sempit? Tadi aja kepleset. Yang ngomong enak, pernah jadi Pasukan T7, Pak Budi emangnya juga pernah?” gerutu Daud Haris pada Budi Raharjo.


“Dini! Lewati aja pelan-pelan, insya Allah aman! Ingat, walau tali ini kuat, tetapi jangan terlalu mengandalkan tali! Kamu pasti enggak mau badan kamu tergantung di tebing. Ini lebih mudah dari pada manjat tebing di bawah tadi!" Teriak Fahri menyuntik keberanian pada Dini.


Rupanya diam-diam Dini juga tahu bahwa tali yang mengikatnya itu tidak bisa terlalu diandalkan. Dini berjuang membunuh rasa takutnya, ia berkonsentrasi untuk menampilkan imajinasi seolah hanya melewati gang sempit. Dini berjalan setapak demi setapak perlahan-lahan, tak lama kemudian ia pun menghilang dari pandangan para anggota rombongan yang lain.

__ADS_1


Dini telah terlihat oleh Fahri. Setelah dapat menjangkau Dini, Fahri segera meraih tangan Dini untuk membawanya ke tempat aman.


Dini menatap Fahri dengan mata berkaca-kaca sambil membuka tali yang melilit di badannya, setelah itu  Dini menunjukkan tali itu sambil menarik-nariknya, ia menggeleng-gelengkan kepala, untuk mengisyaratkan bahwa ia tahu tali ini tidak kuat.


Gahri menggenggam tangan Dini erat-erat, Dini langsung menjatuhkan kepalanya pundak Fahri untuk melepas tangisnya, kali ini Fahri tak tega lagi menampiknya, Dini memang butuh sandaran setelah hampir sangat dekat dengan maut. Isak tangisnya terdengar oleh anggota rombongan yang lain.


Didan yang mendengar suara isak tangis Dini langsung menoleh pada Daud Haris yang berada di belakangnya, memberi seyum kode.


"Kasih mereka waktu, kita bisa menunggu," ujar Daud Haris.


Budi Raharjo yang tak paham mencolek bahu Daud Haris.


“Kenapa? Pak Budi mau nangis di pundak saya? Jurang dalem lho,” ancam Daud Haris.


*****


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


__ADS_2