Al Kahfi Land - Dua Sisi

Al Kahfi Land - Dua Sisi
Perang Saudara - Part 2


__ADS_3

Bandar Lampung


Suasana ibu kota sangat mencekam. Iring-iringan mobil tank, truk dan jeep militer memenuhi jalan, mulai dari istana presiden hingga ke seluruh jalan-jalan protokol. Puluhan helikopter lalu lalang di atas kota, ratusan tentara telah bersiaga dengan senjata mereka.


Presiden Priyo telah mengumumkan perang dan menghimbau warga kota untuk mengungsi, ia menunjuk Samuel untuk memimpin operasi penumpasan pasukan Ben Jani.


Samuel membalas ultimatum Ben Jani dengan ultimatum pula, ia memberi waktu pada Ben Jani untuk menyerah sebelum pukul 10 pagi.


Jauh di pinggir kota, di markas pasukan khusus angkatan darat Way Krui yang telah menjadi pusat konsentrasi pasukan Ben Jani, jeep-jeep dan truk-truk pasukan Ben Jani baru saja meninggalkan markas menuju pusat kota diiringi puluhan helikopter.


Ben Jani tidak memperdulikan ultimatum Samuel, sebagai mantan Jendral harga dirinya terlalu tinggi untuk takut dengan ancaman itu. Ia bahkan memesan 5 pesawat tempur milik pasukan bayaran dari luar negeri untuk menggempur istana.


Di ruang kontrol militer yang berada di istana negara, Samuel terlihat sibuk bersama para tentara yang mengawasi parameter-parameter digital di monitor.


“Ada 5 pesawat tempur dari arah utara yang baru saja memasuki wilayah Indonesia, tepatnya di Kalimantan, Pak!” kata tentara dari kubu Samuel yang sedang mengamati parameter radar.


“Farhat!” panggil Samuel.


Farhat adalah salah satu anggota pasukan T7.


“Siap komandan!” sahut Farhat.


“Sambut tamu yang berani masuk di wilayah kita, pimpin pasukan tempur udara!” perintah Samuel.


“Siap komandan!” sahut Farhat lagi.


“Kolonel! T7-5 masih belum merespon panggilan,” sahut seorang tentara yang diminta mencari lokasi keberadaan para anggota Pasukan T7.


Samuel melihat monitor yang sedang diamati.


T7 Status

__ADS_1


1. Fahri Hussein\,  Major - Inactive - Karakas Island


2. Samuel Dave\, Colonel  – Active – Bandar Lampung


3. Gulva Rendy\, Captain – Active – Bandar Lampung


4. Stevano Revan First Lieutenant - Inactive - Unknown



Rudi Fernando, Captain – Missing In Action –– Karakas Island (Temporary Status)



6. Farhat Akbar\, Captain – Active – On Flight


7. Dion Renata\, Captain -  Killed in Action - Karakas Island


“Kolonel! Musuh telah meninggalkan markas Paskas AD Way Krui, kita tunggu atau kita hadang?” tanya seorang tentara.


Samuel membaca kekuatan lawan melalui monitor, ia menghitung jumlah kendaraan dan helikopter yang tampak pada monitor.


“Biarkan mereka seluruhnya masuk kota dan tutup jalan keluar setelah semuanya masuk, siapkan para sniper di gedung-gedung tinggi, drone-drone tempur dan rudal untuk menjatuhkan helikopter mereka,” perintah Samuel.


*****


Stevano dan rombongannya telah mencapai pantai, setelah melumpuhkan 2 tentara pasukan Rudi, ia memeriksa semua perahu boat, berjaga-jaga jika ada bom waktu. Setelah dipastikan aman, ia mengajak rombongan naik ke perahu boat untuk menuju Pulau terdekat, kemudian menghubungi anak buahnya untuk menjemput mereka dengan helikopter.


“Teman-teman sisakan satu boat untuk Fahri,” perintah Stevano.


“Lu yakin Fahri masih hidup?” tanya Zul.

__ADS_1


“Cerita kalian tentang menghilangnya Fahri di gua sangat menarik. Dan pasti lebih menarik lagi cerita Fahri tentang pengalamannya memasuki portal waktu.” ujar Stevano.


“Portal waktu?” tanya Dini.


“Aku penggemar berat tokoh-tokoh Al Kahfi, aku suka baca buku-buku tulisan mereka, dari tulisan Kang Andi, aku dapat ilmu politik, dari tulisan Bang Ali, aku dapat ilmu bisnis, kalo dari tulisan Kang Angga, ketimbang tulisannya tentang dunia arsitek yang aku enggak ngerti, aku lebih suka tulisan dia tentang Black Stone. Aku yakin menghilangnya Fahri ada hubungannya dengan tempat yang penuh batu hitam dengan kandungan magnet ini, bahkan jangan-jangan Kang Angga tahu dimana sebenarnya Fahri saat ini berada,” ujar Stevano.


*****


Fahri terbangun dari tidurnya di gua Pulau Karakas. Ia bergegas mencari Dini dan para anggota rombongan lainnya, ternyata semuanya telah pergi. Fahri sangat kuatir dengan keselamatan rombongan.


Fahri merasa ada yang berbeda dengan dirinya, badannya terasa sangat bugar. Tiba-tiba ia kaget karena melihat sekilas titik-titik sinar biru keluar dari pori-pori tubuhnya, mirip cahaya dari larva binatang yang berada di gua. Sepertinya aku terkontaminasi radiasi dari gua itu.


Fahri berjalan menuju sungai, ia merasa sangat haus. Saat mengambil air, ia melihat rusa yang kakinya terjepit di sebuah batu besar, Fahri merasa kasihan pada binatang itu tetapi batu itu terlalu besar untuk bisa di gesernya.


Fahri terpikir untuk menggunakan tenaga dalamnya walau ia tahu tetap tidak mungkin bisa memecahkan batu sebesar itu. Ia mulai mengatur pernapasannya, ternyata hanya dalam tarikan satu nafas tenaga dalamnya sudah terkumpul, biasanya ia memerlukan waktu yang lebih lama.


Fahri terkenang ucapan Kyai Hamid, ilmu tenaga dalam bukanlah hal mistis, tetapi tentang olah pernafasan, konsentrasi dan sugesti. Orang mampu lari secepat atlet lari profesional saat dikejar anjing atau mampu mendobrak pintu tebal berbahan jati saat menolong anaknya yang terperangkap kebakaran. Menurut kyai Hamid, manusia hanya mengeluarkan sedikit dari kemampuannya, latihan tenaga dalam adalah bagaimana cara mengeluarkan kemampuan maksimal tanpa dalam kondisi terdesak.


Karena dalam satu tarikan nafas Fahri telah bisa mengumpulkan tenaga dalamnya, kini Fahri menduga, jika ia lebih lama mengatur nafas maka tenaga dalamnya akan lebih besar.


Fahri mencoba teorinya, benar saja ia merasa tenaga yang lebih besar sedang mengalir di tubuhnya, semakin lama badannya malah sakit seperti mau meledak, ia terpaksa melepaskan pukulannya ke batu besar itu sebelum membahayakan dirinya.


BRAKKK!!!! Batu besar itu hancur. Rusa itu pun lari setelah kakinya tidak terjepit. Fahri tampak melongo.


“MasyaAllah!” pekik Fahri.


Rupanya perjalanannya melintasi waktu memberinya oleh-oleh kecil.


*****


Bersambung

__ADS_1


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


__ADS_2