
Di bagian tengah gedung, pasukan Si Brewok telah memenangkan pertempuran mengalahkan kubu pasukan Si Buluk.
“Bang Toyib, musuh udah pada ******, sekarang gimana?” tanya Si Brewok pada Fahri.
“Hajar Pasukan Big Kong, jangan tembak polisi, mereka juga dikirim Rizal untuk hajar Big Kong,” ujar Fahri.
“Siap. Bos!” sahut Si Brewok.
“Pasukan polisi, orang-orang Blok 3 berada di pihak kita. Musuh kita hanya tinggal pasukan Big Kong yang berseragam hitam. Kalian terus bergantian ke atas melalui lift untuk membantu teman-teman di lantai 9!” perintah Fahri pada polisi yang masih berada di bawah.
Di lantai 7, Jonas masih bingung dengan situasi Blok 3, kondisi gelap membuatnya sulit bergerak, bahaya bisa mengintai tanpa disangka-sangka, tadi ia sempat menemukan Mr. Chung dan beberapa pentolan mafia lain yang jadi sekutunya telah mati tertembak.
*****
Asap putih dari bom asap yang dilempar pasukan Big Kong sudah mulai menghilang, kaca mata night vision mulai kembali menampilkan pandangan yang jelas. Kompol Jono tampak senang karena merasa kemenangan sudah di depan mata, sebentar lagi mereka akan mudah menembaki musuh yang kembali buta.
“Pasukan! Siap-siap maju, kita serang lagi!” perintah Kompol Jono.
Sebaliknya, Fahri justru punya firasat buruk, ia menduga pihak lawan telah menyiapkan sesuatu, ia segera menghubungi Kompol Jono melalui alat komunikasinya, “Komandan, bawa pasukan mundur, sekarang!”
“Fahri, di sini saya yang memimpin! Lawan sudah banyak yang mati, mereka sudah terpojok. Pasukan, maju!” perintah Kompol Jono melalui HT, harga dirinya sebagai komandan mulai terusik oleh dominasi Fahri. Ia merasa harus mengembalikan wibawanya pada anak buah.
“Semua mundur!” teriak Fahri.
Kali ini para polisi tidak mau mengacuhkan perintah Fahri lagi, walau telah membantu, ia tetap saja orang luar. Para polisi keluar dari tempat persembunyian untuk menembaki lawan dalam gelap.
Tiba-tiba dari banyak tempat, keluar lah cahaya terang. Dugaan Fahri tepat, para pasukan Big Kong telah meletakkan lampu-lampu tembak portable yang tidak terkoneksi dengan jaringan listrik dan internet. Kini kedua kubu di lantai 9 dapat melihat dengan jelas.
DOR!!! DOR!!! DOR!!! DOR!!! DOR!!! DOR!!!
Suara baku tembak kembali terdengar. Fahri kesal dengan Kompol Jono yang mementingkan egonya, Fahri tetap di posisinya untuk mengamati situasi. Pasukan Big Kong tampak sangat terlatih, kini mereka menghabisi para polisi satu-persatu.
__ADS_1
Di tengah pertempuran, Fahri melihat seseorang yang memiliki kemampuan menembak di atas rata-rata, satu peluru pasti dapat satu nyawa, satu per satu polisi tumbang dibuatnya, ia selalu berpindah-pindah posisi dengan cepat. Orang itu memakai topeng hitam yang biasa digunakan *******.
Fahri segera membidik penembak jitu bertopeng yang berada di seberang koridor atrium, tetapi intuisi orang itu sangat tajam, seolah memiliki radar alami, saat peluru Fahri dilesatkan, orang bertopeng itu dengan gesit berlindung ke balik dinding, bahkan sempat melontarkan peluru balasan ke arah Fahri. Untungnya Fahri tak kalah gesit, ia juga melompat ke balik dinding. Keduanya saling menembak bergantian tetapi peluru-peluru mereka hanya mengenai dinding tempat mereka berlindung.
Kompol Jono melihat baku tembak antar Fahri melawan orang bertopeng. Karena posisinya dekat, ia mengambil alih meladeni orang bertopeng. Beberapa pasukan Big Kong yang posisinya lebih dekat denga Fahri juga mengambil alih menyerang Fahri.
