
Dari kejauhan mereka melihat bagian tengah bukit ini tampak terputus oleh sekumpulan batang-batang batu-batu cadas berwarna putih agak kecoklatan, mirip dengan sekumpulan batang-batang pensil belum diraut yang dimasukkan dalam sebuah gelas. Batang-batang tebing yang masing-masing seluas ring tinju itu terpisah oleh jurang lebar yang sangat dalam, bagian dasar jurang itu tertutup kabut asap, saat asap tersingkap tampaklah warna merah yang merupakan lelehan lava yang mengisi seluruh dasar jurang.
Wajah sebagian orang-orang yang mempercayakan Fahri untuk memimpin rombongan tampak kecewa, walau mereka tidak mengungkapkannya. Perjalanan menegangkan dan meletihkan ini rupanya harus berakhir di sini, beberapa orang langsung terduduk lemas dan menunjukkan wajah putus asa.
Fahri belum menyerah, ia terus berjalan mendekati batang-batang tebing batu-batu cadas itu, Dini segera menyusul Fahri, sebagian anggota rombongan tampak sudah kehilangan semangat, dengan gontai mereka berjalan mengikuti Fahri.
Setelah dekat, ternyata ada jalan aman untuk menyebrang, yaitu melewati batang-batang tebing batu hitam memanjang yang menghubungkan antara batu-batu cadas putih. Karena berwarna gelap, para anggota rombongan tidak melihat jembatan alam yang menghubungkan batang-batang tebing cadas berwarna terang ini dari kejauhan.
Rupanya masalah belum selesai, setiap tempat pertemuan 2 batu berbeda itu memiliki lubang yang mengeluarkan kepulan asap-asap menggumpal secara berkala. Fahri curiga kepulan asap itu sangat panas, ia mengujinya dengan melempar ujung tali akar beringin dan menahan ujung lainnya. Benar saja setelah di lewati kepulan asap, tali itu langsung terbakar.
Dean, Didan, Anto dan Ridwan langsung merebahkan badannya di atas dataran batu. Daud Haris duduk termenung sambil memeluk lututnya. Zul dan Bram yang masih berdiri tampak sangat gelisah menatap lava merah di bawah sana, Budi Raharjo duduk dengan tenang dengan bibir bergerak, di sepanjang perjalanan mulutnya memang terus menggumamkan zikir. Dini tetap mendampingi Fahri yang tidak lagi terlihat bersemangat, tapi Dini merasa tak punya sesuatu yang mungkin bisa membakar lagi semangat Fahri. Dini memandangi kepulan-kepulan asap di depannya, sambil berpikir keras mencari jalan keluar.
Dini menghampiri Fahri. "Fahri! Coba kamu lihat, masing-masing kepulan asap itu keluar dengan pola waktu yang konsisten. Lubang-lubang itu butuh waktu setelah meletupkan asap sekitar 15 detik, artinya jika kita langsung melompat setelah asap keluar, insyaAllah aman," ujar Dini.
Wajah Fahri tampak senang, Dini tak hanya membangkitkan semangatnya, ia juga membantu Fahri mencari solusi.
"Teori kamu kayaknya betul, tapi aku mau nyoba dengan tali ini dulu," sahut Fahri.
__ADS_1
Fahri melakukan uji coba. setelah asap keluar, ia langsung melemparkan ujung tali sambil memegang ujung yang satunya, ternyata tali itu terbakar.
Fahri melakukan uji coba kedua, setelah asap keluar ia menunggu sekitar 5 detik, kemudian ia melempar ujung tali sambil memegang ujung yang satunya, ternyata tali itu utuh. Fahri terus menghitung, 10 detik kemudian, kepulan asap itu kembali muncul membakar tali yang masih melintang di atas lubang.
Para rombongan mulai berdiri untuk memperhatikan Fahri.
"Alhamdulillah! Setelah asap keluar, kita harus menunggu sekitar 5 detik supaya hawa panasnya hilang. Kemudian kita pindah ke jembatan batu hitam, sampai diujung jembatan kita lakukan hal yang sama. Asap panas muncul setiap sekitar 15 detik, kita boleh lewat pada detik kelima setelah asap panas muncul" kata Fahri.
Fahri kembali mengulangi uji cobanya dengan tali hingga 3 kali untuk meyakinkannya.
Kini Fahri yakin, ia langsung mencoba dengan tubuhnya sendiri. 5 detik setelah kepulan asap muncul, ia langsung berpindah ke tebing batu hitam yang menjadi jembatan penghubung antara batang tebing cadas putih, di sambungan berikutnya ia juga menunggu 5 detik setelah kepulan asap muncul, barulah ia menyebrang ke batang tebing cadas putih lagi.
"Fahri, aku ikut!" teriak Dini.
"Oke, aku tunggu!" sahut Fahri.
Dini melewati batang demi batang tebing hingga berhasil mencapai batang tebing di tempat Fahri berdiri. Ternyata memang tidak sulit.
__ADS_1
"Kalian mau menginap di situ?" teriak Dini pada anggota rombongannya.
Para anggota rombongan lain mulai mendekati lubang yang mengeluarkan asap, Zul mencoba mengikuti cara Fahri dan Dini melewati batang-batang tebing, ia juga berhasil.
Dini dan Fahri telah berhasil menyebrangi semua batang-batang tebing. Satu persatu anggota rombongan juga telah memberanikan diri mencoba dan juga berhasil. Akhirnya semua anggota rombongan berhasil menyebrangi medan yang terlihat mengerikan dengan mudah.
Rombongan Fahri tampak senang, tetapi itu tidak berlangsung lama, mereka harus menaiki satu tebing yang sangat tinggi dan tidak mungkin terjangkau tali akar beringin.
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1