Di sudut lain, pasukan polisi kewalahan, pasukan Big Kong jelas bukan tandingannya, wajar jika para mafia blok 3 tunduk pada Big Kong. Fahri harus membuat lantai 9 gelap kembali agar polisi selamat. Mumpung Kompol Jono telah meladeni orang bertopeng, maka Fahri mulai menembak lampu-lampu tembak, sambil menghadapi pasukan Big Kong.
Orang bertopeng itu kabur, Kompol Jono segera mengejarnya sehingga keduanya menjauh dari medan pertempuran utama. Orang bertopeng itu terperangkap di koridor buntu, ia bersembunyi di balik dinding.
Kompol Jono menghujani dinding tempat persembunyian orang bertopeng itu dengan pelurunya, tetapi tidak ada balasan. Dengan hati-hati Kompol Jono mendekati dinding, ternyata orang bertopeng itu tidak berada di balik dinding.
Orang bertopeng telah masuk ke dalam tolet, anehnya, pintu toilet dibiarkan terbuka dan dia berdiri menghadap kaca toilet di depan bilik-bilik WC tanpa melakukan perlawanan.
*****
Beberapa sudut di lantai 9 telah menjadi gelap lagi, karena Fahri berhasil menghancurkan beberapa lampu tembak. Kini ia bersembunyi tak jauh dari lampu yang diincarnya.
Jonas baru saja tiba di lantai 9, akhirnya ia memutuskan untuk menghabisi Big Kong, mumpung sedang terjadi perang di Blok 3. Agak jauh di depan Jonas muncul 3 orang pasukan Big Kong, ia nekat membidik pistolnya ke arah salah satu pasukan.
DORRR!! Satu orang roboh, tetapi 2 orang yang lainnya langung menghujani Jonas dengan peluru dari jauh, untungnya Jonas telah melompat ke balik dinding, peluru-peluru itu malah mengenai salah satu lampu yang Fahri incar.
Dari balik dinding Jonas tidak boleh menunggu 2 anak buah Big Kong menghampirinya, ia memungut botol bir di dekat kakinya lalu melemparnya sembarang untuk mengalihkan, benar saja, peluru-peluru mereka jadi menghampiri ke arah suara botol pecah, Jonas langsung keluar dari tempat berlindung sambil melontarkan tembakan. Klik! Klik! Pistolnya tak melontarkan peluru.
DORRR!!! DORRR!!! DORRR!!! DORRR!!!
Saat Jonas mengangkat tangannya sambil menjatuhkan pistol, pada saat itu pula polisi menembaki 2 anak buah Big Kong dari jauh.
Jonas menjauh sekencang-kencangnya dan melompat ke arah tangga, sebelum para polisi menyadari keberadaannya. Fahri yang berada di tangga tertabrak oleh Jonas, sehingga mereka berdua terguling ke lantai 8.
*****
Kompol Jono menodongkan senjata pada orang yang berdiri menghadap kaca di depan bilik-bilik WC, tetapi orang itu malah dengan santai membuka topengnya. Ia menyalakan musik klasik dengan ponselnya, kemudian meletakkan ponselnya di tempat aman, setelah itu ia membuka keran washtafel dan mencuci tangannya.
"Selamat malam Pak Komandan!" sapa orang itu melalui cermin di depannya, ia tersenyum, "Ah, masa kau tega nembak orang tak bersenjata? Ramah lah sedikit sama wargamu," kata orang berwajah klimis itu sambil mengucurkan sabun tangan dan membilasnya, ia adalah penguasa Blok 3, Big Kong.
"Angkat tangan!" bentak Kompol jono.
__ADS_1
"Hahaha, untuk apa? Tanganku kan tak bersenjata, kawan. Kau kan lihat aku sedang cuci tangan dan senjataku ada di lantai? Pak Komandan, lebih baik kau ambil dulu senjataku! Bahaya kalau kau biarkan, hahaha," ejek Big Kong sambil menutup keran dan mengelap tangannya dengan sapu tangan.
Kompol Jono terus menodong Big Kong sambil mendekat, ia melirik senjata Big Kong dan langsung menendangnya masuk ke dalam bilik WC agar jauh dari jangkauan Big Kong. Tetapi malah fatal, senjata Kompol Jono sendiri malah jadi masuk ke jangkauan Big Kong, ia berhasil merebut senjata Kompol Jono.
Big Kong menodong senjata sebentar, tapi ia malah melempar senjata itu ke dalam bilik WC. Kini keduanya berhadapan tanpa senjata.
"Hahaha, pernah dengar peribahasa, harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan? Sebenarnya kau bisa aja ku bunuh sejak awal, tapi kan enggak ada seninya, hahaha. Pak Komandan, aku ini penikmat seni, katanya seni itu melembutkan hati. Oh iya kau suka seni? Musik klasik ini suka? " tanya Big Kong.
"Ah banyak ngomong!" bentak Kompol Jono sambil meninju wajah Big Kong.
Big Kong tidak mengelak, apalagi melawan, padahal darah segar mengalir dari bibirnya akibat ditinju, ia malah tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Big Kong membuka keran lagi untuk membersihkan darah dari wajahnya yang tampan.
"Mana aku tau, kau tak suka musik klasik?" ujar Big Kong sambil mengelap sisa air dari wajahnya dengan sapu tangan.
"Pantas aja hatimu tidak lembut. Kalau musik jazz suka?" tanya Big Kong, ia langsung mengangkat tangannya saat melihat Kompol Jono mendekat, "Hei komandan, jangan lah pukul lagi kalau tak suka, selera kan boleh beda," ejek Big Kong.
"Kau memang banyak omong!" ujar Kompol Jono semakin marah.
Kompol Jono kembali meninju Big Kong, tapi kali ini Big Kong menghindar sambil meraih kepala Kompol Jono dan membenturkan wajah Kompol Jono ke kaca cermin sehingga pecah.
Tangan Kompol Jono berusaha meraih, tetapi Big Kong malah menguncinya, lalu membenturkan kepala Kompol Jono ke washtafel berkali-kali. Setelah badan Kompol Jono lunglai, Big Kong melepaskannya sehingga tergeletak di lantai dalam keadaan masih sadar dan wajah penuh darah.
"Maaf Komandan, bukannya aku marah karena dipukul, aku hanya tak suka wajahku kotor, dan aku sulit mengampuni orang yang mengotori wajahku," kata Big Kong sambil mengambil pecahan kaca cermin, lalu membungkus salah satu ujungnya dengan sapu tangannya untuk membentuk seperti pisau.
Kompol Jono ingin bangkit, tapi rasa sakit yang luar biasa membuatnya tak mampu berdiri, ia hanya bisa bergeser sedikit menjauh saat mencium bahaya.
"Aku sebenarnya tak suka membunuh aparat keamanan negara, kasihan! Penghasilannya tak seberapa, padahal kerjaannya berat dan beresiko mati pula. Tapi kalian juga kejam! Kalo dapat perintah, hati kalian tak dipakai, mau benar atau salah kalau diperintahkan bunuh, ya bunuh. Kenapa kalian pun tak punya rasa kasihan sama orang? Dimana hati kalian?" tanya Big Kong yang telah selesai dengan pisau kaca buatannya.
Kompol Jono seolah mendapat tenaga untuk bangkit, tapi Big Kong langsung menekan dada Kompol Jono dengan kakinya.
"Komandan! Orang-orang berpangkat seperti kau memang egois. Kau pikir anak-anak buahmu senang kau ajak ke sini? Mereka tidak bisa bilang tidak! Seharusnya malam ini mereka sedang tidur dengan tenang bersama anak istrinya, tapi malah kau antar ke kuburannya. Ini sudah kedua kalinya kau mengirim anak buah untuk mati, aku tak punya alasan untuk membiarkan kau mengirim lebih banyak orang-orang yang tak berdaya menolak perintah, lebih baik kau temani mereka yang sudah ditimbun tanah," ujar Big Kong sambil mendekati Kompol Jono.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1